Part 8

1326 Words
Rembulan menahan napas ketika di depannya ada Bintang yang sedang mengambil air mineral di kulkas kantin Pak Muh. Berada dekat Bintang membuat Rembulan kesulitan mengatur degup jantungnya. Rembulan sudah berulang kali mengatakan bahwa dia akan merelakan perasaannya menguap dengan sendirinya begitu saja kepada Bintang. Namun, rupanya hati Rembulan tidak bisa berbohong. "Lan, malah bengong!" Pita mengejutkan dengan menepuk Rembulan. Namun, setelah sadar dengan apa yang membuat temannya itu tetdiam, Pita menyikut lengan Rembulan seraya berbisik. "Oh, ngomong dong kalau ada Bintang. Gugup, ya?" ledek Pita membuatku mendengkus. "Aduh!" Yura yang baru saja menghampiri teman-temannya—karena tadi harus berbicara dengan Romi, ketua ekskul teater—tak sengaja menabrak Bintang yang hendak melangkah usai membayar ke Pak Muh. "Eh—" "Sori, sori." ujar Bintang mendongak menatap Yura yang baru saja tak sengaja tertabrak olehnya. "Lo nggak apa-apa?" tanya Bintang. Yura menatap Pita dan Rembulan bergantian yang masih berdiri di depan kantin Pak Muh. Meringis ketika mendapati Yura bertabrakan dengan Bintang. "Oh, nggak apa-apa ... kok ..., Bintang." balas Yura yang mendadak gugup. Dahi Bintang mengernyit, hanya sebentar. "Kenal sama gue?" tanya Bintang membuat Yura tersenyum kikuk. "Ah, nggak." Yura menggeleng, mendadak linglung berhadapan dengan Bintang. Masalahnya, perlu Yura akui bahwa wajah Bintang begitu mulus dan tampan. Sepertinya kedatangan jerawat selalu ditolak oleh kulit mulutnya. "Gue kenal nama lo aja. Ya udah, bye!" Yura nyengir, cepat-cepat berlari ke arah teman-temannya yang segera mengalihkan pandangan ketika Bintang menoleh. Yura menghela napas lega setelah Bintang berlalu. "Tadi gue yang nabrak atau dia yang nabrak sih?" tanya Yura yang masih kebingungan. Rembulan dan Pita kompak menggeleng sekaligus melongo bersamaan. "Menang banyak lo, Ra." Rembulan berdecak, geleng-geleng kepala. "Nggak sengaja. Sumpah, Lan!" Rembulan terkekeh melihat raut wajah serius Yura. "Gue yang nabrak, ya?" tanyanya lagi. "Nggak tahu. Lo yang ngerasain, ngapain nanya ke kita?" Pita mendengkus. "Eh, tapi gimana, tuh, Ra, rasanya deket Bintang tadi? Kalau seandainya yang di posisi tadi itu Rembulan, gimana reaksinya, ya, Ra? Muka lo aja gini udah kayak maling ketangkep basah." ucap Pita gelenggeleng kepala. "Kagetlah gue," Yura melotot, masih berusaha mengatur keterkejutannya. Pasalnya, sedari tadi dia sibuk membersihkan seragamnya yang kotor karena bersandar di dinding setelah berbicara dengan Romi. Yura jadi tidak fokus melihat jalan dan berakhir bertabrakan dengan tubuh Bintang. Rembulan dan Pita sudah memesan cilok lebih dulu, sedangkan Yura memesan mie instan. Mereka masih membicarakan Bintang hingga mereka duduk di salah satu meja panjang dekat kantin Pak Muh. "Tapi, emang beneran sih, Bintang itu bener-bener ganteng. Mukanya aja mulus banget gila. Gue aja yang cewek kalah kayaknya. Dia ... perawatan mulu kali, ya?" tanya Yura keheranan. "Mungkin?" Pita mengangkat bahu setelah menelan kunyahan ciloknya. "Kan, dia tajir melintir, Ra. Anak dokter, udahlah, nggak usah diraguin lagi." "Uhm, kenapa, ya, dokter itu nggak pernah diraguin hartanya? Maksud gue, kenapa dokter itu selalu bisa membuat orang-orang berpikir kalau hidupnya terjamin? Padahal, kan, nggak gitu juga konsep terjamin atau nggaknya." Rembulan angkat suara, dia menegak botol minumnya hingga habis setengah. "Yah, Lan. Gaji dokter itu beda sama gaji karyawan. Lo pinter, masa hal kayak gini aja nggak paham sih, Lan? Dokter itu, kan, sekolahnya mahal. Ya udah pasti gajinya juga worth it sama biaya kuliah yang pernah dikeluarkan. Lagi pula, ah, lo mah bercanda deh pertanyaannya." Pita mendengkus menatap Rembulan, dia mengurungkan niat untuk menyuapkan cilok ke mulutnya. "Lan, lo pernah denger nggak, apakah ada dokter yang miskin?" Rembulan terlihat berpikir sebentar, wajahnya menunjukkan rasa sangsi. Sejenak, dia menggeleng pelan. "Belum pernah dengar sih. Tapi, mungkin ada, Ta." balas Rembulan sangsi. "Mungkin?" Pita mengangkat alis. "Tapi, kita tahu mayoritas dokter itu seperti apa. Apalagi orang tua Bintang, kan, dokter spesialis. Kata nyokap gue sih, temennya yang punya suami dokter tulang, gajinya puluhan sampe ratusan juta per bulan. Kebayang nggak sih duit keluarganya Bintang ada berapa? Emak sama Bapaknya dokter spesialis semua kalau lo lupa, Lan." ujar Pita mengingatkan. "Kelihatan anak dokternya, ya, Ta. Mulus, bening, perawatan banget kayaknya gila deh. Mana apik gitu orangnya, maniak kebersihan, seragamnya aja rapi terus nggak pernah kusut, manaan dia wangi lagi. Kayak ... Bintang itu nyaris sempurna nggak sih? Semua poinnya ada di dia." seru Yura setelah meminum es tehnya. "Mungkin karena pernyataan Yura barusan yang membuat gue terkagum-kagum sama dia." ucap Rembulan setengah yakin. Dia sangsi dengan ucapannya sendiri. "Mungkin? Gue nggak tahu, itu terjadi secara normal." lanjutnya mengangkat bahu. "Ya, nggak apa-apa. Berarti itu normal, Lan. Gila aja kali kalau ada yang bilang Bintang jelek." Pita sewot sendiri, menyuapkan cilok yang sedari tadi dia urungkan karena harus menjawab pertanyaan Rembulan. "Remaja kayak kita mah wajar kali suka sama orang dari tampangnya doang. Kalau udah dewasa baru beda lagi. Mikirnya nggak cuma fisik, tapi dari tanggungjawabnya gimana, pola pikirnya gimana, dan hal lain yang nggak hanya dilihat dari fisik aja." jelas Yura lagi membuat Pita menggeleng takjub. "Wow! Mendadak bijak juga lo, Ra." balas Pita, lalu dia memicingkan matanya. "Nyontek quotes gue di i********:, ya, btw?" tanya Pita mendengkus menatap Yura. Yura tergelak, begitu juga dengan Rembulan. Di antara ketiganya, mungkin Pita yang paling sok bijak dan melankolis. Pita sering membuat quotes-quotes yang diposting di i********:-nya. Pita juga senang membuat tulisan-tulisan. Dan sekarang, Pita sedang sibuk belajar menulis novel di salah satu platform menulis. Cita-citanya ingin menjadi seorang penulis seperti Asma Nadia yang ceritanya sudah banyak dijadikan film. "Ngeuh juga lo, Ta?" Yura masih tertawa. "Ngeuh, lah. Orang gue yang nulis. Eh, tapi, bijak, ya, gue?" Pita menaik-turunkan alisnya, berujar dengan bangga. "Gue harap, suatu saat nanti, gue bisa jadi seorang penulis dan menerbitkan banyak buku." ucapnya dengan sepenuh hati. "Aamiin ...." kompak Rembulan dan Yura bersamaan. Lalu mereka kembali sibuk menghabiskan makanan mengingat jam istirahat akan segera habis. Namun, Rembulan menghela napas setelah minumnya habis. Dia jadi kepikiran dengan cita-citanya. Dia tidak tahu akan menjadi apa nanti setelah banyak orang yang mematahkan mimpinya. Bukan satu atau dua tahun Rembulan menghadapi cibiran orang-orang yang selalu melihat Rembulan dari fisiknya saja. Melainkan semenjak Rembulan menginjak bangku TK. Mungkin saat masih kecil, Rembulan akan terlihat menggemaskan dengan tubuhnya yang gempal. Namun, sekarang? Mungkin orang-orang akan berpikir seribu kali untuk mengatakannya. "Btw, balik ke topik Bintang, lo beneran nggak mau coba kenal sama dia, Lan? Seenggaknya lo nggak begitu penasaran, kan, Lan. Lagian, gue juga penasaran deh, tipe cewek yang Bintang mau itu kayak apa sih? Kan, banyak primadona sekolah kita yang ngincer dia. Anehnya, nggak ada yang membuat dia tertarik sedikit pun." ujar Pita yang membuat obrolan ketiganya kembali hidup. "Iya juga, ya." Yura menganggukan kepala setelah berpikir dan menyadarinya. "Tapi, gue denger-denger, dia lagi deket sama temen sekelasnya. Siapa sih itu namanya yang mayoret marching band sekolah kita?" tanya Yura penasaran. "Oh, Maura?" tebak Rembulan tepat sasaran. Rembulan tidak begitu mengenalnya, hanya saja dia mengetahui namanya. "Yang tinggi itu?" "Nah, iya! Eh—lo nggak sakit hati, Lan?" tanya Yura hati-hati. "Sakit hati? Sakit hati sama hal yang nggak bisa gue miliki maksudnya?" Rembulan mengernyit, menggelengkan kepalanya. "Ra, Rembulan itu kalau sakit hati nggak pernah ngomong. Dia mah mendem sendiri terus. Mau ditanya berkali-kali pun, jawabannnya satu, gue mah tahu diri." jawab Pita yang membuat Rembulan geleng-geleng kepala dan langsung mendapat tawa dari Yura. "Tapi, Lan," Yura berdeham setelah tawanya mereda. "Nggak gitu juga cara lo menghadapi sakit hati. Jangan dipendem sendirian kalau lo emang butuh temen cerita. Kena mental lo, Lan. Kasihan mental lo. Jangan nyakitin diri sendiri, Lan. Kan, ada gue sama Pita. Lo bisa berbagi cerita kalau lo mau dan siap." Rembulan tersenyum penuh arti, menatap kedua temannya bergantian. "Ra, Ta, thanks, ya, kalian berdua udah mau temenan sama gue. Dari banyaknya orang yang sekolah di sini, mungkin cuma lo berdua yang tulus sama gue." ucap Rembulan. Tulus? Mengapa itu terdengar menyakitkan bagi Yura dan Pita? Selama ini mereka berusaha untuk menjadi teman yang baik untuk Rembulan. Mereka sadar bahwa Rembulan orang yang baik dan pantas untuk dijadikan teman. Orang seperti Rembulan sangat sulit ditemukan. Kebaikan Rembulan selalu membuat Yura dan Pita banyak belajar darinya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD