Studio latihan itu tersembunyi di sudut jalan kecil di Brooklyn, New York—bangunan bata merah tua dengan satu pintu besi dan jendela besar berdebu. Tak ada papan nama, tak ada tanda. Hanya dunia gelap di dalamnya, yang penuh rahasia dan pantulan suara.
Selena menarik napas panjang sebelum memasuki ruangan. Rasa gugup menyelusup ke tengkuknya. Di dalam, lampu-lampu gantung remang menyala, menciptakan suasana teatrikal. Ruangan itu kosong, kecuali satu panggung kecil yang dilapisi lantai kayu tua dan dua kursi lipat yang menghadap ke arah cermin besar.
Dan di tengah ruangan itu, berdiri seseorang.
Theodore Roosevelt. Dengan turtleneck hitam dan celana abu-abu arang. Ia tidak menoleh ketika Selena masuk. Hanya berdiri dengan tangan di saku, menatap ke arah pantulan dirinya di cermin.
Selena menegakkan tubuh. "Kau tidak mau menyapa?"
"Aku sedang mendengar langkahmu," jawabnya pelan. "Berisik. Tidak percaya diri."
"Aku memakai boots," sanggah Selena.
"Dan boots-mu pun seharusnya bisa berbicara lembut, kalau kau tahu bagaimana mengendalikan tubuhmu."
Selena mendesah keras, lalu meletakkan tasnya di pinggir ruangan.
"Ini latihan akting atau penghakiman sebenarnya?" sindirnya.
"Keduanya."
Sesaat, keheningan jatuh di antara mereka. Hanya suara detik jam dinding dan dengungan AC tua yang menemani.
Lalu sebuah pintu kecil di sisi ruangan terbuka. Seorang pria berperawakan tinggi dan ramping masuk, mengenakan mantel panjang dan sepatu kulit hitam mengilap. Rambutnya gelap dan disisir rapi ke belakang. Wajahnya tenang, tapi mata cokelat gelap itu tajam—seperti tahu segalanya.
"Joshua Makarim," ucapnya sambil menjabat tangan Selena. “Manager Theo. Tapi kau boleh anggap aku sebagai saksi mata pertarungan kalian hari ini.”
Selena mengangguk ragu. "Kau tidak akan ikut campur?"
Joshua tersenyum samar. "Aku hanya ikut campur saat salah satu dari kalian nyaris tenggelam."
"Nyaris?"
"Kita semua perlu tenggelam sekali-sekali untuk belajar bernapas kembali," jawab Joshua ringan, lalu duduk di bangku di sudut ruangan, membuka notebook kecilnya.
"Mulai dari adegan mana?" tanya Selena, menoleh ke arah Theo.
"Halaman 27," jawab Theodore singkat. "Adegan pertama saat Kiara melepaskan kendali, dan Atlas memancing luka lamanya."
Selena menarik napas dalam. Ia membuka naskah, lalu berdiri sekitar dua meter dari Theo.
Mereka saling menatap—bukan dengan kelembutan, tapi ketegangan. Dan sesuatu yang lain. Ketertarikan samar yang menyamar dalam sinisme.
Kiara:
"Kenapa kau tak menyentuhku seperti malam itu?"
Atlas:
"Karena kau mulai menginginkannya. Dan aku hanya datang untuk mereka yang tak tahu cara meminta."
Selena menelan ludah. Nafasnya sedikit berat, tapi ia tetap berdiri tegak.
Kiara:
"Kau tidak adil."
Atlas:
"Dan dunia seharusnya adil untukmu?"
Kiara:
"Setidaknya, untuk seseorang yang telah kehilangan segalanya."
Atlas:
"Kehilangan membuatmu liar. Tapi juga indah."
Theo perlahan melangkah mendekat. Tidak menyentuh, tapi cukup dekat hingga Selena bisa mencium aroma maskulin dari parfumnya—halus, kayu manis dan vetiver. Tatapannya menusuk, tak berkedip.
Selena menahan napas.
Atlas:
"Kau harus belajar menikmati luka. Karena dari sana tubuhmu belajar hidup lagi."
Selena memejamkan mata sejenak, membiarkan kalimat itu merayap ke dalam dirinya. Ia tahu, karakter Kiara tidak menangis. Tapi dia terluka. Dan luka itu harus terasa di kulit.
Dengan lirih, ia menjawab:
Kiara:
"Aku tak tahu... bagaimana rasanya hidup lagi."
Hening. Hanya suara detakan jantungnya sendiri yang Selena dengar.
Lalu, perlahan Theo mengangkat tangannya, menyentuh bahu Selena. Gerakan yang sangat pelan, nyaris tak terasa. Tapi panasnya menembus.
Selena menahan diri agar tidak bergerak. Tapi tubuhnya mendadak menegang.
“Apa kau akan mundur saat tubuhku menyentuhmu?” bisik Theo, kali ini di luar naskah.
Selena membuka matanya. "Tidak, jika itu bagian dari peran."
Theo memiringkan kepala. “Bagus. Karena dalam adegan ini, aku akan menekan batasmu.”
Selena menahan emosi. "Lalu aku akan mematahkan ekspektasimu."
Theo tersenyum tipis. "Kita lihat saja."
Joshua berdiri perlahan, lalu berjalan mendekat sambil bertepuk tangan pelan.
“Intens. Sangat intens untuk pertemuan pertama,” komentarnya. “Tapi masih ada ruang untuk lebih dalam. Kalian belum benar-benar ‘telanjang’ secara emosi.”
Selena mengangkat alis. “Kau ingin kami menangis? Berteriak? Berpelukan sambil telanjang?”
“Tidak. Aku ingin kalian berhenti memfilter. Kiara bukan Selena. Dan Atlas bukan Theo. Tapi kalian harus melebur cukup dalam hingga tak bisa dibedakan.”
Theo menoleh ke Joshua. “Biarkan dia bernapas dulu.”
Selena menghela napas dan mundur satu langkah. “Aku butuh air.”
Theo menunjuk dispenser di sudut ruangan tanpa bicara.
Saat Selena berjalan ke sana, Joshua mendekati Theo dan berbisik pelan.
“Dia belum mengerti caramu.”
“Dan aku belum memutuskan apakah aku ingin dia mengerti,” jawab Theo dingin.
Joshua menatapnya dalam. “Hati-hati, Theo. Kau bisa menghancurkan dia... atau jatuh terlalu dalam.”
Theo tak menjawab.
Sementara itu, Selena menatap pantulannya di kaca. Keringat dingin membasahi tengkuknya. Tapi matanya menyala. Untuk pertama kalinya sejak lama, dia merasa tertantang.
Dan di dalam dirinya, sesuatu mulai bergerak. Sesuatu yang tidak bisa ia definisikan.
Bukan rasa takut. Tapi... rasa penasaran.
Selena kembali dari dispenser air, membawa gelas plastik bening yang setengah terisi. Ia menyesapnya perlahan, berharap suhu dinginnya bisa menenangkan detak jantung yang masih berpacu.
Sementara Theodore duduk di kursi lipat, menyilangkan kaki dengan angkuh, tangannya menggenggam naskah lusuh yang ujung-ujungnya sudah melengkung. Pandangannya tertuju pada halaman 28, tapi jelas ia tidak benar-benar membaca.
“Kau tahu,” katanya tiba-tiba, tanpa menoleh. “Saat pertama kali kutahu kau akan jadi lawanku di film ini, aku jujur saja... kecewa.”
Selena berhenti menyeruput air. “Apa maksudmu? Bukankah katanya kau sendiri yang memilih—ah, lupakan!” Selena tak jadi melanjutkan ucapannya. Ia mengumpat kesal dalam hati dan berpikir jika mungkin saja Miranda membohonginya agar ia benar-benar mau menerima film tersebut.
“Apa?”
“Apanya?! Balik tanya Selena. Kau itu yang kenapa? Apa maksudmu bicara seperti tadi?”
“Kau terlalu muda. Terlalu polos. Terlalu... bintang instan,” jawabnya enteng.
“Aku tidak minta jadi lawan mainmu, kalau itu yang kau pikirkan,” balas Selena cepat, suaranya mulai naik satu oktaf.
Theodore mengangkat bahu. “Aku tahu. Tapi aku yang menyetujui casting terakhir. Kurasa aku terlalu... dermawan hari itu.”
Selena mendekat satu langkah. “Jadi, sekarang kau menyesal?”
“Tidak juga. Hanya saja, kau masih mentah. Dan aku tak yakin film seberat Velvet Midnight adalah tempat yang tepat untukmu belajar.”
Selena mencengkeram gelas di tangannya. “Lalu kenapa kau tidak menolak sejak awal?”
“Karena aku ingin tahu... seberapa cepat kau akan jatuh.”
Selena menatapnya tajam. “Aku tidak akan jatuh.”
Theo menoleh perlahan, akhirnya menatap langsung ke matanya. “Kau sudah mulai goyah, Selena. Bahkan sebelum kita menyentuh adegan paling sulit.”
“Karena kau mempermainkanku, bukan karena aku tidak mampu.”
Theo berdiri, mendekat tanpa bicara. Ia menatap Selena dari jarak sangat dekat, membiarkan atmosfer di antara mereka mengental.
“Kau tahu apa bedanya kau dengan aktris lain yang pernah aku hadapi?” tanyanya lirih.
Selena tetap diam.
“Kau berpikir bahwa dengan perasaanmu saja, semuanya akan bekerja. Bahwa emosi yang mentah sudah cukup untuk membuat karakter ini hidup. Tapi dunia nyata... dan layar... tidak peduli pada perasaanmu, Selena. Yang penting adalah presisi. Kendali. Ritme. Dan kau belum punya itu.”
“Lalu apa yang kau punya?” tantang Selena dengan nada tajam.
Theo tidak mundur. Ia hanya menatap Selena seperti sedang menilai piala lelang.
“Aku punya disiplin. Luka yang aku bentuk menjadi kekuatan. Pengalaman yang kutarik dari penderitaan. Dan tubuh yang bisa bicara sebelum bibirku bergerak.”
Selena tertawa sinis. “Kau bicara seolah kau dewa panggung. Tapi semua orang tahu, kesombongan adalah tanda dari ketakutan.”
Theo menyipitkan mata. “Berhati-hatilah, Selena. Lidahmu bisa melukai karirmu sendiri.”
“Dan kau harus tahu, aku bukan gadis kecil yang akan menangis hanya karena kau menganggapku remeh.”
Joshua, yang masih duduk di sudut ruangan, menatap keduanya dengan alis terangkat. Tapi ia tidak berkata sepatah pun.
“Kalau begitu,” ucap Theo datar, “buktikan. Di adegan berikutnya, kau akan membuka sisi Kiara yang paling gelap. Lupakan air mata. Bawa aku pada rasa kehilangan yang menggerogoti tubuhmu seperti parasit.”
Selena mendekat, berdiri tepat di depan Theo, matanya menyala.
“Jangan ragukan aku hanya karena aku muda. Aku mungkin belum seberpengalaman dirimu, tapi aku tahu bagaimana rasanya kehilangan. Aku tahu apa artinya dipandang sebelah mata. Dan aku akan menggunakannya semua—untuk membakar film ini.”
Theo tak menjawab. Hanya menatap Selena dalam diam selama beberapa detik, lalu mengangguk kecil.
“Akhirnya,” gumamnya pelan. “Itu suara Kiara yang aku cari.”
Selena menggertakkan gigi. “Itu bukan Kiara. Itu aku!”
Joshua menutup bukunya perlahan, lalu berdiri.
“Kurasa cukup untuk hari ini,” ucapnya. “Kalian sudah membuat ruangan ini lebih panas daripada pemanas ruangannya.”
Theo mengambil jaketnya tanpa berkata-kata dan berjalan keluar. Tapi sebelum ia membuka pintu, ia menoleh sekilas.
“Besok jam tujuh pagi. Jangan terlambat. Aktor serius datang lebih awal dari bayang-bayangnya sendiri.”
“Dan aktor angkuh biasanya datang sendirian,” balas Selena dingin.
Theo tersenyum tipis, lalu menghilang di balik pintu.
Joshua mendekati Selena. “Kau baik-baik saja?”
Selena menjawab cepat, “Tidak.”
“Tapi kau sudah tepat. Terus nyalakan api itu. Dia hanya menghormati orang yang bisa membakarnya balik.”
Selena menghela napas berat. “Kalau aku bisa membunuhnya dengan tatapan, dia sudah gosong dari tadi.”
Joshua tertawa pelan. “Sayangnya, dia kebal api. Tapi... aku rasa kau berbeda dari lawan-lawan mainnya sebelumnya.”
Selena menatap Joshua. “Apa maksudmu?”
“Biasanya, mereka jatuh cinta padanya sebelum syuting minggu kedua.”
Selena mengangkat alis. “Dan menurutmu aku akan jatuh cinta?”
Joshua hanya mengangkat bahu. “Aku bilang ‘biasanya’. Tapi kau bukan ‘biasanya’, kan?”
Selena tak menjawab. Ia menatap pintu studio yang baru saja ditinggalkan Theodore.
Dalam hatinya, ada kemarahan, kejengkelan... dan sesuatu yang lebih membingungkan, rasa penasaran yang tak kunjung padam.
Dan itu jauh lebih berbahaya.