Cindy merasa pembuluh darahnya seperti mau pecah.
Obat yang diberi Felicia ke dalam sup sangatlah berat efeknya. Dia hanya meminum seteguk kecil, tapi dia sudah tidak tahan. Jika tadi dia minum supnya sampai habis mungkin pembuluh darahnya akan pecah.
Seluruh kepala Cindy terasa pusing, tubuhnya seperti sedang mengambang di atas awan dan juga seperti sedang berjalan di padang pasir. Dia merasa sangat haus sampai-sampai dia merasa seperti mau mati kehausan.
"Panas, haus ..."
Cindy tidak tahan lagi dan tangannya tanpa sadar merobek pakaiannya.
"Aku akan membawamu ke rumah sakit."
Pria hanya melihat dengan sekilas sudah tau bahwa Cindy telah diberi obat.
"Tolong aku!" Cindy meraih tangan pria itu. Dia tidak sanggup menunggu sampai ke rumah sakit. Dia tidak ingin mati, jadi dia hanya bisa memohon pria yang berada di depannya untuk membantunya.
Suhu tubuh pria yang dingin membuat Cindy menginginkan lebih kedinginan itu. Kulit yang hanya menyentuh seketika saat itu akhirnya terlepaskan.
"Wanita, kamu harus berpikir dengan jelas. Kamu tau aku siapa tidak?"
"Aku ingin hidup."
Cindy dengan sesederhananya mengekspresikan maksudnya. Sebenarnya saat itu, dia tidak terlalu memikirkan hal yang lain.
Dia hanya punya satu pikiran yaitu hidup.
Efek obatnya telah lama menempati akal sehatnya.
Cindy dengan mendesak melepaskan pakaian pria itu, tetapi sudah lama tetap saja tidak bisa dibuka. Cindy dengan mendesak menangis: "Kenapa tidak bisa dibuka!"
Mata panjang pria itu menyipit. Pria itu tersenyum tipis dan berkata: "Tenanglah, janganlah terburu-buru."
Cindy merangkul leher pria itu dan mencoba menciumnya. Cindy pada detik ini seperti ikan yang sedang terdampar, dan pria di depannya adalah kolam yang cerah, membuatnya secara naluriah ingin bekerja keras untuk lebih dekat.
Bagian bawah tubuh pria mengencang, tatapan matanya menggelap. Pria itu dengan suara yang serak berkata: "Wanita, kamu memprovokasi aku, maka kamu harus bertanggung jawab. Ingatlah, aku adalah lelakimu, Andreas Lingga."
Kesadaran Cindy telah lama tidak jelas. Dia tidak bisa lagi memproses kata-kata yang diucapkan pria ini.
Mobil hampir berguncang sepanjang malam, Cindy sudah tidak ingat lagi mereka berdua sudah berapa kali melakukannya.
Tenaga Cindy akhinya sudah habis dan dia pingsan.
Ketika dia sudah sadar, dunia sudah memasuki siang hari keesokan harinya.
Dia merasa seolah-olah seluruh tubuhnya telah digiling. Memori kemarin tiba-tiba mengalir ke dalam pikirannya, dan kemudian dia melihat lingkungan di sekitarnya. Dan setelah melihat warna merah yang menusuk mata di bawah tubuhnya, dia merasa ingin menangis
Nyawanya telah diselamatkan, tetapi dia tidak mungkin bisa bersama dengan Jason lagi.
Dengan pakaian yang berserakan di dalam mobil begini, siapa tau seberapa intensnya kemarin malam.
Cindy diam-diam melirik pria yang belum bangun itu. Pria itu sangatlah tampan, bahkan dia sebagai seorang wanita tidak tahan mengagumi penampilannya.
Fitur wajah yang begitu menonjol, alis yang tajam dan jembatan hidung yang tinggi.
Mata Cindy berjalan ke arah bawah dan jatuh pada tubuh bagian atas pria yang sedang telanjang dengan otot-ototnya yang terlihat sangat jelas. Bisa dibayangkan sebetapa kuat tenaga pria ini dengan otot seperti itu. Dia bahkan sudah merasakan sebetapa kuatnya dia kemarin malam.
Memikirkan hal ini, wajah Cindy dengan cepat menjadi merah.
Meihat pria itu yang belum bangun, Cindy dengan tubuhnya yang kebas berusaha mengenakan pakaiannya, dan tiba-tiba pria itu terbangun.
"Barusan saja kita melakukannya kemarin dan sekarang kamu sudah buru-buru ingin pergi. Wanita, tidaklah kamu terlalu kejam?"
Andreas dengan malas mengulurkan pinggangnya dan dengan tersenyum menatap Cindy.
"Kami kemarin sudah menjadi suami istri. Kamu tidak mau mengakui aku ya?"
"Aku... aku..." Cindy tercengang. Dia kemarin telah memprovokasi pria ini, tapi dia tetap ingin menyelinap pergi. Kemarin adalah sebuah one night stand, tetapi setelah melihat tatapan pria ini, dia menjadi merasa bersalah: "Maaf, kemarin aku ada masalah tersendiri."
"Kemarin adalah pertama kali aku melakukannya." Andreas dengan tatapan sedih menatap Cindy dan memotong alasan yang akan disebutkan Cindy berikutnya.
"..."
"Kompensasi apa yang kamu inginkan?" Setelah Cindy mengatakan ini, dia tiba-tiba merasa dia seperti baru saja pergi ke rumah p*******n. Melihat ekspresi wajah pria yang suram itu, dia berkata: "Kemarin malam aku diberi obat oleh ibu tiriku. Ibu tiriku ingin aku menikahi orang yang sudah lumpuh, wajah cacat dan hampir sekarat. Bahkan mati pun, aku tidak akan menikahinya."
Andreas mengendurkan ujung bibirnya.
Bahkan mati pun tidak mau menikah?
Melihat ekspresi gugup Cindy, Andreas tersenyum dengan licik: "Kemarin adalah hari pernikahanku juga, tetapi kamu dengan begitunya saja mengacaukannya. Pengantinku pasti tidak dapat kunikahi lagi. Kamu harus menggantikan aku dengan pengantin yang baru."
"Ah? Maaf. Aku benar-benar tidak tau kau juga menikah kemarin malam." Cindy sangat menyesal, tapi tidaklah sangat menyusahkan orang lain dengan menyuruh dia untuk mengganti rugi dengan memberikannya pengantin baru?
"Aku, aku benar-benar minta maaf..."
"Ya sudahlah. Kamu yang begitu cantik ini, dengan gaun pengantin yang sangat mahal ini tidak mungkin juga bisa dengan aku yang hanya seorang supir taxi." Andreas matanya suram dan nada suaranya kecewa.
Cindy bahkan tidak tau pekerjaan orang ini. Bagaimana dia bisa tidak suka karena pekerjaannya?
Hatinya terasa seperti ditusuk setelah melihat orang yang berada di depannya ini begitu merendahkan dirinya sendiri. Cindy dengan berseru berkata, "Aku akan tanggung jawab."
Andreas tersenyum dan meraih tangan Cindy: "Kalau begitu kamu ikut bersamaku sekarang untuk bertemu dengan orang tuaku."
"Sekarang tidak bisa." Cindy dengan canggung melepaskan tangannya: "Aku punya sesuatu hal yang masih perlu dilakukan dulu. Aku akan kasih nomor teleponku untuk kamu. Nanti baru kita bahas."
Felicia baru saja melakukan sebuah skema penukaran orang. Dia sekarang harus pergi ke rumah Keluarga Gunawan.
"Kalau begitu aku akan menunggumu." Andreas juga tidak lagi menggodanya.
Cindy meninggalkan serangkaian nomor palsu dan langsung pergi.
Andreas duduk di dalam mobil dan melihat bayangan Cindy dengan minat yang kuat di matanya.
Andreas melirik warna merah cerah menyilaukan yang ada di kursi mobil, dan ujung mulutnya tersenyum sedkit.
Telepon berdering dan Andreas mengangkatnya.
"Pengantin wanitanya sudah kabur. Kamu ini seorang pegantin pria ngapain saja kemarin malam? Kok tidak ada kabar sama sekali? Masih ada hal yang lebih penting daripada pernikahan?"
"Malam pertama pernikahan!" Mata Andreas memancarkan kelembutan yang langka.
Dia juga tidak menyangka bahwa pengantinnya yang kabur itu pada akhirnya kembali lagi ke sisinya.
Perkataan yang diucapkan Andreas ini sangat mengejutkan Yosep sampai-sampai Yosep terdiam sejenak.
"Bos, kamu bercanda ya? Pengantinnya aja sudah kabur. Oh iya! Keluarga Gunawan sangatlah tidak tau malu. Orang yang seharusnya kamu nikahi itu adalah nona kedua Keluarga Gunawan, namanya Linda. Tetapi Keluarga Gunawan sekarang menyuruh kamu untuk nikahi nona pertama yang tidak disayangi oleh Keluarga Gunawan dan Linda akan dinikahkan ke Keluarga Wendi."
Asalkan kamu adalah orang yang cerdas, kamu pasti bisa kepikiran apa yang sedang terjadi.
Keluarga Gunawan melakukan skema penukaran orang.
Yosep di telepon berkata: "Bos, Tuan bilang tunggu pas kamu pulang baru kita atur."
"Suruh orang bilang ke Keluarga Gunawan untuk batalkan pernikahannya."
Andreas berhenti sejenak kemudian menambahkan: "Tidak perlu susah payah."
"Bos, kamu sudah memasuki salah satu konspirasi Keluarga Gunawan. Istrimu sudah dinikahi oleh anak laki-laki Keluarga Wendi. Apa yang harus kita lakukan?"
Yosep tidak tau bahwa ini bukan tipe penanganan yang disukai bosnya.
"Gak usah banyak omong lagi. Cepatlah suruh orang untuk membatalkan pernikahannya."
Yosep mengingatkan di telepon: "Bos Tuan Muda Lingga kamu menjadi duda, maka tidak ada lagi istilah batal pernikahan ataupun perceraian. Tiga istrimu sudah 'mati'. Jika pernikahan kali ini dibatalkan juga dan diketahui oleh beberapa orang dari Keluarga Lingga, maka apa yang kita lakukan selama ini akan sia-sia."
Andreas merenung selama beberapa detik kemudian berkata: "Yang ini tidak perlu 'mati'."
"Bos, kamu punya rencana baru ya?" Yosep sangat terkejut.
Andreas mengalihkan topik pembicaraanya dan berkata: "Siapkan aku sebuah mobil yang murah."
"Boss, apa yang akan kamu lakukan?"
"Supir taxi."
......
Cindy yang baru saja sampai di depan pintu Keluarga Gunawan tiba-tiba melihat Erik dan Felicia yang sedang bersapaan dengan seorang pria paruh baya di depan pintu.
Orang ini adalah orang yang diutus Keluarga Lingga untuk membatalkan pernikahan.
Keluarga Lingga awalnya ingin menikahi anak perempuan Keluarga Gunawan, sekarang tiba-tiba ingin membatalkan pernikahan. Pengantin yang diganti bahkan telah kabur. Kita bahkan tidak perlu mempersulitkan Keluarga Lingga. Erik benar-benar sangat bingung.
Setelah pria itu masuk ke dalam mobil, Erik mengelap keringat yang ada di keningnya dan menjerit ke Cindy: "Cindy. Lihatlah apa yang telah kamu lakukan. Kamu masih ada muka untuk pulang ke rumah pula. Kali ini jika Keluarga Lingga tidak berbaik hati, kita Keluarga Gunawan hanya perlu tunggu bangkrut saja!"
Cindy menatap Erik dan dengan dingin bertanya: "Ayah, kamu tau masalah penukaran pengantin kemarin malam ya?"