02

1131 Words
2. Air Haram Danish beranjak, kemudian menarik tangan gadis itu menuju kamar. Dia sangat hafal ruangan di dalam rumah ini, karena apartemen ini adalah miliknya. Sella biasanya tidur di kamar dengan banyak jendela yang menghadap ke luar, dan sangat nyaman. Tidak mungkin bagi gadia itu memilih kamar yang sempit di dekat dapur dan ruang makan. Sella berusaha keras melepaskan cengkraman tangan Danish dari lengannya. Namun, sekali lagi usahanya sia-sia. Tangan kekar itu terlalu kuat untuk di tepisnya dengan tenaga yang yak seberapa. Ceklek! Pintu kamar terbuka. Danish membaringkan kasar Sella di atas ranjang besi yang luas dengan alas berwarna putih tulang, senada dengan tirai-tirai panjang yang tergantung menutup jendela. Kemudian Danish menindih tubuh mungil Sella dengan paksa, hendak menakuti gadis itu. Tolakan dari Sella tak dapat menggoyahkan kekuatan tubuhnya. "Apa yang akan Kamu lakukan Danish!?" Teriak Sella mencoba melepaskan diri dari Danish ya sudah berada di atas tubuhnya. Badan pria Danish yang berat bertumpu pada tubuhnya, benar-benar membuatnya sesak. Danish yang sudah berniat memaksa gadis itu, tak kuasa menahan wajah cantik nan menawan yang sangat ketakutan melihat aktingnya barusan. Sella, dia begitu kejam! Namun, dia sangat menawan untuk di perlakukan kasar. Semua sangat sulit untuk orang seperti Danish. Sangat gengsi untuk memohon agar sang pujaan hati tidak memutuskan hubungan dengannya tetapi dia juga tidak bisa membalas perlakuan semena-mena gadis itu. Bagaiman mungkin dia menyakiti Sella sementara dialah wanita satu-satunya yang menempati ruang hatinya. Belum ada sebelumnya yang berhasil sampai di titik dimana Sella mendapatkan seluruh perhatiannya. "Hah," Danish geram sendiri. Perlahan pria itu melepas genggaman tangannya, dan berdiri kemudian merapikan baju yang di kenakannya. Tanpa berkata apa-apa Danish akan segera pergi dari apartemen itu. Netranya mengamati seluruh ruangan, sekilas di melihat koper besar di ujung ruangan. Mungkin Sella sudah bersiap pindah ke tempat lain. "Hufft," desah pria itu kesal mencoba untuk tidak peduli kemana wanita itu akan pergi! Namun, dia masih tetap kepikiran. Kemana Sella akan pergi? Pindah kemana? Pikiran itu bergema di benaknya. Embusan nafas panjang di sertai langkah kaki tegas menuju ke luar kamar. Ingin segera enyah dari tempat itu. Hatinya yang sakit, membuatnya begitu sangat muak dan marah kepada dirinya sendiri. Namun, rasa peduli yang sama besarnya juga enggan hilang daei pikirannya. Ya, dia tidak mampu melampiaskan amarahnya pada iblis menawan itu. "Besok aku akan pindah!" teriak Sella sebelum pria itu menjauh darinya. Tak ada jawaban, Danish tetap melangkah maju dan tak sedikit pun tergerak untuk menoleh apa lagi menjawab pertanyaan dari wanita yang di cintainya itu. Mencoba terlihat acuh, menutupi rasa pedulinya. Pintu apartemen kembali tertutup. Danish segera beranjak pergi dari sana. Kembali duduk di belakang kemudi dan mengendarai mobilnya keluat dari parkitan apartemen. Mobil BMW hitamnya mulai berjalan dengan kecepatan tinggi ke sebuah klub malam, tempat yang dituju pemuda itu untuk melupakan masalah cintanya. Dua tahun yang lalu tempat ini menjadi tempat favorit yang di kunjunginya setiap malam. Sebelum mengenal Sella dan menjadikan gadis itu kekasihnya. Dan malam ini dia kembali ke tempat itu setelah hubungan dengan Sella kandas, karena keputusan sepihak dari wanita itu. Berharap mendapat sedikit hiburan untuk hatinya yang luka. Danish memasuki klub malam dengan lemas, ya dia butuh minuman beralkohol untuk menemaninya malam ini. Seorang bar tender pria dengan baju kerjanya berwarna hitam menunggunya mengatakan sesuatu. Danish menunjuk botol minuman beralkohol yang di sukainya. Kemudian bar tender itu memberikan kepadanya di lengkapi gelas kecil. Musik DJ terus mengalun beberapa orang berjoget di lantai yang ada di tengah ruangan, gemah ripah suaranya sangat menyenangkan untuk orang-orang yang menyukai dunia malam. Tak hanya itu wanita cantik dengan tubuh sempurna berbalut busana seksi bertebaran di setiap sudut menemani pelanggannya masing-masing. Danish memanggut-manggutkan kepala di iringi musik yang bergema di telinganya. Ingin segera lupa dengan nasib pilu kisah cintanya. Tegukan demi tegukan, menghabiskan air haram di gelasnya. Menuang kembali dari botol hingga habis dan memesan kembali satu botol. Kepalanya mulai pusing, tetapi dia masih sadar dan tetap memaksa minuman itu masuk ke dalam mulutnya. Hingga dia mabuk parah dan kepalanya yang berat tergeletak di meja bersama botol-botol kosong. Danish tak sadarkan diri. Untung saja ada orang baik yang memesankan taxi untuknya dan mengantar sesuai alamat di kartu identitasnya. Jam dua pagi, penjaga di rumah Danish memapah anak majikannya yang tak berjalan sempoyongan masuk ke dalam rumah. Bau alkohol yang menyengat tercium di hidung pria paruh baya itu. “Mas Danish,” panggil pria itu saat sudah mendudukkan anak majikannya di ruang tamu. Namun, sang pemilik nama tampak diam dengan mata terpejam tak bergeming sedikit pun. Pak Joko berusaha membangunkan pria muda yang masih tak sadarkan diri itu. Tidak ingin Papanya yang sekarang masih terlelap di ruang tengah melihat keadaan putranya yang mabuk parah. Dia ingat sekali dulu saat Danish masih suka mabuk-mabukan hampir setiap hari ada perang antar bapak dan anak di rumah mewah ini. Jika Pak Suryo mengetahui, rumah yang selama ini damai dan tenteram pasti akan kembali runyam sepeti dulu. “Mas Danish!” Pak Joko kembali memanggil sambil menepuk pelan lengan pemuda itu. Namun, Danish masih tetap diam saja dengan bau alkohol yang semakin menyengat. Dan benar saja hingga setengah jam kemudian Danish tak kunjung bangun, tertidur karena mabuk beratnya. Dan ketika alarm ponsel Pak Suryo berbunyi, dan membangunkan pria berkarisma itu, Danish masih berada di sofa ruang tamu. Dimana Pak Joko? Pria itu sudah tidak ada di sana. Pak Suryo mematikan alarm ponselnya. Jam setengah lima, biasanya dia bangun, untuk memulai harinya. Perlahan duduk dan mengerjap-ngerjap kan matanya yang masih berat. Dia berdiri dan ingin merenggangkan otot badannya. Perlahan dia berjalan ke dapur untuk membuat kopi. Pembantu rumah itu tidak menginap dan selalu datang sekitar jam enam pagi untuk menyelesaikan pekerjaan rumah. Setelah kopi hitam dan sedikit gula dengan air panas berhasil di buatnya. Pria itu membawa secangkir kopinya berjalan ke teras depan. Namun, dia terhenti ketika melihat putra semata wayangnya tidur terlentang di sofa. Apa lagi saat dia mendekat, bau alkohol yang menyengat tercium tajam di indra penciumnya. “Dasar bocah tengik!” umpat pria itu pelan sambil menahan marah. Ia mengira jika kebiasaan mabuk anaknya itu sudah benar-benar hilang! Dia tidak menyangka jika putranya yang semalam sudah pulang, pergi keluar rumah dan kembali mendekati air haram itu. Bersambung. Hai... Ini karya orisinal aku yang hanya exclusive ada di Innovel/Dreame/aplikasi sejenis di bawah naungan STARY PTE. Kalau kalian membaca dalam bentuk PDF/foto atau di platform lain, maka bisa dipastikan cerita ini sudah DISEBARLUASKAN secara TIDAK BERTANGGUNGJAWAB. Dengan kata lain, kalian membaca cerita hasil curian. Perlu kalian ketahui, cara tersebut tidak PERNAH SAYA IKHLASKAN baik di dunia atau akhirat. Karena dari cerita ini, ada penghasilan saya yang kalian curi. Kalau kalian membaca cerita dari hasil curian, bukan kah sama saja mencuri penghasilan saya? Dan bagi yang menyebarluaskan cerita ini, uang yang kalian peroleh TIDAK AKAN BERKAH. Tidak akan pernah aku ikhlaskan. Dreams_dejavu
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD