Jakarta malam itu berkilau. Jalan Sudirman dipenuhi cahaya lampu gedung pencakar langit yang memantul di kaca-kaca, sementara deretan mobil mewah berbaris di depan Hotel Grand Arcadia, tempat pesta diplomat asing digelar.
Di dalam sebuah mobil sedan hitam yang terparkir di seberang jalan, Ezra memperbaiki dasi hitamnya.
Setelan tuxedo membuatnya terlihat seperti pebisnis mapan-tidak ada yang akan menebak bahwa di balik jasnya terselip dua pistol Glock dan sebilah pisau lipat.
Haily, di kursi penumpang, mengenakan gaun hitam panjang dengan belahan tinggi. Rambutnya terurai, bibirnya merah pekat. Cantik, elegan... tapi di kaki kanannya tersembunyi pistol mini berperedam.
Haily : "Ingat, ini pesta... bukan medan perang."
Ezra : "Pesta ini justru medan perang, hanya senjatanya berbeda."
Mereka masuk lewat pintu utama, melewati pemeriksaan keamanan yang ketat. Petugas memindai undangan palsu yang sudah disiapkan Haily sebelumnya-hasil kerja hacker bayaran.
Begitu memasuki ballroom, mereka disambut musik jazz lembut, aroma parfum mahal, dan gelas-gelas wine berkilau di bawah lampu kristal. Diplomasi, bisnis, dan intrik bercampur dalam percakapan di setiap sudut.
Target malam ini adalah Sergei Volkov, diplomat asal Eropa Timur yang dikenal punya hubungan rahasia dengan jaringan senjata internasional. Menurut info, ia akan bertukar dokumen rahasia dengan seseorang di pesta ini.
Ezra berpura-pura mengambil minuman dari pelayan, matanya mengamati ruangan. Haily sudah bergerak ke arah lain, menyamar sebagai tamu yang tersenyum manis kepada para pejabat.
Tiba-tiba, Ezra melihatnya-Sergei, berdiri di dekat balkon, berbicara dengan seorang pria berkacamata hitam. Ezra perlahan mendekat, berusaha menangkap isi percakapan.
Namun, sebelum ia cukup dekat, sebuah suara dari belakang membuatnya kaku.
"Ezra Dirgantara... tak kusangka kau masih hidup."
Ia menoleh.
Dan di hadapannya, dengan setelan jas putih yang mencolok, berdirilah Feri Ginanjar-mantan rekannya yang kini menjadi musuh.
Ezra menatap Feri tajam. Orang itu tersenyum tipis, tapi matanya dingin seperti baja.
Feri : "Kau terlalu berani, Ezra. Tapi malam ini... kau tak akan keluar hidup-hidup."
Sebelum Ezra sempat merespons, Feri memberi isyarat kecil dengan jarinya. Dua pria berbadan besar di jas hitam muncul dari kerumunan, mendekat dengan langkah mantap.
Musik jazz masih mengalun, para tamu belum sadar akan ketegangan yang memanas di sudut ruangan.
Ezra mengangkat gelas wine, pura-pura tersenyum.
Ezra : "Kalau begitu, kita mulai pestanya lebih cepat."
Ia melempar gelas itu ke wajah salah satu penjaga, kaca pecah, wine merah menyembur. Dalam satu gerakan cepat, Ezra menarik pistol Glock dari balik jasnya.
DOR!
Suara tembakan teredam, salah satu penjaga tumbang. Panik mulai menyebar. Musik berhenti. Teriakan terdengar dari berbagai sudut ballroom.
Di sisi lain ruangan, Haily yang sedang memantau Sergei segera bergerak. Ia melompat ke meja, menendang salah satu pelayan yang ternyata menyamar sebagai pengawal bersenjata. Piring dan gelas beterbangan, lampu kristal bergetar.
Sergei mencoba kabur lewat balkon, tapi Haily menembak kaki salah satu anak buahnya, membuat pria itu jatuh menimpa meja makan yang penuh hidangan mahal.
Ezra kini berhadapan langsung dengan Feri.
Mereka saling mengitari, pistol terarah, mata saling mengunci.
Feri : "Kau selalu jadi duri di sisiku. Tapi malam ini, aku akan cabut duri itu."
Ezra : "Kau harus hidup cukup lama untuk mencobanya."
Sebelum duel bisa dimulai, Sergei berteriak dari balkon sambil menarik granat asap dari saku jasnya.
PSHHHHH!
Asap putih tebal memenuhi ruangan. Suara tembakan dan teriakan bercampur, tamu-tamu berlarian mencari jalan keluar.
Di tengah kekacauan, Ezra berusaha menemukan Haily. Ia berhasil meraih tangannya tepat sebelum dua pria bersenjata mencoba menahan mereka. Tanpa ragu, keduanya melompat ke luar lewat balkon, mendarat keras di taman hotel.
Sirene polisi mulai meraung di kejauhan. Misi mereka gagal total-dokumen Sergei masih di tangannya.
Haily : "Kita kehilangan target."
Ezra : "Belum... kita hanya kehilangan satu kesempatan. Dan aku tahu di mana dia akan muncul lagi."