Nenek Inur menangis tersedu-sedu. Jujur aku bingung melihat tangisannya usai aku sadar dari pingsanku. Rumah sedang sepi saat ini, tadi mas Hendrik sedang mengantar acil dan paman ke pasar untuk membeli beberapa sarat yang di tulis oleh nenek Inur. Aku bersedia ditinggal di rumah bersama beliau karena ku pikir hari masih pagi, mana ada setan berkunjung di pagi hari. Pikirku konyol sekali. Aku akhirnya memutuskan mendengarkan nenek Inur bercerita. "Kamu ingin tahu cerita yang sesungguhnya? "Tanya beliau padaku. Aku mengangguk tegas. "Nenek mu Aminah dulu adalah perempuan yang cantik. Hingga kemudian wajahnya menjadi buruk sejak tetangga iri akan kecantikannya. " "Kenapa bisa begitu? " Tanyaku penasaran kemudian aku duduk lurus menghadap nenek Inur. Nenek Inur terus bercerita te

