Part 9

1054 Words
"Nggak, nggak, nggak!" Rembulan mengibaskan tangannya. "Yang bener aja dong?" Matanya menatap Yura dan Pita tidak terima dengan apa yang barusan teman-temannya katakan. "Yang ada bikin malu." "Lan, ini percobaan aja kok. Selama ini lo juga penasaran, kan? Seenggaknya lo usaha dulu, Lan. Kalau udah ada hasilnya, lo baru bisa menyimpulkan semuanya." jelas Yura berusaha untuk menjelaskan dengan tenang. Rembulan mendengkus, menegak air di botol minumnya hingga tandas. "Emang nggak ada cara lain, ya, selain ngirimin Bintang surat setiap harinya? Cara yang lebih—" "Ini itu cara paling unik, Lan. Zaman sekarang, kan, udah canggih. Semua serba modern, kalau mau kirim pesan tinggal w******p atau Line. Semua orang bisa melakukannya dengan mudah karena mereka punya ponsel. Tapi, kalau lo bikin surat-surat buat dikirim ke Bintang, kayak kisah cinta zaman dulu gitu, zaman Kakek-Nenek gue masih surat-suratan. Siapa tahu dengan cara itu, surat-surat lo menarik buat Bintang karena beda dari yang lain. Who know, Lan?" Pita membantu membujuk Rembulan. Sebenarnya bukan tanpa alasan Pita dan Yura tiba-tiba membujuk Rembulan untuk memperjuangkan Bintang. Saat di toilet tadi, mereka tidak sengaja mendengar obrolan siswi lain yang membicarakan Bintang. Ternyata Bintang sedang melakukan pendekatan dengan teman satu kelasnya. Dan, hal itu tidak boleh terjadi dalam kamus Pita dan Yura demi membantu Rembulan. Mereka tidak ingin membuat Rembulan merasakan patah hati dan berakhir insecure lagi. Mereka tidak ingin Rembulan terus-menerus merendahkan dan menyakiti dirinya sendiri. Setidaknya, mereka bisa melakukan untuk memberikan tip dan trik yang bisa Rembulan lakukan. Meski mungkin tidak bisa menjamin, tapi mereka percaya bahwa selalu ada kemungkinan di setiap usaha yang dilakukan. "Kenapa nggak mau sih, Lan?" tanya Yura, menyerongkan tubuhnya untuk menghadap Rembulan. "Gini, deh, kalau lo emang tetep nggak mau. Gimana kalau kita tetep ngirim surat buat Bintang, tapi pengirimnya anonim gitu. Jadi, Bintang nggak boleh tahu kalau yang ngirim surat itu elo, Lan. Jadi, aman-aman aja. Dan lo juga bisa tahu respons dia seperti apa. Seenggaknya, lo nggak terus-menerus minder, Lan." Suara Pita dan Yura terus memenuhi indera pendengaran Rembulan. Ide gila macam apalagi yang teman-temannya akan lakukan? Setelah kemarin mereka membuat misi diet untuk Rembulan—yang bahkan belum berhasil. Sekarang? Lihatlah, mereka sudah memulai membuat rencana aneh. Rembulan membuang napas pendek. Matanya menatap sosok jangkung yang sedang memasukkan bola ke dalam ring basket. Hari ini, anggota ekskul basket sedang latihan di lapangan sepulang sekolah. Rembulan melihat dari kejauhan, awalnya Rembulan ingin melihat dari jauh saja dan sendirian. Namun, tiba-tiba saja Yura dan Pita yang telah menyelesaikan piketnya langsung menarik Rembulan begitu saja ke pinggir lapangan. Dan, di sanalah mereka berada. Memandangi anak-anak basket yang sedang latihan. Ada juga anggota marching band yang sedang latihan. Rembulan menolak, tapi Yura dan Pita sudah terlanjut membawanya ke pinggir lapangan. Malu jika harus berdebat dan akan berakhir menjadi pusat perhatian anggota basket, apalagi ... Bintang. Bagi Rembulan, menyukai Bintang saja sudah cukup. Namun, mendapatkan hati Bintang adalah hal yang tidak mungkin terjadi. Rembulan tahu betul dirinya yang tidak bisa sebanding dengan Bintang yang ... yah, bisa kalian pikirkan sendiri. "Lan, kok bengong sih?" Pita menepuk pundak Rembulan berkali-kali. "Lan—" "Iya, terserah kalian ajalah. Asalkan jangan bawa-bawa nama gue dan jangan gue yang ngasihin langsung suratnya." Pita dan Yura melakukan high five dan tertawa bahagia, mereka mengiyakan permintaan Rembulan. "Terus yang bikin suratnya siapa?" tanya Rembulan lagi. "Lo lah, Lan. Kan, lo yang suka sama Bintang. Masa gue? Yang ada nanti Bintang tahu isi hati gue. Bahaya!" protes Pita geleng-geleng kepala membayangkannya. "Jadi, beneran mau, ya?" "Kirim suratnya jangan setiap hari. Masa iya nulis surat tiap hari?" Rembulan mendengkus. "Gimana kalau setiap hari Rabu, terus—aduh!" Sebuah bola basket menghantam pipi Rembulan dengan kilat tanpa aba-aba. Semua mata tertuju pada Rembulan yang meringis memegangi pipinya yang memerah. Wajahnya seketika merah, rasa nyeri menjalar di wajahnya. "Lan, Lan!" Suara Pita dan Yura terdengar panik. "Lo nggak apa-apa, Lan?" "Nggak apa-apa gimana, Ta? Ini pipinya Rembulan kena bola basket. Sakitlah!" protes Yura berdecak. "Lan, sakit nggak?" Rembulan masih meringis dengan tangan yang memegangi pipi kanannya. "Eh, sori, gue bener-bener nggak sengaja sumpah! Gue minta maaf, gue nggak sengaja." Suara seorang laki-laki membuat ketiganya kompak menoleh. Diikuti anggota basket yang lainnya ikut mengerubungi Pita, Yura dan Rembulan yang masih memegangi pipinya. Ketiganya kompak tertegun melihat kedatangan laki-laki jangkung yang beberapa saat lalu menjadi bahan obrolan mereka. "Bintang, parah lo, Bin!" "Obatin sana, Bin! Cewek, tuh, yang kena." Seruan teman-temannya mendadak membuat kepala Rembulan pening. Rembulan mendongak, melihat Bintang di hadapannya yang terlihat samar-samar. Suaranya terdengar berdengung, tapi masih bisa didengar olehnya. Sayup-sayup Rembulan membuka matanya. Dia tidak pingsan, hanya saja terlalu terkejut dan sakit merasakan hantaman besarnya bola basket mengenai wajah Rembulan. Beruntung sekali Rembulan tidak sampai pingsan. Jika pingsan, mau ditaruh di mana wajah Rembulan di hadapan Bintang dan teman-teman satu tim basketnya? "Nama lo siapa?" tanya Bintang pada Rembulan yang masih meringis menahan kesakitan. "Gue—" "Lo ngapain sih pake nanya nama segala? Harusnya lo bawa ke UKS, bukan nanya nama doang dong!" Pita mendadak sewot karena sedari tadi risih dikerumuni banyak orang. Beberapa anggota marching band juga jadi menoleh ke arah mereka. Bintang sempat tertegun ketika mendengar protes Pita. Namun, lelaki itu tetap menyetujui permintaan Pita. "Ayo, gue anter lo ..., " "Namanya Rembulan." jelas Yura ketika melihat raut wajah Bintang yang kebingungan. Seolah-olah paham apa yang ada di pikiran Bintang. "Oh ..., ayo, gue anter lo ke UKS. Gue—" Belum sempat Bintang menyelesaikan perkataannya, Rembulan sudah lebih dulu berdiri. Tangannya masih setia menutupi pipinya memerah, mungkin sekarang sudah memar karena hantaman bola basket begitu kencang. Beruntung hanya memar, tidak sampai pingsan dan mengharuskan Bintang mengangkat Rembulan hingga ke UKS—seperti kebanyakan cerita-cerita picisan dalam novel-novel yang pernah Pita ceritakan dengan heboh. "Gue nggak apa-apa." jawab Rembulan menunduk. "Gue permisi ke toilet dulu." Usai mengatakan itu, Rembulan berlalu begitu saja meninggalkan teman-temannya dan segerombolan anak-anak basket yang kini menyalahkan Bintang. "Lan!" teriak Yura dan Pita bersamaan mengejar Rembulan. "Rembulan!" Mereka tidak tahu akhirnya akan seperti ini. Mereka tidak tahu bahwa duduk di pinggir lapangan hanya untuk menyaksikan latihan basket Bintang berujung pipi Rembulan yang memar dihantam bola basket. Yura dan Pita khawatir dengan Rembulan yang berlalu begitu saja. Merasa bersalah karena sudah memaksa Rembulan untuk menonton latihan basket Bintang di pinggir lapangan. "Lan!" ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD