4. Selamat Ulang Tahun, Ginaku.

1596 Words
Sulaiman Adji Wiryawan, lelaki tampan dengan wajah yang masih satu level dengan Ji Chang Wook itu, sedang mengusap perutku lembut. Dia membelai halus dengan gerakan ke atas, bawah, memutar dan sesekali memijat pinggang, terus berulang. Sangat nyaman hingga membuatku memejamkan mata, hampir tertidur. "Masih sakit perutnya? Saya terlalu kasar ya tadi?" tanya Mas Adji penuh perhatian. Aku menggeleng sambil tersenyum namun tidak membalikkan badan menghadapnya. Melihat dia begitu mengkhawatirkanku rasanya sudah seperti ratu. Buyar sudah ingatan tentang kekesalanku pada Mas Adji tadi. Dia lalu menciumi punggung telanjangku dan berbisik lirih. "Maafkan Saya, Gina." Otak kapasitas pentiumku langsung memproses permintaan maaf Mas Adji yang sangat jarang ku dengar itu. Teringat kalimat Bude Wahyu di tempat Mbak Jihan tadi siang. 'Suami kalau melakukan kesalahan akan bertindak manis di luar kebiasaan untuk menutupi jejak kejahatannya dihadapan istri. Makanya hati-hati!' "Kamu selingkuh?" tembakku tanpa cacicu. Mas Adji mengangkat wajah dan mendengus malas melihat ekspresi ku yang kembali berkaca-kaca. Sebenarnya, Aku juga heran, akhir-akhir ini Aku merasa sangat emosional dan mudah sekali menangis. "Bukan, Gina Rosalina. Kamu percaya Saya selingkuh?" tanyanya dengan nada jengkel. "Percaya," jawabku cepat tanpa mikir, sambil mengangguk-angguk pula. Mas Adji lalu mengangkat telapak tangannya yang menempel di perutku dan memamerkan cincin pernikahan kami. "Saya nggak pernah lepas ini sedetikpun, asal kamu tau." "Yaa terus?" "Nggak kayak kamu, dilepas trus lupa naro," sindir Mas Adji. Aku mencebik protes. "Idih, orang ujung-ujungnya juga selalu ketemu. Gina kan jarang ke luar rumah. Lagian hubungannya sama Mas yang selingkuh apa? Jangan coba-coba ngalihin topik deh, Mas. Kata Bude Wahyu, semua laki-laki itu sama aja. Kalau ada kesempatan trus ada wanita lain yang lebih seksi, kalian pasti tergoda. Makanya istri di rumah harus lebih protektif sama suami." Mas Adji mengecup bibirku sekilas, mungkin gemes melihatku mencebik dan nyerocos kaya kereta api. "Guru kamu salah, Saya bukan laki-laki seperti itu. Cincin ini menjaga Saya dari wanita-wanita seperti yang kamu sangkakan," Mas Adji mencubit pipiku. "Mas, jangan ah. Nanti Gina jerawatan," elakku menjauhkan pipi. "Trus tadi kenapa nggak jawab telepon Aku, chat Aku juga nggak di bales?" Aku mulai mengungkit-ungkit kesalahannya. "Kan lagi kerja. Kamu ganggu Saya kerja," jawab Mas Adji enteng. Aku melonggarkan pelukan suamiku dan bergeser menjauh. Agak tersinggung mendengar kalimat kalau Aku mengganggunya. Bahkan untuk sekedar mengetik pesan singkat dia tidak mampu meluangkan sedikit waktunya, padahal dia tau Aku sedang cemas. Oke, mulai sekarang Aku nggak akan menghubungi dia lagi saat di kantor. Terserah, mau sudah sampai kantor kek, belum makan siang kek, mau kemana, ketemu siapa aja. Jangan di masukkan pikiran lagi, Gina. Mulai sekarang Aku bertekad. "Kamu berduaan di mobil sama wanita itu?" tanyaku lagi masih menahan jengkel. "Wanita yang mana?" "Yang masuk nyelonong ke rumah kita tadi siang dan kamu diam aja," sinisku. "Dian maksud kamu?" Aku mengangguk malas. "Ada yang lain juga. Kita satu tim jadi lebih efisien kalau memakai satu mobil." Mas Adji menjawab sambil bergeser maju, merengkuh tubuhku kembali dalam dekapnya. Oke, bisa diasumsikan dengan botol bekas minum yang berserakan di dalam mobil Mas Adji. Jumlahnya emang banyak dan itu mengindikasi bahwa memang ada lebih dua orang dalam mobil. "Awas kamu ya, Mas. Gina akan hilang kalau kamu berani selingkuh," ancamku yang malah membuat Mas Adji tertawa. Ini orang nggak ada takut-takutnya sama istri yang lagi ngamuk, heran. Boro-boro dibujuk malah diketawain. Asem emang. "Trus buat apa Mas minta maaf tadi?" "Perutnya udah nggak nyeri?" tanya balik Mas Adji menghiraukan pertanyaanku. Wajahnya semakin dekat bahkan hangat nafasnya terasa di wajahku. "Sebenarnya nggak nyeri Mas, cuma nggak enak aja. Kaya kembung tapi nggak kembung, terasa mules tapi nggak mules, keram nggak keram. Nggak tau Gina kenapa, Mas." bingung Aku jelasinnya. Mas Adji membelai pinggangku lembut terus turun lalu mengangkat sebelah kakiku dan membelitkan di pinggangnya. Jadi, pahaku terbuka dengan posisi miring sehingga dengan leluasa dari belakang dia memasukiku... lagi. Dia membalik wajahku dan mencium bibirku rakus. Melahapnya seperti anak kecil yang memakan permen lolipop kesukaan. "Mass kamu.. nggak cape?" tanyaku terbata begitu tautan bibir kami terlepas. Seharian bekerja di lapangan dan malamnya di lanjutkan dengan olahraga ranjang. Wajar kan Aku nanya. "Kamu nggak suka anggrek yang Saya kasih?" jawabnya dengan pertanyaan pula. "Enggak ahh..." Aku menahan tangan Mas Adji yang bermain di dua ujung dadaku, rasanya nikmat sekaligus nyeri, Aku tidak tahan. Belum lagi tubuhku yang terpental-pental karena tekanan dari bawah. "Saya suka lihat kamu ngambek," katanya sambil menahan desahan. Dia terus bergerak walau mulutnya tidak berhenti meracau. Asem emang, ada ya suami yang suka bikin istrinya ngambek. Mas Adji bergerak konstan memperlakukanku dengan lembut dan hati-hati, tidak seperti sebelumnya. Tapi rasanya sama, tetap membuatku melayang dan mabuk kepayang. "Jahat kamu, mass..." Mas Adji terus bergerak, meraba, menjilat. Menyerang dari segala penjuru. Setiap sentuhannya mengantar gelombang listrik yang menyengat nikmat. Hingga akhirnya Aku menyerah, tak kuat menahan aliran yang berbondong-bondong menyerang sekujur tubuh. Aku mengejang dengan perasaan plong luar biasa. Tak lama Mas Adji menyusul dengan memuntahkan cairannya di dalamku. Hangat dan tak terkatakan. Nafas kami berlomba-lomba dengan keringat yang saling menempel di sekujur tubuh. Sangat intim. Aku berbalik untuk melihat wajah tampan suamiku yang memerah. Dia tersenyum semanis madu ke arahku lalu mencium keningku lama. Selanjutnya Mas Adji berbisik lembut di depan wajahku, "Selamat ulang tahun, Ginaku." *** "Pagi-pagi kok makan asinan mangga?" "Kepengen aja, Mas. Hasil manjat kemaren ini, " Aku menyungging senyum bahagia. Kata 'Ginaku' semalam masih terngiang-ngiang. Seolah Mas Adji mengklaim kepemilikannya atasku. "Hmmm," jawabnya. Nah kumat, sindrom ham hem nya Mas Adji. "Mas, bisa nggak ngulang kata yang tadi malam?" Mas Adji menaikkan sebelah alis bertanya tanpa suara. "Yang kamu ngomong itu loh Mas, sebelum kita ketiduran." Aku sudah menggoyang-goyang tangan Mas Adji dan menyenderkan kepala di bahunya. "Selamat ulang tahun..." Aku sengaja menggantung kalimat agar Mas Adji bisa menyambung kembali. "Selamat ulang tahun..." Eh, dia malah mengulang kalimat yang kuucapkan. "Gi..." Aku sengaja memajukan wajah dan melotot agar dia terintimidasi. Sepertinya kesabaranku mulai menipis. Aku yakin dia memang sengaja, padahal sangat mengerti maksudku. "Gi..." ulang Mas Adji lagi. Aku memutar bola mata, malas banget kalau dia sudah pura-pura hilang ingatan begini. "Ih, kelamaan. Semalam Mas bilang 'Ginaku'. Ulang Mas..." pintaku setengah merengek. "Ih, kelamaan. Semalam Mas bilang 'Ginaku'. Ulang Mas..." ucap Mas Adji meniru gayaku. Ya salam, punya suami modelan Mas Adji, enaknya diapain ya? Aku menggeplak lengannya keras lalu bergeser menjauh dari kursinya. Mas Adji tertawa nyaring hingga wajahnya memerah. Heran, pagi-pagi sudah ngajak ribut. "Cih, si yang paling nggak bisa liat istrinya seneng," sinisku padanya dengan bombastic side eyes. "Gin, udah. Nggak usah lucu-lucu, Saya nggak tahan. Muka kamu nggak pantas pasang ekspresi cemberut." Mas Adji beneran masih ketawa sampai matanya berair. Asem emang, istri sendiri diketawain. "Emang muka Gina kenapa?!" tantangku. "Imut. Kayak bayi." Cih, Aku pura-pura nggak terpengaruh, aslinya sih mau salto. Seneng dipuji suami 'imut.' "Pokoknya mulai sekarang, ganti kata 'Saya' jadi 'Aku'!" tegasku padanya. "Kamu kayak ngomong sama karyawan kantor tau nggak Mas. Gina kan sudah hampir dua tahun jadi istrinya Mas Adji," omelku lagi. "Iya istriku, Saya usahakan. Sudah gaya Saya ngomong begini," jawabnya dengan muka lempeng seperti biasa. Mendengar kata 'istriku' lagi-lagi Aku tersipu. Melipat bibir ke dalam, menahan senyum bahagia yang diakibatkan kata sederhana itu. Mas Adji emang nggak romantis, tapi sekalinya ngomong manis, rasanya kayak mau pingsan saking meleyotnya. Entah kapan pergerakannya, tiba-tiba saja dia sudah di sebelahku dan melumat bibirku singkat. "Bibir kamu rasa asinan, jangan banyak-banyak nanti sakit perut," nasehatnya sambil mencubit pipiku. Lagi-lagi Aku menghindar dan menepis tangannya. "Jangan ah Mas, nanti Gina jerawatan!" Aku dan Mas Adji mengucap kalimat itu bersama. "Hafal Saya sama kalimat kamu, Gin," celetuknya setelah berhenti terkekeh. "Cih, gini-gini kata Bu Ningsih muka Aku kayak Zhao Lusi loh Mas. Aku nggak mau ya sampai ada jerawat nongol barang sebiji," ocehku. Iya, salah satu kekurangan ku adalah nggak suka melihat jerawat nongkrong di muka sendiri. Rasanya tuh kayak eiww gitu. Jijik sendiri sama muka sendiri. Ya gitu deh pokoknya. Terdengar sepele sih, tapi nggak ada manusia yang sempurna kan ya. Dan Mas Adji tau betul kelemahan itu, tapi asemnya dia malah kayak sengaja gitu ngubek-ngubek pipiku, biar muka istrinya muncul jerawat. Biar apa coba? Mas Adji hanya terkekeh dan geleng-geleng kepala melihat tingkahku. "Kalau Saya cium kamu malah seneng," celetuknya yang tidak kutanggapi. Oh iya, ngomong soal asinan mangga, Aku jadi teringat kepada Mbak Jihan yang kami hadiahkan asinan mangga kemarin. Kata Bu Ningsih, Pak Ilham suaminya Mbak Jihan kerja di kantor yang sama dengan Mas Adji. "Mas," Aku menggeser duduk di sebelah Mas Adji yang kembali menyuap sarapannya. "Pak Ilham suaminya Mbak Jihan, satu kantor sama Mas Adji ya? Di Pelindo?" bisikku seolah ini rahasia yang takut di dengar orang lain. Mas Adji hanya mengangguk setelah sempat menatapku mendengar omongan random yang keluar dari mulut, siap berghibah. "Bener nggak sih Mas dia selingkuh sama sekretaris bos di kantor? Sekretaris nya yang mana sih Mas? Cantik nggak?" "Jadi tema nya masih tentang selingkuh, nih?" tanya Mas Adji sambil geleng-geleng kepala. Dia nggak tau kali ya, ngeghibah itu bikin ketagihan. Jiwa detektifku meronta-ronta karena kisah yang ku dengar dari Bude Wahyu cuma setengah-setengah. "Jadi bener Mas?" lanjutku antusias. "Jangan suka berasumsi sendiri," jawabnya datar. "Ck, Mas Adji nggak seru! Ini rumornya sudah menyebar satu komplek loh. Katanya mereka bakal cerai setelah Mbak Jihan melahirkan. Kan wanita hamil nggak boleh cerai katanya. Sayang banget kan, Mas? Kasian juga," Aku mencebik kecewa, membayangkan di posisi Mbak Jihan pasti sangat berat. Tapi tidak ada toleransi untuk perselingkuhan. Mas Adji mengacak rambut panjangku yang masih lembab. "Jangan suka ikut campur urusan orang lain, Gina. Kamu cukup urus Saya aja." Aku semakin mencebik masam. "Emang Mas Adji bayi, harus Gina urus terus," ketusku. "Iya. Bayi yang bisa bikin bayi."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD