"Kamu tidak keberatan kan dengan permintaan Papa?" tanya pria paruh baya itu pada putranya.
"Baik, Pa!" jawab Danish tak berpikir panjang, langsung mengiyakan keinginan papanya, tidak ingin menjadikah hal ini berkepanjangan.
"Mulai besok Kamu berangkat ke sini ya, Sayang, aku akan mengatur meja kerjamu agar bersebelahan dengan Danish!" ucapnya.
"Iya," jawab Sella menurut.
Kemudian, Sella dan Pak Suryo keluar dari ruangan Danish. Kini di ruangan itu hanya tinggal Danish dan Doni sahabatnya dengan ribuan tanya di benaknya.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Doni membuka pembicaraan, menepis keheningan diantara keduanya.
Danish mengangguk pelan, hatinya masih sakit dan begitu perih.
"Apa ada yang bisa ku bantu?" tanya Doni mati gaya tak biasanya dia kehabisan kata-kata saat menghibur atasannya itu, tetapi kali ini berbeda, dia bisa merasakan sakit hati yang begitu dalam, ya melihat wanita yang akan dilamarnya menikah dengan papanya, sudah di pastikan hatinya hancur.
Jam makan siang Danish tidak keluar makan siang lebih memilih duduk dan sibuk dengan beberapa folder di laptopnya. Pria itu terus menyibukkan diri dengan pekerjaan dan tak sedikit pun membiarkan otaknya memikirkan sakit hati yang ia alami.
Sore ketika jam pulang tiba, Danish ingin pulang sendiri. Sang papa pasti sudah pulang terlebih dahulu di antar sopir atau pergi berdua dengan calon mama tirinya. Namun, sepertinya dugaannya salah. Sang Papa sedang berjalan ke lift dengan calon istrinya bersamaan dengan dirinya.
“Sayang, biar Danish yang mengantarmu pulang,” ucap Pak Suryo di depan pintu lift saat melihat Danish berjalan menuju ke arahnya. “Danish, kamu mau mengantar Tante Sella pulang kan?” tanya Pak Suryo sedikit memaksa dengan isyarat dan pandangan matanya.
“Iya,” jawab Danish melangkah masuk ke dalam lift di ikuti Sella.
Pak Suryo kembali ke ruangannya ingin menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat karena, minggu depan dia akan menggunakan waktunya untuk mempersiapkan pernikahannya dengan Sella.
Pintu tertutup dan lift mulai berjalan turun. Danish dan Sella saling bungkam sibuk memandang ke arah lain. Namun, akhirnya Danish tak kuasa menahan semuanya dan ingin meminta penjelasan dari wanita itu. Ia pun mempunyai ide untuk mendesak wanita itu.
Pintu lift terbuka.
“Biar aku yang mengantarmu!” tawar Danish sesuai arahan dari papanya agar mengantar calon mama tirinya pulang.
“Tidak perlu, aku akan pulang sendiri!” tolak Sella sambil mengibaskan rambut panjangnya seolah mendapat firasat buruk.
“Aku akan mengantarmu sebagai calon anak tiri bukan sebagai mantan pacar yang telah kamu sakiti!” ucap Danish meyakinkan Sella.
“Aku harus...,” Sella tidak meneruskan ucapannya. Karena Danish sudah menggandeng tangannya dan menuntunnya menuju mobil yang ada di parkiran lantai dasar.
Danish membuka pintu mobil dan memaksa wanita itu masuk, lalu dia duduk di belakang kemudi dan mulai menjalankan mobilnya menjauh dari hotel milik papanya itu.
“Aku akan mengantarmu ke mana pun kamu akan pergi!” ucap Danish.
Sella diam, tak berani menyahut cukup hafal dengan karakter Danish yang keras kepala. Dia harus mencoba lebih memahami sakit hati yang di rasakan Danish karena harus menerima kalau pacarnya akan menikah dengan papanya.
“Katakan! Ke mana aku harus mengantarmu!” paksa Danish.
“Berhenti di sini! Aku bisa pulang sendiri, tanpa merepotkanmu!” kilah Sella mencoba tenang meski pun sebenarnya dia sangat takut akan ke marahan Danish yabg bisa meledak kapan saja.
Danish menepikan mobilnya di jalan sepi. Mobil berhenti, mesinnya di matikan, bersamaan dengan tetesan hujan yang mulai turun, semakin lama semakin deras membuat Sella tak dapat segera pergi.
“Silakan kalau kamu mau keluar dari mobilku!” kata Danish tersenyum puas akhirnya alam memihak padanya untuk mencari kejelasan. Ya pria itu ingin tahu alasan Sella lebih memilih Papanya dari pada dirinya.
“Sella, katakan apa yang membuatmu lebih memilih papaku dari pada aku?” tanya Danish serius benar-benar ingin mengetahui alasan sebenarnya.
“Bukankah sudah jelas, semua sudah terlihat bahkan banyak orang yang tahu apa perbedaanmu dengan papamu!” jawab Sella ingin membuat Danish tampak bodoh di hadapannya.
“Jangan bertele-tele, katakan apa yang membuat Kamu lebih memilih papaku dibandingkan memilihku, apa cintaku selama ini belum cukup! Apartemen, uang belanja bulanan! Semuanya aku sudah mencoba berusaha mencukupi kebutuhanmu!” protes Danish mendekatkan wajahnya dengan Sella hingga mereka berjarak hanya sekian senti saja. Parahnya, jantung Danish masih saja berdetak lebih cepat ketika berada sedekat itu dengan Sella Anindya.
“Aku tidak akan menjawab, biar aku yang menyimpan alasan itu sendirian! Kamu hanya akan merasa tidak berguna ketika mendengar alasanku!” tegas Sella menepis tangan Danish dari dagunya.
Danish tidak menyerah, dia yang masih mencintai dan berdebar ketika berdekatan dengan Sella, kembali meraih wanita itu mendekat padanya. Dengan kedua telapak tangan dan jari nya yang panjang dia meraih wajah gadis itu, mendekatkan ke arahnya dan untuk pertama kali setelah dua tahun berpacaran dia mencium gadis itu dengan begitu kuat, dalam dan hebat. Menikmati kelembutan kulit bibirnya. Sella yang awalnya menolak dan mendorong kasar tubuh Danish, kini dia mulai larut dalam ciuman itu, bahkan merasa nyaman, menikmati dan pasrah akan apa yang akan di lakukan Danish padanya.
Sedetik kemudian, Danish melepaskan ciuman itu, tidak ingin membiarkan dirinya larut lebih dalam lagi, dia harus bisa menahan diri meski pun dia sangat memuja dan terpesona akan kecantikan dan semua hal yang di milik gadis itu.
“Dasar murahan!” umpat Danish mendorong Sella menjauh darinya.
Badan Sella menjauh, punggungnya menekan pintu mobil, dan sedikit merasa sakit di bagian belakang tubuhnya. “Auuw,” pekiknya kesakitan.
“Dasar w**************n!” umpatnya lagi.
Namun, Sella tidak menjawab, tidak ingin meladeni Danish dengan segala keangkuhannya. Itu sangat percuma, tetapi dia tidak bisa membantah jika ciuman Danish, benar-benar membuatnya mabuk dan ingin lagi, sejenak dia merasa menyesal tidak meminta Danish menciumnya sejak lama.
Di tengah hujan Danish mulai menjalankan mobilnya menuju, tempat tinggal saudara dari Sella Anindya, tak lupa ia memberikan payung sebelum gadis itu keluar dari mobilnya, semarah dan sesakit apa pun, dia hanya akan memastikan wanita yang ia cintai itu dalam keadaan baik-baik saja.
Sella turun, membentangkan payung yang diberikan Danish dan meninggalkan pria menyedihkan itu begitu saja, tanpa pamit, tanpa ucapan dan tanpa pandangan mata.
**
Malam hari Danish sengaja. Menunggu papanya pulang dengan merebahkan tubuhnya di sofa ruang keluarga, menahan agar kantuk tidak menguasainya dia berusaha sekuat mungkin agar tidak tidur. Rencananya malam ini dia akan mengatakan semuanya pada Sang Papa mengenai hubungannya dengan Sella selama ini.
Setelah penantian panjang, dan jam di ponselnya menunjukkan pukul 23.13 akhirnya, Danish bisa mendengar suara mobil papanya memasuki pekarangan rumah, tak sampai 5 menit papanya sudah masuk ke dalam rumah dan berjalan menghampirinya.
“Belum tidur?” tanya Pak Suryo menyelidik.
“Belum, Pa!” jawabnya. “Papa dari mana, larut malam baru sampai di rumah?” tanya Danish memastikan ayahnya belum terlalu capek untuk di ajak bicara mengenai keinginannya agar Sang Papa mengakhiri hubungannya dengan Sella.
“Papa baru saja mengajak calon istri Papa pergi,” jawab Pak Suryo.
“Ke mana?” tanya Danish menyelidik, jantung nya berdebar tidak sabar apa yang akan di ucapkan Pak Suryo.
“Papa kan lelaki normal, wajarkan jika papa ...,” Pak Suryo menghentikan ucapannya dan menggantinya dengan isyarat mata menggoda penuh gairah, mengingat kenikmatan di ranjang yang baru saja ia rasakan. Sella, yang begitu indah terus menari-nari di otaknya.
“Maksud Papa?” tanya Danish berharap papanya bercanda. Namun, harapannya sirna ketika melihat bekas lipstik Sella di kerah baju papanya, malam yang indah pasti baru saja mereka lewati berdua.
“Sella, mampu menghidupkan rasa cinta dan mewarnai kembali hari-hari papa,” ucap Pak Suryo dengan wajah berbunga. “Aku harap kamu akan membantu Papa menyiapkan pesta pernikahan!” pinta pria paruh baya itu.
“Siapa yang akan menikah, Pa?” tanya Danish.
“Papa dan Sella, akan segera mengesahkan hubungan kita,” jawab Pak Suryo mantap.
Danish diam, tak menjawab. Baru saja dia ingin meminta Sang Papa meninggalkan Sella, tetapi pria itu malah berniat akan segera menikahi mantan pacar yang masih sangat dicintainya. Danish mengangguk pelan, dia memacu kaki lemasnya menuju lantai dua, ingin segera meringkuk di balik selimut menyembunyikan kesedihannya.
Bersambung.
===========
Hai...
Ini karya orisinal aku yang hanya exclusive ada di Innovel/Dreame/aplikasi sejenis di bawah naungan STARY PTE.
Kalau kalian membaca dalam bentuk PDF/foto atau di platform lain, maka bisa dipastikan cerita ini sudah DISEBARLUASKAN secara TIDAK BERTANGGUNGJAWAB.
Dengan kata lain, kalian membaca cerita hasil curian. Perlu kalian ketahui, cara tersebut tidak PERNAH SAYA IKHLASKAN baik di dunia atau akhirat. Karena dari cerita ini, ada penghasilan saya yang kalian curi. Kalau kalian membaca cerita dari hasil curian, bukan kah sama saja mencuri penghasilan saya?
Dan bagi yang menyebarluaskan cerita ini, uang yang kalian peroleh TIDAK AKAN BERKAH. Tidak akan pernah aku ikhlaskan.
Dreams_dejavu