Bidadarinya Alaska

1606 Words
Alaska terus memandang Syifa dari jarak yang sedikit jauh. Ia sedang duduk santai di sebuah kursi panjang muat tiga orang, yang memang disediakan untuk pengunjung. Pria itu tak henti hentinya membatin sejak dari tadi saat menjemput Syifa. Syifa bukan manusia! Syifa, Syifa dan hanya Syifa yang ada di pikiran Alaska. Entah dukun mana yang dibayar Syifa sampai membuat Alaska hampir gila karena terus memikirkannya. Syifa memakai T-shirt kebesaran berwarna merah muda sepaha yang dipasangkan celana jeans sepaha juga. Sneakers putih ditemani bandonya yang berbentuk pita warna pink, semakin mempermanis penampilannya. Eh, jangan lupakan masker yang masih setia bertengger di wajah gadis cantik itu. Sederhana memang, tapi mampu membuat seorang Alaska tidak bisa melihat ke arah lain selain dia. The power of Syifa. “Aska, sini!” Alaska mendekat kearah Syifa. “Kenapa?” “Aska bandonya lucu!” “Terus?” “Ck, dasar gak peka!” kesal Syifa dan meninggalkan Alaska begitu saja. “Aska jahat!” “Gak peka!” “Bikin kesal aja!” “Ke laut aja sana!” “Nyelam sambil minum air!” “Yang banyak!” “Biar cepet mati!” “Eh, jangan, ding. Gak rela.” Syifa terus berceloteh sepanjang jalan, merutuki Alaska yang sangat tidak peka sebagai seorang pacar. “Aduh!” “Hati-hati jalannya, jangan ngomel terus, kesandung, kan, jadinya.” Untung saja Alaska dengan sigap memegang tangan Syifa, jika tidak, selain kaki yang tersandung, Syifa juga akan terjatuh. “Gausah pegang-pegang, deh!” Syifa melepaskan pegangan Alaska dari lengannya. “Masih marah?” “Siapa ya? Gak kenal!” kata Syifa dengan gaya songong andalannya, kedua tangan di pinggang dan kepala sedikit mendongak menantang. “Imutnya ... .” Alaska mengelus rambut Syifa. “Hei! Dibilang gak usah pegang-pegang, kok!” “Salah sendiri, kok imut.” “Udah dari lahir, jadi gak usah heran.” Balas Syifa begitu percaya diri. “Askaa! Syifa mau naik itu!” tunjuk Syifa pada bianglala yang berputar di depannya. Lihat? Baru saja Syifa marah, detik ini dia sudah kembali ceria. Hanya karena bianglala yang tak sengaja dilihatnya. “Ayo, cepetan!” Syifa menarik lengan Alaska tak sabaran. “Iya sayang, pelan-pelan jalannya.” Alaska pasrah, ia ikut saja ke mana Syifa membawanya. “Dua orang, ya, Pak!” “Oke, Mas, dua orang lima puluh ribu.” Sembari Alaska membayar tiket, Syifa berjalan duluan menuju bianglala yang pintunya sudah terbuka. “Syifa, hati-hati!” “Iya Aska, Aska lama deh. Cepetan masuk!” Syifa sudah duduk di dalam menunggu Alaska masuk, Syifa sangat bersemangat. “Aska bianglala-nya naik, Syifa sukaa!” “Suka?” “Iya, suka banget!” “Syifa?” panggil Alaska pada gadis cantik di hadapannya itu. “Iya?” “Coba tebak, Aska bawa apa?” tanya Alaska memperlihatkan sebuah plastik, yang tidak disadari keberadaannya sedari tadi oleh Syifa. Syifa jika sudah fokus ke satu hal, jika ada kabar David mati aja, pasti tidak akan direspon olehnya. “Gak tau!” “Mau tau?” Syifa menganggukkan kepalanya. “Buka!” Syifa membuka bingkisan itu, matanya berbinar melihat sebuah bando yang tadi sangat dia inginkan. “Buat Syifa?” “Iya.” “Makasih, Aska!” memeluk Aska erat. “Sama-sama, sayang” Syifa membuka bando pita yang sebelumnya ia pakai dan memasangnya di kepala Alaska. Hahaha, Alaska sangat lucu! “Kok dipakein ke Aska?” “Iya, gapapa gausah dibuka. Aska lucu kalo pake bando. He he!” Syifa cengengesan. Alaska mengulas senyum, mengambil bando yang masih di genggam Syifa dan memasangnya di kepala gadis itu. Saat sudah ditempat yang paling tinggi, angin berhembus meniup rambut Syifa. Gadis itu sangat cantik, saat rambutnya berterbangan mengikuti arah angin. Sekali lagi, Alaska terpana. “Cantik!” celetuk Alaska spontan. “Syifa memang cantik!” “Maksud Aska, pemandangannya yang cantik. Bukan Syifa!” kata Alaska menahan senyumnya, hobi sekali membuat Syifa kesal. “Iya, maksud nya Syifa juga itu. Pemandangan yang cantik, bukan Syifa!” ujar Syifa membuang muka, kesal pada Alaska. Alaska terkekeh mendengarnya, Syifa sangat mudah merajuk. “Syifa?” Tak ada jawaban. “Syifa?” Masih hening. “Sayang?” “Maaf, Syifa lagi b***k makanya nggak denger.” “Sayangnya Alaska?” “Apa?” Lagi lagi Alaska terkekeh, apa ini, Syifa sangat lucu. “Syifa egois,” ungkap Alaska tiba-tiba. “Kok gitu ngomongnya?” “Iya, Syifa egois.” Alaska tersenyum, “papa Syifa manusia, mama Syifa juga manusia. Syifa sendiri yang bidadari.” Bom! Lemah sudah, Alaska membuat Syifa malu. Saking malunya, Syifa sampai menunduk tidak berani menatap Alaska. “Kenapa nunduk?” “Syifa malu, Askaa!” “Kenapa harus malu?” “Ya abis Alaska ngomongnya loss banget, gak mikir apa dampaknya gimana?” “Emang dampaknya gimana?” “Jantung Syifa mau copot tau, enggak,” Syifa menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, “lain kali ngomongnya disaring dulu, biar jantung Syifa enggak kayak lari maraton.” “Alaska nggak mengada-ngada, loh, Syifa beneran kayak bidadari.” “Emang pernah liat bidadari?” “Iya, pernah. Tiap hari malah!” “Masa?” “Iya, ini bidadarinya di depan.” *** Chatroom Jonathan ganteng banget Ya Allah Adrian, David, Jonathan, Anda Adrian : Jijiq sama nama grupnya David : Pengen muntah Ya Allah Jonathan : Mengejek tanda orang iri David : Iri pantatmu Adrian : Gue? Iri sama lo? Bangun, Nak! Jonathan : Iri tanda tak mampu! David mengubah subjek grup ‘Jonathan ganteng banget Ya Allah’ menjadi ‘Kita semua cogan kecuali Si Jojo’ Adrian : Haha mampus Jonathan : Bgsd lo, Vid. Mas Alaska dedeq teraniaya, Mas. Keluarlah tolong selamatkan dedeq! David : Jijiq asuw Anda : Jijik Jo Jonathan : Akhirnya nongol juga, kemana aja lo, Ka? Adrian : Gak usah ditanya, si Alaska tiap harinya sama Syifa mulu, kita, mah, terlupakan! Jonathan : Alaska mah gitu, sahabat sendiri dilupain. David : Pacaran terus! Kita, mah, apa atuh yang jomblo. Adrian : Sorry, Vid, gue nggak jomblo Jonathan : Maap aja nih, ya, Vid, gue masih ada Nadia. Jadi gue status taken. Adrian : Bukannya ngejek, Bro, tapi yang jomblo emang cuma lo awokwok :( Anda : Turut berduka, ya :( Jonathan : Maaf, jomblo harap sadar diri, grup ini hanya untuk yang sudah taken. David : Oke gaes, gue sadar diri kok. Thanks infonya, gue baru sadar kalo yg jomblo cuma gue. David keluar Adrian : Anjir baper si Bambang Anda : Sad :( Jonathan : Jijique si k*****t baper *** “Ke mana, ke mana, ke mana ... Kuharus mencari ke mana. Kekasih tercinta tak tau rimbanya, lama tak datang ke rumah ....” “Cumi cumi kokobop I think I like that, burgernya jumbo ginjalnya bau, siapa berani ngambil istri saya, yeah yeah. Awooh ... meriam bellina ....” “Woi! PR gue belum yaelah, plis yang mau nyontohin buat gue. Gue sumpahin nikahnya sama Song Hye Kyo, deh, mumpung udah cerai, noh. Keburu dipepet Park Bo Gum!” “Batagor, batagor, yang mau beli batagor silahkan mampir di meja abang Fatah. Beli dua dapatnya satu. Batagornya Mas, Mbak!” Jika dibandingkan halaman gedung DPR pasti kalah ramai dari ruang Kelas XII MIPA 2. Pagi-pagi kelas ini sudah rusuh mengalahkan para mahasiswa yang sedang mendemo. Kelas yang diisi dengan berbagai macam siswa yang sangat pintar, dibidang yang berbeda beda. Seperti contoh, David yang dikenal sebagai tukang molor, Syifa sebagai Einstein kelas, Si Keke cewek bertenaga preman, Fatah dengan bakatnya di bidang pemasaran, Mira si bendahara galak, Ucup sang pembuat onar kelas, Sholeh yang katanya memiliki suara semerdu Afgan, juga Arya rakyat +62 yang suka ngegas. Dan masih banyak yang lain. Sungguh kelas yang sangat hebat bisa diisi oleh murid-murid yang berbakat. Pak Tono saja selaku wali kelas angkat tangan jika berurusan dengan para muridnya itu, apalagi bakat luar biasa yang mereka punya. “Woi, woi! Cikgu datang, cikgu datang!” “Bersiap!” “Selamat pagi, cikgu!” Semua murid memberi salam. “Selamat pagi, murid-murid!” sapa balik bu Nur Jannah, guru asal Malaysia. “Murid-murid, kalian, kan, sudah kelas duabelas. Habis, nih, UN, jadi kalian orang harus fokus pada pelajaran yang nanti akan diujikan!” jelas bu Nur Jannah. “Baik cikgu!” “Tapi ada yang lebih penting lagi, karena kalian sibuk dengan mapel yang diujikan di UN, jangan sampai kalian orang lupa belajar agama. Pendidikan Agama Islam memang tak diujikan di UN, tapi diujikan di dalam kehidupan sehari-hari. Paham?” “Paham!” “Oke, kali ini kita akan belajar tentang tawakkal. Ada yang paham apa itu tawakkal?” “Saya, Bu!” Mira mengangkat tangan, “tawakkal adalah berserah diri kepada Allah atau pasrah pada keadaan apapun yang Allah berikan.” “Bagus. Ada yang mau menambahkan?” Bu Nur Jannah menunjukkan Ferdy saat muridnya itu mengacung, “Oh Ferdy, slahkan!” “Tawakkal dilakukan setelah kita sudah berusaha semampu mungkin dalam melakukan yang terbaik, dengan tetap berdoa kepada Allah.” “Baik, terima kasih. Penjelasan kamu sangat bagus. “Jadi, sebagai seorang hamba Allah, kita harus kuat. Jangan banyak mengeluh, karena Allah tidak pernah memberi ujian melebihi batas kemampuan hambanya ... bla bla.” Panjang lebar bu Nur Jannah menjelaskan. “Oke, murid-murid, cikgu rasa sudah cukup sampai di sini. Jangan lupa soal evaluasi bab empat dikerjakan, minggu depan kita koreksi bersama.” “Baik, cikgu!” “Sebelum pertemuan berakhir, ada yang bisa memberikan kesimpulan seputar materi tadi?” “Saya!” Erik mengangkat tangan. “Silahkan, Erik.” “Kesimpulannya, jadi, sebagai seorang manusia kita harus kuat dalam hal apapun, tidak boleh bersedih. Karena kita diciptakan melalui dua orang yang sedang bersenang senang. Terima kasih.” Pletak!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD