05

2114 Words
5. Makan Malam Tak terlupakan 2 Danish menghembuskan nafas dalam. Menatap Pak Suryo dan Sella bergantian. Kembali menelan ludah untuk ke sekian kalinya. Masih terasa berat untuk hatinya yang rapuh menerima dengan lapang d**a, kenyataan yang ada di depan matanya. "Danish, akan memikirkan dulu, Pa," sahut pria itu dan segera beranjak dari tempat duduknya. "Danish!" panggil Pak Suryo sedikit marah. "Tante Sella, aku pamit mau ke kamar dulu ada pekerjaan yang harus aku selesaikan," pamit Danish seraya menunduk hormat. Kemudian segera berjalan menaiki tangga menuju lantai dua, ke kamarnya. Meninggalkan Pak Suryo dan Sella di meja makan. Sella mengangguk pelan. Kini hanya Pak Suryo dan Sella yang berada di ruang makan. "Sella, kamu harus sabar ya, Danish mungkin sedikit terkejut dengan keputusanku untuk menikah lagi," ucap Pak Suryo sambil meraih tangan Sang Wanita ke dalam genggamannya. "Iya, Mas, aku bisa mengerti," sahut Sella tersenyum tipis. "Kamu tahu kan, selama ini belum ada satu wanita pun yang aku bawa pulang ke rumah setelah kepergian Mamanya Danish," kata Pak Suryo, masih tidak enak hati. Tidak menyangka Danish bersikap seperti itu. "Iya, mungkin Danish terkejut Mas," sahut Sella menyengir. Namun, dia tetap memasang wajah yang tenang seolah tak terjadi apa pun. "Selama setahun belakangan ini Danish selalu memintaku untuk mencari istri, dan baru setelah bertemu denganmu, aku bisa mengabulkan keinginan putraku itu, percayalah dia tidak mungkin tidak setuju dengan rencana pernikahan kita, semua butuh waktu," kata Pak Suryo meyakinkan sambil menarik Sella ke dalam pelukannya. Danish, yang sedang keluar dari kamarnya, tak sengaja melihat adegan itu. Membuat hatinya semakin teriris dan kembali masuk ke dalam kamarnya. Dengan berbagai pikiran yang berpadu dalam benaknya. Beberapa hadiah dari Sella selama dua tahun menjalin hubungan dengan gadis itu ia kumpulkan menjadi satu di dalam sebuah kotak. Ada baju, sepatu, gantungan ponsel, topi dan masih banyak yang lainnya. Danish bersiap membuangnya besok pagi. Tidak ingin barang-barang penuh kenangan selama dua tahun menjalin hubungan dengan Sella membuatnya semakin sulit untuk move on. Setelah, merasa sudah mengumpulkan semua benda-benda pemberian Sella. Perlahan Danish merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Sesak di dalam dadanya belum berkurang sama sekali. Namun, sekuat mungkin dia berusaha untuk tidak meneteskan air mata. Air matanya terlalu berharga untuk menangisi wanita iblis seperti Sella. Separuh hatinya tidak menyetujui rencana pernikahan Sang Papa dengan mantan kekasihnya. Namun, mengingat Pak Suryo yang selalu kesepian selama sepuluh tahun kematian Mamanya, Danish beringsut setengah hatinya juga ingin menyaksikan ayahnya bahagia, tetapi kenapa harus Sella mantan kekasihnya. Danish mencoba untuk tidur, berbagai posisi ia coba, dari miring ke kiri, miring ke kanan, telungkup, dan telentang. Namun, matanya enggan terpejam juga, masih segar dan belum mengantuk. Pukul 22.09, Danish memutuskan untuk keluar dari kamar dan membuat s**u hangat untuk menemaninya terjaga malam ini. Perlahan kakinya melangkah menuruni tangga. Pandangan matanya tertuju pada televisi yang masih menyala dan Pak Suryo yang tertidur terlentang di sofa. Danish berjalan mendekati papanya. Di perhatikan wajah Pak Suryo yang tertidur pulas. Meski pun sudah hampir setengah abad, pria itu tetap terlihat tampan dengan karisma yang semakin kuat. Sedikit uban yang ada di dekat pelipisnya semakin membuatnya terlihat berwibawa di usia matangnya. Danish, berjalan pelan ke kamar Pak Suryo berniat mengambil selimut untuk papanya. Tidak ingin papanya masuk angin karena kedinginan tidur di sofa ruang keluarga dengan AC yang menyala. Ceklek! Pintu kamar Pak Suryo terbuka. Danish, mendorong pelan daun pintu membukanya lebar-lebar. Kemudian dia menekan remote lampu yang berada di sebelah meja kecil tempat tidur. Sudah lama sekali dia tidak masuk ke kamar papanya, Danish menyapukan pandangan ke seluruh ruangan. Ada yang berbeda, foto mendiang sang mama sudah tidak ada di salah satu sisi dindingnya, di ganti dengan lukisan pemandangan. Entah mengapa, hatinya kembali teriris jika biasanya dia selalu menyuruh Sang Papa untuk menikah, kali ini dia terluka bukan lagi Sang Mama yang ada dalam hati papanya. Danish, mengambil selimut yang berada di ranjang dan segera keluar dari kamar Sang Papa. Kemudian, berjalan mendekati Pak Suryo dan membentangkan selimut untuk menyelimut tubuh papanya. Tak lupa ia memosisikan kepala papanya ke bantal yang lembut. Drrrrtttt ... Drrrrtttt ... Drrrrtttt.... Ponsel Pak Suryo bergetar ada panggilan dari Sella. Danish, mengambil ponsel milik papanya dan berniat ingin mengangkat panggilan itu. Klik! Panggilan di terima, Danish diam. "Sayang, kenapa tak membalas pesanku," ucap Sella manja di seberang telefon. Danish masih diam. "Sayang," "Sayang," panggil Sella dengan suara lebih keras. "Ini, aku Danish, Papa sudah tidur," jawab Danish datar. "Oh ok, maaf ya!" sahut Sella. Klik! Telefon di matikan. Danish, membuka ponsel Sang Papa yang tidak di kunci, ternyata ada puluhan pesan dari Sella yang di simpan dengan nama 'Wanitaku'. Sejenak ada keinginan Danish untuk membuka pesan itu, tetapi suara Pak Suryo yang terbangun, membuat Danish mengurungkan niatnya. “Kamu belum tidur?” tanya Pak Suryo dengan suara serak khas bangun tidur sambil duduk perlahan dengan mengucek matanya. “Danish mau bikin minum, Pa,” sahut Danish. “Barusan ada telefon dari Tante Sella,” kata Danish memberi tahu Pak Suryo sembari mengulurkan ponsel milik papanya yang masih dia pegang. “Oh, iya papa tadi ketiduran, pasti dia masih menunggu pesan dari papa,” ujar Pak Suryo dengan senyum dibalik rasa kantuknya yang tak tertahankan. “Lebih baik, Papa segera tidur!” suruh Danish sedikit memaksa. Cemburu? Jelas! Di saat dia putus cinta, Sang Papa malah kembali seperti anak muda yang senyum-senyum sendiri sembari menatap layar ponselnya. Membalas pesan dari pujaan hatinya. “Iya! Bilang saja Dan, kalau kamu cemburu ya kan!” goda Pak Suryo. “Cari pacar sana! Jangan jomblo terus!” perintah Pak Suryo. Kemudian beranjak dari sofa dan berjalan ke kamar tidurnya. Danish, membuka ponselnya. Dengan pelan dia merebahkan tubuhnya di sofa yang baru saja di tiduri Pak Suryo. Pria itu membuka menu galeri di dalam gawainya. Masih banyak sekali foto Sella di sana, gadis cantik dan mandiri dengan paras imut itu kini bukan miliknya lagi. Melainkan, akan menjadi mama tirinya. Klik! Danish menghapus semua gambar wanita itu di dalam gawainya. Tak menyisakan satu pun. Kali ini dia benar-benar ingin segera melupakan Sella Anindya dari lubuk hatinya. ** Pagi hari Danish terbangun, selimut hangat membalut tubuhnya. Papanya pasti yang membentangkan kain hangat itu ketika ia tertidur. Sang Papa, memang menjadi orang tua yang selalu menyayangi putranya itu. Danish, mengumpulkan nyawanya. Kemudian segera beranjak dan naik ke lantai dua untuk mandi dan bersiap kerja. Melihat jam di ponselnya yang sudah menunjukkan pukul 07.35 WIB, Danish segera bergegas tak lupa ia menyambar handuk dan segera ke kamar mandi. Bersamaan dengan air dingin yang membasuh tubuhnya, dan memberi kesegaran Danish berniat pula menghapus semua kenangan tentang Sella dan membiarkan Papanya bahagia bersanding dengan wanita itu. Danish mencoba berlapang d**a dan akan membiarkan semuanya terjadi sebagai mana mestinya, sesuai takdir yang di gariskan Allah padanya. Selesai mandi Danish mengeringkan tubuhnya dengan handuk dan melilitkannya menutup area sensitifnya. Pria itu segera memilih kemeja yang akan ia kenakan hari ini. Pilihannya tertuju pada kemeja warna biru cerah, dan dasi warna abu tua. Setelah, selesai mengenakan bajunya. Danish mulai menyisir rambutnya ke belakang, dan tak lupa menyemprotkan parfum dengan bau mint yang tajam ke baju yang di pakainya. Kemudian, Danish memeriksa isi dompetnya. Ada foto Sella di dalamnya. Membuat pria itu membuang benda berharga, penuh kartu ATM itu ke tempat sampah yang ada di dalam kamarnya. Danish berbalik, karena berubah pikiran. Dia memungut dompetnya lalu mengambil semua kartu ATM-nya. Kemudian, Danish baru membuang benda itu beserta foto Sella yang ada di dalamnya. Setelah itu, Danish bergegas turun ke lantai satu menuju meja makan untuk sarapan bersama Pak Suryo. Danish, duduk bersebelahan dengan Sang Papa yang sudah terlebih dahulu menunggunya di meja makan. "Pagi, Pa," sapa Danish, lalu dia mengambil roti bakar, menaruh roti itu di atas piring di hadapannya. "Pagi, juga," jawab Papanya ceria sembari mengunyah roti bakarnya. Hening! Pak Suryo sedang merangkai kata untuk menanyakan, tentang pernikahannya pada Danish. "Danish," panggil Pak Suryo dengan suara lembutnya. "Iya, Pa," sahut Danish melihat ke arah papanya. "Apa Kamu sudah memikirkan jawabannya?" tanya pria penuh wibawa itu. "Sudah, Pa," sahut Danish datar. Pak Suryo menatap nanar putranya. "Danish, mengizinkan Papa menikah dengan Tante Sella, asalkan Papa bahagia," ujar Danish di akhiri senyum yang mengembang di bibirnya. Tentu saja senyum palsu karena dirinya masih sakit hati dengan tindakan Sella, tetapi dirinya ingin melihat Sang Papa bahagia. "Terima kasih ya, Sayang," balas Pak Suryo sangat bahagia, dengan semangat Pak Suryo, kembali menyuapkan potongan roti bakar ke dalam mulutnya. Mengunyah dan menelanya pelan. Selesai makan, Danish dan papanya berangkat kerja bersama seperti biasa. Pria itu duduk di belakang kemudi dan mulai menjalankan mobil menuju tempat kerjanya. Sesampainya di hotel Danish segera masuk ke kantornya, sedangkan Sang Papa menemui beberapa bawahannya karena dia sudah merencanakan merekrut orang baru untuk bergabung menjadi staf hotelnya, tanpa memberi tahu Danish, karenaini kejutan untuk putranya itu. Di dalam kantornya, Danish sebisa mungkin berusaha tersenyum tidak ingin terlihat sedih di depan Doni sahabatnya. Doni yang sudah datang terlebih dahulu berjalan menghampiri Danish yang baru saja duduk di kursinya. “Pagi Bro, selamat ya Kamu bakal punya Mama baru?” ucap Doni menggoda. Dengan tatapan yang menjengkelkan. “Selamat apanya,” sahut Danish acuh dan berjalan menuju tempat duduknya. “Tadi banyak karyawan yang menceritakan kalau Pak Suryo bakal menikah lagi! Benar kan Bro!” ujar Doni sangat bahagia. “Iya,” sahut Danish datar, mendudukkan badannya di kursi. “Btw, semalam Kamu sudah ketemu dengan calon Ibu tirimu kan?” tanya Doni begitu antusias, wajahnya masih ceria mendengar berita tentang calon istri Direktur utama di tempat kerjanya itu. Danish mengangguk pelan. “Cantik kan! Calon ibu tiri Kamu?” tanya Doni masih terus menggoda Danish. Danish menyengir lalu menyalakan laptopnya, siap untuk memeriksa laporan pekerjaannya. Membuat Doni yang masih ingin menggoda sahabatnya itu menjadi beringsut dan menggerutu kesal kembali ke meja kerjanya. Mereka berdua sama-sama sibuk merencanakan anggaran untuk pembukaan cabang hotelnya di Semarang bulan depan. Jam menunjukkan pukul 10.20 ketika Pak Suryo dan asistennya bersama seorang perempuan datang ke ruangan Danish. Dengan langkah santai dan suasana bahagia. Pintu terbuka, Danish dan Doni segera berdiri menyambut kedatangan pemimpin perusahaan. Doni, menatap Pak Suryo dan asistennya kemudian pandangannya berlanjut ke orang yang terakhir kali masuk yaitu Sella Anindya, wanita yang selama beberapa hari ini di cari teman satu kantornya itu. “Danish,” bisik Doni sembari menunjuk Sella yang ada di belakang Pak Suryo. Bernafas lega karena ternyata Pak Suryo yang membawa gadis itu ke hadapan Danish, tanpa Danish, harus terjun dengan tangannya sendiri mencari Sella. Danish, melihat datar ke arah Doni yang diam saja. Hanya mengangkat satu alisnya dan kembali menoleh Sang Papa. Mungkin Sang Papa ingin mengenalkan secara formal mengenai Sella pada Doni atau hanya memamerkan hubungannya dengan Sella kepada staf bawahannya dan sengaja membawa gadis itu datang ke hotel hari ini. Pak Suryo duduk di sofa yang berada di ruangan Danish, begitu pun Sella yang duduk disampingnya. Sedangkan asistennya setia berdiri di samping Pak Suryo dan selalu siap menerima titah kapan saja. "Saya akan meminta bantuan, kalian berdua," kata Pak Suryo, suaranya tegas menguasai suasana. "Iya, Pak dengan senang hati," jawab Doni bersemangat. Sedangkan, Danish hanya mengangguk pelan. “Danish, Doni, saya akan meminta bantuan kalian untuk membimbing calon istri saya, belajar mengenai komponen apa saja yang ada di hotel ini, jadi mulai besok Sella akan satu kantor dengan kalian dan belajar dengan kalian berdua, saya mohon bantuan dari kalian,” jelas Pak Suryo to the point. Doni menatap Danish kaget kata ‘calon istri' yang ditujukan pada Sella membuatnya melongo. Dia tidak menyangka jika calon istri Pak Suryo Alexi, direktur utama sekaligus pemilik hotel ini adalah Sella Anindya, seorang wanita yang beberapa hari lalu, memutuskan hubungan dengan Danish Alexi. Sungguh kenyataan ini membuatnya hanya menelan ludah dan tak sanggup berkata-kata. Hingga dia bengong terlalu lama. Kemudian menelan ludah karena tak percaya. Sedangkan bagi Danish, permintaan Pak Suryo sangat berbalikan dengan keinginannya. Dia ingin menjauh dari Sella sejauh mungkin. Namun, Sang Papa meminta dirinya mengajari Sella dan harus satu ruang kerja! Itu benar-benar hal buruk yang sukar di bayangkannya. “Kenapa kalian diam saja?” tanya Pak Suryo. Sedangkan Sella hanya menunduk, takut Doni dan Danish membongkar semuanya di depan Pak Suryo. Danish dan Doni saling menatap, saling menunggu jawaban yang keluar dari mulut rekannya. Danish menginginkan Doni menolak permintaan itu, sedangkan Doni ingin menyerahkan semua keputusan pada Danish. Bersambung. =========== Hai... Ini karya orisinal aku yang hanya exclusive ada di Innovel/Dreame/aplikasi sejenis di bawah naungan STARY PTE. Kalau kalian membaca dalam bentuk PDF/foto atau di platform lain, maka bisa dipastikan cerita ini sudah DISEBARLUASKAN secara TIDAK BERTANGGUNGJAWAB. Dengan kata lain, kalian membaca cerita hasil curian. Perlu kalian ketahui, cara tersebut tidak PERNAH SAYA IKHLASKAN baik di dunia atau akhirat. Karena dari cerita ini, ada penghasilan saya yang kalian curi. Kalau kalian membaca cerita dari hasil curian, bukan kah sama saja mencuri penghasilan saya? Dan bagi yang menyebarluaskan cerita ini, uang yang kalian peroleh TIDAK AKAN BERKAH. Tidak akan pernah aku ikhlaskan. Dreams_dejavu
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD