Dijemput Pangeran Tampan

1666 Words
Lanina lega karena bisa melarikan diri dari orang yang dia anggap mencurigakan tadi. Padahal orang itu adalah Djarwo, utusan Kek Djaya yang akan menjodohkan Lanina dengan Arkana. Axel memarkir motor sport kerennya tepat di halaman depan indekos Lanina. Semua orang di sekolah sudah tahu kalau Lanina sudah terusir dari istananya sendiri karena ulah tantenya yang serakah dan picik. Beberapa guru menganjurkan Lanina untuk mengadukannya ke komnas HAM dan komisi perlindungan anak untuk didampingi agar membawa kasus serius ini ke jalur hukum. Tapi, Lanina menolaknya! Lanina tak ingin bergelut dengan konflik apa pun. Dia ingin hidup tenang dan damai. Biarkan saja Tantenya seperti itu, karena Lanina yakin kalau Tuhan pasti akan membalas semua perbuatannya. Lagi pula, Lanina sudah semakin kerasan hidup mandiri di kos-kosan seperti sekarang ini. "Nin, kamu yakin?" tanya Axel sejurus dia membuka helm full face-nya. Lanina turun lalu ia juga membuka helmnya. "Yakin kenapa?" "Kamu yakin mau tetap tinggal disini? Sementara kamu bisa menuntut semua hak kamu terhadap tente Airin!" Axel memperjelas pertanyaannya. "Udahlah, Xel, aku gak mau berkonflik lagi! Lagian ... hidupku jauh lebih nyaman dan damai sekarang!" "Kasihan kamu, Nin!" kata Axel lalu dia replect mengelus rambut Lanina sehingga Lanina merasa berdebar. Axel memang bukan pacarnya, tapi Axel adalah siswa populer impian semua gadis di SMA Harapan Bangsa. "Heum, gak apa-apa kok, jangan cemaskan aku! Terima kasih ya karena mau menyelamatkan aku dari orang misterius tadi!" "Pokoknya, nanti nanti kalau ada orang kayak gitu lagi, kamu cepet-cepet tinggalin, gak usah ditanggapi ya!" nasehati Axel. "Iya, Xel! Thank's ya ...." "Kamu mau langsung masuk ke dalam? Gak mau jalan dulu? Nonton atau makan siang bareng?" tawarkan Axel, anak lelaki blasteran titisan surga. Ya, setidaknya itu lah julukan Axel di sekolah. "Lain kali aja ya, aku punya banyak PR buat dikerjakan!" "Sayang banget ya! Sayang juga karena ibu kost kamu gak bolehin cowok masuk ke dalam!" "Iya lah, aku senang dengan peraturan itu Xel, kalau gak ada aturan begitu kan takut terjadi hal-hal yang gak diinginkan!" "Iya, itu benar! Ya udah, aku pamit ya!" Axel mengenakkan helm-nya lagi dan bersiap untuk pergi. "Oke, sekali lagi makasih banyak ya! Bye ...." Axel memutar arah tujuannya lalu melambaikan tangannya sebelum ia tancap gas dari halaman indekos Lanina. "Fiuhhh, siapa ya orang tadi? Bikin parno aja! Apa jangan-jangan ... dia itu rentenir atau mafia yang minjemin duit sama tante Airin, terus tante Airin menggadaikan aku? Aaaarrrgggghhhhh!" Lanina berpikir yang tidak-tidak sampai di akhir dia berteriak histeris sehingga beberapa penghuni kos lain keluar dari kamar-kamar mereka. "Hey ... kenapa kamu?" "Kenapa teriak-teriak?" Beberapa orang langsung bertanya dengan tingkah absurd Lanina. Lanina pun jadi malu. "Ma-maaf, gak ada apa-apa kok! Maaf ya ...." ucap Hanna malu lalu dia berjalan setengah berlari menuju kamarnya yang terletak di lantai dua bangunan indekos itu. "Huh, bikin kaget aja!" gerutu salah satu penghuni. "Palingan dia baru lihat boy band favoritnya update weverse, kayak begitu tuh histerisnya!" cibir tetangga kamar Lanina yang satunya. Lanina tak peduli, dia langsung masuk ke dalam kamar lalu mengunci dirinya. Dia bener-benar ketakutan. Lalu dia mengecek akun bank lewat ponselnya. Masih ada tabungan sekitar 100 juta lagi. "Duit tabunganku tinggal segini? Masa aku harus serahkan juga buat bayar hutang tante Airin sih? Tante Airin itu manusia bukan sih?" gerutu Lanina lalu dia menangis karena merasa sudah sangat lelah hati dengan tingkah tante angkatnya itu. Padahal Airin bukan lah adik kandung ayahnya, tapi dia telah merampas peninggalan orang tua Lanina dalam waktu sekejap saja. "Tapi ...." Lanina ingat-ingat lagi kata-kata Djarwo saat di halte tadi. "Dia itu utusan tuan Djayadiningrat? Kok familiar banget ya namanya ...." gumam Lanina, hatinya masih berkecamuk. "Djayadiningrat? Heum ... kayak nama belakang ...." Lanina masih menganalisanya. "Ya, kayak nama belakang Arkana aja! Arkana Putera Djayadingrat! Huh, apa hubungannya ya? Au ah, pokoknya sekarang aku harus mulai waspada! Aku harus hati-hati! Gak boleh percaya sama sembarang orang!" Lanina melepaskan tasnya lalu menepikan tubuhnya yang lelah di atas kasur. Dia tak menyangka kalau hidupnya akan berubah 180° seperti ini. Benar-benar tak terduga. 'Ayah ... ibu ... berapa lama aku bisa bertahan? Bisakah aku hidup tanpa kalian lebih lama lagi? Gak ada yang bisa melindungi aku sebaik kalian ... i miss you so ....' lirih Lanina dan tak terasa air mata meniti dari kedua ujung matanya sehingga membasahi bantalnya. Hidup indah itu berubah jadi ketakutan. Entah sampai kapan Lanina hidup bertahan sebatang kara seperti ini. *** "Arkana! Kamu harus menjemput anak itu ke sekolahnya langsung! Besok!" perintah Kek Djaya pada Arkana yang sedang santai di tepi kolam sembari asyik mendengarkan musik dan berbalas pesan dengan gadis incarannya selama ini. Perintah dari sang kakek barusan mengusik waktu santainya, Arkana siap untuk protes. "Maksudnya apa, Kek? Siapa yang harus aku jemput?" tanya Arkan lalu melepaskan earphone-nya. "Lanina!" "Siapa? Siapa Lanina?" tanya Arkan lagi dengan ekspresi sebal. "Gadis yang tempo hari Kakek ceritakan di meja makan! Jemput dia di jam pulang sekolah! Kalau kamu yang jemput, mana mungkin dia menolak! Kakek tahu, kamu itu cukup populer di kalangan para anak muda, kan?" Arkana hanya mendengus kesal. Salah satu perintah yang tak pernah bisa ia bantah adalah perintah Kakeknya. Tapi sungguh, wacana soal perjodohan itu adalah salah satu hal gila dalam hidup Arkana. "Hey Arkana, kamu sudah semakin membangkang ya pada Kakekmu ini?!" tanya Kek Djaya membuat Arkana merasa terdesak. "Oke, besok Arkan jemput dia! Tapi Arkan harap cuma sekedar jemput aja, sebaiknya Kakek lupakan soal rencana perjodohan itu!" "Kita lihat saja nanti, Arkana! Jangan cepat-cepat mengambil keputusan! Lihat saja sosoknya, jangan sampai menyesal karena sudah menolak jodoh yang akan kakek pilihkan untukmu nanti!" goda Kek Djaya. Arkana tak mau menanggapi lagi, dengan sangat terpaksa besok ia akan melaksanakan perintahnya untuk menjemput seorang gadis di SMA Harapan Bangsa. 'Gak ada gadis yang paling gue inginkan selain Luisa! Kek Djaya harus lihat Luisa!' batin Arkana kesal. *** Kriiiiiing, bel tanda jam pelajaran terakhir selesai berbunyi. Ratusan siswa berhamburan keluar dari kelas-kelas mereka. Dan terjadi kehebohan di depan gerbang sekolah!. Kemunculan mobil yang diyakini sebagai mobil milik Arkana menghebohkan jagat SMA Harapan Bangsa. Mereka yakin kalau sedan hitam yang terparkir di depan sekolah mereka adalah mobil milik Arkana. Kenapa Arkana sampai setenar itu di kalangan para anak muda seantero kota? Karena Arkana adalah figure yang sering muncul di akun i********: 'cogan-cogan premium'. Itu adalah akun resmi yang setiap hari memajang atau merepost postingan para artis-artis muda atau sosok yang dianggap perfect seperti Arkana. Dan jujur saja, sebenarnya Arkana tak menyukai hal itu. Dia merasa kalau privasinya sudah diusik dan dia benci dengan hal itu. "Eh eh, beneran lho ... itu kan mobilnya Arkana Putera Djayadiningrat! Ngapain dia kesini?" para gadis siap dengan kamera ponsel mereka. "Iya lho, plat nomornya sama kok! Ngapain ya dia kesini, apa dia mau jemput aku?" "Heh, halu!" "O my God! Arkana ada di dekat kita! Kita tunggu sampai dia muncul ya!" Dan setelah hampir seluruh siswa siswi bubar dari kelas-kelas mereka. Arkana putuskan untuk keluar dari mobilnya. Puluhan mata kamera ponsel para ABG labil menyambutnya, tapi tak ada yang berani secara langsung mendekat, secara Arkana dikenal sebagai pribadi yang angkuh. "Ya Tuhan! Dari jarak sedekat ini makin nyata aja gantengnya kelihatan!" racau salah satu siswi. Apalagi saat Arkana berjalan. Bahkan wangi tubuhnya saja tercium semerbak bagai surgawi tertiup angin sepoi-sepoi. Respon para anak sekolahan itu menjadi sangat lebai alias berlebihan. Segala tentang Arkana mereka pandang sebagai fenomena alam yang tak boleh dilewatkan. "Carikan gue orang yang bernama Lanina!" kata Arkan pada salah satu siswa cupu yang kebetulan ada di dekatnya saat ini. "La-lanina?" "Iya, Lo kenal dia, kan?" 'Sebaiknya dia salah satu siswi populer, setidaknya begitu! Mana mungkin Kakek tega jodohin gue sama anak biasa-biasa aja!' batin Arkana masih saja ngenes dengan rencana perjodohan konyol itu. "I-iya, kenal Bang. Sebentar biar saya cari dia ke dalam! Sepertinya kelasnya belum bubaran!" Siswa cupu itu langsung memenuhi permintaan Arkana. Arkana menunggu dan dia masih jadi tontonan para siswi lainnya. "Lanina? Dia nyari Lanina?" "Lanina yang mana sih?" "Apa ... Lanina yang saat ini lagi dekat sama Axel?" "Aah mungkin dia! Huh, nyebelin yaa ... anaknya lumayan cantik sih! Lucky banget dong dia bisa berhubungan sama dua cowok populer sekaligus!" "Iya lah ... secara ... Arkana atau pun Axel kan sama-sama keren!" Desas-desus terdengar lagi. Kini Lanina menjadi trending topik di sekolah setelah seorang Arkana tengah mencari dan menunggu kedatangannya. Lanina datang, muncul dari balik gerbang. Dia kelihatan kebingungan. Dia tak percaya kata orang-orang. Lanina freeze dan tak mampu berkata-kata saat semua orang bilang kalau Arkana Putera Djayadiningrat tengah menunggunya di depan sekolah. 'Ada apa sih ini? Apa ini mimpi? Mau ngapain Arkana nyariin aku? Yang benar saja? Apa dia salah orang? Apa ini ada hubungannya sama pria misterius kemarin?' batin Lanina sampai berkecamuk. Perasaannya juga sangat tak menentu. Kini semua orang juga memperhatikan Lanina, yang berjalan bagai tak menapak. Dia berjalan mendekat pada Arkana yang menunggu di dekat sedan hitamnya. Arkana menoleh dan memperhatikan sosok yang saat ini berjalan ke arahnya yang dia yakini sebagai sosok Lanina, sosok yang Kakeknya maksud. "Lanina?" tanya Arkana, sikapnya masih dingin dan kaku. "I-iya, Kak ... A-aku, Lanina ...." Lanina sampai tergagap. Setelah itu Arkana melempar pandangannya, dia tak ingin memperhatikan Lanina lagi. "Lanina cucunya Kek Hardy?" tanya Arkana lagi mencoba meyakinkan diri kalau dirinya tak akan salah orang. "I-iya, Kok ... Kak Arkan tahu?" Huh, jadi ini orangnya? Dengus Arkana kesal. Saat ini Arkana sudah bertemu dengan calon jodoh yang digadang-gadangkan oleh Kakeknya. "Ikut gue!" kata Arkana lalu membukakan pintu mobilnya. Lanina semakin freeze, dia serasa putri di negeri dongeng yang dijemput oleh pangeran tampan impian semua orang. Orang-orang pun terpukau dan terpana dengan drama dan adegan yang tersaji di depan mata mereka saat ini. Dan pastinya, mereka pun iri pada Lanina. "Hey, lo dengar gak sih? Cepetan naik!" Arkana mulai ketus dan menyadarkan Lanina dari momen bengongnya. "Iya iya," Lanina cepat-cepat naik. Dia tak ingin melewatkan momen bersama Arkana walaupun Lanina sendiri belum tahu pasti apa maksud kedatangan Arkana siang ini. Semua orang histeris setelah Arkana pergi tancap gas bersama Lanina. Apakah Lanina bisa bernafas dengan baik ada dalam posisi saat ini?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD