Fase Baru Kehidupan Lanina

1189 Words
"Rumah ini disita!!!" Lagi dan lagi, segerombol pria berbadan besar mendatangi rumah Lanina. Lanina dan kedua pembantunya yang tersisa sampai dibuat bergidik. "Tap-tapi ... kalian siapa? Apa almarhum orang tua saya memiliki hutang pada kalian?" tanya Lanina memberanikan diri. "Bukan! Tantemu yang punya hutang!" Lanina sungguh tak mengerti dan dia lelah dengan semua tagihan Airin yang ditujukan kepadanya. Sedangkan saat ini Airin sedang tak ada di rumah. "Kok bisa? Kok rumah ini yang mau kalian ambil?" tanya Bi Darmi juga memberanikan diri. "Sebelum pelesir ke Eropa, Airin sudah menyerahkan dokumen rumah ini! Semuanya beserta isinya!" "Tapi ini rumah saya!" "Kami gak peduli, Airin meminjam uang sebanyak 5 Miliyar rupiah dan dia menyerahkan semua surat-surat dan dokumen penting rumah ini pada kami! Belum lagi hutangnya yang lama juga belum sempat dia bayar! Makanya kami pikir, ini saatnya kami mengambil rumah yang sudah dijaminkan ini!" GILA! Tante Airin sungguh Gilaaaaa!!! Ingin rasanya Lanina berteriak seperti itu sekencang-kencangnya. Lanina menyerah! Dia tak punya orang yang bisa ia percaya! Maka, sudah ia putuskan kalau ia akan meninggalkan semuanya! Lanina tak ingin berhubungan atau kenal lagi dengan yang namanya Airin! *** Sebuah kamar kos kecil sudah didapat. Bi Darmi dan Bi Ija masih sempat mengantar. Akhir yang tragis untuk Lanina. Setelah kehilangan kedua orang tuanya, Lanina juga harus kehilangan semua aset peninggalan keduanya. Tapi sungguh Lanina tak peduli, dia hanya ingin hidup tenang Lanina sudah lelah didatangi oleh para penagih hutang setiap hari. "Non, kamu bisa menuntut balik pada Nona Airin lho," kata Bi Darmi. "Biarin aja, Bi! Aku lelah, aku pengen hidup tenang aja! Bi Darmi sama Bi Ija gak usah cemas ya, aku bisa kok hidup mandiri!" kata Lanina mencoba menenangkan kedua pembantunya itu. "Tapi Non, ini perampokan! Nona Airin sudah merampok semua harta yang harusnya jadi hak kamu, jumlahnya gak tanggung-tanggung lho, kalau ditaksir bisa sampai puluhan Miliyar!" "Saya gak peduli, saya ingin memulai hidup baru, Bi!" Lanina menarik dua amplop tebal dari dalam kopernya. Koper-koper itu masih berjejer rapi di salah satu sudut kamar kos berukuran 4x4 meter itu. "Aku mengamankan semua aset ayah yang ada di brankasnya! Ayah memberikan password brankasnya sejak aku kecil! Ada uang tunai dan beberapa perhiasan. Perhiasannya akan aku simpan untuk kenang-kenangan! Dan uang tunainya, aku bagi tiga ... buat Bi Ija, buat Bi Darmi ... dan buat aku!" Lanina membagikan dua amplop itu. Ternyata isinya adalah uang. "Kamu simpan saja uangnya, Non! Kami akan tetap disini, melayani kamu!" kata Bi Ija menolak. Lanina hanya tersenyum simpul. "Kalian gak perlu cemaskan aku! Aku mau hidup mandiri Bi! Aku punya tabungan dan bekal, aku rasa cukup buat sampai aku lulus kuliah nanti! Percayalah! Kalian sudah sangat banyak membantu, terima kasih banyak ya! Bi Darmi sama Bi Ija pulang saja ke kampung! Dan anggap uang itu sebagai pesangon yang tak seberapa!" Bi Darmi dan Bi Ija sampai menangis mendengar bagaimana betapa tegarnya Lanina menghadapi kehancurannya ini. "Kamu yang tabah ya, Non ...." "Iya, Bi! Aku akan jadi anak yang kuat, tegar dan berguna ... demi orang tuaku yang udah bahagia di surga sana!" Dan sejak hari itu, hidup Lanina yang selalu dilayani berubah 180°. Lanina akan memulai hidupnya sebagai gadis sebatang kara. Lanina sudah tak ingin berurusan lagi dengan tantenya. *** "Apa? Yang benar saja? Semua aset peninggalan Harry dan Ellen sudah habis? Lalu dimana anak itu sekarang?" Kek Djaya saja sampai terkaget saat tahu kalau semua harta peninggalan mendiang ayah dan ibu Lanina sudah lenyap bak ditelan bumi. "Anak itu terpantau telah hidup mandiri di sebuah indekos, tuan! Ini adalah Tahun terakhirnya di sekolah menengah atas!" kabarkan Djarwo, asisten Kek Djaya. "Astaga, bagaimana bisa aku mengabaikan anak itu! Cepat bujuk dia untuk datang ke rumah ini! Kita tak bisa membiarkannya hidup sendirian seperti itu!" perintahkan Kek Djaya. "Baik, tuan!" "Maafkan aku, Hardy! Maaf karena aku terlambat menyelamatkan cucumu dari keserakahan putrimu angkatmu, si Airin! Ini tak bisa dibiarkan!" Entah apa rencana Kek Djaya, tapi yang pasti sebentar lagi Lanina akan segera mengetahui fakta kalau ia akan segera dijodohkan dengan cowok populer yang paling ia puja selama ini. *** "Bye ... hati-hati di jalan ya, Nin!" Emily pamit pulang dengan ayahnya. Emily memang diantar jemput oleh ayahnya dengan sepeda motor. Tinggal lah Lanina sendiri menunggu di sebuah halte. Dia menunggu angkot yang lewat. Sejak menjadi anak kost, Lanina benar-benar mencoba membiasakan diri dan berhemat. Jika dulu ia biasa pergi diantar mobil mewah dan diantar sopir pribadi, sekarang Lanina harus puas dengan naik angkot. Lanina mencoba bijak dengan fase baru dalam kehidupannya ini. Dan sebelum angkot yang ia tunggu datang, tiba-tiba ada sebuah sedan mengkilap berhenti di depannya saat ini. "Kamu Lanina, kan? Putri mendiang tuan Harry dan Nyonya Ellen?" tanya pria bersetelan rapi yang turun dari mobil itu, dan itu adalah Djarwo. Lanina tak buru-buru menjawab, dia merasa asing dengan pria di depannya. Lanina over thinking, dia berpikir kalau pria itu adalah salah satu rentenir atau mafia yang ingin menagih hutang pada Airin. "Halo, Nona! Apa kamu dengar pertanyaan saya? Kamu benar Lanina, kan? Cucunya mendiang tuan Hardy?" Lanina tambah heran, kenapa orang itu tahu semua nama anggota keluarganya? Tanya Lanina dalam hatinya. "Anda siapa?" tanya Lanina dengan pandangan skeptis. "Saya Djarwo, utusan dari keluarga Djayadiningrat!" jawab Djarwo dengan protokol layaknya seorang ajudan pejabat tinggi negara, hingga Lanina merasa kaku menghadapinya. "Saya gak kenal, saya gak kenal beliau!" kata Lanina tegas. "Tapi beliau sangat mengenal kamu! Mari ikut saya, tuan Djayadiningrat sangat ingin bertemu dengan kamu!" "Nggak ah, saya gak mau! Saya gak kenal sama Anda! Saya juga gak kenal siapa tuan Djayadiningrat!" Lanina bersikukuh dan tetap menolak. "Hey!" Tak lama seorang anak lelaki berseragam putih abu turun dari motor sportnya lalu berjalan mendekat ke arah Lanina dan Djarwo. "Axel ...." gumam Lanina dengan hati berdebar-debar. "Siapa Anda? Kok kelihatannya Anda maksa-maksa teman saya buat ikut dengan Anda? Anda penculik?" Axel langsung melindungi Lanina, dan Lanina merasa nyaman ada di balik punggung anak lelaki tampan itu. "Maaf, kalian salah faham ... saya bukan penculik, saya gak akan macam-macam, saya diutus oleh tuan Djayadiningrat untuk membawa Nona Lanina!" "Gak gak! Biarpun pakaian Anda rapi, jangan harap saya segan! Cara Anda mengajak Lanina sangat mencurigakan! Sebaiknya Anda pulang sebelum saya teriaki Anda!" kecam Axel. Djarwo sampai kewalahan menghadapi dua anak SMA yang ada di hadapannya saat ini. Pandu memutuskan untuk menghubungi tuan Djaya saja. "Makasih banyak, Axel!" ucap Lanina malu-malu lalu bersembunyi di balik punggung Axel. "Ayo, pulang sama aku aja! Mumpung orang itu lagi sibuk nelpon!" ajak Axel dan diam-diam membawa Lanina pulang sementara Djarwo sedang sibuk menelpon. GRUUUUUNG, dan Djarwo baru menyadari kepergian Lanina saat Axel sengaja melakukan provokasi dengan membuat tarikan gas tepat di depan Pandu sehingga menimbulkan suara bising yang memekakan telinga. "Apa itu, Djarwo?" tanya Kek Djaya yang juga mendengar suara bising itu. "Anu tuan, itu Nona Lanina-nya malah pergi sama temannya! Dia sangat curiga dengan kedatangan saya, dia juga tak cukup mengenal Anda!" "Huh!" Kek Djaya hanya mendengus. "Ya sudah, biarkan saja! Biar besok saya yang akan langsung menemui dia!" "Baik, tuan." Lanina benar-benar belum menyadari kalau dia sedang dicari oleh kakek dari cowok populer bernama Arkana. Bagaimana reaksi Lanina kala ia tahu kalau dirinya adalah jodoh terpilih untuk seorang Arkana?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD