Selena berjalan beriringan bersama sang ayah menuju balkon kecil di lantai atas, menjauh dari keramaian sejenak.
Langit malam New York terbentang dengan keindahan yang sederhana—biru tua dengan bintang-bintang kecil menghiasi, sementara angin sejuk menyapa wajah mereka perlahan.
Daryl bersandar pada pagar balkon, menatap ke kejauhan sebelum berkata, “Jadi, kau benar-benar memutuskan untuk menerima film itu.”
Selena menoleh ke arah ayahnya, senyuman kecil terbit di wajahnya. “Aku sudah menduga jika Daddy akan menanyakan hal itu lagi."
“Daddy tidak benar-benar bertanya, sejujurnya,” ujar Daryl dengan nada ringan. “Lebih kepada memastikan. Bahwa putri kesayangan Daddy masih dalam keadaan waras saat menerima peran yang melibatkan adegan ranjang dengan aktor terkenal itu.”
Selena tertawa, meninju pelan lengan ayahnya. “Dad! Astaga… aku tidak menyangka jika Daddy bisa berbicara sefrontal itu di hadapanku.”
“Kenapa tidak?” balas Daryl, mengangkat bahu santai. “Kau sudah dewasa. Lagipula, daddy lebih memilih kita bisa berdialog seperti ini—terbuka, tanpa perlu saling menyembunyikan—daripada kau diam-diam menjalani syuting dan media tiba-tiba membuat heboh dengan judul berita, ‘Putri Bungsu Daryl Cyrill, Simbol Seks Baru Hollywood.’”
Selena terkekeh panjang. “Tolong, Dad. Jangan ucapkan itu dengan keras. Bisa-bisa besok benar-benar jadi tajuk utama nanti!”
“Kalau sampai itu terjadi, daddy akan menuntut wartawannya,” ucap Daryl mantap.
Sesaat kemudian mereka terdiam. Hanya suara angin malam dan denting kecil dari jauh yang menemani. Lalu Daryl kembali membuka percakapan, kali ini dengan nada lebih lembut.
“Tapi sungguh, Selena. Daddy hanya ingin memastikan kau benar-benar tahu apa yang kau lakukan. Daddy tahu kau kuat, lebih kuat dari yang orang bayangkan. Namun dunia hiburan tidak selalu adil. Mereka tidak menilai dari niatmu, tetapi dari permukaan yang mereka lihat.”
Selena menatap ke arah cahaya kota yang berpendar seperti bintang jatuh. “Aku mengerti maksud Daddy. Tapi aku juga belajar satu hal selama menjadi bagian dari keluarga ini, jika aku tidak membentuk identitasku sendiri, maka aku akan selalu berada di bawah bayang-bayang orang lain.”
Daryl mengangguk pelan. “Aku bangga padamu.”
Selena menatapnya, tersenyum penuh rasa. “Benarkah? Daddy serius?”
“Serius. Tapi…”
Selena mengangkat alis, curiga. “Lagi-lagi ada ‘tapi’-nya. Tapi apa ini?”
Daryl tersenyum kecil. “Tapi jangan terlalu cepat jatuh cinta!”
Selena mengerutkan dahi. “Hah?”
“Daddy bilang,” ulang Daryl dengan tenang, “jangan terlalu cepat jatuh cinta. Daddy belum siap jika suatu hari kau datang tiba-tiba dan mengatakan ingin menikah.”
Selena memandangi ayahnya sejenak, lalu tergelak. “Dad, serius? Dari semua kekhawatiran, itu yang paling duluan terlintas di kepala Daddy?”
“Ya,” jawab Daryl tanpa ragu. “Kau sekarang sedang membintangi film dewasa, bekerja dekat dengan aktor pria yang memiliki kharisma luar biasa, syuting adegan emosional, lalu mulai berbicara tentang ‘menari bersama luka-luka’. Aku mulai khawatir.”
Selena tertawa sambil menyandarkan kepalanya ke bahu ayahnya. “Daddy, tenang saja. Bahkan untuk memikirkan soal pacaran pun aku tidak sempat, apalagi pernikahan. Dunia sudah terlalu sibuk menghakimiku soal hal-hal lain.”
“Syukurlah,” ucap Daryl. “Tetapi jika suatu saat hatimu mulai bergetar, setidaknya beri tahu Daddy terlebih dahulu. Jangan membuat jantungku berhenti mendadak dengan menggandeng seorang pria, lalu meminta restu untuk menikah."
Selena mengangkat kepala dan menatapnya dengan mata jenaka. “Kalaupun aku jatuh cinta, Daddy akan menjadi orang pertama yang akan aku beritahu. Tapi sejauh ini… aku hanya jatuh cinta pada naskah yang bagus.”
Daryl terkekeh kecil. “Itu pernyataan yang sangat melegakan.”
Keheningan kembali menyelimuti mereka. Kali ini bukan karena kebingungan, melainkan kenyamanan. Angin malam masih berhembus perlahan, dan lampu kota terus berkelip di bawah mereka.
“Sel,” ujar Daryl, pelan namun penuh makna. “Apa pun yang terjadi… kau selalu punya rumah. Bukan rumah besar Phoenix, bukan gedung megah Harvey, tetapi pelukan kami. Tempat di mana kau boleh menjadi dirimu sendiri, tanpa perlu membuktikan apa pun.”
Selena menahan napas sejenak, merasa hangat di dalam dadanya. “Terima kasih, Dad.”
Daryl mengecup puncak kepala Selena. “Jangan terlalu cepat dewasa, ya.”
“Tapi hidup terus memaksaku untuk menjadi seperti itu,” jawab Selena lirih.
“Benar,” sahut Daryl. “Namun tidak ada salahnya untuk sesekali berhenti dan bernapas… saat kau lelah.”
Dan malam itu, di tengah hiruk-pikuk kehidupan dan dunia yang terus menuntut, Selena merasa hatinya dipeluk oleh satu hal yang tak tergantikan: kasih seorang ayah.
Suara langkah pelan terdengar dari arah belakang, mendekat perlahan di sela suara angin malam. Daryl dan Selena menoleh hampir bersamaan, lalu mendapati sosok Angelica berdiri di ambang pintu balkon, dengan tangan menyilang di d**a dan ekspresi pura-pura kesal di wajahnya.
“Luar biasa,” gumam Angelica dengan suara sedikit meninggi. “Kalian berdua asyik mengobrol tanpa mengajak aku yang cantik dan seksi ini. Apa aku tampak seperti hiasan rumah saja, hah?”
Selena tertawa, langsung meraih tangan ibunya dan menariknya mendekat. “Mom, ini momen antara daddy dan anak. Harusnya Mommy senang karena aku dan Daddy bisa berbicara tanpa saling menghakimi begini.”
“Tetap saja,” sela Angelica cepat, lalu memelototi Daryl sambil tersenyum geli. “Kau, Daryl Knight Cyrill, kalau malam ini tidurmu di sofa, jangan salahkan siapa-siapa ya!”
Daryl pura-pura memasang wajah terkejut. “Astaga, aku bahkan tidak tahu aku melakukan kesalahan. Aku hanya mengobrol dengan putri kita, sayang!”
Angelica mendekat dan mencubit lengan suaminya pelan. “Kesalahannya adalah karena kau tidak mengajakku ikut serta dalam percakapan. Kau tahu, aku juga ingin memandangi langit malam bersama kalian.”
“Baiklah, baiklah.” Daryl mengangkat tangan seolah menyerah. “Mulai sekarang, setiap percakapan harus dalam format konferensi keluarga.”
Selena hanya bisa tertawa geli melihat tingkah dua orangtuanya. Ia mundur sedikit, membiarkan ibunya bersandar di sisi lain pagar balkon, tepat di samping Daryl.
“Daddy dan Mommy benar-benar seperti pasangan muda yang baru pacaran saja,” ujar Selena sambil tersenyum hangat. “Tidak ada tanda-tanda kalian telah menikah selama lebih dari tiga puluh tahun.”
“Kami hanya tidak ingin menjadi pasangan tua yang membosankan,” kata Angelica sambil melirik Daryl. “Lagi pula, bukankah hidup lebih menyenangkan jika kita bisa tertawa bersama, bahkan saat wajah sudah mulai keriput?”
Daryl tertawa pendek dan menggenggam tangan istrinya. “Aku tidak keberatan tua bersamamu, selama kau tetap mencubitku dengan alasan sepele seperti ini.”
Selena mengamati keduanya—tatapan penuh cinta yang masih sama seperti yang ia lihat saat kecil, candaan kecil yang tidak berubah sejak ia bisa mengingat, dan kehangatan yang memancar dari kebersamaan mereka.
Dalam hatinya, ia benar-benar kagum. Di tengah semua hal besar yang telah dilalui keluarga ini—kesuksesan, tekanan, sorotan publik, perbedaan pendapat—kedua orangtuanya tetap menjadi satu kesatuan yang utuh. Keduanya tidak hanya bertahan, tetapi tumbuh bersama.
“Serius, aku ingin seperti kalian nanti,” ucap Selena dengan nada lembut.
Angelica menoleh, tersenyum. “Seperti kami bagaimana?”
“Seperti ini. Masih bisa tertawa bersama. Masih bisa bersikap konyol tanpa merasa malu. Dan saling memahami tanpa perlu banyak kata.”
Daryl dan Angelica saling bertukar pandang, lalu menatap putri mereka bersamaan.
“Kau akan mendapatkannya,” kata Daryl dengan tenang. “Asal kau tidak terburu-buru. Dan jangan menikah diam-diam, ya!”
Angelica tertawa geli. “Jangan ditakut-takuti seperti itu. Biarkan Selena menemukan jalannya sendiri.”
“Aku tahu. Tapi aku hanya memastikan saja. Lebih baik aku cerewet sedikit daripada menyesal kemudian.”
Selena menggeleng, tersenyum tak percaya. “Sudah aku katakan, Dad. Tidak ada seorang pun di pikiranku saat ini, kecuali jadwal syuting dan naskah yang terus saja berubah.”
Angelica mendesah kecil. “Itu juga perlu kau seimbangkan. Karier, ya. Tapi kehidupan pribadi juga jangan dilupakan.”
“Lihatlah siapa yang berbicara,” goda Daryl. “Dulu kau bahkan tidak sempat tidur karena terlalu banyak misi.”
Angelica mencubit suaminya lagi, kali ini lebih keras. “Itu masa lalu. Dan aku masih muda waktu itu.”
“Selena juga muda,” balas Daryl cepat. “Tapi aku tetap khawatir.”
Ketiganya tertawa bersamaan. Tawa hangat yang tidak dibuat-buat. Di bawah langit malam New York yang mulai mengabur oleh kabut ringan, kebersamaan mereka terasa begitu nyata.
Selena membiarkan dirinya tenggelam sejenak dalam momen itu. Ia merasa tenang. Dikelilingi cinta yang tulus, sederhana, namun kokoh seperti akar pohon yang sudah berumur puluhan tahun. Dan di detik-detik seperti inilah, ia percaya… bahwa cinta memang mungkin. Asal diperjuangkan dengan jujur, seperti yang dilakukan kedua orangtuanya.