Part 7

1462 Words
Rembulan baru saja keluar dari kamar mandi, tapi langkahnya terhenti ketika mendengar suara isakan yang semakin terdengar. Rembulan memastikan pendengarannya tidak salah, dia mendekat ke sumber suara, mencari dari mana suara itu berasal. Sekolah sudah sepi karena bel pulang sudah berdering sedari tadi. Namun, Rembulan meminta izin untuk ke toilet dan menyuruh kedua temannya menunggu di gerbang saja. Rembulan mengintip dari balik tembok dan menemukan seorang perempuan berseragam sama dengan bahu naik-turun, dan ... tunggu, tas milik siswi itu seperti sudah tak asing lagi di mata Rembulan. Rembulan mengenali tas berwarna pink itu. Tas itu milik Iren. Ketika sadar, mata Rembulan membelalak melihat siswi itu itu adalah Iren yang posisinya membelakangi dirinya, Rembulan hendak mendekat, tapi dia urungkan ketika suara isakan Iren semakin terdengar. Tangan Iren memegang sebuah kertas. Kertas? Tunggu, saat bel pulang sekolah, ketua kelas Rembulan meminta teman-teman kelasnya untuk jangan pulang dulu karena akan membagikan hasil ulangan kimia yang sudah dilaksanakan hari ini. Rembulan mengernyit, mungkinkah Iren menangisi kertas ulangan itu? Jika iya, kenapa? Kenapa Iren harus menangisinya padahal Rembulan yakin bahwa Iren pasti mendapat nilai bagus. Rembulan memilih bersembunyi di balik tembok ketika Iren beranjak dari kursinya. Perempuan itu memakai masker yang dia ambil dari dalam tasnya lalu beranjak dari sana. Namun, Rembulan menghampiri tempat Iren menangis tadi dan menemukan kertas yang sudah kusut dan robek berceceran begitu saja. Rembulan mengambil potongan kertas dan menyatukannya agar lebih jelas untuk dibaca. Rembulan melihat kertas itu adalah kertas ulangan kimia yang dibagikan tadi. Terkejut saat mengetahui nilai Iren hanya mendapat nilai tujuh puluh saja. Pasalnya Iren selalu mendapat nilai di atas delapan puluh. Nilai-nilai Iren selalu bagus. Namun, Rembulan mengingat ketika ulangan kimia hari ini, Iren terlihat berbeda dari biasanya. Iren terlihat frustasi. Rembulan menatap potongan kertas bagaikan puzzle itu menjadi utuh. Mungkin karena nilai tujuh puluh yang menjadi alasan Iren memilih membuang dan merobek kertas ulangannya. "Lan!" Sebuah teriakan membuat Rembulan refleks menoleh mendapati Pita dan Yura sudah berada di dinding samping toilet. "Ayo! Ngapain di situ?" teriak Pita ketika Rembulan sudah berdiri. Rembulan membiarkan kertas-kertas itu tetap berada di sana, dia tidak berhak mengambil dan mencampuri urusan Iren. Rembulan memilih untuk menghampiri teman-temannya sembari membenarkan letak hijab di kepalanya yang maju. "Ngapain sih, Lan?" tanya Pita penasaran ketika Rembulan sudah berada di dekat mereka. "Lo nggak kesambet, kan, Lan?" "Nggaklah, Ta." balas Rembulan menggelengkan kepalanya. "Ya kali, gue takut lo beneran kesambet deh." ujar Pita menghela napas lega seolah-olah dia baru saja menyaksikan hal yang memicu adrenalinnya. "Terus ngapain dari tadi di situ? Kita nungguin dari tadi di gerbang, Lan. Lama banget tauk!" ucap Yura mengeratkan pegangan pada tali ranselnya. "Ya udah jadi nyusul lo ke sini." Rembulan tersenyum lebar. "Gue nggak apa-apa kok. Maaf, deh, maaf. Ya udah, ayo pulang!" ajaknya merangkul kedua temannya untuk segera pergi. Sepanjang jalan menuju perjalanan ke rumahnya, pikiran Rembulan tertuju pada nilai Iren yang beberapa