Bab 14

1472 Words

Studio senyap sore itu. Hanya ada suara langkah kaki dan derak lembut alat-alat diatur ulang oleh kru. Eleanor duduk di kursi sutradara dengan clipboard di tangan, sementara Jace berdiri tak jauh darinya, memberi instruksi pada penata cahaya. “Babak ini akan jadi momen krusial,” ujar Eleanor lirih. “Kiara harus terlihat hancur tapi masih menyimpan bara di matanya. Kita lihat apakah Selena bisa menyelami titik terdalamnya.” Jace hanya mengangguk. Sementara itu, Selena duduk sendirian di sofa kecil sudut ruangan. Satu tangannya menggenggam erat naskah yang telah ia hafal, dan tangan lainnya mencubit bagian dalam lengannya — kebiasaannya saat sedang menekan gugup. Miranda menghampirinya sambil membawa sebotol air. “Kau siap?” tanya Miranda lembut. Selena mengangguk pelan. “Aku mencoba.

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD