Udara sore di lokasi syuting mulai lembap, seolah ikut menyerap emosi yang bergulir tanpa henti. Selena berjalan ke arah tenda istirahat dengan langkah ringan, tubuhnya masih diliputi euforia adegan terakhir yang sukses tanpa cela. Tapi bukan itu yang membuat dadanya bergetar. Bukan pula pujian dari Jace Leclerc atau tepuk tangan kru—melainkan tatapan mata Theodore Roosevelt saat mereka menyatu dalam satu fragmen keheningan yang terasa lebih nyata dari kehidupan. “Selena,” suara Miranda memanggilnya sambil menyerahkan handuk kecil dan sebotol infused water. “Kau luar biasa tadi. Eleanor sampai mengangguk puas dari balik monitor. Itu jarang sekali terjadi.” “Terima kasih,” jawab Selena dengan napas tersengal. “Tapi aku rasa semua karena chemistry-nya… berjalan lebih baik.” Miranda menaik