saat lalu tak sengaja dilihatnya. Rembulan tahu bahwa Iren pintar. Mungkin itulah alasan Iren tidak menyukai Rembulan karena Rembulan selalu lebih unggul darinya. Namun, Rembulan tidak tahu apa-apa. Dia hanya berusaha bersaing secara sehat. Rembulan tidak melakukan kecurangan apa-apa. Rembulan melakukan apa yang dia bisa usahakan. Rembulan tidak pernah merasa tersaingi dengan Iren. Rembulan ingin berteman dengan Iren, tapi Iren selalu memilih menghindar dan mengatakan hal-hal yang menyakitkan kepada Rembulan. Rembulan tidak bisa memaksa kehendak orang lain, tapi dia juga merasa tidak nyaman jika ada orang yang merasa tersaingi olehnya. Meski Rembulan tahu bahwa sudah sewajarnya bersaing prestasi secara sehat, tapi rasa-rasanya persaingan menurut Iren sudah tidak lagi sehat dalam artian sudah begitu terlalu jauh berambisi. *** Seperti biasa, hari-hari Iren akan selalu sama. Jadwal hariannya dipenuhi dengan belajar dan belajar. Iren lupa kapan terakhir kali dia melakukan kegiatan yang membuatnya senang. Iren harus selalu menuruti keinginan Mia, mamanya, yang Iren tahu jika dia salah sedikit saja akan membuat nama Mia menjadi buruk. Iren dituntut untuk selalu menjadi sempurna, tapi Mia tak pernah sadar bahwa sejauh apa pun Iren melangkah untuk menjadi sempurna, kesempurnaan itu tak pernah Iren dapatkan. Malam ini, pukul tujuh, Iren baru bisa menghela napas ketika mamanya belum pulang. Setidaknya, Iren memiliki waktu hingga lima belas menit sebelum guru privatnya datang. Iren masih mengenakan seragam sekolah, dia baru saja pulang dari tempat bimbingan belajar. Bayangkan betapa padatnya jadwal Iren? Tak heran jika Iren selalu mencuri-curi waktu untuk mengistirahatkan otak dari penatnya sehari-hari. Iren mungkin tak mengenal apa itu weekend. Iren mungkin tidak tahu ada banyak tempat wisata yang bisa dikunjungi di hari libur—Iren terlalu sibuk belajar. "Mis Ita belum datang, Ren?" tanya Mia. Ketenangan Iren terusik ketika mendengar suara yang begitu dikenalinya. Iren membuka matanya dengan sempurna, mendongak, menegakkan tubuhnya seraya melihat jam di tangan kirinya. Rupanya, keinginan Iren untuk istirahat sejenak sambil menunggu guru privat Bahasa Inggris-nya datang tidak tercapai. "Belum, Ma." jawab Iren sekenanya. "Udah makan, kan?" tanya Mia menyimpan tas di atas meja, menyerahkan papper bag kepada Iren. "Makan dulu biar kamu fokus belajarnya." ujar Mia lagi membuat Iren hanya diam saja. Mia selalu menyediakan makanan yang enak dan bergizi untuk anaknya. Dengan alasan: agar Iren bisa fokus belajar. Alasan Mia hanya menginginkan Iren fokus belajar, meski beberapa kali terakhir, Iren lebih banyak mengecewakannya. Iren membuka papper bag dan menemukan box makan berisi capcay udang dan ayam goreng. Mia jarang memasak, nyaris tidak pernah mengingat betapa sibuknya dia bekerja. Mia lebih memercayakan masakan-masakan yang dibelinya pada sebuah rumah makan milik adiknya—yang lebih terjamin kesehatannya untuk Iren. "Oh, iya, Ren. Tadi kamu ulangan kimia, kan?" Mia mengalihkan matanya dari ponsel untuk menatap anaknya. "Dapet nilai berapa? Guru kimia kamu, kan, selalu tepat waktu, Ren. Ulangan hari ini, nilainya juga dibagikan hari ini, kan?" tanya Mia beruntun. Seketika kegiatan makan Iren terhenti mendengar pertanyaan mamanya. Iren mengerjap, menelan saliva susah payah. Mengingat beberapa jam yang lalu saat dirinya membuang kertas ulangan kimia begitu saja di belakang sekolah dekat toilet. Iren menyimpan sendok, selera makannya mendadak hilang. Iren jadi teringat dengan nilai Rembulan yang dielu-elukan oleh Pita dan Yura karena mendapat nilai sempurna. Sedangkan Iren? Jika sampai Mia tahu, maka tamatlah riwayat Iren. "Uhm, harusnya gitu, Ma. Tapi karena gurunya ada urusan setelah kelas aku ulangan, jadi belum dibagikan." jawab Iren menenangkan dirinya. Dia bahkan terpaksa berbohong karena takut Mia akan marah besar. Tidak peduli dengan apa yang akan terjadi nanti, Iren akan memikirkannya nanti dan mencari cara. Untuk saat ini, Iren ingin aman. Iren lelah, dia tidak berniat membuang tenaganya untuk menahan kesal. "Nanti kalau sudah dibagikan, lapor ke Mama. Harus Mama catat. Jangan sampai kamu dapet nilai jelek, ya, Ren. Apalagi kalah sama temen kamu itu, si Rembulan. Malu-maluin!" Mia kembali sibuk dengan ponsel, sesekali menoleh pada Iren yang berusaha menghabiskan makanannya sebelum guru lesnya datang. "Makannya cepetan, Ren. Bentar Mis Ita datang. Udahlah, kamu nggak usah mandi. Nanti aja kalau udah selesai les. Habis makan langsung siapin buku Inggrisnya, Ren. Fokus!" "Iya, Ma." Iren hanya bisa mengangguk menuruti perintah Mia. "Si Rembulan nggak ikut les, kan?" tanya Mia membuat Iren mendongak. Iren berpikir sebentar, setahunya, Rembulan tidak mengikuti les di mana-mana. "Dia nggak ikut les di mana-mana, Ma." jawab Iren lagi. Iren segera merapikan bekas makanannya dan hendak ke dapur. Sebelum benar-benar ke dapur, Iren mendengar Mia berbicara lagi. "Tuh, malu kalau sampai kamu harus kalah terus dari dia, Ren. Dia yang nggak ikut les aja bisa jadi juara satu. Masa kamu yang ikut les sana-sini, selesai sampai larut malam, hari libur masih harus ikut bimbel, tapi nggak bisa jadi juara satu? Keterlaluan kamu, ya, Ren, kalau semester ini nggak berhasil lagi. Mama kirim kamu ke sekolah pembuangan." Iren membuang napas kasar, mengeratkan pegangan pada box yang baru saja dia habiskan makanannya. Iren pergi menuju dapur, pundaknya seketika turun setelah mendengat perkataan Mia. Rembulan selalu menjadi topik perbandingan Iren. Rembulan selalu menjadi patokan bahwa Iren harus lebih dari Rembulan. Iren ingin merasakan apa yang dia inginkan tanpa adanya paksaan. Iren tidak tahu mengapa Rembulan begitu lebih unggul padahal perempuan itu tak mengikuti bimbingan belajar tambahan di tempat lain. Namun, nama Rembulan selalu terdengar menyakitkan di telinga Iren ketika Mia membandingkannya. Bukan kali pertama Mia membandingkan Iren dengan Rembulan. Sudah sangat sering, bahkan mungkin Mia selalu membandingkan Iren dengan Rembulan yang notabenenya langganan juara satu di kelas. Iren membenci apa yang dimiliki oleh Rembulan. Iren sudah lelah selalu dibandingkan dan dituntut untuk menjadi nomor satu. Sejatinya Iren berusaha keras, tapi jika kemampuan yang dimilikinya standar, Iren bisa apa? Semua les sudah banyak Iren ikuti. Les matematika, inggris, dan beberapa pelajaran eksak lainnya yang mengharuskan Iren belajar lebih keras dari yang lain. Seharusnya apa yang Iren usahakan akan berhasil, tapi berkali-kali juga Rembulan mematahkan apa yang Iren usahakan. Iren ingin menyerah, tapi dia bisa apa selain menuruti keinginan mamanya? ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD