Studio ini perlahan-lahan mulai terasa seperti rumah kedua bagi Selena. Meski masih terasa asing, dinding-dinding putih dan pencahayaan lembut di ruang latihan kini sudah tak seintimidatif dulu.
Pagi itu, suasana lebih ramai. Hari ini merupakan pertemuan pertama semua pemain utama dan pendukung film Velvet Midnight. Mereka akan melakukan pembacaan naskah lengkap bersama, lalu dilanjutkan dengan latihan adegan grup.
Selena mengenakan turtleneck krem dan jeans gelap, duduk di pojok ruangan sambil mengamati orang-orang yang masuk satu per satu. Ia merasa gugup, tapi juga penasaran.
Pintu terbuka, dan Theodore masuk lebih dulu — seperti biasa, dengan gaya kasual berbalut karisma. Di belakangnya, muncul seorang wanita bergaun merah pas badan, rambut blonde digelung tinggi, bibir merah menyala, dan tawa yang cukup nyaring untuk membuat semua kepala menoleh.
“Aku duduk di sebelahmu, ya, Theo,” katanya sambil langsung menarik kursi di sebelah Theodore, meski belum ada yang meminta semua duduk.
Selena mengangkat alis.
Miranda, yang berdiri di belakangnya, membisik pelan. “Itu Sierra Malone. Aktris serial TV yang akhir-akhir ini naik daun. Cantik, penuh percaya diri, dan terlalu sadar bahwa dia cantik.”
Selena menoleh sedikit. “Dia salah satu pemain?”
Miranda mengangguk. “Ya. Dia berperan sebagai Reina, teman dekat Kiara. Perannya penting, tapi di luar layar, dia lebih sibuk jadi bayangan Theo.”
Sementara itu, Sierra mengangkat cangkir kopi dan menyodorkannya ke Theodore.
“Coba ini, aku pesan kopi spesial dari toko langgananku. Manis, tapi strong. Seperti aku,” katanya dengan senyum menggoda.
Theodore hanya memiringkan kepalanya sedikit, menatap kopi itu, lalu berkata singkat, “Aku tidak minum kopi manis.”
Sierra tertawa. “Oh, kau ini selalu dingin, ya. Tapi justru itu yang membuatmu makin seksi.”
Selena merasa geli sekaligus tidak nyaman. Ia memalingkan wajah dan fokus membuka naskah di pangkuannya.
Jace Leclerc masuk tak lama kemudian, diikuti oleh Eleanor dan Ellie si penulis naskah.
“Baik, semuanya,” seru Jace. “Hari ini kita akan memulai pembacaan pertama full script. Anggap ini sebagai sesi pemanasan sebelum kita mulai syuting interior minggu depan.”
Eleanor menambahkan, “Fokus pada dinamika emosi. Jangan takut bereksplorasi. Ini bukan drama biasa. Ini pengalaman batin yang dalam. Kalian harus saling membaca — bahkan ketika tak ada dialog.”
Seluruh pemain duduk melingkar. Selain Selena, Theodore, dan Sierra, ada dua aktor lain: Vincent Lim — yang akan memerankan guru musik Kiara, dan Danyae Carter — pemeran sahabat Atlas dalam cerita.
Pembacaan dimulai. Suara-suara terdengar bergantian, ada yang mantap, ada yang masih canggung.
Saat giliran Selena membaca dialog Kiara yang menyentuh:
"Reina, kadang aku berpikir... kalau aku mati malam ini, mungkin tubuhku tidak akan merasa apa-apa..."
Sierra, sebagai Reina, menjawab:
"Jangan katakan itu. Kau indah, Kiara. Kau hanya lupa bagaimana cara menyentuh dunia."
Namun, Sierra membacakan dialognya dengan nada terlalu dramatis — hampir seperti sedang berada di panggung musikal, bukan dalam drama psikologis.
Jace mengernyit.
“Sierra, coba lebih tenang. Ini bukan tentang kau mencoba menenangkan Kiara dengan senyum. Ini tentang Reina yang tak tahu harus berkata apa pada seorang teman yang perlahan hilang arah.”
Sierra tertawa, berusaha tak tersinggung. “Oke, oke. Aku ulang. Tapi kurasa tetap perlu sedikit spark dalam dialog.”
Selena hanya melirik tanpa komentar. Di sisi lain, Theodore masih menatap naskah, tak sedikit pun menunjukkan reaksi atas sikap Sierra. Seolah wanita itu tak pernah benar-benar ada di sekitarnya.
Setelah sesi pembacaan selesai, Jace mempersilakan pemain istirahat sejenak. Selena melangkah ke mesin kopi di pojok ruangan, mengisi cangkirnya.
“Hey,” terdengar suara di belakangnya. Selena menoleh. Vincent Lim — aktor berdarah Asia-Amerika, tersenyum ramah. “Aku Vincent. Hari ini baru benar-benar lihatmu in character. Keren tadi.”
“Terima kasih,” jawab Selena, tersenyum. “Kau juga keren. Suaramu cocok sekali jadi mentor dalam film.”
Vincent mengangguk. “Mudah-mudahan kita punya beberapa adegan intens. Karaktermu... Kiara, sangat kompleks. Akan menyenangkan bisa jadi bagian dari evolusinya.”
Selena hanya mengangguk kecil. Tapi sebelum percakapan berlanjut, Sierra tiba-tiba melenggang masuk, menyela di antara mereka.
“Selena, bolehkah aku bicara sebentar?” tanyanya manis, padahal wajahnya sudah tak sabar.
Selena agak terkejut. “Tentu.”
Mereka melangkah menjauh sebentar.
“Aku cuma mau bilang, aku suka sekali energimu,” ucap Sierra, tersenyum palsu. “Tapi... kau tahu, ya, dalam film seperti ini, chemistry itu penting. Sangat penting.”
Selena menyipitkan mata. “Maksudmu?”
“Ah, aku hanya... yah, sudah sering kerja bareng aktor seperti Theo. Kadang mereka suka menjaga jarak agar bisa fokus. Jadi jangan tersinggung kalau dia tidak terlalu responsif.”
Selena menahan tawa sinisnya. “Aku tak pernah mengharapkan dia akan responsif. Kami cuma rekan kerja. Bukan semacam... pasangan panggung.”
Sierra terdiam sejenak, lalu mengangguk.
“Oke. Just checking.”
Mereka berpisah, dan Selena kembali ke kursinya — tepat di sebelah Theodore.
Pria itu masih sibuk membuka lembaran catatan dari Ellie. Saat sadar Selena duduk di dekatnya, ia hanya berkata datar, “Sierra bicara lagi?”
Selena mengangguk. “Apa dia selalu seperti itu?”
“Sejak hari pertama dia diumumkan sebagai Reina.”
“Aku tak tahu kau bisa tahan.”
Theodore menutup mapnya dan menoleh sedikit. “Aku sudah terbiasa. Dunia ini penuh orang yang suka tampil. Tapi aku hanya peduli pada karakter. Sisanya... hanya suara bising.”
Selena tak bisa menahan senyum kecilnya.
Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, Selena merasa... mungkin mereka sedikit punya kesamaan.
+++
Keesokannya...
Studio latihan Broadway Film Center pagi ini terasa lebih senyap dari biasanya. Entah karena udara musim semi New York yang masih menyisakan dingin, atau karena proyek yang mereka kerjakan ini bukan sembarang film.
Velvet Midnight.
Judul itu saja sudah menggetarkan banyak hati di industri. Sebuah film dewasa yang bukan sekadar menghadirkan tubuh, tetapi luka, keheningan, dan gairah dalam bingkai artistik. Eleanor Bryce tidak main-main. Ia ingin menciptakan sesuatu yang mengguncang: emosional, erotis, dan dalam.
Selena duduk di barisan depan, mengenakan coat krem di atas turtleneck hitam. Naskah versi lengkap ada di pangkuannya. Miranda Liu duduk di samping, matanya memperhatikan semua pergerakan orang-orang di ruangan.
"Ini akan menjadi hari yang panjang," gumam Miranda sambil menyilangkan kaki.
"Dan mungkin membuatku gila," sahut Selena pelan.
Di seberang ruangan, Theodore Roosevelt masuk bersama manajernya, Joshua Makarim. Aktor berpenghargaan itu tidak terlihat gugup. Justru terlalu tenang, seperti seseorang yang tahu ia memegang kendali.
“Lihat dia,” bisik Selena. “Seakan dia pemilik naskah ini.”
“Kau pun pemiliknya,” jawab Miranda cepat. “Kiara adalah milikmu, dan kau satu-satunya yang bisa menghidupkannya.”
Selena menahan nafas. Kiara—karakter yang akan ia perankan—adalah seorang pemain cello berbakat yang kehilangan rasa percaya diri setelah kehilangan orang tuanya dalam kecelakaan. Ia kehilangan arah. Tak bisa lagi merasakan musik. Tak bisa lagi merasakan dirinya sendiri. Dalam keterpurukan itulah ia menyewa Atlas—karakter Theodore—seorang pria misterius yang dikenal karena ‘menyentuh’ sisi terdalam kliennya lewat sesi terapi personal yang menyentuh tubuh, emosi, dan jiwa.
Dalam banyak adegan, akan ada ketelanjangan. Bukan hanya tubuh, tapi luka. Ada adegan dewasa—iya. Tapi bukan yang murahan. Eleanor menginginkan adegan-adegan itu disusun dengan koreografi seni, dengan intimasi emosional, bukan hanya seksual.
Eleanor berdiri di tengah ruangan, mengenakan jas panjang hitam dan sepatu hak merah darah. Ia memegang mikrofon kecil, menatap semua yang hadir.
“Kalian sudah baca naskahnya. Velvet Midnight bukan sekadar film erotik. Ini adalah kisah tentang kehilangan, keintiman, kerentanan, dan kebangkitan. Adegan dewasa dalam film ini bukan untuk membuat penonton bergairah... tapi agar mereka merasakan keheningan, napas, dan getaran ketika dua jiwa bertemu dalam kehancuran.”
Jace Leclerc, sang sutradara, berdiri di sampingnya. “Kita mulai dengan adegan pertama antara Kiara dan Atlas. Sesi awal ketika Kiara mencoba bermain cello lagi setelah sekian lama, dan Atlas datang untuk melihat apakah dia benar-benar siap untuk disentuh...”
“Secara emosional,” Ellie—penulis naskah—menimpali. “Dan secara fisik. Karena mereka akan masuk dalam dunia di mana batas tubuh dan jiwa kabur.”
Selena meneguk ludah. Ini bukan naskah yang biasa. Dan di sinilah ujiannya dimulai.
“Selena, Theo, kalian boleh mulai dengan pembacaan dulu,” kata Eleanor.
Selena membuka naskah. Tangannya sedikit gemetar. Di seberangnya, Theodore duduk santai, membaca kalimat pertamanya.
Theo (sebagai Atlas):
“Aku hanya akan menyentuhmu... ketika kau benar-benar ingin disentuh.”
Selena (sebagai Kiara):
“Lalu bagaimana jika aku bahkan tidak tahu bagaimana rasanya diinginkan lagi?”
Theo:
“Maka kita mulai dari sunyi. Karena keinginan lahir dari keheningan.”
Hening.
Jace mengangguk. “Bagus. Sekarang... letakkan naskah. Lakukan itu langsung. Dengan mata. Tanpa teks.”
Selena memandang Theodore, lalu menurunkan naskah perlahan. Ia mengatur napasnya.
Selena (pelan, menatap langsung ke mata Theo):
“Lalu bagaimana jika aku bahkan tidak tahu bagaimana rasanya diinginkan lagi?”
Theo (suara rendah, tak berkedip):
“Maka kita mulai dari sunyi.”
Satu detik... dua... tiga...
Eleanor mengangguk pelan. “Ada sesuatu di sana.”
Namun, seketika, Theodore bersandar kembali dan berkata pelan tapi menusuk, “Tapi kau belum cukup menjadi Kiara. Kau hanya memerankannya... bukan merasakannya.”
Selena mendongak tajam. “Maksudmu apa?”
Theo menyilangkan kaki. “Kau takut membuka celah di dirimu sendiri. Kiara itu kosong, Selena. Bukan kuat. Dia harus dibangun dari reruntuhan. Bukan dari latihan akting.”
“Dan kau pikir kau sudah lebih dulu hancur?” tanya Selena tajam.
“Aku tidak akting,” sahut Theo datar. “Aku tahu rasanya.”
“Kau terus saja meremehkan aku sejak awal. Mau mu apa, yang paling senior? Yang paling mengetahui rasanya?!”
Suasana menegang.
Jace buru-buru menengahi, “Oke, kita istirahat sepuluh menit. Setelah itu kita coba adegan latihan cello—yang akan mempersiapkan adegan dewasa pertama kalian nanti.”
Miranda langsung menarik Selena keluar dari ruangan. Keadaan akan semakin memanas jika mereka masih disatukan. Waktu sepuluh menit setidaknya cukup membuatnya untuk menenangkan Selena.
“Minum dulu—”
“Aku tidak mau!” sela Selena dengan cepat. Suasana hatinya berubah menjadi buruk saat ini.
“Aku tahu kau sedang kesal dan emosi padanya. Tapi aku mohon tenangkan dirimu. Kau harus bisa membuktikan padanya jika kau mampu, Sel. Kau tidak bisa membiarkan dia menekanmu seperti itu,” ujar Miranda.
Selena menghembuskan napas. “Dia menyebalkan. Tapi... dia membuatku merasa seperti anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Dan itu membuatku... terganggu.”
Miranda menyentuh bahunya. “Dan itu bagus sebenarnya. Eleanor ingin intensitas itu. Tapi ya memang ucapan Theodore terlalu pedas padamu.”
“Kalau begini terus, aku bisa membenci atau jatuh cinta padanya di kehidupan nyata,” gumam Selena. “Dan keduanya terdengar buruk.”
Sementara itu, di dalam studio, Joshua juga sedang mencoba untuk bicara dengan Theodore. Menurutnya apa yang dikatakan oleh Theodore memang sedikit keterlaluan.
Joshua segera menoleh ke arah Theo setelah meletakkan botol minuman yang baru saja diteguk oleh Theo. “Kau tahu, kau membuatnya gugup. Ucapanmu juga membuatnya tersinggung, Theo.”
Theo tidak menjawab.
“Kau takut pada adegan itu, bukan? Adegan pertama kalian. Adegan saat Atlas menyentuh Kiara di punggung, sambil membimbingnya bermain cello.”
Theo hanya tersenyum tipis. “Aku takut karena itu terlalu nyata.”
Joshua mendesah. “Dan karena kau pernah ada di posisi Kiara, bukan Atlas.”
Untuk pertama kalinya, mata Theodore kehilangan cahayanya. Ia sontak bertanya-tanya, apa semudah itukah Joshua membaca pikirannya?