Chapter 4 kita satu kamar

1020 Words
"Ternyata aku harus membawa mereka bertiga ke lokasi pantai yg telah ku kunjungi semalam. Apa ini yang di katakan jangan pergi hanya berdua" sahutku dalam hati Aku terhimpit duduk diantara Kyota dan Seji di bangku belakang. sedangkan Frans duduk di bangku depan bersama supir. "akhirnya liburan juga" sahut Frans teriak kearah luar kaca mobil yg terbuka setengah aku semakin merasa tidak nyaman diantara mereka, mereka berdua juga terlihat kaku. *flashback on* Seji datang ke rumah yang juga saat itu aku sedang packing barang, lalu Seji merekomendasikan diri untuk gabung bersama aku dan Frans ke lokasi pantai. Lalu Bagaimana dengan Kyota yg tib-tiba ikut? setelah nya Kyota menelpon ku untuk bertanya kapan dia bisa mendapat latihan tambahan berenang agar nilainya tidak merah. setelah aku mengatakan sepertinya tidak bisa besok dikarenakan harus ke suatu tempat. Kyota malah tertarik untuk pergi bersama ku setelah aku mengatakan pergi bersama Frans dan Seji. Beginilah situasi aku yg sekarang ada diantara mereka. *flash back off* "uhuk..." aku terbatuk Seji menyodorkan air mineral kearahku sesaat aku melihat Kyota dengan tatapan sinis. Tiba-tiba jantungku berdebar seketika dan aku merasa sulit bernafas melihat Kyota dan Seji tertidur dan bersandar di bahu ku. Kyota menggunakan bahu kanan ku sedangkan Seji kiri. Fran melihatku dari spion mobil, lalu aku juga menatap mata Frans dari spion. Frans terlihat sedang meledek diriku saat ini dengan senyumnya yang menyebalkan. "ya bakalan kebas kedua bahu ku" sahutku dalam hati "ciiittttttt" suara mobil ngerem mendadak aku terlempar kedepan sedangkan kepala Seji dan Kyota keduanya terhantuk bersamaan. "aduhh" sahutku yg terjengkang kedepan "pak hati hati dong" sahut Frans kpd supir " kamu gak papa?" sahut mereka bertiga bersamaan lalu Kyota menarik tubuhku kembali. Seji melihat keningku yg terhantam bangku sandar Frans. "hufft syukurlah. aku mengira kamu cedera" sahut Seji "lebay anda pak. jatuhnya cuma kedepan " tepis Kyota mendengar perkataan Seji "kepala kan bahaya kalau sempat terantuk sesuatu. Gimana sih anak IPA?" sahut Seji pada Kyota. mereka berdua berdebat hanya karena kepala. Sungguh suatu situasi konyol yg baru saja aku temui. kini aku yg mendengar mereka berdebat menggerakkan tanganku ke kepala sambil berkata "stop it! bisa bisa kepala saya cedera karena mendengar kalian berdua bertengkar". sahut ku emosi Seji dan Kyota lantas diam. Mobil tetap berjalan ke arah yg kami tuju. kini suasana kembali tenang dengan tambahan lagu Raisya yg di putar pak supir. kali ini diriku lah yg terlelap. kepalaku tergerak kearah kanan dan kiri. seketika itu bahu Seji dan Kyota berharap dapat menampung diriku. Tetapi pada akhirnya kepala ku stay di tengah tanpa memiringkan ke kanan ataupun kekiri bahu mereka. aku terbangun setelah Frans berkata kami sudah sampai lokasi. "ayo turun" ajakku pada Kyota yg terakhir turun dari mobil. melihat gelagat Kyota yg tak ingin turun, akupun meraih lengannya dan membawanya ikut bersamaku ke tepi pantai itu. sungguh suasana yg indah. Kyota masih memejamkan matanya "ayolah kyota. nikmati pemandangan ini. kamu harus bisa melawan rasa takut kamu" sahutku melihat Kyota lalu perlahan Kyota membuka matanya dan dengan iseng Seji bersama Frans menggiring Kyota ke dalam air sehingga membuat mereka bertiga basah. aku sangat senang melihat pemandangan ini saat Kyota sudah mengatasi traumanya dan bermain cipratan air bersama Seji dan juga Frans. "Kyota jangan" sahutku pada Kyota yg juga menarikku ikut bergabung bersama mereka. Kyota mengangkatku dengan melingkarkan tangannya di pinggangku lalu Seji menyipratiku dengan air serta Frans yg mencoba menambah suasana jadi heboh. Tak terasa hari sudah mulai senja, kami pun berjajar terduduk di tepi pantai sambil menatap senja yang begitu indah. Rasa syukurku berlipat ganda untuk hari istimewa ini bisa bersama mereka. karena sebentar lagi gelap, aku dan yang lain memutuskan mencari tempat terdekat untuk menginap semalam. keesokan harinya barulah aku dan yang lain balik. Sebuah pondokan berbentuk rumah joglo menjadi tempat yg saat ini kami kunjungi. Hanya ada penginapan ini yang lokasinya terdekat dari pantai. Lalu aku tidur di kamar sendiri sedangkan Seji, Kyota dan juga Frans di kamar yg lain. mereka bertiga berada di satu kamar yang sama di karenakan saat ini banyak kamar yg di renovasi. tiba-tiba hujan mengguyur tengah malam, aku merasa dingin dan takut meringkuk didalam selimut. Terdengar petir yang bersahut sahutan membuatku berteriak. Mungkin karena derasnya hujan, tidak akan ada yg mendengar teriakanku. Seji dan yang lain tertidur pulas karena bermain air begitu lama. berbeda dengan Kyota yg datang mengetuk kamar ku untuk melihat apakah aku sudah tidur. "tok tok" suara ketukan kedua aku masih mencoba meraba jalan dikarenakan lampu yg padam. dari dalam aku bertanya "siapa?" sahutku ragu ragu ingin mendekati pintu "saya, Kyota" jawab Kyota "mau apa dia kesini?" pikirku dalam hati tarikan engsel pintu sengaja ku tarik dan terlihat Kyota menyandar di pintuku. "boleh aku masuk dan bermalam disini" tanya Kyota langsung pada poin pembicaraan "apa?" aku kaget dengan kalimat Kyota saat itu, pikiran negatif ku mulai menjalar di kepala. Kini Kyota mungkin akan berbuat nakal padaku. "tidak usah GR Bu. saya hanya tidak bisa tidur dgn mereka berdua. suasa yang berisik dan bersahutan (ngorok)". jelas Kyota pada ku "baiklah, kamu bisa tidur di sofa. tapi ingat jangan macam macam" peringatan ku PD Kyota sambil menaikkan telunjukku ke hadapannya. "yah baiklah" jawab Kyota aku berada di satu kamar yg sama, sesaat aku takut memejamkan mata karena Kyota. Tetapi aku merasa aman dan tidak takut setelah dia berada di sisiku. Mataku tidak lah tahan lagi ku bendung. aku terlelap seketika itu juga. Aku merasakan ada seseorang di sampingku, setelah berusaha membuatku bangun dari tidur, dengan sayu aku melihat Kyota yang sedang meringkuk didalam selimutku. Akupun melihat seluruh diriku yang masih berpakaian utuh. "hufft syukurlah tak terjadi apapun" sahutku selah melihat pakaian tidur ku yg lengkap aku mencoba menggoyangkan lengan kiri Kyota dan mengguncang tubuhnya yg masih terlelap disampingku. Lalu Kyota terbangun dan melihat ke arahku. "maaf, saya kedinginan tadi malam. lagian kenapa tidak ada selimut untuk saya tadi malam. hujan itu membawa angin yg begitu membuat saya menggigil" jelas Kyota padaku "apapun itu seharusnya kamu izin sama saya" sahut ku "saya izin kok. kamunya saja yg tidak mendengarkannya" kata Kyota berdebat "bagaimana saya tau, jika saya tidur" jelas ku pada Kyota "ya itu masalah kamu. yg penting saya sudah meminta izin" jawab Kyota tak ingin mengalah
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD