Sebuah restoran yang tidak jauh dari studio tempat mereka akan mulai syuting pekan depan tampak begitu indah. Interiornya modern-industrial, dengan lampu gantung rendah, dinding bata putih, dan meja-meja kayu panjang yang disusun untuk satu barisan kru film.
Selena datang lebih awal bersama Miranda Liu, managernya yang dikenal tegas, penuh strategi, dan tidak pernah absen mencermati setiap detail proyek Selena.
“Aku benci pertemuan seperti ini,” gumam Selena sambil menatap daftar menu.
Miranda menyilangkan kaki dan memeriksa jam tangannya. “Dan aku benci ketika kau mulai mengeluh sebelum makan malam dimulai.”
Selena menghela napas. “Ini bukan soal makan malam. Tapi soal satu orang yang akan duduk di ruangan yang sama.”
Miranda tersenyum tipis. “Jadi, Theodore Roosevelt masih menjadi topik utama dalam kepalamu?”
“Bukan topik, tapi gangguan.”
“Kau harus terbiasa. Proyek ini panjang. Dan jika kau ingin keluar dari bayang-bayang 'bintang muda', kau perlu belajar bermain dengan mereka yang lebih... senior.”
“Kalau senior itu tahu cara menghormati rekan mainnya, mungkin aku akan lebih mudah menghargainya,” desis Selena tidak mau kalah.
Miranda menatapnya sebentar. “Kau tidak perlu menyukainya, Sel. Tapi kau perlu menaklukkannya. Di layar.”
Miranda menatap arlojinya lagi, lalu matanya menyapu ruangan. “Dia datang.”
Selena bahkan belum menoleh ketika wangi cologne khas Theodore Roosevelt lebih dulu menyentuh hidungnya. Lelaki itu datang dengan langkah santai, memakai coat panjang warna cokelat tua dan scarf hitam yang dililit asal. Semua mata seperti otomatis beralih padanya.
Termasuk mata Selena.
“Kau masih bisa pergi kalau kau mau,” bisik Miranda.
Selena hanya mendecak pelan. “Aku lebih memilih duduk di sebelah piranha daripada kabur karena Roosevelt.”
Namun takdir rupanya punya selera humor yang aneh. Saat semua kursi sudah mulai terisi, satu-satunya kursi kosong di sisi kanan Selena... ya, tentu saja, itu yang didatangi oleh Theo.
“Selamat malam, Selena,” ucap Theo sambil duduk, menggunakan nada terlalu formal hanya untuk bertingkah menyebalkan.
“Roosevelt,” balas Selena tanpa menoleh.
“Aku tidak mengganggumu, kan?” lanjut Theo, santai seperti biasa.
“Kau menggangguku bahkan saat tidak berada di dekatku,” tukas Selena.
Miranda tersenyum dari seberang meja. “Menyenangkan sekali menyaksikan kalian seperti ini. Rasanya seperti sedang menonton potongan naskah secara langsung.”
Theo menoleh padanya. “Miranda Liu, manager yang paling ditakuti di industri ini.”
“Dan kau adalah aktor yang paling sulit dikendalikan, yang pernah aku temui,” balas Miranda tajam. “Tapi tenang, aku tidak membenci sebuah tantangan.”
“Sama. Aku juga tidak takut pada peran yang kompleks,” jawab Theo sambil menyesap wine.
Selena menatap Theo sejenak. “Sayangnya, bukan peranmu yang kompleks. Tapi egomu.”
Sutradara Jace datang dan duduk tidak jauh dari mereka. Suasana langsung berubah lebih formal. Diikuti oleh Eleanor Bryce, Ellie sang penulis, serta kru lainnya. Mereka saling sapa, bertukar cerita proyek masa lalu, membahas peralatan kamera, hingga beberapa guyonan internal yang hanya dipahami oleh orang-orang industri.
Jace mengetukkan sendok ke gelas anggur. “Sebelum kita mulai makan, aku ingin mengangkat satu topik penting yaitu mengenai chemistry.”
Seluruh mata tertuju padanya. Jace melanjutkan, “Film Velvet Midnight ini bukan hanya soal adegan dewasa. Ini tentang dinamika dua manusia yang saling menyakiti dengan cara paling indah.”
Beberapa tertawa kecil mendengar pernyataan itu. Theo hanya tersenyum tipis. Sedangkan Selena tetap diam.
“Dan chemistry yang kami butuhkan bukan hanya yang terlihat di layar. Tapi harus tumbuh dari interaksi kalian semua di luar layar juga. Maka dari itu, makan malam ini penting. Tidak ada karakter. Tidak ada skrip. Hanya kalian. Kita. Sebagai manusia.”
Seketika suasana berubah sedikit lebih cair. Beberapa mulai berbicara lebih santai. Theo menyandarkan tubuh, lalu menoleh ke Selena.
“Jadi, Selena,” ucapnya dengan nada terlalu tenang, “bagaimana rasanya tahu lawan mainmu telah memenangkan tiga piala Cannes sebelum kau lulus SMA?”
Selena mengangkat alis. “Kurasa seperti duduk di sebelah pria paruh baya yang tidak sadar ia sedang bersaing dengan egonya sendiri.”
Theo tertawa pelan. “Kau tahu apa bedanya aktor muda dengan aktor berpengalaman?”
“Apa? Gigi palsu?”
“Insting,” jawab Theo. “Kau bisa diajari akting. Tapi insting tidak bisa dipelajari.”
“Kau juga tahu apa yang tidak bisa dipelajari?” Selena menyeringai. “Etika.”
Dari ujung meja, Ellie melirik gugup. “Kalian... sering begini ya? Maksudku, bertukar... senjata?”
“Itu bukan senjata,” sahut Miranda sambil menyesap air mineral. “Itu foreplay versi mereka!”
Seluruh meja tertawa. Kecuali Selena dan Theo, yang masih saling menatap.
Theo mendekat sedikit. “Kau ingin menang di proyek ini, Selena?”
“Aku ingin memberi yang terbaik,” jawab Selena.
“Kalau begitu,” bisik Theo tepat di telinganya, “berhenti bermain dengan aman. Biarkan dirimu jatuh. Biarkan dirimu marah, terbakar, bahkan hancur. Karena hanya di titik itu, kau akan menciptakan sesuatu yang abadi.”
Selena membeku. Kata-kata itu terlalu dalam, terlalu tepat.
Tapi ia tidak mau kalah. “Dan kau,” ucapnya lirih tapi tajam, “jangan menutupi penghinaan dengan nasihat. Aku tahu kau tidak percaya aku bisa melakukannya.”
Theo tersenyum kecil. “Salah. Aku tahu kau bisa. Tapi aku belum melihat kau benar-benar mau.”
Selena menatapnya, kali ini tanpa membalas.
Dalam dirinya, sesuatu mulai berubah.
*
*
Beberapa jam kemudian, ketika makan malam selesai dan semua mulai berpamitan, Miranda menyusul Selena yang berdiri di depan pintu restoran sambil memainkan ponsel.
“Bagaimana menurutmu?” tanya Miranda.
Selena mendesah. “Aku benci dia.”
“Dan...?”
“Aku tidak bisa berhenti memikirkan semua ucapannya tadi padaku. Dia itu... sangat menyebalkan dan selalu meremehkan aku!”
Miranda menyeringai. “Selamat datang di permainan besar, Selena. Kau sedang bermain dengan seseorang yang tahu caranya membakar dengan baik!”
Selena memicingkan mata. “Aku lihat-lihat, kau sudah mulai sepertinya saja ya? Apa-apaan itu Miranda? Tolong ya, jangan jadi menyebalkan juga sepertinya!”
Miranda sontak tertawa. “Kenapa jadi tersulut emosi begini? Kau benar-benar benci padanya ya? Sampai-sampai menuduhku begitu. Padahal dari segi ucapanku tidak ada yang salah sama sekali kan?”
Selena mendengus sebal. “Terserahlah!”