3. Tamu Ganggu

1760 Words
"Mas, pulangnya jangan lupa bunganya, ya." Aku mengingatkan Mas Adji untuk ke lima kalinya pagi ini. Jangan berharap kejutan spesial dari suami macam Mas Adji. Jadi, untuk hari spesial, Aku dengan pe-de nya merengek pada suami. "Tambah tua kok di rayain, Gin?" katanya dengan wajah lempeng, khas Mas Adji. "Mulutnya," lirikku sinis. Emang Mas Adji paling nggak bisa bikin istri senang. Boro-boro romantis, kalau bikin Aku sehari aja nggak kesel, mulutnya infeksi kali. "Udah. Saya berangkat," pamitnya "Iya, hati-hati Mas. Sayangnya mana?" Aku mencium punggung tangannya takjim. Kali ini Aku mengikuti Mas Adji sampai ke halaman. Tapi Mas Adji hanya bergumam sambil jalan yang Aku juga nggak komen lagi. Bunyinya cuma kayak 'hhhmmasaosahsmu' alias nggak kedengaran. "Mas, jangan lupa," sekali lagi Aku mengingatkan. "Yang Anggrek Mas, Gina maunya," rengek ku tak bosan-bosan. Biarlah kuping Mas Adji jadi berasap karena suara berisik ku. "Hmmm." "Ham hem ham hem, bibir kamu sariawan?" jengkel juga lama-lama, punya suami ngomong irit, untung nggak pelit duit. "Iya, Gina..." jawabnya dibuat-buat. Mas Adji sudah masuk ke dalam mobilnya dan hampir menutup pintu sebelum sekali lagi Aku interupsi. "Mas, kamu lupa sesuatu?" "Apa? Bilang sayang? IYA, Gina..." Oke, nadanya semakin naik walau mukanya masih datar. Aslinya dia ada kunjungan ke pelabuhan terminal peti kemas sama atasannya. Makanya agak buru-buru karena lokasinya akan menempuh dua jam perjalanan. Dan Aku sedari tadi mengoceh macam kereta api. "My kiss?" tunjukku pada dahi sendiri dengan wajah seimut mungkin. Dalam hati Mas Adji mungkin menggerutu 'punya istri gini amat, tapi udah terlanjur apa mau di kata'. Mas Adji menangkup wajahku gemas, lalu mencium kening, mata, hidung, pipi, dagu dan berakhir di bibir. Dia melumat bibirku lembut, memainkan lidahnya dengan durasi yang lumayan lama. Agak kaget juga sih, Mas Adji antara kesel, gemes, dan... sayang. Ini kaki sampai meleyot kalau nggak ditahan sama Mas Adji. "Buat bekal. Saya pulang telat hari ini," katanya. Aku tersipu dan mungkin pipi juga sudah berubah sewarna cabe. Sambil membenarkan letak pasmina yang sebenarnya masih rapi, Aku cengengesan nggak jelas. "Saya berangkat. Hati-hati, jangan sampai di kerjain lagi. Manjat pohon udah kayak monyet ragunan lepas." Pesan pak suami yang bikin senyum di bibir seketika lenyap. Hedeh, apa Aku bilang, Mas Adji emang kadang-kadang kiddingnya agak kelewatan. Bayangin, kemarin aja dia nggak berhenti ngakak, padahal lututku udah nggak berasa. Nangkring di pohon kaya penghuni ragunan. Dia malah ngakak dulu baru nolongin. Begitu mobil suami sudah mulai menjauh, Aku berbalik kembali ke pintu. Hampir menabrak gundukan besar yang menghalang jalan. "Astaghfirullah! Bude?! Ngapain?!" Aku mengurut d**a kaget luar biasa. Kok bisa tiba-tiba karung beras nongol di belakang. "Ciee yang ciuman sama suami di halaman," ledek Bude Wahyu sumringah. Dia mah kalau ada bahan ledekan, hidungnya jadi tambah lebar. Senyum juga kelihatan sampai ke gusi. Belum lagi mata yang kayak orang kelilipan. "Kemaren sorry ya, pas Rika balik bawa tangga, kamu udah nggak ada di pohon. Udah diturunin sama suami kamu ya?" Pake nanya lagi. Ya iyalah, orang Aku hampir lumutan nungguin tangga dari situ. Malah keduluan Mas Adji yang nyusulin dari kantor. Kan ketahuan kalo nggak niat nolong, emang sengaja. Aku hanya mencebik malas pada Bude Wahyu. "Ini nih, asinan mangga kemaren. Buat kamu lebihnya, yang buat Jihan sudah Bude pisahin." Nyogok ceritanya pemirsa. Tapi lumayan juga sih, panas-panas gini makan yang seger. Nggak tau kenapa Aku jadi ngeces. Padahal awalnya gengsi mau nerima, tapi batin meronta-ronta. Ya sudah Aku terima dengan senyum dua jari alias terpaksa. "Eh, tapi kamu jadi ikut kan ke rumah Jihan? Kumpul di rumah Bude aja. Nanti berangkat bareng sama Ibu-ibu lain." "Iya, Bude. Nanti Gina samperin ke rumah 1 jam lagi ya. Gina siap-siap dulu." Aku langsung buru-buru menuju pintu pagar dan sedikit lari ke arah rumah. Takut kena bullying pagi-pagi. Aku beneran siap-siap untuk tampil paripurna. Pasmina hitam dipadu dengan long dress warna nude juga outer dengan warna gelap. Wajahku juga sudah ku poles dengan make up tipis agar terlihat natural tapi tetap manis dengan sentuhan lipstik blossom. Baru saja membuka pintu kamar, bertepatan dengan Mas Adji yang muncul dari pintu luar yang juga terbuka. "Loh, Mas udah pulang? Katanya pulang telat," tanyaku tersipu. Nggak tau kenapa bawaannya kalau lihat suami, kok seneng terus. "Ada berkas yang ketinggalan," jawabnya sambil memasuki kamar. Aku mengikuti langkahnya hingga ke sisi tempat tidur. Diam menunggu Mas Adji membolak-balik kertas yang tersimpan di laci kecil meja pojok. "Ke luar kotanya jadi Mas?" "Jadi. Ini Saya mau langsung berangkat. Tadi ke kantor dulu." Aku mengangguk dengan mulut membentuk huruf O. "Kamu kok rapi? Mau kemana?" tanya Mas Adji sambil berjalan ke luar kamar, sepertinya dia sudah menemukan berkas yang dicari. "Ke acara syukuran Mbak Jihan. Kan Gina sudah bilang kemaren," rajukku. "Ohh, yang kamu di kerjain itu." Tuh kan diungkit lagi. Belum sempat menyahut, suara mendayu dari arah pintu mengalihkan atensi kami. "Permisi Pak Adji, Dian numpang ke toilet boleh? Udah nggak tahan nih," seorang gadis dengan pakaian cukup ketat melengos masuk ke rumah kami. Rambutnya panjang tergerai dan lipstik merah yang sungguh menggoda. Belum lagi kemejanya yang super ketat, mencetak jelas dua aset berupa gunung kembar yang gundal gandul kalau dia jalan. "Ya silakan. Lurus belok kiri," tunjuk Mas Adji pada arah toilet luar yang terletak dekat dapur. Mataku melotot tak percaya. Jadi Mas Adji tidak hanya pulang sendiri. Dia bersama wanita seksi? Di mobil? Berdua? What the... "Siapa dia Mas?" tanyaku dengan nada yang kutahan agar tidak bergetar. Sementara Mas Adji masih sibuk dengan ponsel di tangannya. "Dian. Teman kantor," jawabnya tanpa menoleh kepadaku. Hening. Hingga beberapa saat kemudian suaru wanita itu terdengar kembali. "Ahh leganya... Aduh maaf Pak Adji, jadi nungguin Dian. Nggak enak juga sama istrinya," gadis itu cengengesan sambil membenarkan celananya di pinggang. Nafasku sudah Senin Kamis nahan-nahan emosi. Sabar Gina, jangan su'uzon sama suami sendiri, batinku menyemangati. "Nggak kok. Nih sekalian kenalan. Istri Saya, Gina," sahut Mas Adji sambil meraih pinggangku menarik agar mendekat ke arah Dian yang sudah berada di sampingnya. "Saya Dian, Kak. Salam kenal," gadis itu memberikan tangannya agar kami bisa berjabatan. "Gina," balasku singkat. Ku lirik Mas Adji menaikkan sebelah alisnya, mendengar Dian memanggil dengan sebutan 'Kak'. Mungkin agak rancu, karena Dian sendiri memanggil Mas Adji dengan sebutan 'Pak'. "Ya udah, yuk Pak langsung berangkat aja. Nanti kesiangan," ajaknya pada suamiku. Cabein muka orang boleh nggak sih? Itu muka biasa aja bisa nggak? Nggak usah pakai senyum-senyum sama suami Aku, batinku udah ngereog. "Ya sudah kita berangkat." Mas Adji mengecup kepalaku sekilas lalu menepuknya lembut. Dia kemudian berjalan beriringan bersama Dian ke arah pintu. Alamak, ini hati sudah nggak cenat cenut. Membayangkan suami bekerja di kelilingi wanita-wanita model Dian. Berbagi tugas dan diskusi setiap hari. Bahkan mungkin makan siang bersama. Apa Mas Adji bisa tahan, yakin nggak oleng? Aku berjalan mengikuti di belakang, mengintip dari balik tirai jendela dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Memandang kosong ke arah mobil suamiku yang mulai melaju meninggalkan halaman. Sesak, rasanya sangat menyiksa. *** Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam saat Mas Adji masuk melalui pintu depan yang sengaja tidak ku kunci. Tidak seperti biasa, Aku yang selalu menyambut kedatangan suami, kali ini Aku hanya diam bersembunyi di balik selimut dalam kamar tidur kami. Merajuk. Tentu saja Aku masih sangat kesal dengan suami kulkas ku itu. Sedari siang Aku menanyakan keadaannya dan perihal wanita bernama Dian itu melalui ponsel, tapi tak ada satu pesan yang dia balas. Bahkan teleponku sengaja dia reject. Maksudnya apa coba? Mas Adji sengaja bikin Aku overthinking, sampai-sampai perutku rasanya keram seharian ini. Aku bahkan hanya melamun di acara Mba Jihan bersama Ibu-ibu komplek. Badan di mana, pikiran ke mana. Entah, rasanya sangat menyebalkan. "Gin, kamu tidur?" tanya Mas Adji sambil melepas simpul dasi dan kancing kemejanya. "Anggrek pesanan kamu di mobil," sambungnya lagi sambil masuk ke kamar mandi. Saat pintu di tutup, Aku yang memang nggak bisa tidur, mengintip dari balik selimut dan bergegas keluar kamar. Bisa-bisanya dia bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Apa dia menganggap remeh perasaan jengkel ku? Oke, dia masih mengingat pesanan bungaku. Berharap ada kejutan lain yang dia sembunyikan di mobil agar mengurangi kekesalan di hati yang masih bercokol. Aku melangkah menuju mobil melalui pintu samping rumah. Membuka pintu penumpang, lalu menengok ke dalam mobil. Tak ada apapun kecuali beberapa bekas botol mineral yang berserak di lantai mobil. Aku menarik nafas dalam, bukan kebiasaan suamiku yang membiarkan mobil dalam keadaan kotor seperti ini. Ini mengindikasikan bahwa memang mereka pergi bersama dengan mobil Mas Adji. Tapi pertanyaannya, apa mereka hanya berdua di mobil? Aku lalu menuju bagasi belakang, dan benar saja, sebuah pot bunga anggrek teronggok di sana menyedihkan. Aku menarik nafas dalam lagi. Ekspektasi ku rupanya masih terlalu tinggi jika berharap Mas Adji akan memberikan sebuah buket anggrek yang dirangkai indah dalam gulungan wrapping paper. Aku lalu mengangkat pot bunga itu, membersihkan sisa tanah di ujung-ujung pot lalu membawanya ke halaman samping. Berdiri diam menatap ke arah anggrek yang sudah hampir layu itu. Aku lalu mengambil skop kecil lalu mulai menggali tanah. Tak terasa air mataku menetes tanpa bisa dicegah. Sambil tergugu Aku terus menggali seukuran pot. "Gin, kamu sedang apa?" suara berat itu mengangetkanku. "Besok saja, sekarang sudah malam," tegur Mas Adji lagi karena tidak ku hiraukan. Entah kenapa Aku merasa cengeng sekali. Biasanya meski tidak sesuai dengan harapan, Aku tetap terima. Karena suami model Mas Adji yang lempeng, harusnya Aku sudah paham. Tapi ini rasanya menyebalkan sekali. "Gin..." panggilnya lagi. Aku malah semakin deras menangis, tergugu dengan suara yang kuredam sekuat tenaga. Mas Adji lalu menangkap tanganku dan melanjutkan niatku menanam anggrek itu di tanah. Menyiramnya dengan air kran lalu mencuci tangan setelahnya. Aku masuk ke dalam rumah meninggalkan Mas Adji. Meneguk air dingin yang ku ambil dari kulkas. "Gina..." "Kamu seharian ini kemana aja, Mas?" tanyaku nyalang. "Kerja," jawabnya santai. "Oh, sibuk banget sampai nggak sempat angkat telepon Aku? Asyik bermesraan sama wanita lain?" Nafasku jadi tersengal-sengal karena marah yang meluap-luap. "Ngaco kamu," Mas Adji lalu meraih gelas di tanganku dan meminum habis sisa air di dalamnya. "Ada wanita lain di mobil kamu, Mas. Dia bahkan kamu ajak ke rumah kita!" geramku pada Mas Adji yang seperti tidak merasa bersalah. Mas Adji memeluk pinggangku dan memepet tubuh kami hingga mentok ke pintu kulkas. "Gin, bisa kamu layani Saya sekarang?" Aku melotot mendengar pertanyaan Mas Adji. Kalimat tanya yang dia ucapkan dengan mata sayu dan nada berat itu, Aku sangat mengerti maksudnya. Dengan santainya dia meminta haknya tanpa berniat meluruskan kesalahpahaman kami. "Gina, Saya mau kamu," ulangnya sambil membelai bibirku lembut. Aroma segar tubuhnya yang baru mandi menggelitik indra penciumanku. Ah, sudah hukum alam kalau yang paling mencintai akan mengalah. Aku memang bucin t***l. Melihat dia memohon seperti itu saja, Aku luluh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD