LEE JENO

1212 Words
“Yuna, buka pintunya sayang.” Mina—wanita paruh baya dengan wajah yang masih sangat anggun dan cantik itu tak henti-hentinya mengetuk pintu kamar putri tirinya yang mengunci diri sejak kemarin itu. “Setidaknya, makanlah sesuatu.” Lagi-lagi perkataan Mina tak dihiraukan oleh Yuna. Putrinya itu terlalu larut dalam kesedihan dan kekecewaan. Walau seberapa baik istri Papanya itu, tetap tak akan ada yang bisa menggantikan posisi Ibunya di hati Yuna. “BIARKAN SAJA!! JANGAN MEMANJAKANNYA!” Lee Minho kembali berdecak sebal mengingat perilaku memalukan putrinya itu. Bahkan sampai sekarang, kemarahannya masih memuncak. Yuna hanya menaikkan sudut bibirnya tersenyum getir mendengar bentakan Papanya dari luar kamarnya. Entah memang malu karena ketidaksopanan Yuna atau malu karena egonya, beda tipis menurut Yuna. Saat tumbuh semakin besar di keluarga ini, Yuna merasa memang tepat keputusan Ibunya dulu pergi meninggalkan Papanya yang berpikiran kulot itu. Ibu Yuna adalah seorang artist senior dan juga designer terkenal. Hidup dengan menganggap pekerjaannya adalah passion berbeda jauh dengan perspektif Papanya mengenai wanita yang bekerja di dunia hiburan. Beda Jauh! Bahkan sekarang, dirinya merasakan sendiri bagaimana rasanya diperlakukan demikian oleh roang-orang di sini. Mereka memang berpendidikan, tapi tidak dengan pola pikirnya. Aneh!! Dengan tergesar-gesa, Yuna memasukan barang-barangnya asal ke dalam sebuah koper berwarna silver. Semua barang yang dia lihat dimasukkan saja dengan asal. Yuna bahkan tak memiliki mood untuk merapikannya sebelum memasukkannya. Pikirannya sangat bercabang saat ini. “Yuna.” Mina tampak senang ketika Yuna membuka pintunya dan menampakkan batang hidungnya. Wanita itu setia menunggu Yuna hingga dia keluar bahkan dengan masih memakai pakaian formalnya sehabis bekerja. “Apa kau ada jadwal syuting hari ini? Kenapa sampai membawa koper?” Pertanyaan Ibu tirinya itu sukses membuat Yuna berhenti di ruang tengah rumahnya. “Aku ada acara di Paris. Mungkin akan pulang dua sampai tiga hari lagi,” sahut Yuna tanpa ada niatan untuk berbalik menatap wajah Mina. Tak ada sahutan saat Yuna menarik kopernya melewati ruang makan tempat Papanya sedang duduk dengan laptop dan berkas-berkas di depannya. Yuna berhenti di depan Papanya dengan helaan napas berat. “Kabari saja aku saat acara pernikahannya. Aku akan berusaha mengosongkan jadwal!” Lee Minho yang diajak berbicara hanya tersenyum devil. “Mengosongkan jadwal katamu?” tanyanya dengan nada sedikit tinggi. “Apa kau pikir Keluarga Andreson mau mentoleransi pekerjaanmu setelah menikahi putra tunggalnya?” Pertanyaan itu sukses membuat Yuna ingin memukul wajah Papanya. “Anda mungkin lupa dengan perjanjian kita! Saya setuju untuk menikah, asal Anda tak pernah ikut campur lagi dengan urusan pekerjaan saya. Jika Keluarga Andreson tidak terima, bukankah itu bagus?” Yuna tersenyum manis. Papanya tak akan bisa berkutik ketika sebutan Anda dari mulut pedas Yuna keluar. Dengan anggun, Yuna berjalan menapaki marmer di manisonnya yang luas itu sambil menarik kopernya. Ketika keluar, mobilnya sudah siap di depannya. Dengan tergesar-gesa, Yuna duduk di kursi penumpang setelah membanting kasar pintu mobil saking kesalnya. “Argh Leon!! Pria tua itu sangat tidak tau diri! Dia bahkan lupa kalau dia sudah berjanji tidak akan mencampuri urusanku lagi setelah perjodohan ini, tapi dia bisa lupa dengan mudahnya!!” Yuna berdecak marah sambil memijit pelipisnya. “Antar aku ke Agensi dulu sebelum ke bandara. Aku akan menemui Kai sebentar.” Yuna menengok ke spion depan ketika tak ada lagi sahutan dari Leon. Kenapa dia mendadak bisu? Padahal, biasanya Leon yang paling cerewet dan pecicilan tentang apa yang seharusnya dan tidak seharusnya Yuna lakukan sebagai seorang artis. “Jadi kau masih berhubungan dengannya?” Suara berat dari seorang pria di kursi kemudi sukses membuat Yuna mematung seketika. Suara maskulin itu!! Seketika Yuna menegang dengan mata yang mendadak melek. Dia sangat yakin itu adalah suara Lee Jeno—pria yang akan menjadi calon suaminya. Perasaannya seketika tidak enak, ketika bertemu dengan tatapan pria itu di spion depan mobilnya. Sudut matanya menyorot tajam ke arah Yuna dengan sangat jelas. Yuna berdehem untuk menetralkan kegugupannya. Harus dia akui, pria yang akan menjadi calon suaminya itu sangat mendominasi, dan juga otoriter. Terbukti saat pertemuan pertamanya minggu lalu saat acara pertunangan yang lebih mirip seperti pertemuan antar mitra bisnis. “Dimana Leon?” Dari sekian banyak pertanyaan yang menggerayangi kepalanya saat ini entah kenapa malah itu yang keluar dari bibir Yuna. “Pindah ke depan! Aku bukan supir pribadimu!” titah Jeno yang masih bersetelan jas lengkap dengan dasi navy itu sembari mencengkeram erat stir kemudi di depannya. “Apa aku menyuruhmu duduk di sana? Tidak ada yang ingin aku bicarakan, jadi panggil Leon ke sini aku buru-buru!” Yuna tak ingin kalah dari pria itu. Lagian, apa bos perusahaan besar seperti dia mempunyai waktu luang seperti ini? Pria yang berumur sangat jauh dari Yuna itu menengok ke belakang dengan wajah flatnya, lalu membuka pintu mobil dengan cepat. Yuna pikir cowok itu akan keluar tapi dia malah masuk dan duduk di samping Yuna di kursi penumpang. “Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Yuna sedikit kesal. “Aku tidak punya waktu! Penerbanganku 40 menit lagi!” Yuna menengok jam yang melingkar di lengan kirinya. “Shttttttt!” Telunjuk Jeno mendarat di bibir munguil Yuna. Dari jarak sedekat ini Yuna dapat melihat dengan jelas pahatan wajahnya yang sempurna. Alisnya hitam legam dengan rahang tegas dengan kumis tipis. Pantas saja, gen unggul itu dia dapatkan dari Dadnya yang merupakan orang asli Amerika. Napas Yuna semakin tercekat ketika wajah cowok itu mendekat ke arahnya. Yuna menaikkan sebelah alisnya. “Akan aku pastikan hari ini adalah hari terakhirmu bisa bertemu laki-laki lain!” ancam Jeno. “Apa maksudmu? Apa kau tidak sadar kau laki-laki lain itu?” marah Yuna. “Tentang pernikahan ini, aku sudah mengatakan semuanya. Pernikahan ini hanya status! Kita tetap menjalani kehidupan pribadi masing-masing!” Lagi, Yuna mengutarakan keluh kesahnya. “Bukankah kau sendiri yang mengaku bahwa kau sama sekali tidak tertarik dengan wanita?” Senyum devil seakan meremehkan tercetak di wajah cowok itu. “Aku tidak pernah tertarik pada wanita, kecuali dirimu! Kau bisa saja keras kepala sekarang, tapi aku hanya akan menikah sekali seumur hidupku. Jika kau istri pertamaku, aku akan pastikan kau tidak pernah berpaling dariku!” ucap Jeno pasti. Yuna menghembuskan napasnya gusar. Dia tau perdebatan ini pasti akan berakhir sama seperti minggu lalu saat Yuna ingin menawarkan pernikahan kontrak dengan pria ini. Tapi dia menolak dengan sangat keras. “Apa orang sekaya dirimu tidak memiliki pasangan? Aku tidak akan membebanimu dengan status sebagai suami, asalkan kita tetap tidak saling melewati batas masing-masing. Karir kita juga masih panjang!” ucap Yuna berusaha meyakinkan. “Kau harus mengorbankan sesuatu untuk sebuah mimpi! Jika memilih karir, maka relakan lelaki itu!” Memang tak ada gunanya berbicara dengan pria ini. Yuna kehabisan kesabarannya untuk bernegosiasi. “Lagipula, jika pacarmu itu masih memiliki sopan santun, dia tidak akan memacari wanita yang sudah bersuami” ucap Jeno membuat Yuna menoleh dengan raut wajah marah. “KAU!!” Telunjuk Yuna berada di depan wajah cowok itu. “Sudah aku katakan! Aku tidak akan pernah menjadi istrimu. Hanya karena ide pernikahan konyol itu. Kau bisa mendapatkan namaku sebagai istri tapi tidak dengan diriku, ingat itu!” “Kita lihat saja!” Pria itu beralih keluar dan duduk di kursi kemudi dan melajukan mobil Ferrari hitam keluar dari pekarangan manison keluarga Yuna. “Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Yuna ketika cowok itu melajukan mobilnya. “Kita akan ke Paris bersama-sama!” “APA?!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD