Kejadian dalam Lift

1173 Words
Satu minggu berlalu. Kiara sudah melupakan kejadian perkenalannya dengan pria itu. Lagipula, pria itu pun tak lagi menampakkan dirinya di kantor. Namun, di luar dugaannya. Pagi itu pria bernama Michael yang diperkenalkan padanya beberapa waktu lalu, mulai menggantikan jabatan sang ayah, Jerry, yang sudah ingin pensiun, akan menyerahkan tanggung jawab pada sang putra. Rupanya, perusahaan itu adalah milik keluarga Jerry. Sebagai menantu, Jerry memang tidak bisa menduduki kursi CEO. Masih ada saudara iparnya yang lebih berhak. Apalagi, iparnya memiliki anak laki-laki yang bisa meneruskan tampuk kekuasaan. Kembali pada Kiara. Jerry, memanggil wanita itu untuk ke ruangannya. Dengan patuh, Kiara masuk dan menunduk hormat. Betapa terkejutnya, Kiara saat mendengar penuturan Jerry. "Mulai hari ini, kamu akan bekerja dengan anak saya. Semoga, kalian bisa menjadi tim yang hebat. Sama seperti saat kita menjadi tim." "Saya akan berusaha sebaik mungkin, Pak," jawab Kiara. Meski Kiara sendiri, tidak yakin dengan apa yang akan terjadi. Kiara bisa melihat, ada kilat ketertarikan dari mata pria yang akan menjadi atasannya ini. "Michael, Kiara adalah sekertaris yang cukup handal. Dia cukup kompeten dan cekatan mengerjakan pekerjaannya." Michael tersenyum dan menganggukkan kepalanya mengerti. "Jangan coba-coba kau menggoda Kiara seperti perempuan lain di luar sana! Ingat itu! Dia sudah menikah dan memiliki anak," bisik Jerry penuh peringatan. Kiara hanya menatap keduanya bergantian. Tidak berani menginterupsi sedikitpun. Hanya sedikit kata yang mampu ia dengar dari percakapan ayah dan anak itu. "Iya, Pa. Aku mengerti," jawab Mike lirih. "Bagus!" Jerry menepuk pundak Michael. "Kalau begitu, papa pulang dulu." Mike menganggukkan kepalanya. "Kiara, tetap semangat, ya, meski tidak bersama saya lagi," ucap Jerry dengan senyum yang menyemangatinya. "Baik, Pak. Saya ucapkan terima kasih atas arahan yang bapak berikan pada saya selama ini," ucap Kiara tulus. Ia membungkuk hormat pada atasannya itu. Jerry menatap Kiara dengan senyum tulus. Sungguh, ia sangat menyukai kinerja wanita itu. Meski hanya beberapa bulan mereka bersama, Jerry tahu, jika Kiara cukup profesional. *** Selepas kepergian Jerry, yang sekarang menjadi mantan atasannya, Kiara mulai mendampingi Michael mempelajari berbagai dokumen yang harus dikuasainya. Kiara juga mulai menyusun jadwal yang akan dikerjakan oleh Mike mulai esok hari. Sampai waktu makan siang, Kiara pun mengingatkan atasannya itu untuk makanan seperti kebiasaannya. Michael meminta Kiara untuk memesankan makanan untuknya. "Tolong pesankan saya pasta," pinta Mike. Pria itu kembali terfokus pada berkas di tangannya. Kiara mengangguk dan memesan pasta yang seperti keinginan atasannya itu melalui aplikasi online. Setelah itu, Kiara undur diri untuk sekedar makan siang. Mike hanya menjawab dengan dehaman. *** "Selamat pagi pak Michael. Jadwal Anda sudah saya kirim melalui email. Silahkan Anda cek," ucap Kiara dengan hormat saat Mike, sudah menduduki kursi kebesarannya. "Oke," jawabnya. Sengaja, Michael menjawab dengan singkat karena mengingat ucapan sang ayah yang sudah lebih dulu meng-ultimatumnya. Kiara pun undur diri dan kembali ke meja kerjanya. Pria itu mulai memeriksa email yang dikatakan Kiara tadi. Setelah selesai, ia segera memulai pekerjaannya. Kiara merasa, atasannya yang baru menjaga jarak darinya. Michael berbeda dengan Jerry. Jerry memang dikenal sebagai atasan yang memiliki sifat humoris. Namun, saat tertentu, ia akan menunjukkan aura kepemimpinannya yang bisa mengintimidasi lawan bicara. Lebih tepatnya, beliau bisa menempatkan diri dalam berbagai situasi dan kondisi. Sementara Mike, terlihat ambisius dan dingin. *** Pria itu terlihat memijit pangkal hidungnya. Ia merasa cukup stress dengan setiap berkas yang dibacanya. Konsentrasinya buyar karena beberapa menit yang lalu, ia mendapat pesan dari kekasihnya. Tidak ada angin, tidak ada hujan, sang kekasih meminta mereka mengakhiri hubungan. Entah dimana letak kesalahannya. Sebagai seorang pria, ia merasa sudah memenuhi semua keinginan wanita yang menjadi pasangannya. Menemani berbelanja, membayar setiap barang yang dibeli sang kekasih, hang out bersama, bahkan berbagi ranjang pun sudah sering mereka lakukan. Bukankah tidak ada yang salah? Jadi, kenapa wanitanya meminta putus secara tiba-tiba? Mike terkejut saat Kiara sudah masuk dan menyerahkan berkas yang harus ia tanda tangani. "Pak Michael ...," panggil Kiara yang sudah lebih dari tiga kali pada pria di hadapannya itu. "Ada apa?" tanyanya datar. "Ini laporan yang harus, Anda, tanda tangani." Kiara mendorong berkas yang sudah diletakkan nya di atas meja tadi. "Apa, ada lagi yang, Anda, butuhkan?" tanya Kiara. Tangan Michael terulur mengambil berkas yang di sodorkan oleh Kiara. Membuka dan memeriksanya sesaat, kemudian kembali menutup nya. "Tidak, terimakasih," ucap pria itu cepat. Kiara pun kembali ke meja dan melanjutkan pekerjaannya. Sepeninggal Kiara, Michael pun mencoba kembali fokus dan melupakan sejenak hubungan asmaranya yang kandas. Ia yakin, masih banyak wanita lain di luar sana yang menanti. Saat jam pulang tiba, wajah Mike kembali secerah mentari. Ia menyapa Kiara dengan senyum menawan di wajahnya. Hal itu membuat Kiara sukses terdiam. Sungguh, perubahan raut wajah atasannya sangat cepat. Apa dia punya kepribadian ganda ya? batin Kiara. Kiara menggelengkan kepalanya. Ia menyadari, jika dirinya tak berhak ikut campur dengan urusan pribadi Michael. Wanita itu memilih segera pulang. Jujur saja, ia sudah merindukan kedua buah hatinya. *** Satu bulan sudah Mike dan Kiara bekerja sama. Keduanya kini terlihat semakin dekat. Dalam pekerjaan, mereka seakan memiliki kolaborasi yang cukup baik. Kiara yang seakan mengerti ritme kerja sang atasan, praktis membuat Mike semakin bergantung padanya. Mike pun tak lagi merasa sungkan pada Kiara. Sesekali, ia akan meminta bantuan Kiara. "Kiara," gumam Mike sore itu. Senyum pria itu terkembang, saat membayangkan wajah Kiara. Tanpa bisa ia cegah, hadir sebuah rasa yang tidak Mike mengerti. Ada rasa ingin memiliki saat ia bersama Kiara. "Sore, Pak," sapa Kiara. Mike memusatkan pandangannya pada wajah cantik Kiara. Seakan menunggu, hal apa yang akan Kiara sampaikan. Namun, jantungnya berdegup kencang tanpa bisa ia cegah. "Ini berkas untuk rapat besok. Bapak, bisa memeriksanya lebih dulu," ucap Kiara lagi. Mike mengambilnya dan mulai meneliti setiap aksara yang tertulis di sana. "Okay." Mike menyimpan berkas itu. "Kiara, tunggu!" Kiara yang sudah akan keluar, menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan menatap Mike. Mungkin saja, Mike membutuhkan sesuatu. "Iya, Pak," ucap Kiara. Mike berdiri dari kursinya dan mendekati Kiara. Tangannya terulur ke arah rambut Kiara. Wanita itu memundurkan langkahnya. "Saya cuma mau ambil ini," ucap Mike saat menarik selotip yang tertempel di rambutnya tadi. "Terima kasih, Pak," ucap Kiara. Wanita itu menundukkan kepala, hendak menyembunyikan wajahnya yang memerah malu. Sungguh, ia telah berburuk sangka pada pria di depannya itu. Ih, malu banget. Pede banget sih, aku ini! rutuk Kiara. Mike tersenyum. Sesaat tadi, aroma parfum Kiara menyeruak, memenuhi indera penciumannya. Membuat Mike semakin ingin mendekati. *** Jam kantor pun berakhir. Kiara mulai membereskan pekerjaannya. Beberapa menit kemudian, ia melangkah menuju lift. Di bawah, Kevin sudah menunggu dirinya. "Sudah ingin pulang, Pak?" tanya Kiara saat melihat Mike berdiri di sampingnya. "Iya." Keduanya terdiam, sambil menunggu lift datang. Mike melirik Kiara dengan ekor matanya. Lift khusus petinggi pun, lebih dulu tiba. "Mau bareng?" tawar Mike. "Saya hanya karyawan, Pak. Tidak pantas rasanya," tolak Kiara. "Kamu sekretaris saya. Tidak masalah. Ayo," ajak Mike lagi. Kiara pun memutuskan turun dengan lift yang sama dengan Mike. Ia tahu, lift karyawan pasti sangat penuh di jam pulang seperti ini. Tampan. Kiara menatap pantulan wajah Mike dari dinding lift. Cantik. Begitupun dengan Mike. Aroma parfum keduanya menyeruak, memenuhi ruang sempit itu. Lift bergoyang kuat secara tiba-tiba. Membuat Kiara mendekap Mike secara reflek.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD