PART 1

1687 Words
Kenzy Alvarino, menjadi billionare diusia muda menjadi suatu kebanggan baginya. Tanpa bantuan orang tuanya yang memiliki usaha diatas rata-rata, justru Kenzy berjuang sendiri dengan jerih payahnya. Beberapa perusahan, hotel dan resort di belahan wilayah, bahkan klub-klub mewah membuatnya tak akan kehabisan uang. Usaha yang bergerilya dibawah tanah tentu saja sudah digeluti sejak dulu. Bahkan kekayaannya diatas tanah tak sebanding dengan pundi-pundi yang dihasilkan dibawah sana. “Sayang, kau akan hadirkan diulang tahun pernikahan kami?” Ucap Berlina, wanita paruh baya yang kecantikannya seperti tak lekang oleh waktu. “Tentu, mom. Kau ingin hadiah apa dariku?” Suara pria di telepon, Kenzy Alvarino. “Aku mau cucu.” Berlina tertawa mendengar permintaannya sendiri. “Common, mommy. Apapun selain itu?” Kenzy kesal sekali dengan permintaan ibunya yang itu-itu saja. Bukannya tak sanggup memberikan cucu, ia hanya belum bertemu gadis yang pantas dengannya. Hanya saja belum ada wanita yang berhasil singgah dihatinya. Selama ini ia hanya bergonta-ganti pasangan di ranjang saja. Ia hanya memanggil wanita terbaik di salah satu klubnya dan semua selesai di hari berikutnya. Pesta perayaan kedua orang tuanya adalah hal terindah bagi Kenzy. Melihat ayah dan ibunya hidup rukun hingga usia sekarang menjadi tolak ukur baginya mencari wanita. Belum ada wanita seindah ibunya. “Mom, Dad. Happy anniversary.” Kenzy menghampiri orang tuanya yang tengah menajdi pusat perhatian banyak tamu sekarang. Brian, ayah Kenzy merentangkan tangannya hendak memeluk anak tunggalnya. “Hey, boy. Kau datang juga akhirnya.” Kenzy membalas pelukan ayahnya. Tak lupa memeluk ibu kesayangannya. “Mana mungkin aku tidak datang di hari bahagia kalian.” “Dad, aku diluar ya. Disini penuh orang tua.” Kenzy mengejek ayahnya dan beranjak dari mereka. Ia menuju ke balkon dan menyalakan rokoknya. Ia tak terlalu suka dengan pesta formal seperti ini. Biasanya ia lebih memilik menyendiri dan menyesap rokok atau minum wine. “Ehemm, permisi.” Lamunannya terganggu oleh suara wanita yang sekarang sedang menatapnya kesal. Ia masih tak beranjak dari tempatnya duduk. “Ada apa?” ucap Kenzy datar. “Anda menduduki clutch milikku.” Sembari menunjuk barang yang telah diduduki pria besar itu. “Ups. I don’t know.” Keny beranjak dari kursi yang didudukinya dan benar saja ada clutch yang gepeng karena dirinya. Mata si pemilik clutch itu terbelalak. “Oh my god, ini rusak.” Ia mengambil apa yang menjadi miliknya dan membolak balik ta situ. Kenzy masih diam memperhatikan wanita yang saat ini tengah kesal. “Aku itu salahku? Baiklah aku akan menggantinya.” Pandangan wanita itu berbalik kearah Kenzy. Menatap tajam bola mata coklat pria mapan itu. “No, thanks. Aku lebih dari mampu untuk membeli ini.” Wanita itu pergi meninggalkan Kenzy seorang diri di balkon. “Orang aneh.” Ting. Temui Daddy. Kenzy menghela nafas kasar dan segera masuk ke ballroom mencari ayahnya. “Son.” Brian melambaikan tangannya. Kenzy segera menghampiri ayahnya. “Kenapa Dad?” Brian menarik Kenzy mencari tempat yang sedikit sepi dari tamu undagannya. Kenzy pun bingung dengan tingkah ayahnya. “Dad, what’s wrong?” dahinya mengernyit bingung. “Look. Pria itu tadi menemui daddy.” Sambil menunjuk ke seorang tamu undangan yang datang bersama keluarganya. “and then.” “Dia meminta bantuan untuk perusahaannya yang terancam bangkrut. Jujur saja perusahaannya tak begitu menarik. Mungkin saja kau mau. Kalau tidak pun tak masalah. Daddy akan menolakya.” Kenzy masih berpikir, mempertimbangkan penjelasan tentang perusahaan itu. Pandangannya tertuju pada wanita yang bersama dengan pria paruh baya yang usianya hampir sama dengan ayahnya. “Who’s the girl?” “His daughter. Calon penerus perusahaan bangkrut itu. She’s smart, tidak seperti ayahnya yang mudah serakah.” “Can I just flirting with her?” Kenzy memainkan matanya pada ayahnya. “Anything you want.” Brian terkekeh dengan tingkah anaknya. Memang buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Dulu brian sering bermain dengan wanita sebelum bertemu dengan istri tercintanya. “Daddy akan bicara padanya dan besok datanglah ke kantornya.” “Ok, Dad.” *** “Benarkah tuan? Kau mau membantuku?” Melvin sangat antusias dengan Brian saat ini. “Bukan aku. Anakku bersedia membantumu. Dia lebih kompeten daripada aku.” “Apapun itu, terimakasih tuan. Kebaikanmu tak akan ku lupakan.” Mereka tertawa riang gembira ditengah pesta. *** Hari ini Kenzy akan menemui Melvin di kantor miliknya. Ia bersemangat sekali dapat mainan baru. Bukan perusahaannya, tapi gadis yang akan jadi mainan barunya. “Selamat pagi, Mr. Alvarino. Senang bertemu denganmu.” “Pagi, Mr. Melvin. Ah, panggil saja aku Kenzy. Bukankah aku seusia anakmu?” Melvin masih antusias dengan kedatangan Kenzy. “Baiklah Kenzy. Kau tau kana pa yan terjadi padaku? Aku sangat butuh bantuanmu.” “Aku tau. Makanya aku datang kesini untuk bernegosiasi.” “Baiklah. Apa syarat yang kau mau?” Kenzy diam beberapa saat untuk membuat Melvin penasaran. “Aku akan mengakuisisi perusahaanmu atas namaku.” “A-apa? Bukankah aku hanya meminta bantuan penanaman saham?” “Ya, memang seperti itu. Tapi, kurang menarik menurutku.” “T-tapi….” “Tenang saja. Aku tak akan mengubah manajemennya. Aku hanya memindahkan hak milik. Kau tetap memegang posisimu saat ini dan aku sebagai owner.” Melvin masih menimbang persyaratan yang diberikan Kenzy. Bukan hal mudah tentunya melepaskan apa yang dibangun dari nol. Tapi kalau tak tak menjualnya sudah dipastikan perusahaan akan gulung tikar dan mereka tak punya apapun. Melvin menarik nafas dan menghembuskan kasar. “Baiklah aku bersedia asalkan aku tetap menjadi CEO perusahaan ini.” “Tunggu…” “Kenapa?” Melvin mengernyitkan dahi. “Masih ada syarat kedua.” “Apa belum puas kau memiliki perusahaanku?” Melvin memandang kesal. “Aku ingin putrimu menjadi istriku.” “APA?” Melvin terkejut dengan ucapan Kenzy. “Putri yang kau ajak ke pesta orang tuaku. Aku ingin dia.” Melvin masih tak mampu berkata-kata. “Pikirkanlah. Dua hari lagi aku akan datang berkunjung ke rumahmu untuk makan malam. Aku hanya ingin mendengar jawaban ya atau tidak. Permisi.” Kenzy meninggalkan kantor Melvin dengan perasaan gembira. Sedangkan Melvin masih shock dan tau harus berbuat apa. Syarat yang diajukan Kenzy sungguh konyol. Mengapa harus membawa putrinya dalam perjanjian perusahaan. Sejak pertemuan pertamanya dengan Krysan di balkon saat pesta orangtuanya sungguh menarik. Gadis pemberani yang berhasil memarahinya untuk hal sepele dan sikap angkuhnya yang tak mau menerima permintaan maaf Kenzy. Saatnya membuat gadis itu jera. Malam itu juga Kenzy meminta asistennya untuk mencari tau seak terjang Melvin di dunia bisnis, begitu juga kondisi keluarganya. “Jadi seperti ini, dasar anak manja.” Info yang didapatkan Kenzy sangat detail. Bagaimana sikap Melvin yang berbeda kepada anaka sulung dan bungsu. Bagaimana ia menaruh harapan yang sangat besar kepada Krysan. Anak pertamanya sungguh berprestasi di dunia bisnis, Melvin mendidiknya dengan baik untuk menjadi penerusnya. Seluruh kasih sayang dicurahkan penuh pada Krysan. Begitu juga dengan kondisi kesehatan Krysan yang menyeret adiknya menjadi korban keegoisan ayahnya. “Gadis malang. Tapi kau tak menarik. Kakakmu lebih indah ku permainkan.” Sembari menatap foto Krystal, anak kedua Melvin. *** “Ayah, apa yang kau lakukan? Kenapa harus aku?” Krysan memandang ayahnya dengan tatapan nanar. Seolah dirinya dijual ayahnya sendiri. “Sayang, ini satu-satunya jalan menyelamatkan perusahaan kita. Dan setelah kalian menikah perusahaan itu akan jadi milikmu. Seperti keinginanmu.” “Tapi haruskah dengan cara ini? Ayah aku tak mengenalnya.” Krysan mulai menangis. Melvin tak sampai hati melihat anak emasnya menangis seperti ini. “Maafkan ayah.” “Kau tau kenapa ayah memintamu? Karna Kenzy orang yang pantas untuk bersanding denganmu. Dia hebat. Bahkan lebih dari ayahnya, apalagi aku.” Melvin menatap netra putrinya dengan sungguh-sungguh. “Kau tau ayah tak akan menjerumuskanmu ke hal yang tidak baik. Ayah melakukan apapun demi kebaikanmu. Kau tau itu?” Krysan mengangguk pelan dalam tangisnya. “Baiklah ayah.” Melvin memeluk Krysan. “Ayah sayang padamu, nak. Ayah setuju karna dia pria yng sederajat dengan kita.” Tak ada hal yang tak diceritakan pada adiknya. Meskipun ayahnya pilih kasih, namun Krysan menyayangi adiknya dengan tulus. Ia selalu berbagi cerita apapun. “Benarkah kak? Kakak akan menikah? Ceritakan padaku pria seperti apa yang beruntung mendapatkanmu?” Krystal sangat antusias dengan cerita kakaknya yang akan segera dipinang dengan pria kaya. “Aku tak tau seperti apa dia. Tapi dia yang menyelamatkan perusahaan kita. Bisa dibilang ini perjodohan.” “Maksud kakak?” Krystal mengernyitkan dahi tanda tak mengerti. “Kau tau kan kalau perusahaan kita diujung jurang? Pria itu bersedia membantu kita jika kakak mau jadi istrinya. Dan ayah setuju. Katanya pria itu sangat pantas bersanding denganku.” “Dia tampan, badannya bagus, banyak diidolakan wanita, dan jelas dia dari keluarga berada.” “Aku percaya ayah memilihkan pria berkualitas.” Kysan memegang tangan adiknya. Memberikan senyuman manisnya. “Nanti kamu juga akan dapat pria yang baik.” “Aku tak memikirkan hal itu kak. Yang terpenting kakak bahagia.” Krytal tersenyum, namun hatinya sakit. Sangat sakit. “Stop memikirkan kebahagiaan kakak. Kau juga harus bahagia. Ok?” Krysan bosan mengomeli adiknya yang selalu memikirkan dirinya tanpa peduli diri sendiri. “Krystal, kau dengar kakak?” “I-iya kak. Sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan.” Krystal ragu dengan hal yang akan diucapkan pada kakaknya. “Ada apa?” Krystal menarik laci nakas dan mengambil selembar kertas bercorak hitam berkilap. Ia menyerahkan kertas itu pada Krysan, membiarkan kakaknya membaca dengan seksama. “Kau ingin aku hadir?” “Aku…. Aku hanya ingin memberikannya saja. Kalian tak harus datang.” Ucap Krystal lirih. “Ayo kita bilang pada ayah dan ibu.” Krysan menarik adiknya menemui ayah dan ibunya di ruang tv. “Tidak, kita ada acara makan malam dengan calon suamimu.” Tegas Melvin pada kedua putrinya. Krystal hanya menunduk sendu bersembunyi di belakang kakaknya. Sedangkan Krysan sudah berkacak pinggang kesal dengan ayahnya yang menolak terang-terangan menghadiri acara teater adiknya. “Kau tetap bisa ikut acaramu sendiri, kau tak perlu ikut makan malam dengan calon suami kakakmu. Kau paham itu?” Melvin menatap tajam Krystal. “Paham ayah.” Lirih Krystal. Itulah alasannya tak mau memberikan undangan acara teaternya. Ia sudah memprediksi keluarganya tak akan mau hadir meskipun kali ini ia akan menjadi peran utama.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD