Diriku tidak ingin berlama-lama mengajarkan hal dasar dalam berenang pada Kyota. Aku melihat semua yang dilakukan Kyota sedari tadi hanya acting semata. Hingga pada akhirnya Aku mendorong Kyota ke dalam air. Awalnya aku hanya tertawa dan mengira diriku tidak akan tertipu dengan actingnya kali ini. Aku yg melihat kyota mencoba memantau, karena bagi pria yg memiliki tinggi badan 185 cm tidak akan mungkin tenggelam begitu saja dengan ukuran kolam yg dangkal. Sampai terlihat Kyota melambaikan tangannya keatas permukaan air dengan sesekali mengambil udara. Kini aku percaya bahwa Kyota sungguh tidak bisa berenang.
"Tidak mungkin tenggam, kamu lebih tinggi daripada saya" sahutku langsung masuk kedalam kolam dan menarik Kyota keluar.
"Tolong!" Teriak Kyota begitu tidak jelas.
"Waduhh " Kataku kaget melihat Kyota benar benar meminta pertolongan
Kaki ku melangkah ke tepi kolam dan melompat hingga meraih tubuh Kyota bersama ku. Saat itu aku panik harus bagaimana. Saat aku hendak memberikan pertolongan pertama, Seji datang dan berteriak.
"Stop! Biar aku saja yg menolongnya" pekik Seji melihat aku yg ingin mendaratkan bibirku pada bibir Kyota.
Seji memompa d**a Kyota dengan kedua tangannya, lalu memberi Kyota bantuan pernafasan.
"Uhuk uhuk (sambil mengeluarkan air di dalam mulutnya)" Kyota terbatuk.
"Fyuu.... Syukurlah" kataku lega.
Lalu aku dan Seji membawa Kyota ke ruang UKS. Hingga akhirnya Kyota beristirahat didalam ruang itu. Tak lama kemudian, gadis itu datang. Gadis yg sering bersama Kyota.
Di karenakan hanya Rabu Kamis jadwal ku melatih, jadi hari selain itu aku tidak ada melatih anak sekolah. Saat nya aku fokus membuat tugas kuliah yg diberikan dosen. Melakukan survei ketempat wisata dan mencari positif dan negatif nya dari tempat tersebut.
Survei kali ini ke pantai Nirwana, pantai yg masih fresh belum ada di sentuh para wisatawan. Pantai ini tidak jauh lokasinya dari kota Hasegawa.
Terlihat batu karang dan sekelompok kerang bercangkang hijau mengkilap menjepit di karang itu serta sebuah hewan yang biasa disebut kerang laut menunjukkan diri. Aku mengambil skop kecil yg sengaja aku sediakan dan menabur garam di lubang itu, tak lama setelahnya kerang laut itu menunjukkan dirinya. Lalu aku menariknya keluar.
Sungguh tempat yg indah. Suara ombaknya juga membuatku tenang berada disini. Sebuah ketenangan yg sulit ditemui. Berada disini membuat beban ku perlahan lepas begitu saja. Kaki ku menyusuri pantai ini tanpa menggunakan alas kaki.
"Wah betapa indahnya tempat ini. Tempat yg masih fresh belum di kunjungi orang lain". kataku
Dari semua keindahan ini, tempat ini masih memiliki kekurangan yaitu jaringan. Aku tak mendapatkan signal di sekitar pantai ini membuatku sulit memberitahu teman baikku Frans.
Frans adalah teman pertamaku di kelas. Dia anak yg lucu dan super heboh, jarang ada cowok seheboh dia. Tetapi Frans itu sangat anti kotor jadi berteman dengan Frans sedikit membuat kepala ku migrain. Maka dari itu aku tak mengajak nya ke lokasi saat ini. Jika dia ikut, maka tak tau lah apa yg dapat terjadi saat ini.
Entah mengapa pikiranku mengarah ke siswa Badung itu. Yah Kyota. Entah bagaimana kabarnya, terakhir aku dan Seji membawanya ke UKS. Setelah itu, sampai sekarang aku tak mendengar kabarnya lagi.
Hari sudah senja, aku melihat sunset di pantai itu. Lalu aku mengeluarkan ponsel ku untuk mengabadikan beberapa momen ini. Sebuah momen yang dapat membuatku selalu bersyukur karena alam selalu ada untuk aku. Memberikan ketenangan setiap kali aku membutuhkannya.
Sesampainya di depan pagar kos kos an, terlihat Seji bersandar di pintu mobilnya yg tertutup dengan memainkan ponselnya dan dering ponselku berbunyi kembali, tertuliskan Seji yg sedang menelepon. Karena suara dering itu mampu membuat Seji melihat kearah suara ponsel yg tidak jauh darinya dan langsung berjalan ke arahku.
" Kamu dari mana saja Erika? Kata Frans kamu menghilang" Seji terlihat cemas.
"Dasar ember" sahut ku dalam hati terhadap Frans.
Aku mencoba membuat Seji tenang. Air mineral yg saat itu ku pegang, ku berikan padanya. Tanpa basa basi Seji meneguk air mineral itu hingga menggerakkan jakunnya. Sungguh pemandangan yg indah. Aku sangat ter khasima melihat pria ini ketika sedang meneguk minuman. Rasanya jantungku saat ini sedang latihan marching band.
"Angle kiri yg bagus" sahutku dalam hati.
"Kamu ngomong sesuatu?" Tanya Seji.
"Tidak ada" jawabku sambil berpikir.
Sampai saat ini aku masih merasa bahwa Seji adalah jodohku kelak. Dimana saat aku kesulitan, dia selalu ada untuk ku. Bahkan jika benar-benar diriku hilang, Seji akan terlihat lebih panik dari dirinya saat ini. Kembali kepada ketetapan Allah, manusia tidak berhak mengubah jalan hidupnya. Terkecuali itu adalah sebuah takdir yang bisa diubah dengan usaha.
Bagaimana Seji merasa aku telah mengatakan sesuatu. Sangat sensitif sekali kuping Seji dapat mendengarku berbicara dalam hati.
Setelah melihat aku baik-baik saja, Seji pamit pulang dengan perasaan lega. Aku akan memberikan Frans pelajaran karena dia begitu ember.
Frans terkejut tiba-tiba aku sudah berada didalam kamarnya dengan tatapan sinis ingin memberikannya pelajaran kepada mister cleanser.
"Aaaa kaget! Erika?" Sahut Frans refleks memeluk ku.
"Jangan lebay deh. Perasaan baru kemarin kita ketemu. Kamu bilang apa ke Seji hingga dia begitu cemas?" Kataku mengintrogasi
"Mmm, aku cuma bilang kalau kamu sedang pergi bertugas dan sekarang hilang kontak. Eh tau gak sih aku juga takut banget kamu kenapa-kenapa. Yah yg ada dipikiran aku hanya Seji. Bukankah Seji sering kamu ceritakan padaku? Susah tau gak sih aku cari nomor Seji dari senior senior, di kira senior aku itu gay. Jahat banget kan mereka" jelas Frans panjang lebar.
"Iya lain kali jangan ke dia. Aku malu tau" sahutku sambil menutup muka.
"Idih malu, sekarang kamu gak malu lagi di kamar cowok" Frans menyindirku.
"Ya ini kan cowoknya beda. Cowok heboh" kataku meledek Frans.
Aku pun menjelaskan lokasi wisata yg telah aku kunjungi tadi kepada Frans. Terlihat Frans yang begitu geli saat aku bercerita memegang karang laut yg keluar dari lubang tanah.
"Susah sih hidup di hutan tidak ada signal. Gimana mau komunikasi" sahut Frans.
"Kok hutan sih? Pantai" kelasku meluruskan.
"Ya iya, kan disekitar pantai banyak hutan" jawab Frans ngeles
"Ya pokoknya seru aja sih disana. Tenang dan nyaman. Kapan kapan kita kesana bareng" kataku merangkul si Frans layaknya sahabat pada umumnya
"Wait. Jangan berdua. Harus ada orang lain lagi. Aku gak mau terjadi hal buruk disana" Frans menoyor keningku dengan kedua jari nya.
Ada Tiga karakter cowok yang kini keluar, Enak banget sih kalau jadi Erika. Mimin juga mau.hehe... Gemes Sama Kyota yg cuek, Seji yang perhatian dan Frans yg kocak. aduh jadi gak sabar mau lanjut. Ikuti terus ya cerita mereka.