Part 10

1622 Words
Setelah kejadian kemarin, saat bola basket mendarat di wajah Rembulan dengan tepat, Bintang seolah-olah tidak merasa bersalah dan menganggap kejadian kemarin telah selesai. Rembulan memang baik-baik saja, lagi pula, untuk apa dia mengharapkan Bintang akan mengemis maaf darinya? Lalu mencari Rembulan hingga ke kelas, menanyakan keadaan Rembulan setelah kejadian kemarin. Rasanya, Rembulan terlalu banyak berhalusinasi. Bintang tidak akan mungkin melakukan itu semua untuk perempuan yang biasa saja seperti Rembulan. Rembulan harus sadar diri bahwa tipe perempuan Bintang jauh di atas rata-rata. Rembulan tidak akan mungkin bisa mendapatkan hati seorang pentolan sekolah yang selalu meraih gelar juara umum itu. Bintang seperti sebuah berlian yang terlalu mahal untuk Rembulan dapatkan. Namun ..., di jam istirahat pertama, Yura berseru heboh menghampiri Pita dan Rembulan yang sedang membahas tugas makalah kelompok. Mereka berencana untuk melupakan kejadian kemarin sepulang sekolah. "Rembulaaaan!" seru Yura tergopoh-gopoh masuk ke kelas. Yura mengatur napas, menarik napasnya dalam-dalam sebelum kembali berbicara. "Laaaan!" serunya lagi membuat Rembulan dan Pita kompak mengerutkan kening dan saling pandang tak mengerti. Sedangkan teman-temannya yang lain—yang memilih berada di kelas—jadi ikut menoleh sejenak ke arah Yura, setelahnya mengabaikan dan kembali sibuk dengan dunia masing-masing. "Aduh, Lan, Ta. Sumpah, deh, ini tuh ... aduh, pokoknya kaget kalian." Yura mendadak heboh. "Tenang dulu kenapa, Ra?" protes Pita yang merasa terganggu dengan kehebohan Yura. "Tarik napas, tahan, tahan, tahan—" "Tahannya kelamaan lo, Ta!" omel Yura, tapi tetap mengikuti instruksi Pita. "Ada apa sih, Ra?" Rembulan penasaran ketika melihat satu tangan Yura disembunyikan di belakang punggungnya. "Kucing lo lahiran lagi?" Yura berdecak, menggeleng. "Bukan, Lan. Ini lebih penting dari kucing gue yang beranak sebelas." Yura mengibaskan tangan, memastikan keadaan kelas. "Terus apaan, Ra?" tanya Pita tak sabar. Yura menaik-turunkan kedua alisnya. "Tadaaaa!" Yura menunjukkan sesuatu di tangan yang semula disembunyikan di belakang punggungnya dengan semangat. "Tadaaa!" ucapnya lagi ketika Pita dan Rembulan mengerjapkan matanya tidak mengerti setelah melihat satu batang cokelat di hadapan mereka. "Kenapa sama cokelat? Heboh banget deh!" protes Pita yang merasa waktunya terbuang begitu saja hanya untuk mendengarkan celotehan Yura yang memiliki cokelat. "Ih, Ta!" Yura berseru dengan gemas. "Ini tuh buat Rembulan." ujarnya seraya menunjuk cokelat di tangannya. "Buat gue?" Rembulan mengerutkan kening, menunjuk dirinya sendiri yang langsung mendapat anggukan dari Yura. "Lo ngasih ke gue—" "Sssst!" Yura meletakkan telunjuknya di bibir. Dia duduk di sebelah Pita, mencondongkan tubuh setelah memastikan keadaan kelas yang tidak begitu banyak orang karena jam istirahat. Yura menyuruh teman-temannya mendekat. "Ini itu ... ini itu dari ... " Yura menatap teman-temannya bergantian. Mereka terlihat penasaran sekali dengan apa yang akan Yura katakan. "Dari Bintang, buat Rembulan." "Hah?" seru Pita dan Rembulan bersamaan, mereka menatap Yura tidak mengerti. "Maksudnya?" tanya Rembulan dengan ekspresi yang masih sama terkejutnya. Yura menghela napas, dia menceritakan kejadian sebelumnya. "Tadi gue, kan, habis dari toilet sama Rimar. Terus, Rimar dicari adik kelas, ngobrol. Ya udah deh akhirnya gue mau balik ke kelas duluan. Diperjalanan menuju kelas ... gue berpapasan sama Bintang. Terus, terus, Bintang nanyain kejadian kemarin soal keadaan Rembulan." jelas Yura. Strike number one. Yura menarik napas sebelum kembali berbicara. "Dia nyuruh gue nunggu di tempat, posisinya waktu tadi gue lagi di depan mading. Gue disuruh nunggu di sana sama dia. Nggak lama kemudian, dia datang dan nitip cokelat ini buat orang yang kemarin nggak sengaja kena bola basket gara-gara dia. Itu artinya cokelat ini buat Rembulan dong? Terus, dia nanya nama lo juga, Lan. Awalnya dia mau nyari kelas lo, tapi belum sempet. Jadi, dia cuma titip cokelat ini buat lo dan permintaan maaf aja. Katanya, maaf kemarin nggak sengaja." ujarnya lagi yang berhasil membuat Rembulan dan Pita tak percaya dibuatnya. Strike number two. Rembulan dan Pita saling pandang. "Ra, lo nggak lagi ngarang cerita, kan?" tanya Rembulan dengan kerutan di dahinya yang terlihat jelas. Sulit untuk dipercaya mendengar cerita Yura. Pasalnya bagi Rembulan itu adalah suatu kemustahilan. Rembulan tidak pernah berharap sejauh ini hingga Bintang memberinya cokelat. Rembulan memang sering berhalusinasi tentang Bintang, tapi untuk memberi cokelat ... Rembulan sama sekali tak pernah membayangkan sebelumnya. "Canda lo, ya, Ra?" tuduh Pita sama seperti Rembulan yang masih belum percaya. "Astagfirullah ...." Yura menghela napas panjang. Menatap teman-temannya bergantian, mencoba untuk sabar menjelaskan. "Ngapain gue bohong? Terus, menurut kalian berdua, cokelat ini darimana? Dari Hongkong tiba-tiba ada di tangan gue?" Yura berusaha meyakinkan teman-temannya. Telunjuk dan jari tengahnya terangkat membentuk huruf V. "Serius!" Pita merebut cokelat dari tangan Yura, menatap cokelat dengan penuh selidik. "Bintang emang baik sih, tapi untuk cokelat ini ... kenapa Bintang harus ngasih Rembulan cokelat? Harusnya Bintang itu, kan, ngasih Rembulan plaster atau obat merah gitu. Kan, yang sakit pipinya. Emangnya cokelat bisa sembuhin memar di pipi lo, ya, Lan?" tanya Pita geleng-geleng kepala. Yura memejamkan matanya mencoba untuk bersabar menghadapi Pita. Sedangkan Rembulan sibuk dengan pikirannya, masih tidak menyangka dengan cerita Yura barusan. "Aduh, Pita!" seru Yura gemas. "Hal itu nggak usah dipikirin deh. Yang penting itu sekarang hubungan Rembulan sama Bintang ada kemajuan. Bintang—" "Lo tadi sebut nama siapa? Coba ulang, Ra. Nggak salah denger gue?" Ucapan Yura terhenti ketika Iren—yang entah sejak kapan—sudah ada di sebelah mereka dengan tangan yang memegang botol mineral. Sepertinya Iren baru saja balik dari kantin bersama temannya. "Hah?" Yura mendadak gelagapan, bingung harus menjawab apa. Sialnya, mulutnya tidak bisa dijaga. Padahal Rembulan sudah mewanti-wanti Pita dan Yura untuk tidak menyebutkan nama Bintang dengan suara yang keras. Namun, rupanya Yura mendadak nge-bug. "Gue ... emang tadi bilang apa?" Bukannya menjawab, dia malah bertanya balik. Iren mengernyit bingung. "Kalau nggak salah denger, tadi lo bilang hubungan Rembulan sama Bintang." ujar Iren mengangkat alisnya membuat Rembulan menepuk dahinya pelan. Meringis menyaksikan apa yang akan Iren ketahui selanjutnya—terlebih mengenai perasaan Rembulan yang diam-diam menganggumi Bintang. Sedangkan Pita menggelosorkan kepalanya di atas meja, merasa bahwa, tamatlah sudah jika Iren mengetahuinya. Yura menatap Pita dan Rembulan bergantain, mereka justru memilih untuk menatap ke arah lain. "Hah? Uhm, kayaknya lo salah denger deh, Ren. Gue—" "Telinga gue masih normal kayaknya. Lagian, gue juga tadi liat lo ketemu Bintang di depan mading." Tatapan Iren tertuju pada Rembulan yang memilih mengalihkan pandangannya ke arah lain dan berpura-pura sibuk mengeluarkan buku paket. "Lo suka sama Bintang, Lan?" Suara Iren membuat tubuh Rembulan membeku. Sekujur tubuhnya nyaris mati rasa jika saja Pita tidak menginjak kakinya membuat Rembulan meringis. "Bintang Prawira anak XI IPA 3, kan?" tanya Iren lagi, suaranya terdengar meremehkan ketika melihat Pita, Yura, dan Rembulan hanya diam saja. "Lo salah denger kali, Ren. Mana ada Rembulan suka sama Bintang. Rembulan itu sukanya sama orang lain. I-iya, kan, Lan?" tanya Yura meminta jawaban dari Rembulan yang perlahan mendongak. "I-iya. Gue nggak suka siapa-siapa kok." jawab Rembulan cepat, mencoba untuk mengatur ekspresi wajahnya. Iren mengangkat kedua alisnya, menatap teman-temannya tidak percaya. "Masa sih?" tanya Iren tak percaya. "Ren, lo ngapain sih ikut campur urusan orang lain?" Pita mulai tidak nyaman dengan topik obrolan Iren yang menurutnya terlalu ingin tahu urusan orang lain. Sedari tadi Pita memang ingin protes, tapi dia sedang mencari kalimat yang tepat untuk menghentikan aksi Iren. "Lo kepo banget deh kalau urusan soal Rembulan. Terserah Rembulanlah, dia mau suka sama si A kek, si B kek, si Z sekali pun. Apa untungnya buat lo?" protes Pita yang mulai kesal. "Gue nggak kepo kok. Cuma prihatin aja sama Bintang kalau emang bener dia disukai sama cewek kayak ... Rembulan. Lagi pula, tipe cewek Bintang bukan kayak lo, Lan. Tipe cewek Bintang itu yang cantik." ucap Iren, entah dengan tujuan apa dia mengatakannya di hadapan Rembulan. "Anyway, gue sama Bintang temen satu bimbel." lanjutnya. "Urusannya sama lo apa, Ren?" tanya Pita mulai tak tahan dengan apa yang diucapkan Iren. "Lo itu sensitif banget deh setiap kali kita bahas Rembulan. Oh, gue tahu ... lo iri, kan, sama Rembulan?" Pita mengangkat alis. "Lo iri karena lo nggak bisa ngalahin juara satunya Rembulan. Lo iri karena lo selalu lebih rendah dari Rembulan. Itu, kan, Ren?" tanya Pita yang berhasil memancing emosi Iren. "Ta—" "Jaga mulut lo, ya, Pita!" Iren maju selangkah membuat Yura menghadang jalan perempuan itu. "Mau apa?" balas Yura mengangkat dagunya jemawa. Awalnya Yura merasa takut ketahuan oleh Iren mengenai pembicaraannya barusan, tapi mendengar cibiran Iren yang menurutnya sudah melewati batas membuat Yura tidak bisa diam saja. "Otak lo kebanyakan belajar Matematika, ya, Ren? Sampai lupa buat belajar sopan santun." Iren menahan kesal, tangannya terkepal. Dia menatap ketiga teman sekelasnya bergantian. "Yang penting gue tahu diri. Nggak kayak temen lo itu." ujar Iren berbisik di telinga Yura dengan matanya yang melirik ke arah Rembulan. Belum sempat Yura membalas, beberapa anggota OSIS masuk ke kelas untuk meminta sumbangan yang mengharuskan semuanya untuk duduk. Sedangkan Iren melengos begitu saja, tak memedulikan pandangan Yura, Pita dan, Rembulan. Rembulan benar-benar bingung sekali dengan tingkah laku Iren. Masalahnya, Iren terus-menerus bersikap ingin cari masalah dengan Rembulan. Sikapnya selalu menunjukkan tidak suka kepada Rembulan dan teman-temannya. Terlebih Rembulan, padahal selama ini Rembulan tidak pernah memiliki masalah apa pun dengan Iren. Beberapa tahun belakangan ini berada dalam satu kelas yang sama dengan Iren, jujur saja Rembulan tidak pernah membuat masalah. Justru Iren yang terus-menerus memojokkan Rembulan—yang Rembulan pikir bahwa Iren iri dengan kemampuan Rembulan yang selalu menjadi juara satu di kelas, bahkan nyaris bergiliran juara umum dengan Bintang. Sebenarnya Rembulan yakin bahwa Bintang mengenalnya. Namun, entah mengapa kejadian kemarin saat Bintang tidak tahu namanya—ayau entah hanya berpura-pura, membuat Rembulan tahu bahwa dirinya tidak membekas diingatan Bintang. Hal itu membuat Rembulan sadar bahwa dia tidak berarti apa-apa dalam ingatan Bintang—sekali pun dia dan Bintang selalu bergiliran mendapat peringkat juara umum angkatan. Perkataan Iren selalu Rembulan akui kebenaran faktanya. Iren selalu berbicara berdasarkan fakta, bahwa memang perempuan gendut seperti Rembulan bukanlah tipe Bintang sama sekali. Ternyata pintar saja tidak cukup. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD