Suara alarm meraung memecah kesunyian. Lampu darurat merah berkedip-kedip, menciptakan bayangan yang bergerak di sepanjang lorong markas.
Ezra menarik pistolnya, Haily meraih senapan serbu yang tergantung di dinding. Mereka bergerak cepat menuju koridor utama.
Haily : “Kalau Sergei bisa kabur, berarti ada orang dalam.”
Ezra : “Fokus. Kita harus keluar hidup-hidup dulu.”
Tiba-tiba BRRRTTT! peluru menghujani dari ujung lorong. Pecahan beton berterbangan. Dua pria berpakaian taktis dan bermasker hitam bergerak dengan formasi rapi—senjata mereka dilengkapi peredam.
Ezra meluncur ke samping, berguling di balik meja terbalik. Haily membalas tembakan, satu musuh tumbang, tapi yang lain tetap maju.
Di ruang kontrol, monitor CCTV memperlihatkan lebih banyak penyerbu masuk dari pintu depan dan atap. Jumlah mereka setidaknya belasan.
Ezra menekan tombol di sabuknya—meledakkan pintu keamanan di sisi barat, menciptakan jalur keluar.
Ezra : “Haily !! Ke sisi barat! Sekarang!”
Mereka berlari melewati lorong sempit, melepaskan tembakan sambil mundur. Asap mesiu bercampur bau logam darah memenuhi udara.
Saat hampir mencapai pintu keluar, tiga penyerbu melompat dari lantai atas, menghadang mereka. Pertarungan berubah jadi jarak dekat.
Ezra menendang salah satu di lutut, meraih pisau musuh, lalu menusuknya cepat di sisi leher. Haily mematahkan leher lawannya dengan satu gerakan keras.
Yang terakhir mencoba melarikan diri, tapi Haily menembaknya di punggung.
Mereka akhirnya keluar ke halaman belakang. Udara malam menusuk kulit, napas mereka terengah. Tapi sebelum mereka bisa tenang, sebuah helikopter hitam tanpa tanda pengenal muncul di atas mereka.
Dari dalam, terdengar suara lewat pengeras:
Suara pria: “Ezra… Haily… Shadow Viper ingin bertemu kalian.”
Balutan angin dari baling-baling helikopter membuat debu berputar di halaman. Dua tali turun dari pintu samping, dan empat pria bersenjata lengkap melompat turun.
Ezra dan Haily sudah siap menembak, tapi satu gerakan tangan dari pria yang berdiri di pintu helikopter membuat mereka berhenti. Aura kekuasaan dan ancaman mengalir begitu saja dari sosok itu.
Pria itu turun perlahan. Tubuhnya tegap, wajahnya tertutup topeng setengah yang hanya menampakkan mata—mata dingin yang seakan menembus ke pikiran mereka.
Shadow Viper: “Kalian membuat kekacauan terlalu cepat. Tapi aku tidak ingin membunuh kalian… belum.”
Haily mencengkeram erat senjatanya. “Lepaskan Sergei. Sekarang.”
Shadow Viper tertawa pelan, nada yang lebih mengancam daripada melegakan.
Shadow Viper: “Sergei hanya pion. Kalian adalah bidak yang sebenarnya. Aku hanya ingin menawarkan… permainan.”
Ezra maju selangkah. “Permainan apa?”
Shadow Viper: “Sebuah perburuan. Aku berikan waktu tiga hari. Cari aku… sebelum aku memulai pembersihan kota ini.”
Ia melemparkan sebuah drive kecil ke tanah.
Shadow Viper: “Petunjuk pertama… Jakarta tidak pernah tidur.”
Tanpa menunggu jawaban, Shadow Viper memberi isyarat. Pasukannya mundur, tali helikopter terulur, dan dalam hitungan detik mereka terangkat kembali ke udara.
Ezra mengambil drive itu, memasukkannya ke saku. Haily menatap langit malam yang kosong.
Haily : “Kalau benar dia mulai ‘pembersihan’, ribuan orang bisa mati.”
Ezra : “Maka kita harus memenangi permainan ini.”
Hujan tipis membasahi jalanan Jakarta. Lampu-lampu neon dari warung kopi, klub malam, dan papan iklan memantul di aspal licin. Deru knalpot dan klakson bercampur dengan suara musik dangdut dari kejauhan.
Ezra dan Haily menyusuri gang sempit di kawasan Glodok, mengikuti koordinat yang muncul setelah drive Shadow Viper dibuka. Petunjuk itu mengarah pada sebuah “rumah judi bawah tanah” yang disebut The Dragon’s Den.
Di depan pintu, dua penjaga bertubuh besar memeriksa setiap tamu. Ezra dan Haily mengenakan pakaian malam—Ezra dengan jas hitam, Haily dengan gaun merah dan wig pendek—untuk menghindari kecurigaan.
Penjaga: “Undangan?”
Ezra tersenyum tipis, menyelipkan kartu hitam yang ia dapat dari kontak lama di Interpol.
Penjaga memindai kartu itu, mengangguk, lalu membuka pintu.
Di dalam, suasana hiruk pikuk: meja poker, tarian eksotis, dan transaksi senjata di pojok ruangan. Namun, perhatian mereka langsung tertuju pada seorang pria tua berkacamata hitam yang duduk di meja pojok—Pak Hendra, mantan intel yang pernah menjadi mentor Ezra.
Pak Hendra ; “Aku tahu kau akan datang… Shadow Viper ingin kau melihat sesuatu.”
Ia meletakkan sebuah amplop di meja. Begitu dibuka, foto-foto jatuh ke pangkuan Ezra—foto korban pembunuhan di seluruh Jakarta, semuanya memiliki tanda ular di leher.
Haily : “Ini baru terjadi… beberapa jam lalu.”
Pak Hendra : “Ya. Dan ini baru permulaan. Viper punya daftar nama… dan namamu ada di urutan keenam.”
Sebelum mereka sempat bertanya lebih lanjut, suara letusan senjata menggema di dalam ruangan. Lampu padam. Orang-orang berteriak, meja terbalik, dan bayangan-bayangan bersenjata masuk dari pintu belakang.
Ezra menarik Haily ke bawah meja.
Ezra :“Kita keluar sekarang!”
Mereka bergerak cepat ke pintu darurat, menembak musuh yang menghadang. Begitu keluar ke lorong belakang, mereka disambut oleh suara mesin mobil sport.
Seorang pria berjaket kulit hitam, dengan masker yang menutupi sebagian wajah, menekan gas mobil sportnya.
Pria itu: “Kalau mau hidup, naik sekarang!”