Gara-gara Tupperware

990 Words
Disebuah ruangan, terdapat lima orang anak adam yang sedang berpikir keras. Erik, Keke, Syifa, Ucup dan Sholeh. Masing-masing memegang sebuah pulpen dan kertas. Dua hari yang lalu, kelas XII MIPA 2 dibentuk menjadi beberapa kelompok oleh Pak Satya guru PKN, satu kelompok diisi lima orang. Setiap kelompok diberi materi berbeda-beda untuk mereka presentasikan minggu depan. Syifa dan kawan-kawan akan menjelaskan tentang, 'Demo, salah siapa?'. Judul yang sangat sempurna. “Menurut kalian, demo salah siapa?” tanya si Ucup. “Kalo kata gue sih, ya emang DPR. Ngomongnya perwakilan rakyat, tapi suara rakyat diabaikan! Bener gak, Ke?” sahut Erik mengajukan opini dan meminta pendapat Keke. “Gue sih setuju sama lo, bukannya gue mau menjelekkan sistem pemerintahan kita, ya. Ya gimana lo liatnya aja sih. RUUKUHP itu emang terlalu mencampuri ranah privasi tau, nggak. Masa iya gelandangan didenda?” “Nah iya tuh, lucu nih kalo ada berita, 'Suami masuk penjara karena memperkosa istri, jadinya istri bekerja seharian untuk biaya sehari hari dan untuk menyekolahkan anaknya. Tapi si istri dipenjara karena ketahuan satpol pp pulang malam, jadilah si anak menjadi gelandangan, si anak juga masuk penjara karena dia adalah gelandangan. Akhirnya satu keluarga hidup bahagia dipenjara selamanya.', Kan ngakak!” Si Ucup berpendapat mengenai isi RUUKUHP yang menjadi kontroversi di kalangan mahasiswa. “Lah guys, kalo menurut kalian, Syifa bakal didenda, nggak? Pasalnya Syifa termasuk melakukan pelanggaran HAM berat,” ungkap Sholeh. “Kok bisa?” “Lho iya, Masker Syifa, kan, enggak pernah dibuka, tuh. Jadi gue kadang gak denger dia ngomong apa, kan hak gue buat bisa berkomunikasi sama dia dengan tenang tanpa gangguan.” “Sholeh, mah. Ini namanya privasi, bukan pelanggaran HAM. Sholeh gak asik!” kesal Syifa mengembungkan pipinya. “Semakin hari lo semakin gak guna, Sol!” *** “Ma, menurut Mama, Syifa itu gimana?” tanya Alaska pada sang mama. “Maksudnya?” “Ya menurut Mama aja, Syifa itu anaknya kayak apa?” “Syifa baik, sopan, dan kayaknya cantik? Mantu idaman mama banget!” “Tau dari mana kalo Syifa cantik?” “Ya tau aja, walaupun belum pernah liat mukanya, Mama udah tau kalo Syifa emang cantik.” “Iya, Syifa emang cantik.”  Alaska membenarkan, ia tersenyum memandang kosong ke tumpukan piring didepannya. “Ngapain senyum-senyum, piringnya masih banyak, tuh! Kamu nggak boleh ketemu sama mantu Mama kalau piringnya belum tertata rapi di rak!” Alaska menunduk lesuh, salahnya menghilangkan Tupperware ungu kesayangan mamanya. Berakhirlah dia di sini, mencuci piring yang jumlahnya mengalahkan banyaknya dosa Jonathan. “Mama gak mau tau, besok pulang dari sekolah Tupperware Mama harus ketemu! Paham?” “Iya, Ma.” “Jangan iya-iya aja, dicari sampek ketemu!” “Iya Mamaku sayaang, yang cantiknya ngalahin Miranda Kerr.” Setelah mencuci piring, menyapu dan mengepel lantai serta menyiram cabai kesayangan papanya. Akhirnya Alaska bisa bernafa lega, menikmati empuknya kasur kesayangannya. Alaska merilekskan otot otot tubuhnya, dengan ditemani ponsel di genggamannya. *** Saat ini, Alaska, Adrian, David, Jonathan, Nadia dan Desy sedang menikmati makan siang mereka di kantin. Kecuali Syifa dan Keke yang sudah makan duluan saat istirahat pertama, tentu saja di ruangan khusus mereka. Tenang saja, Tupperware ungu milik Mama Sandra juga sudah aman di tangan Alaska. “Benaran udah kenyang?”   “Iya, Aska. Syifa udah kenyang.” “Mau minum?” “Nggak mau!” tolak Syifa, gedek sendiri pada Alaska yang begitu teliti pada kesehatannya. “Kapankah aku bahagia, kapankah dunia menjadi milikku ... ." David bernyanyi dengan penuh penghayatan. “Uhuk uhuk!” Hingga akhirnya terbatuk-batuk. “b*****t, liur lo kena bakso gue anjing. s****n lo!” omel Jonathan karena baksonya terkontaminasi oleh liur David. “Hehe sorry Jo sorry, habis Si Alaska perhatian bener ke Syifa. Serasa dunia milik berdua aja.” “Tapi gak muncrat juga, Bambang!” “Mampus!” “Makanya, Vid, jadi jomblo itu semampunya aja. Kalo lo udah gak mampu, ya cari pacar dong!" sahut Keke. “Eh lo, gak usah ceramahin gue deh lo. Lo aja yang punya pacar serasa jomblo, kan? Mampus, siapa suruh pacaran sama murid pinter kayak anak kelas sebelah itu!” “s****n!” Keke tak terima akan perkataan David. “Heh, udah gak usah tengkar, tenang aja, Ke! Fian gak macem-macem, kok. Gue tau karena gue kan sekelas sama dia,” lerai Desy. “Iya sekarang nggak macem-macem, tau-taunya nanti selingkuh.” Sepertinya David memang minta ditampol. Eh cabe rawit, ngomong sekali lagi gue lindes, ya, congor lo!” “Si Keke sangar juga," takjub Adrian yang sedari tadi hanya melihat perdebatan mereka. “Gak tau aja lo, Yan. Di kelas cuma dia nih yang paling barbar. Si Mika juga barbar sih, tapi lebih parah nih cewek.” Hitung mundur, 1 ... 2 ... 3 ... Plak! “Uh, s***s ... Keren lo, Ke!” Jonathan geleng-geleng kepala sambil bertepuk tangan melihat kesadisan Keke. “Sakit, b**o!” “Salah lo sendiri, minta banget buat digampar.” Keke menepuk-nepuk tangannya seakan menghilangkan bekas debu karena baru saja menyentuh David. “Eh, Keke jangan gitu. Kasihan!" Syifa terkaget-kaget melihat Keke menampar David. “Salah sendiri!” Sedangkan Alaska melotot, bukan karena tamparan Keke. Tapi karena tangan Syifa yang sudah bertengger di pipi David. “Adududuh Syifa, ini sakit bangett.” Kumat. Sifat jail David keluar lagi. “Sakit banget, ya?” “Iya, nih!" Plak! Mampus! Kini kedua pipi David sudah seperti kepiting rebus. Baru saja Alaska melayangkan hadiahnya karena David yang mengusik penglihatan dan pendengarannya. “Askaa! Kasian David! Kenapa ikut-ikutan nampar?” “Huwa, bu Dian! Tolongin David Bu! Hidup David nggak tentram lagi, dianiaya sama mereka!” David berteriak saat melihat bu Dian lewat di depan matanya, lalu mendekati guru cantiknya itu. “Eh, kamu kenapa?” Kaget bu Dian melihat kedua pipi David sangat merah. “Bu, David dihina sama mereka karena jomblo sendiri,” adu David menunjuk di mana Alaska dan lainnya berada, “tolong terima cinta David, supaya hidup David tentram!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD