Pelabuhan Sunda Baru tengah malam selalu punya aroma khas—campuran bau garam laut, solar, dan besi tua. Lampu-lampu sorot besar menyoroti deretan kontainer, sementara suara derek dan mesin kapal bergema di kejauhan.
Ezra dan Haily tiba di area dermaga dengan mobil SUV hitam, mesin dimatikan jauh sebelum gerbang utama. Mereka memilih menyusup lewat jalur belakang, memanfaatkan tumpukan kontainer sebagai perlindungan.
Haily (berbisik): “Info dari informanmu akurat?”
Ezra : “Sergei tak akan ke bandara. Dia akan keluar lewat laut. Dan kapal kargonya berangkat 20 menit lagi.”
Dari balik teropong malam, Ezra melihatnya—Sergei Volkov, mengenakan jaket kulit gelap, berjalan cepat diapit dua pengawal. Mereka menuju kapal kargo Orestia yang bersandar di dermaga 17.
Namun, Ezra juga melihat sesuatu yang membuatnya mengencangkan rahang.
Feri berdiri di dekat tangga kapal, seakan menunggu.
Ezra memberi isyarat ke Haily.
Keduanya bergerak cepat di antara kontainer, langkah senyap di atas baja dingin. Angin laut menusuk, membuat suara kain dan logam terdengar lebih jelas.
Ketika jarak sudah cukup dekat, Ezra mengeluarkan pistol dengan peredam. Tiga peluru ditembakkan cepat.
DUP-DUP-DUP!
Dua pengawal Sergei jatuh, satu lagi melarikan diri sambil berteriak.
Sergei membalikkan badan, wajahnya pucat ketika melihat Ezra. Tapi Feri langsung menariknya ke balik peti kayu besar.
Feri : “Cepat naik! Mereka sudah di sini!”
Sergei: “Aku takkan naik kapal sebelum—”
Ledakan kecil mengguncang dermaga. Haily melempar granat kilat, cahaya menyilaukan memecah kegelapan.
Ezra berlari ke depan, menghindari peluru yang memantul dari baja kontainer.
Akhirnya, ia berhadapan langsung dengan Feri lagi.
Kali ini tidak ada penonton, tidak ada musik, hanya suara ombak dan tembakan di kejauhan.
Feri : “Kau tak akan menang, Ezra. Ini wilayahku.”
Ezra : “Mungkin… tapi aku selalu pulang dengan target di tangan.”
Mereka bertarung habis-habisan—tinju, tendangan, dan pukulan keras di atas dermaga basah. Air laut memercik ketika tubuh mereka menghantam pagar besi.
Saat duel berlangsung, Sergei mencoba kabur ke kapal. Tapi Haily yang sudah memutar posisi menghadangnya, pistol terarah tepat di kepalanya.
Haily : “Perjalananmu berakhir di sini, Pak Diplomat.”
Kapal kargo mulai membunyikan klakson tanda keberangkatan. Sementara itu, Ezra berhasil memukul Feri hingga jatuh ke laut. Pria itu menghilang di kegelapan, terbawa arus.
Ezra dan Haily menyeret Sergei ke mobil mereka, meninggalkan pelabuhan sebelum pasukan bersenjata Sergei sempat tiba.
Ruangan itu dingin, hanya diterangi satu lampu gantung tua yang berayun pelan.
Di tengah meja baja, Sergei duduk dengan tangan diborgol, napasnya berat. Di balik cermin satu arah, dua agen memantau, mencatat setiap gerakannya.
Ezra masuk tanpa suara. Jaket kulitnya masih basah terkena percikan ombak pelabuhan. Haily berdiri di sudut, kedua tangannya terlipat, tatapannya menusuk.
Ezra : “Kita langsung saja. Siapa dalang di balik semua ini?”
Sergei (tersenyum sinis): “Kau pikir aku akan menjawab hanya karena kau mengikatku di ruangan kumuh ini?”
Ezra menaruh pistolnya di meja, bukan untuk menembak—tapi untuk memberi pesan bahwa kesabaran nya punya batas.
Ezra berjalan pelan mengitari Sergei, suaranya rendah namun tegas.
Ezra : “Kami tahu kau bukan pemain utama. Ada seseorang yang memberimu perintah. Sebutkan namanya… atau kau akan menghilang seperti Feri.”
Mata Sergei sempat berkedip—reaksi kecil, tapi cukup bagi Ezra untuk tahu bahwa nama Feri memberi tekanan.
Sergei: “Kau tak akan mengerti… ini bukan sekadar perdagangan senjata. Ini adalah… pembersihan.”
Haily : “Pembersihan?”
Sergei: “Satu nama… Shadow Viper. Dia mengendalikan jalur senjata, politik, bahkan militer bayangan. Dan… dia ada di Jakarta sekarang.”
Keheningan menggantung. Haily saling berpandangan dengan Ezra—mereka pernah mendengar nama itu di misi lama, tapi selalu dianggap legenda yang tak terbukti.
Sebelum Ezra bisa bertanya lebih jauh, lampu ruangan tiba-tiba mati. Bunyi alarm meraung dari lorong luar.
Haily : “Sial… ada penyusup !”
Saat lampu darurat menyala, borgol Sergei kosong. Kursinya terjatuh. Dia menghilang…