TERSUDUTKAN

1536 Words
Keadaan di mobil saat ini sangat canggung. Beberapa menit setelah Yuna berhasil membujuk Jeno agar memberikannya izin menemui Kai sebentar di agensi, tiba-tiba Yuna datang tak lama kemudian dengan menangis tersedu-sedu. Jeno tak mengatakan sepatah kapa pun selama perjalanannya menuju bandara. Dan Yuna tetap menangis dalam diamnya. Jeno sengaja tak menginterogasi gadis ini agar membuatnya tenang sebentar. Lagipula, walau tak diberitau kenapa pun, Jeno memiliki koneksi yang sangat luas untuk mengetahui semua informasi yang dia butuhkan. Wanita sebenarnya adalah sesuatu yang tak pernah ada di kamus cowok dingin yang bernama Lee Jeno atau dikenal dengan nama Juan itu. Tapi, ketika menyangkut tujuan dan mimpinya, hal-hal yang tidak mungkin akan dia jadikan mungkin, termasuk menaklukkan seorang gadis. Walaupun Yuna bukan merupakan gadis biasa-biasa, tapi Jeno cukup optimis dengan misinya kali ini untuk menjadikan Yuna tunduk di bawah kekuasaannya dan dia akan meraih mimpinya untuk menjadi CEO perusahan utama milik Dadnya di Amerika. Jangan salahkan Jeno jika dia meganggap pernikahan itu tidak penting. Terbiasa hidup di Amerika dengan gaya hidup dan pola pikir seperti Daddynya membuat Jeno samasekali tidak mirip seperti Bundanya yang kalem. Jeno hanya bisa berdehem untuk menetralkan kecanggungan. Sesekali Jeno mencuri pandang ke arah gadis di sebelahnya yang masih setia menatap ke luar jendela dengan sesenggukan bekas tangisan hebatnya beberapa menit lalu. Demi apapun, Jeno sangat ingin memeluk tubuh mungilnya itu saat ini jikasaja dia tidak harus mengejar jam penerbangan mereka ke Paris. Tunggu sebentar saja, dia akan menghibur Yuna di dalam pesawat nanti. Jeno menghentikan mobilnya sebelum sampai di bandara, setelah menekan tombol pada sebuah alat yang ada di telinga kanannya. Seperti dugaannya, ada banyak sekali wartawan dan media yang menunggu Yuna di sana. Tidak akan ada yang tau seberapa marah Jeno karena ketidakbecusan dari agensi Yuna saat ini. Jika tidak ada dirinya lalu bagaimana nasib Yuna nanti? Selain satu manager tidak ada bodyguard khusus yang ditugaskan untuk mengawal Yuna dari sadisnya para media itu ditambah sasaeng fans. Yuna menengok bingung ke arah Jeno ketika dia merasa mobil mereka tidak berjalan sama sekali. “Kau menunggu siapa?” Yuna bertanya dengan mata sembabnya karena tak henti-hentinya menangis selama perjalanan. Jeno tak mengatakan apapaun selain menatap wajah Yuna. Mata, hidung, dan pipinya memerah karena manangis. Seharusnya Jeno prihatin tapi entah kenapa dia malah ingin mencubit pipinya karena sangat menggemaskan di matanya. “Pakai ini,” titah Jeno sembari memberikan kaca mata hitam kepada Yuna yang masih kebingungan. Yuna mengambilnya beberapa detik kemudian ketika otaknya sudah berfungsi secara normal. “Leon akan menjemputmu sebentar lagi. Bodyguardku akan mengawalmu sampai di pesawat!” ucap Jeno hanya dibalas anggukan lemah oleh Yuna. Leon datang mengetuk pintu mobil dan membawa Yuna hingga di depan bandara. Sementara Jeno mengawasi dari belakangnya. Dia sengaja pergi terpisah agar tidak ada yang membuat rumor-rumor aneh tentang Yuna. Dari dalam mobilnya, Jeno dapat melihat kesepuluh bodyguardnya kewalahan karena fans Yuna yang mendorong paksa untuk mendekat ke arah Yuna. Jeno mengernyit ketika Yuna melihat Yuna berhenti di tengah jalan. “Apa yang sedang dia lakukan?” gumam Jeno geram sendiri melihatnya. Jika itu adalah Jeno maka dia akan berusaha berjalan secepat mungkin untuk menghindari manusia-manusia yang membludak itu. Yuna terlihat berusaha membantu salah satu fan yang terjatuh saat berdesakan, dan beralih memberikan tanda tangan dan mengambil hadiah-hadiah yang diberikan oleh fansnya. Jeno menghembuskan napas kasar ketika melihat Yuna mempertaruhkan keselamatannya hanya untuk membantu orang itu. Jeno mengambil barang-barangnya di bagasi ketika melihat Yuna sudah menghilang dari pengelihatannya, dan berjalan santai menuju gate-nya. Saat menerobos kerumunan wartawan dan fans Yuna itu salah satu dari mereka terlihat memelototi Jeno dari atas sampai bawah. “ASTAGA!!! APA ITU JUAN ANDRESON?” Teriakan seorang reporter wanita seketika membuat kerumunan itu menggila kembali. Jeno yang diam di posisinya seketika menegang melihat kerumunan itu berlari ke arahnya. Astaga, dia bahkan tidak pernah berpikir orang-orang itu akan mengenali dirinya. Apa dia bahkan seterkenal itu? Sehingga media dunia hiburan mengetahuinya? Tentu saja di dunia bisnis nama Juan Andreson sangat terkenal karena talenta yang dia miliki, tapi Jeno tidak pernah menyangka reporter-reporter artist ini bahkan mengenalinya. Dengan cepat Jeno memencet tombol di telinga kanannya. “KE SINI SEKARANG JUGA!?” teriak Jeno marah kepada ketua bodyguardnya. “Pak Juan, apa yang sedang anda lakukan di sini? Apa anda akan melakukan perjalanan bisnis?” “Apakah rumor anda berkencan dengan Suzy dari grup Blink itu benar? Banyak sekali fans yang sedang menunggu konfirmasi dari anda berdua.” Jeno kewalahan ketika hujaman pertanyaan aneh dilayangkan terhadapnya tanpa henti. Mulai dari bisnis, rumor keluarga, hingga pasangan. “Apakah Kristal akan melanjutkan karirnya di dunia perfilman setelah hampir 3 tahun hiatus? Apa anda bisa memberikan kami bocoran?” Jeno mendorong kasar reporter itu ketika pertanyaan tentang Bundanya dilayangkan dengan seenak dijatnya. Kristal Lee adalah nama bunda Jeno. Dia adalah salah satu artist senior di Korea yang sangat terkenal. Jika dipikir-pikir mungkin karena itu Jeno menjadi sorotan publik juga. “TOLONG TENANG!!!!” Jeno sedikit berteriak sambil menepis tangan tangan asing yang seenaknya menyentuh bagian-bagian tubuhnya. Dia juga kesulitan berjalan bahkan bergerak karena orang-orang itu mendesaknya. Beberapa saat kemudian, bodyguard pribadi Jeno yang tadinya mengawal Yuna datang dan membelah orang-orang yang mengerumuni Jeno itu. Penampilan Jeno tampak kacau, dengan kemeja putih yang terlepas kancingnya. Bahkan dasi hitamnya sudah hilang entah diambil siapa. Jeno baru dapat bernapas lega ketika kesepuluh bodyguardnya memberinya ruang untuk berjalan. Jeno menjawab beberapa pertanyaan dari reporter dengan tegas dan singkat lalu cepat-cepat menyusul Yuna di pesawat. Hal pertama yang Jeno lihat ketika sampai di kabin pesawat adalah pemandangan Yuna yang sudah tertidur pulas sambil memeluk boneka pinguin hadiah dari salah satu fan tadi. Perasaan kalutnya seketika sirna melihat wajah lugu Yuna yang tengah terlelap dengan kaki yang diselonjorkan lurus ke depan. Untung Jeno sangat peka dengan meng-upgarde pesawat Yuna dari kelas bisnis ke kelas utama tentunya dengan uang pribadi Jeno bukan dari agensi Yuna. Jeno bisa saja mengajak Yuna terbang ke Paris dengan jet pribadinya, tapi mengingat informasi dari sekretaris pribadinya mengenai skandal Yuna di dunia hiburan membuat Jeno meredam keinginannya agar tidak memperkeruh keadaan. Jeno berusaha menaruh barang-barangnya dengan pelan agar Yuna tidak terusik. Namun, ketika Jeno hendak memindahkan sepasang heels milik Yuna, dia melihat bercak darah di sana. Jeno mengernyit bingung berpikir dari mana asalnya darah itu. Benar dugaannya. Ternyata berasal dari kaki kiri Yuna yang terluka. Apakah ini karena tadi? Tapi dilihat dari darahnya yang sudah mengering sepertinya ini sudah lama. Tanpa berpikir panjang lagi, Jeno perlahan mengobati kaki Yuna setelah meminta obat-obaan dari pramugari. “KAU!?” Yuna yang terkejut refleks menepis tangan Jeno yang berada di kakinya. “Kau sedang apa?” tanya Yuna ketika melihat Jeno berjongkok di bawah kakinya. Untung saja dia memakai celana bahan panjang. “Jangan bergerak. Apa kau sadar kakimu terluka?” Jeno mendengus kesal ketika mengucapkannya. Sementara Yuna terperangah karena baru ingat kalau kakinya kemarin sempat terluka terkena beling di penthouse Kai. “Tidak perlu! Aku bisa melakukannya sendiri!” Yuna hentak menepis tangan Jeno kembali tapi cowok dengan kancing kemeja yang terlepas itu malah balik menatap Yuna dengan raut wajah marah. Yuna langsung kicep, diam tak berani berkutik ketika alis Jeno mengkerut dan rahang tegasnya mengeras menandakan dia sedang emosi saat ini. Aneh memang! Hanya satu tatapan dari Jeno mampu membuat Yuna terdiam sepenuhnya. Yuna hanya bisa menelan ludahnya susah payah dengan posisi yang sangat tak nyaman itu. Beberapa saat, Jeno masih belum selesai dengan kegiatannya, membuat Yuna merasa sangat canggung berada di sana. “Apa kau tau namaku?” “HAH?” Yuna terkejut ketika Jeno menanyainya pertanyaan secara tiba-tiba. “Aku bertanya apa kau tau namaku?” Jeno mengulang pertanyaannya sambil menatap Yuna yang menggigit bibir bawahnya karena tegang. Yuna merutuki dirinya sendiri karena tidak bisa mengingat siapa nama cowok di depannya ini. Yuna terlalu sibuk dengan masalahnya bersama Kai. Ditambah lagi Papanya hanya menyebut putra dari keluarga Andreson saja tak pernah menyebut namanya. “Kenapa tiba-tiba?” tanya Yuna sedikit gugup. Jeno hanya menatapnya datar seperti biasa. “Dad mengucapkan namaku berkali-kali saat acara pertunangan kita, apa hanya nama Kai yang bisa kau ingat?” “Juan, aku tau namamu Juan,” jawab Yuna cepat ketika berhasil mengingat nama dari CEO Perusahaan Real Estate terbesar di Korea itu. Jeno mengernyit ketika Yuna menyebutkan nama itu. “Bukan nama itu yang Dad ucapkan saat acara pertunangan kita. Darimana kau tau nama itu?” Nada Jeno seperti sedang menginterogasi karyawan yang ketahuan korupsi. Sangat mengintimidasi. “Maksudmu? Apa kau punya dua nama?” tanya Yuna bingung. “Kau tidak tau nama koreaku!” Jeno menatap Yuna masih dengan raut wajah marahnya. Yuna seketika melongo menatap cowok blesteran itu. Apa dia berharap Yuna menegtahui semua hal tentangnya? Termasuk nama korea, nama kecil, julukan atau sebagainya? Apa yang cowok ini pikirkan sekarang? Jeno dengan cepat berdiri dan mengulurkan tangannya ke wajah Yuna. “Berikan ponselmu!” titah Jeno seenak jidatnya. “Nggak mau! Itu privasiku!” tolak Yuna cepat mentah-mentah. “Oh ya?” Nada menantang Jeno membuat Yuna bergidik ngeri. “Akanku pastikan dua hari lagi aku akan mengetahui semua isi ponselmu itu. Kau tidak akan bisa menolak lagi jika suamimu yang memintanya kan?” ancam Jeno membuat Yuna memelototkan matanya. “Apa kau dan aku akan menikah dua hari lagi???” pekik Yuna heboh. “Bukan kau dan aku tapi kita.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD