Makan Malam Keluarga Cyrill

1849 Words
Selena berdiri di depan kaca tinggi kamar apartemennya. Matahari sore menyelinap masuk melalui jendela, menyapu kulitnya dengan warna keemasan. Di balik pantulan kaca, ia melihat bayangannya sendiri, tubuh ramping dalam balutan dress hitam sederhana, wajah lelah dengan riasan tipis, dan mata yang tampak lebih dewasa dari umurnya. Ia bahkan nyaris tak mengenali diri sendiri. Sorot itu… bukan lagi milik gadis yang dulu berlari-lari di belakang panggung teater sambil memanggil nama ayahnya. Bukan juga milik remaja naif yang pernah bermimpi jadi bintang tanpa tahu konsekuensinya. Ponselnya bergetar. Miranda Liu: [Jangan lupa, makan malam keluarga di rumah Phoenix. Jam tujuh. Don’t be late.] Selena menarik napas dalam. Ia sudah menyiapkan mental. Bukan karena takut, tapi karena tahu... malam ini, keluarga besar Cyrill ingin bicara serius tentang film Velvet Midnight. Dan tentu saja, tentang keputusannya menerima peran sebagai Kiara. Ia memalingkan wajah dari pantulan cermin, mengambil clutch hitam mungil dari meja rias, lalu melangkah ke luar apartemen. Malam di Manhattan mulai hidup—lampu-lampu jalan, mobil-mobil dengan klakson terburu-buru, dan manusia yang tak pernah benar-benar tidur. Limusin pribadi yang dikirim Phoenix sudah menunggu di lobi. Supir membukakan pintu tanpa banyak bicara. "Selamat malam, Nona Selena." "Selamat malam," balas Selena singkat. Perjalanan ke rumah Phoenix di Upper East Side tidak memakan waktu lama, tapi cukup memberi Selena ruang untuk menarik napas dalam-dalam beberapa kali. Ia tahu Phoenix akan menyambutnya dengan sikap dingin seperti biasa. Dan Harvey... kakaknya yang satu itu selalu ramah dan sering tersenyum. Sama sekali tidak pernah membuatnya kesal atau merasa tidak nyaman sedikit pun. Saat limusin berhenti di depan mansion bergaya klasik milik Phoenix, Selena melirik jam tangannya. 18.57. Tepat waktu. Ia melangkah masuk ke dalam rumah yang terasa seperti museum. Langit-langit tinggi, chandelier menggantung megah, dan aroma mawar segar dari vas-vas bunga di tiap sudut ruangan. “Selena!” Suara yang menyambutnya bukan milik Phoenix ataupun Harvey—melainkan Olivia Johnson, kekasih Phoenix. Perempuan berambut panjang dengan senyum lembut itu memeluk Selena dengan begitu hangat. “Aku senang kau bisa datang. Ayo masuk, semua sudah menunggumu di ruang makan.” Selena tersenyum tipis. “Wah, calon kakak iparku, kau kelihatan cantik sekali malam ini.” Olivia menyentuh lengan Selena lembut. “Kau juga. Walaupun… kelihatan agak tegang. Sedikit!” “Ck! Ya karena aku tahu kalau malam ini bukan sekedar makan malam biasa. Iya kan?" Olivia tertawa kecil, walau jelas ada ketegangan di balik suaranya. “Benar. Phoenix agak—ya, khawatir. Dia bilang kau belum mengabarinya sejak... pengumuman resmi Velvet Midnight keluar.” Selena tak menjawab. Mereka berjalan beriringan menuju ruang makan. Di sana, sudah duduk dua pria, Phoenix Leonard Cyrill dengan setelan navy yang seperti selalu disesuaikan dengan ketegasan pribadinya, dan Harvey Leonard Cyrill, mengenakan kemeja putih yang lengannya digulung santai, menandakan bahwa ia tak berniat terlalu formal malam ini. Mereka menoleh bersamaan saat Selena memasuki ruangan tersebut. “Selamat datang,” ucap Phoenix dingin. “Tepat waktu, akhirnya.” Selena duduk tanpa menanggapi nada sindiran itu. Rasanya seperti sudah tak memiliki energi sama sekali. “Selamat malam,” katanya tenang. Harvey mencondongkan tubuh ke meja, menatap adiknya. “Kau kelihatan dewasa sekali malam ini, Sel. Aku bahkan tidak langsung mengenalimu.” “Terima kasih, Harv,” jawab Selena. “Aku tidak tahu harus merasa senang atau khawatir dengan pujianmu itu. Menyebalkan!” Phoenix menyilangkan tangan. “Sudah-sudah, kita mulai saja sebelum makanannya dingin.” Mereka mulai makan dalam diam selama beberapa menit. Olivia berusaha mencairkan suasana dengan beberapa komentar ringan tentang dekorasi baru yang ia pilih sendiri untuk ruang tamu, tapi tak ada yang benar-benar menanggapi. Phoenix tampak tak sabar. Harvey memandang Selena dengan ekspresi lembut namun penuh kalkulasi, seolah menunggu waktu yang tepat untuk menyelidiki niatnya. Akhirnya, Phoenix meletakkan garpu dan pisaunya. “Aku akan langsung saja,” katanya tegas. “Kau tahu kenapa kami mengundangmu ke sini malam ini.” Selena meletakkan sendoknya, menegakkan punggung. “Karena Velvet Midnight. Iya kan? Aku tahu kalian pasti akan menanyakan hal itu.” “Dan karena keputusanmu menerima peran itu tanpa berkonsultasi lebih dulu dengan keluarga.” Selena mengangkat dagunya. “Aku tidak merasa perlu izin pada siapa pun untuk pilihan karierku, Nix.” Phoenix tersenyum miring. “Kalau kau bukan bagian dari keluarga Cyrill, mungkin benar. Tapi apa pun yang kau lakukan—terutama dalam proyek sebesar ini—akan selalu mengaitkan nama kita.” “Kau khawatir pada reputasimu,” sindir Selena. “Bukan reputasiku.” “Selena,” potong Harvey, suaranya lembut. “Bukan begitu maksudnya. Kami semua hanya... terkejut. Film itu bukan genre yang biasa kau ambil. Erotik? Psikologis? Kau sadar reaksi publik akan seperti apa?” “Tentu saja aku sadar, Harv.” jawab Selena tajam. “Tapi aku juga tahu apa yang aku lakukan.” Olivia mencoba menenangkan. “Selena... kami semua mendukungmu, sungguh. Tapi setidaknya beri tahu kami lebih dulu. Jangan membuat kami mengetahuinya dari media.” Selena menoleh ke Olivia, lalu kembali ke Phoenix. “Jadi, kalian mengundangku ke sini hanya untuk menginterogasi, atau sekedar menciptakan versi lain dari konferensi pers? Kenapa aku merasa sedang diserang dan ditekan begini ya?” Phoenix menatapnya dalam. “Kami mengundangmu karena kami peduli. Tapi kalau kau lebih memilih melihat ini sebagai interogasi, itu pilihanmu.” Suasana hening. Harvey menggeser gelas anggurnya perlahan. “Aku sudah menonton cuplikan teaser yang bocor ke internet,” katanya. “Dan aku harus jujur... ekspresimu di adegan dengan Theodore Roosevelt itu menyakitkan untuk dilihat. Tapi juga kuat.” Phoenix menoleh tajam. “Harvey.” “Apa?” balas Harvey. “Aku tidak akan berpura-pura tidak terkesan. Selena tumbuh dewasa. Dia tahu resiko yang ia ambil.” Selena mengedipkan mata, sedikit tak percaya. “Kau tidak marah?” Harvey mengangkat bahu. “Aku tidak senang, tapi aku juga bukan orang munafik. Kau Aktris. Kau butuh peran yang menantang. Tapi aku harap kau tahu, Sel, jalan ini... tidak akan mudah. Tidak semua akan melihatmu sebagai seorang profesional. Beberapa akan... mengejekmu, meremehkanmu.” “Aku tahu,” bisik Selena. “Tapi aku memilih ini karena aku tahu aku bisa." Phoenix bangkit dari kursi. “Kalau begitu, pastikan kau cukup kuat untuk menanggungnya.” “Sudah cukup,” potong Olivia, berdiri juga. “Kita semua tahu Selena bukan anak kecil lagi. Dia tidak butuh proteksi, dia butuh kepercayaan.” Selena menatap Olivia penuh terima kasih. Makan malam pun dilanjutkan dengan obrolan ringan, walau suasana tetap mengandung ketegangan. Setelah selesai, Harvey pun mengajak Selena untuk duduk di teras depan. Mereka duduk di sebuah kursi, dan angin malam terus meniup lembut helaian rambut Selena. “Kau tahu, Phoenix bicara seperti itu karena dia khawatir, bukan?” ujar Harvey pelan. “Ya,” kata Selena. “Tapi aku juga tahu... kadang perhatian itu bisa membunuh lebih lambat daripada pengabaian.” Harvey menatap adiknya dalam-dalam. “Kalau kau butuh sesuatu, apa pun itu, telepon aku. Tapi hati-hati dengan Roosevelt.” Selena mengerutkan dahi. “Kenapa?” “Dia pria yang...” Belum sempat Harvey berkata lebih jauh, suara mesin mobil terdengar di halaman depan. Lampu-lampu otomatis menyala, menerangi dua siluet yang turun dari sedan hitam elegan tersebut. Harvey memicingkan mata. “Itu...?” Selena menoleh, langkahnya tertahan saat melihat dua sosok yang begitu familiar muncul di bawah cahaya lampu taman. Daryl Cyrill dan Angelica Karl. Keduanya melangkah anggun dan mantap, seolah-olah memang telah merencanakan semua ini. “Daddy? Mommy?!” seru Selena, tak percaya. Phoenix, Olivia, dan para pelayan yang masih berada di dalam rumah juga menoleh, lalu buru-buru berjalan ke arah pintu depan. “Bukankah seharusnya kalian masih berada di Jepang,” ujar Phoenix, nada suaranya mencampurkan keterkejutan dan frustrasi. “Pesawat kalian dijadwalkan besok, kan?” Daryl hanya tersenyum ringan, melepas coat hitamnya dengan gerakan berwibawa, lalu menyerahkannya pada salah satu pelayan. Angelica menyusul, dengan mantel krem panjang dan gaun sutra biru pucat yang memantulkan cahaya lampu. Rambutnya yang elegan disanggul rapi, dan wajahnya terlihat segar meski perjalanan panjang. “Daddy-mu tidak bisa tenang,” kata Angelica, suaranya lembut namun tegas. “Begitu aku melihatnya menatap kosong ke layar ponsel selama dua jam dalam perjalanan Shinkansen, aku tahu kami harus pulang lebih cepat.” “Kalian datang karena...” Selena mendekat, masih bingung. Daryl mengangguk. “Karena kami mendengar makan malam ini bukan sekedar makan malam biasa.” Angelica menyentuh pipi Selena dengan lembut. “Dan karena aku tahu dua kakakmu bisa berubah menjadi hakim-hakim tidak resmi jika menyangkut urusanmu, sayang.” Phoenix terlihat ingin mengatakan sesuatu, namun Daryl mengangkat tangan, menghentikannya. “Aku tahu persis apa yang ada dalam pikiranmu, Phoenix. Aku pun dulu akan berpikir seperti itu. Tapi kali ini, izinkan aku berbicara sebagai seorang ayah. Bukan sebagai CEO, bukan sebagai penjaga nama baik keluarga, tapi hanya... ayah dari seorang gadis yang tumbuh dengan cahaya dalam dirinya sendiri.” Angelica memegang tangan Selena erat. “Kami mendengar tentang Velvet Midnight bahkan sebelum teaser-nya keluar. Kami tahu risikonya. Tapi kami juga tahu siapa kau, Selena.” Mata Selena mulai berkaca-kaca. Phoenix menghela napas panjang, akhirnya memberi ruang. Harvey hanya menatap dari samping, lalu mengangguk kecil, seperti baru menyadari bahwa kehadiran kedua orang tua mereka membuat atmosfer malam itu berubah sepenuhnya. Daryl menatap Phoenix dan Harvey, pandangannya tajam namun tidak menghakimi. “Aku ingin kalian dengar baik-baik,” katanya. “Apa pun keputusan adik kalian, dia sudah cukup dewasa untuk memilih. Kita tidak berhak mengekangnya hanya karena takut bayangan kita akan terganggu.” Phoenix mengatupkan rahangnya, tidak menjawab. “Phoenix, Harvey,” lanjut Angelica. “Selena mungkin adik kalian. Tapi dia bukan lagi anak kecil yang harus kalian arahkan terus-menerus. Biarkan dia memilih jalannya, bahkan jika jalan itu penuh bebatuan.” Selena menunduk, suaranya pelan. “Aku tidak ingin mengecewakan siapa pun... Tapi aku juga tidak ingin hidup dalam bayangan kalian terus.” Daryl mengangguk pelan. “Dan kami datang malam ini... hanya untuk memastikan kau tahu, kau tidak mengecewakan kami.” Angelica tersenyum lembut. “Kami bangga padamu, sayang. Karena keberanianmu, karena cara berpikirmu, karena cara kau melihat dunia dengan mata sendiri.” Olivia ikut tersenyum, lalu berjalan mendekat. “Selena... aku pikir kau perlu dengar semua ini. Dari mereka, langsung. Supaya kau tahu, kau ini tidak sendirian.” Phoenix akhirnya melangkah mendekat, suara napasnya berat. “Aku... tidak bermaksud menjatuhkanmu, Sel. Aku hanya takut. Takut melihatmu disalahpahami. Dipakai lalu dibuang oleh industri yang terlalu kejam.” “Dan aku akan menghadapinya,” jawab Selena mantap. “Dengan cara yang aku pilih sendiri. Tapi aku tidak akan pernah melupakan bahwa kalian peduli denganku.” Malam itu, untuk pertama kalinya, suasana di mansion Phoenix benar-benar melembut. Ketegangan yang sebelumnya menggumpal di udara seakan mencair perlahan oleh kehadiran Daryl dan Angelica—dua orang yang diam-diam telah menjadi penyeimbang dalam kehidupan anak-anak mereka. Setelah semua kembali ke ruang tamu, kopi disajikan. Tawa ringan mulai muncul di antara percakapan. Harvey membahas pertemuan klien terbarunya, Phoenix sesekali tersenyum tipis saat mendengar cerita Olivia, dan Selena... akhirnya merasa sedikit lega. Daryl duduk di sofa panjang, memandangi anak perempuannya yang kini berbicara dengan Angelica sambil menggenggam cangkir teh. “Dia akan baik-baik saja,” bisik Daryl pada Phoenix yang duduk di sampingnya. Phoenix menatap adiknya itu lama, lalu mengangguk. “Ya. Dia memang akan baik-baik saja.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD