Ezra dan Haily melompat ke jok belakang mobil sport hitam itu. Tanpa memberi waktu untuk bertanya, pengendara menekan gas, membuat ban belakang berdecit dan asap putih membubung. Mobil melesat keluar dari gang menuju jalan besar.
Di belakang, tiga SUV hitam keluar memburu mereka. Suara peluru mulai memecah keheningan malam. Haily membalas tembakan dengan pistolnya, menghantam kaca depan salah satu SUV, membuatnya oleng dan menabrak tiang lampu.
Mobil itu melaju kencang melewati lampu merah di perempatan Gajah Mada. Klakson bus dan teriakan sopir ojek bercampur jadi satu. Ezra menoleh ke belakang, melihat sebuah SUV mendekat terlalu cepat.
Ezra : “Kiri! Masuk Gang kiri!”
Pengendara memutar tajam, mobil nyaris menabrak tembok sebelum masuk ke jalan pasar malam. Penjual kaki lima berteriak, meja sate terbalik, dan bara api beterbangan.
Salah satu SUV memaksa masuk gang sempit itu, menghantam gerobak bakso. Peluru menghujani mobil, memercikkan bunga api di knalpot. Haily menembak ban depan SUV, membuatnya terguling dan menutup gang.
Mereka kembali ke jalan utama, memotong jalur ke arah jembatan layang. Dari kejauhan, terlihat sebuah truk besar parkir melintang.
Pengendara misterius: “Pegangan yang kuat.”
Ia menekan gas sampai jarum speedometer nyaris mentok, lalu memiringkan mobil ke sisi bak truk, Napas Haily tertahan saat mereka berhasil lolos di celah sempit itu. SUV terakhir mencoba mengikuti—dan gagal. Ledakan besar membakar malam.
Mobil berhenti di tempat parkir gedung tua. Pengendara melepas maskernya
Ezra terkejut. “Kau…?”
Ternyata dia Ares, mantan anggota tim Ezra yang dikira sudah tewas tiga tahun lalu dalam misi di Filipina.
Ares: “Kita punya banyak hal untuk dibicarakan… sebelum Viper membunuh kita semua.”
Hujan deras mulai turun, menampar wajah mereka. Lampu kota berkilauan di kejauhan, namun suasananya seperti kuburan—sunyi, kecuali suara napas mereka yang terengah.
Ares menatap Ezra dengan mata tajam yang sama seperti dulu, hanya kini ada garis lelah dan luka lama di wajahnya.
Ezra : “Aku lihat sendiri kau terbakar bersama helikopter di Zamboanga. Bagaimana kau…?”
Ares: “Tidak semua yang kau lihat adalah kenyataan.”
Ares menyalakan rokok, lalu menghembuskan asap perlahan.
Ares: “Aku diburu, Ezra. Sama seperti sekarang. Bedanya, waktu itu aku tidak tahu siapa musuhnya. Sekarang… aku tahu. Shadow Viper bukan cuma sindikat. Mereka dijalankan oleh orang yang kita kenal.”
Haily mengernyit. “Siapa?”
Ares menatap keduanya dengan tatapan berat.
Ares: “Kolonel Jeriko.”
Ezra terdiam. Nama itu bagai petir di siang bolong. Kolonel Jeriko adalah pimpinan operasi rahasia mereka dulu—orang yang mereka percayai sepenuhnya.
Ezra : “Itu tidak masuk akal… dia yang membentuk tim kita.”
Ares: “Justru itu. Dia membentuk tim bukan untuk misi negara, tapi untuk membersihkan jalan bagi Shadow Viper. Dan sekarang… kita adalah ancaman.”
Tiba-tiba, suara dengungan rendah terdengar di udara. Haily menengadah—sebuah drone bersenjata melayang di atas mereka, lampu merahnya berkedip.
Haily : “Kita ditemukan!”
Peluru otomatis menghujani atap. Ares menarik Ezra dan Haily menuju pintu tangga darurat. Ledakan menghancurkan sebagian tembok, membuat api menjilat udara hujan.
Saat mereka berlari menuruni tangga, Ares berteriak:
Ares: “Kalau kita mau selamat, kita harus ke Pelabuhan Tanjung Priok malam ini! Di sana ada satu-satunya orang yang bisa membongkar Viper!”
Jam menunjukkan pukul 01.27 dini hari ketika mereka tiba di area pelabuhan. Udara asin bercampur aroma solar dan karat. Lampu-lampu sodium memandikan gudang-gudang tua dengan cahaya kekuningan yang muram.
Ares memberi masing-masing pakaian pekerja pelabuhan lusuh.
Ares: “Jangan banyak bicara. Di sini, satu tatapan salah bisa bikin kita masuk ke laut dengan beton di kaki.”
Mereka berjalan melewati tumpukan kontainer, berpura-pura seperti buruh malam. Di kejauhan, terlihat kapal kargo besar dengan logo burung ular—simbol Shadow Viper.
Haily menatap Ezra, berbisik:
“Kita cuma ambil informasi atau sekalian sabotase?”
Ezra : “Kita ambil informasi dulu. Kalau ada kesempatan… kita buat kapal itu tak pernah berlayar lagi.”
Di dekat gudang 7B, Ares memberi kode tangan.
Seorang pria berjaket kulit keluar dari kegelapan. Wajahnya penuh bekas luka, satu matanya ditutupi kain hitam.
Ares: “Kenalkan, ini Theo. Mantan penyelundup Viper. Dia yang tahu jalur distribusi mereka.”
Theo menatap mereka curiga.
“Kalau aku ketahuan ngomong sama kalian, leherku digorok sebelum subuh. Jadi cepat.”
Namun sebelum Theo sempat membuka peta lipatnya, terdengar peluit panjang di udara—tanda bahaya. Lampu sorot menyalakan area gudang, dan belasan pria bersenjata keluar dari balik kontainer.
Theo (berbisik panik): “Kita dijebak!”
Ares langsung mendorong Ezra dan Haily ke belakang tumpukan karung. Tembakan pertama meledak, memecahkan kaca gudang. Ezra menarik pisau dari sepatu botnya, Haily menodongkan pistol, sementara Ares melemparkan granat asap.
Kabut putih menelan seluruh area, dan perkelahian jarak dekat dimulai. Pukulan, tendangan, dan suara baja beradu memenuhi malam.
Di tengah kekacauan, Theo berteriak:
“Kalau mau tahu siapa bos Viper sebenarnya, kalian harus ke Pulau Serpent! Tapi itu sarang mereka—sekali masuk, sulit keluar hidup-hidup!”