Mike terkejut, saat Kiara memeluknya erat. Aroma shampoo yang Kiara pakai, membuat Mike ingin menghirupnya lebih dalam. Memabukkan.
"Tidak apa, mungkin sedikit erorr," ucap Mike menenangkan.
Kiara tersadar dan melepaskan pelukannya, "Maaf," ucapnya lirih.
Mike hanya menampilkan senyum penuh pesona. Keduanya merasakan suasana awkward yang melingkupi.
Oh my God. Bisa-bisanya aku meluk Pak Mike!
Tak lama, lift kembali berjalan seperti biasa. Keduanya mencoba bersikap biasa.
"Kamu pulang naik apa?" tanya Mike, berusaha memecahkan kecanggungan yang terjadi.
"Saya dijemput suami, Pak," jawab Kiara.
"Benarkah?" Kiara mengangguk.
Suara denting lift, membuat percakapan mereka berakhir. Kiara keluar lebih dulu. Wanita itu tersenyum senang melihat suami tercintanya yang sudah menunggu.
Jadi, dia suami Kiara? Aku masih jauh lebih tampan darinya. Lebih kaya, lebih keren, dan lebih segalanya.
"Mas," sapa Kiara. Kevin mengangkat pandangannya dan tersenyum pada Kiara.
"Jadi, Anda, suaminya Kiara?" tanya Mike yang tiba-tiba berdiri di belakang Kiara.
"Benar," jawab Kevin datar.
"Ini, Pak Mike. Dia atasan baruku," jelas Kiara. Kevin menganggukkan kepala dan mengulurkan tangan.
Mike menyambut uluran tangan pria yang menjadi suami dari sekretarisnya. Kiara dan Kevin berpamitan, menyisakan Mike yang menatap pasangan itu, hingga menghilang.
***
Kevin melajukan mobil miliknya dengan kecepatan sedang. Raut wajahnya berubah, sejak ia berkenalan dengan Mike tadi.
"Mas," panggil Kiara.
Kevin menoleh sesaat dan kembali memperhatikan jalan di depannya. "Kenapa, Sayang?" tanyanya.
"Kok diem aja?" tanya Kiara lagi.
"Gak apa kok." Kevin mencoba tersenyum, meski terlihat terpaksa.
Kiara pun diam dan membuang pandangannya keluar. "Mas, cemburu, ya?"
"Cemburu?" Kiara mengangguk.
"Sama siapa?"
"Hanya menebak." Kevin tergelak mendengar jawaban Kiara.
Meski tak bisa ia pungkiri, ia merasa tidak suka dengan keberadaan Mike. "Aku pasti cemburu, Sayang. Kau bekerja dengan pria muda seperti itu. Aku takut kau berpaling dariku," tutur Kevin lirih.
Kiara merasa bersalah. Ia mengakui dalam hatinya, jika sempat ada rasa untuk sang atasan. Meskipun hanya sekedar rasa kagum.
"Aku sempat kagum padanya," ucap Kiara.
"Hanya kagum?" Kevin ingin memastikan. Kiara hanya menjawab dengan anggukan.
Sisa perjalanan pun, mereka habiskan dalam diam.
***
"Mas, Kamu jangan diem lagi kayak gini, ya. Aku dan Pak Mike hanya punya hubungan, antara atasan dan bawahan. Jadi, gak usah cemburu sama dia," ucap Kiara.
Saat ini, mereka tengah duduk di pinggir ranjang. Setibanya di rumah, merek ingin membersihkan diri sebelum bertemu dengan Devan dan Dina.
Kevin menarik Kiara ke dalam pelukannya. Melepaskan segala keresahan yang memenuhi relung hatinya. Menghirup dalam aroma tubuh istri yang sangat ia cintai.
"Maaf. Entah kenapa, aku sangat cemburu melihat atasanmu tadi," jujur Kevin.
"Mas percaya sama aku 'kan?" tanya Kiara.
Kevin menganggukkan kepala, "Iya, mas percaya," jawabnya, seraya mengeratkan pelukan di tubuh sang istri.
"Lihat aku!" Kevin meregangkan pelukannya dan menatap manik mata Kiara.
"I love you."
Kiara mencium Kevin lebih dulu. Kevin membalasnya dengan lembut. Tautan keduanya berubah panas, seiring berjalannya waktu. Kiara membiarkan Kevin melakukan apa yang pria itu inginkan. Anggap saja, ini bukti cintaku padamu.
Keduanya terbuai dalam alunan cinta yang indah. Merekatkan hubungan mereka, dalam nada indah yang menggema di kamar itu.
"Terima kasih, Sayang." Kevin mengecup mesra kening Kiara.
Kiara pun menyembunyikan wajahnya di d**a bidang Kevin. Setelahnya, mereka kembali seperti sedia kala. Keluarga yang hangat, dan penuh kebahagiaan.
***
Keesokkan harinya, Kiara bertemu dengan Mike di lobby. Mike tersenyum padanya. Membuat Kiara membalas senyum itu. Mike merogoh jasnya dan mengeluarkan sesuatu.
"Untukmu," ucap Mike menyodorkan kotak kecil.
Kiara mengambilnya dan segera membuka kotak itu. Apa ini? Cokelat? Untuk apa?
Kiara menyusul langkah Mike dan bertanya, "Ini, dalam rangka apa, Pak?"
"Tidak ada." Jawaban yang sungguh tidak menjelaskan apa pun.
"Lalu? Kenapa, Bapak, memberi saya cokelat?" cecar Kiara.
"Dari penggemarku. Aku tidak suka cokelat," bohong Mike. Pria itu sengaja memberikan cokelat pada Kiara. Pasalnya, wanita kerap menyukai perhatian manis semacam itu.
Kiara mengangguk dan menerima cokelat itu. Detik berikutnya, ia terkejut dengan ucapan Mike.
"Jangan lupa, siapkan berkas-berkas yang harus kita bawa ke Surabaya."
"Baik, Pak," jawab Kiara.
Keduanya melangkah masuk ke dalam lift yang sama. Tak butuh waktu lama, mereka tiba di lantai, tempat mereka bekerja. Kiara segera menyiapkan berkas yang Mike ucapkan tadi.
Bunyi interkom, mengalihkan perhatian Kiara. Wanita itu menekan tombol untuk menjawab panggilan.
"Kiara, tolong buatkan kopi," ucap Mike dari seberang sana.
"Baik, Pak."
Kiara segera menuju pantry dan membuatkan kopi untuk Mike. Lima belas menit kemudian, ia membawakan cangkir kopi itu ke ruangan Mike.
"Silahkan, Pak," ucap Kiara.
Mike yang tengah fokus, tak sengaja menyenggol gelas kopi, dan menumpahkannya. Cairan pekat, itu mengalir dan mengenai celana yang Mike gunakan.
"Argh," pekik Mike tertahan.
Sigap, Kiara menarik tisu dan menghampiri Mike. Ia membersihkan cairan yang tumpah ke atas paha Mike. Pria itu terkejut dan menatap Kiara.
Menikmati wajah cantik Kiara dalam jarak yang cukup dekat. Kiara belum menyadari perilakunya. Gerakannya terhenti saat menyadari, jika ia sudah melakukan kesalahan.
Astaga! Apa yang ku lakukan?
Kiara mendongak, "Ma-maaf—" Kiara membulatkan matanya.
Mike mencuri ciuman di bibir Kiara. Kiara mendorong tubuh Mike menjauh. Ia menundukkan wajahnya. Seketika, mereka terdiam.
"Maaf, Kiara. Aku tidak bermaksud—"
"Jika tidak ada kepentingan lagi, saya permisi." Kiara berjalan cepat tanpa mendengar penjelasan Mike.
Mike menatap punggung Kiara yang menghilang di balik pintu. Melihat reaksi Kiara, membuat Mike frustasi. Entah apa yang mendorongnya untuk mengecup bibir mungil itu?
Sial, umpatnya dalam hati.
Sementara di mejanya, Kiara mencoba meredakan detak jantungnya yang sempat menggila. Ada rasa bersalah saat bayangan Kevin menari di kepalanya.
Seketika, air mata menetes tanpa bisa ia tahan. Maaf, Mas.
Suara ponselnya membuat Kiara menghapus air matanya. Secepat kilat, ia menyambar ponsel itu, dan membaca pesan yang masuk.
Maaf, aku tidak bermaksud melakukan itu. Tolong jangan salah paham.
Pesan itu, datang dari atasannya. Kiara kembali meletakkan ponselnya. Memilih untuk tidak menjawab pesan itu. Sejujurnya, ia tidak tahu harus melakukan apa. Kiara menganggap itu hanyalah ketidaksengajaan.
Di dalam ruangannya, Mike terus merasa gelisah. Ia tidak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Pria itu memutuskan menemui Kiara, dan bersikap biasa.
"Kiara, ini berkas tambahan untuk ke Surabaya nanti." Kiara mengambil berkas itu.
"Baik, Pak," jawabnya.
"Masalah tadi, aku minta maaf. Aku tidak sengaja melakukannya." Wajah Mike sudah memerah, bak tomat masak.
"Saya paham. Bapak, tenang saja." Kiara menampilkan senyum profesionalnya.
"Oh, iya, jangan lupa booking kamar hotel di Surabaya. Buat saja bersebelahan." Mike mengingatkan Kiara.
"Baik, Pak," jawab Kiara.
Mike pun kembali ke ruangannya. Kiara segera melakukan apa yang Mike perintahkan. Pasalnya, kunjungan kerja mereka ke Surabaya, berlangsung selama seminggu.
Semoga saja, tidak ada hal buruk yang terjadi.