03

2162 Words
3. Masih Berharap. "Danish," panggil Pak Suryo ketika melihat putranya itu sudah terbangun. Posisinya duduk dengan bersandar dengan satu tangan memegangi kepalanya yang pusing. Pemuda itu tak menjawab. Meski dia sangat nakal dan brutal. Namun, dari dulu hingga sekarang pria itu tetap selalu tunduk pada papanya. Menghargai dan sebisa mungkin tidak membuatnya marah. "Apa yang membuat Kamu kembali minum-minum alkohol lagi?" tanya Pak Suryo tegas. Keningnya mengeriput, dengan kedua alis mengernyit menjadi satu, rautnya marah. "Maaf, Pa, ini yang terakhir, janji!" sahut Danish tetap masih memegangi kepalanya. Pipinya yang putih kini tampak ke merah-merahan. "Minumlah s**u hangat di dapur," suruh Pak Suryo. Meski marah sang papa tetap memperhatikan anak lelakinya itu. Sejak istrinya meninggal, mereka hanya berdua dan hanya memiliki satu sama lain. Danish bukan lah anak yang manja. Namun, kadang dia melampiaskan marahnya dengan lari ke minuman keras, itu yang membuat Pak Suryo tidak suka. Danish berjalan pelan menuju dapur, meninggalkan papanya yang masih duduk di sofa ruang tamu. Di usianya yang sudah hampir lima puluh tahun, Pak Suryo yang menjadi direktur utama di hotel miliknya sendiri, tetap berangkat kerja. Sabtu, minggu ia libur ketika tidak ada pekerjaan di luar kota. Satu gelas s**u yang sudah di buatkan Bi Irah, di teguknya dengan semangat. Ingin segera menghilangkan mabuknya. Tak lupa ia membuka peti es dan mengambil sebotol air mineral dan naik ke lantai dua, ke kamarnya. Ruang kamarnya masih sama, ketika semalam dia pergi. Di ambilnya kembali cincin berlian yang masih ada di balkon. Danish merebahkan tubuhnya di atas ranjang sembari mengamati cincin itu, cincin yang di beli dengan menguras setengah tabungannya itu sia-sia. Kesedihan kembali singgah di hatinya. Kenangan indah bersama Sella kembali berputar di kepalanya, senyum gadis itu, tawanya. Suaranya yang lembut dan selalu membuat rindu. Tak ada satu pun kenangan yang hilang dari memorinya. Danish sadar kalau dirinya sangat mencintai gadis itu. "Sella, aku masih sangat mencintaimu," lirihnya dengan bibir melengkung ke bawah. Untuk pertama kali, air matanya menetes karena seorang wanita. Ini pertama kalinya Danish patah hati. Danish tidak pernah pacaran ketika di sekolah menengah dan saat kuliah dia juga belum tertarik menjalin hubungan dengan wanita. Setelah wisuda, barulah Doni seorang temannya memperkenalkannya pada Sella. Dan pada saat itu juga Danish mulai membuka hatinya dan mencintai seorang wanita. Danish meraup wajahnya kasar, segera beranjak ke kamar mandi, membersihkan diri dari asap rokok dan bau alkohol. Setelah mandi dia berencana menemui Sella dan akan meminta balikan, sejenak dia menyesal sudah kasar pada gadis itu semalam. Nyatanya detik ini juga pipinya basah karena masih ingin mempertahankan gadis itu, cinta pertama dan satu-satunya wanita yang akan ia ajak sampai ke masa depannya. Air dingin mengbalikan kesadarannya dan juga semangat, kali ini di sudah memutuskan untuk mempertahankan hubungannya dengan Sella apa pun caranya. Sudah cinta mati, untuk orang seperti Danish yang tidak mudah jatuh cinta? Sella akan tetap dia perjuangkan karena dirinya sendiri tidak yakin bisa menemukan gadia seperti cinta pertamanya itu. Cinta yang positif, membuat Danish semangat untuk segera menghalalkan gadis itu. Dengan tergesa Danish mengenakan baju seadanya. Di hari minggu ini, dia akan kembali menemui Sella di apartemennya, berharap gadis itu masih di sana. Danish berlari kecil menuruni tangga, dan ingin meminjam mobil papanya. Ya! Mobilnya masih tertinggal di parkiran klub malam. "Pa, pinjam mobil," pinta Danish pada Pak Suryo yang sedang asyik membalas pesan lewat aplikasi berwarna hijau di ponselnya. Beberapa hari ini Sang Papa memang sangat rajin memegang ponselnya seperti anak muda saja. "Ya, hati-hati jangan ngebut!" pesan Pak Suryo asal, kedua netranya masih tertuju pada layar gawainya. Cangkir kopi nya sudah kosong. Sang papa memang sangat menyukai minuman berwarna hitam dan memiliki ampas, yang sangat cocok di minum ketika masih hangat. Danish, mengeluarkan mobil papanya dari garasi. Kemudian dia duduk di belakang kemudi dan segera melajukan mobilnya menuju apartemennya melewati rute yang sama dengan semalam. Untungnya hari ini jalan tidak terlalu macet, meskipun tidak bisa menginjak gas penuh seperti semalam, tapi dia akan segera sampai. Mobil ia parkirkan di lantai paling bawah. Kemudian kakinya melangkah cepat menuju lift, menekan lantai yang di tujunya. Hatinya berdebar, tetapi harapan membuatnya sedikit tersenyum. Apalagi nomor telefon Sella masih aktif dan pesannya masih tersampaikan. Pintu lift terbuka. Danish melangkah cepat menuju pintu apartemennya. Dia membunyikan bel dan menunggunya. Sella belum membukanya, pria itu kembali membunyikan bel dan tetap tidak ada sahutan. Senyum bibirnya lenyap. Dengan tangan kirinya dia membuka pintu dengan kunci yang di miliknya. Pintu terbuka, tetapi ruangan apartemen itu sepi. Ruang tamu dan ruang makan yang menjadi satu dengan dapur, bersih seperti tidak digunakan sama sekali hari ini. Danish berjalan ke kamar Sella yang berada di seb3lah kanan dapur. Namun, gadis itu juga tak berada di sana. Koper yang semalam berada di samping set lemari juga tidak ada. Pria itu membuka pintu almari baju Sella, sudah kosong tidak ada satu kain pun di tinggalkan. Danish meraup wajahnya kasar. Kini dia berjalan ke dapur untuk mengambil minum, meredakan sesak yang terasa di dadanya. Danish memejamkan mata kesal, Sella sudah tidak berada di apartemennya. Bahkan dia berani tidak izin untuk pergi. Pyaaarr! Gelas berisi air putih yang di pegangnya sengaja di banting ke lantai, suaranya menggema di ruang itu. Pecahan kacanya menjadi berkeping-keping, seperti hatinya yang hancur. Air dalam gelas yang pecah pun membasahi lantai dan mengalir hingga ke kakinya. Danish, mengembuskan nafas kesal. Tangan kanannya mengepal memukul meja marah dan sedih berpadu di hati kecilnya. Kemudian dia berjalan ke depan pintu kulkas, ada memo di sana dari Sella. Mengatakan bahwa kunci apartemen ada di meja di kamarnya. Danish menarik kertas itu lalu merobeknya dengan sekuat tenaga. "Sella, ke mana kamu pergi! Hahh! Apa salahku?! Hingga kamu tega bertindak seperti ini! Memutuskan hubungan sepihak dan pergi begitu saja! Tanpa ucapan, tanpa kata-kata!" batin Danis sembari memegangi dadanya yang terasa berat. Dengan rasa lelah dan lemahnya, Danish berjalan menuju ke pintu. Tak lupa mengambil foto gadis itu yang terpajang di dekat meja TV, membawanya keluar. Tak ingin ada satu pun benda yang mengingatkan dirinya. Detik itu juga Danish bersumpah akan melupakan Sella untuk selamanya. Harga dirinya tak dianggap dan hatinya di hancurkan. Danish melempar pigura itu ke tong sampah dengan kasar. Kemudian dia masuk ke dalam mobil dan mengemudikan mobilnya kembali ke rumah. ** Hari senin tiba, pagi hari dengan malas Danish bangun dan berangkat ke hotel bersama sang Papa. Dia mencoba untuk tetap baik-baik saja meski hatinya berantakan dan hancur. Dia duduk di belakang kemudi sedangkan sang papa duduk di sebelahnya. Senyum palsu ia lebarkan, tidak mungkin menangis di depan sang papa dia akan di tertawakan kalau lemah hanya karena masalah cinta. Selama ini Danish tidak pernah menangis kecuali saat kepergian mamanya. Dan tetesan air mata kemarin itu adalah pertama dan tak akan pernah di ulangnya lagi. Mengeluarkan tetesan air matanya yang berharga untuk seorang wanita. "Besok malam pulang lebih cepat ya," pinta Pak Suryo pada putranya yang sedang fokus mengemudi. "Memangnya kenapa?" tanya Danish, padahal dia baru saja berencana dalam minggu ini akan menghabiskan waktunya di kantor bersama para stafnya dari pada pulang cepat dan bengong atau pergi ke klub malam lagi. "Ada seseorang yang ingin papa kenalkan," sahut Sang Papa sambil tersenyum malu. "Siapa?" tanya Danish datar, dan masih fokus melihat ke arah jalan. "Papa akan mengenalkanmu dengan calon istri papa," jawab papanya pelan sambil tersenyum lebar, parasnya berubah menjadi sangat malu. "Apa?" teriak Danish matanya membelalak melihat ke arah papanya. Tak terbesit di pikirannya sama sekali sang papa akan menikah lagi. Pasalnya selama ini sang papa terlihat acuh dengan wanita dan foto pernikahan dengan mamanya, masih terpasang rapi di salah satu sisi dinding kamarnya. "Jangan kaget gitu, papa hanya ingin kamu mengenal calon ibu sambungmu," jelas Pak Suryo tegas. Masih ada senyum tipis dengan sikap malu-malu. "Siapa wanita itu Pa?" tanya Danish menyelidik. Masih belum percaya jika Sang Papa membukan hatinya untuk wanita lain. Pak Suryo memang lebih tua dari putranya, tetapi karismanya lebih kuat. Apalagi dia selalu menjaga pola makan dan teratur berolah raga. Tak jarang wanita-wanita nakal merayunya hanya untuk sekali kencan dengan Pak Suryo. Namun, Pak Suryo bukan lelaki hidung belang yang suaka berganti pasangan setiap kesempatan. Dia adalah seorang duda dengan penuh harga diri yang tak mudah menambatkah hatinya pada wanita. Apalagi membuang waktu hanya untuk cinta satu malam. Belum pernah ia melakukannya sama sekali. "Nanti, juga Kamu bakal tahu, yang jelas papa yakin Dia wanita baik yang akan menjaga papa dan menyayangi Kamu," jawab Pak Suryo percaya diri. Senyumnya lebih merekah di banding sebelumnya, terlihat dengan jelas wajahnya berseri ketika mencarikan wanita itu. "Emmm..., sudah berapa lama papa pacaran dengan wanita itu Pa?" Danish masih sangat penasaran! Jiwa keponya menggebu-gebu. Dia pun sengaja memperlambat laju mobilnya agar bisa mencari tahu lebih banyak tentang wanita itu. "Pacaran?!" "Iya, berapa lama Papa pacaran dengan Si Dia?" Danish mengulang pertanyaannya. "Papa, tidak mengenal pacaran, Papa kan bukan anak muda lagi seperti Kamu," sahut Pak Suryo sambil menggeleng di sertai tawa ringan sembari menepuk pundak putra semata wayangnya itu. "Terus?" protes Danish menatap papanya, memaksa untuk memberi jawaban. "Terus apa?" Sang Papa balik bertanya dan sesekali melihat layar ponselnya. Memastikan ada pesan masuk atau tidak. "Dimana Papa mengenalnya?" selidik Danish masih antusias. "Kamu tahu Tante Marni sahabat Mamamu? Tante Marni yang mengenalkan Papa pada wanita itu," jawab Pak Suryo terlihat sangat bahagia berkisah tentang calon istrinya. "Apa Papa men ... cintainya?" tanya Danish ragu, sembari menggigit bibir bawahnya. Ragu sekali menanyakan hal itu. Tidak enak dan sangat privasi. Jarang Sang Papa akan terbuka mengenai hal seperti itu. Tentang rasa dan hati. Hening! Pak Suryo mengalihkan pandangan. Berpikir sejenak merangkai kata untuk menjawab pertanyaan putranya. "Papa merasa hati papa, kembali hangat ketika mengenal wanita itu. Mungkin Kamu akan sulit menerimanya, tapi percayalah jika papa menikah lagi itu bukan karena papa melupakanmu! Papa hanya butuh teman hidup, berkeluh kesah dan tidak merasa kesepian, semoga Kamu bisa mengerti, Danish!" jelas Pak Suryo dengan raut muka serius dan penuh harap. "Tenang Pa, Danish akan selalu mendukung keputusan Papa, jika Papa bahagia Danish adalah orang pertama yang akan ikut tersenyum Pa, Papa satu-satunya yang Danish miliki saat ini! Jadi Danish akan selalu setuju apa pun keputusan Papa," sahut Danish berlapang d**a. Pria itu memang kadang merasa sedih melihat papanya kesepian di setiap malam, hanya di temani jadwal kerja yang tak ada habisnya. Setiap malam sepulang kerja Sang Papa hanya menghabiskan waktu sendirian di rumah. Dan sejak Danish ikut bekerja di kantornya dia jarang keluar kota. Memang sangat membosankan dengan rutinitas yang sama. Kadang Pak Suryo menyuruh Danish untuk segera menikah agar segera memilik cucu. Namun, Danish sendiri putus dengan kekasihnya. "Jadi Kamu setuju jika Papa menikah lagi?" tanya Pak Suryo. "Iya, Pa asal Papa bahagia dan selalu sehat, Danish akan mendukung Pa!" sahut Danish dengan senyum ceria. Setidaknya ada orang yang akan menjaga Papanya ketika dia keluar kota lebih dari dua hari dan sudah tidak takut lagi papanya akan bosan karena hanya di temani Pak Joko saja. "Akhirnya dia balas pesan papa juga," celetuk Pak Suryo yang melihat pesan dari calon istrinya. Wajahnya amat sangat bahagia, benar-benar seperti remaja yang kegirangan. "Siapa Papa?" tanya Danish menggoda. "Si Dia," jawab Pak Suryo ketawa ringan. Danish melihat ponselnya sendiri, siapa tahu ada pesan masuk dari Sella. Namun, tak seperti papanya yang bahagia. Pesannya tal kunjung di balas hanya menyisakan dua cek lis warna gelap. Pesan itu belum di buka oleh Sella. Embusan nafas panjang keluar dari hidungnya sejalan dengan rasa kecewa di hatinya. Berkali-kali dia memeriksa ponselnya sebanyak itu pula dia menelan ludah dan kecewa karena belum ada balasan pesan dari sang pujaan hati. Mobil sampai di parkiran khusus staf dan karyawan kantor. Pak Suryo dan Danish beriringan masuki hotel menuju lantai dua dimana di situlah tempat untuk para staf dan karyawan. Beberapa pekerja yang melihat kedatangan Pak Suryo mengangguk memberi hormat pada sang pemilik hotel. "Selamat bekerja, Pa, jangan sampai kelelahan," kata Danish sebelum Pak Suryo masuk ke ruangannya. "Iya," jawab Pak Suryo memasuki ruangannya. Sedangkan Danish berjalan ke depan menuju ruangannya yang menjadi satu dengan staf manajer lainnya. Duduk di kursinya sambil bengong dan menikmati kopi dengan berbagai macam pikiran yang berpadu tak karuan di hati dan otaknya. Sella nama yang biasanya memberi senyuman ketika di sebut, kini hanya luka yang di tinggalkan ketika mengingat nama itu dalam pikirannya. Doni melihat rekan sekaligus atasannya itu dengan penuh tanya. Melamun di pagi hari! Tak biasanya di lakukan pria pekerja keras itu di hari-harinya. Bersambung. ============= Hai... Ini karya orisinal aku yang hanya exclusive ada di Innovel/Dreame/aplikasi sejenis di bawah naungan STARY PTE. Kalau kalian membaca dalam bentuk PDF/foto atau di platform lain, maka bisa dipastikan cerita ini sudah DISEBARLUASKAN secara TIDAK BERTANGGUNGJAWAB. Dengan kata lain, kalian membaca cerita hasil curian. Perlu kalian ketahui, cara tersebut tidak PERNAH SAYA IKHLASKAN baik di dunia atau akhirat. Karena dari cerita ini, ada penghasilan saya yang kalian curi. Kalau kalian membaca cerita dari hasil curian, bukan kah sama saja mencuri penghasilan saya? Dan bagi yang menyebarluaskan cerita ini, uang yang kalian peroleh TIDAK AKAN BERKAH. Tidak akan pernah aku ikhlaskan. Dreams_dejavu
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD