3. Syarat Mutlak

1580 Words
Al @itsjustallaboutme Call Me Al, F28, height 168 cm, weight 56 kg. Dom Jakarta. Looking a younger or older male for ONS at New Year’s Eve. Note: Must bring the latest medical check up results. Reply Dante @Idareyou Nyari temen ONS atau nyari karyawan? Pake medical check up segala. Helium @iamhell Kocak, mana ada yang mau repot-repot medical check up? Dims @hisnamedims Aneh. Logika aja. Rumah sakit mana yang nerima medical check up di libur nataru begini. Senyuman tipis terukir manis dari wajah tampan pria muda yang sedang membaca hal menarik pada halaman sosial medianya. Kepalanya menggeleng kecil—heran. “Ada-ada saja.” Di tengah sibuknya bekerja dan mencari inspirasi, selalu saja ada hal-hal menarik yang bisa membuatnya tertawa. Ya… ia sedang bekerja, membuka sosial media baginya bukan hanya sekedar main-main, tapi sedang melihat bagaimana trend yang ada di pasaran. Mencari celah untuk dijadikan peluang agar dirinya mendapatkan keuntungan yang lebih banyak. Oh ya pria muda itu, Mark William Uwais seorang COO muda berusia 24 tahun, pewaris tunggal PT Saputra Development Tbk, salah satu perusahaan terkemuka yang bergerak di bidang properti. Mark merupakan pria muda yang sangat ambisius dan bertekad dalam mencapai setiap kesuksesan di semua proyeknya. Sehingga bukan lagi rahasia umum jika Mark lebih sering menghabiskan waktu dengan bekerja daripada hanya main-main tak berguna. Tok tok! “Selamat siang Pak. Lima belas menit lagi anda akan meeting dengan tim pemasaran.” “Hm.” Gumamnya. “Kalau begitu saya permisi. Saya akan kembali dalam lima belas menit.” “Tunggu.” “Ya Pak Mark.” “Kamu bilang saya akan meeting tapi kamu tidak memberikan bahan apapun? Kamu ini sedang bercanda atau bagaimana?” “Seingat saya, saya sudah memberikannya kemarin Pak.” “Jadi maksudmu saya pelupa?” “Tidak, maksud saya bukan begitu. Maafkan saya. Saya akan segera mencetak dokumen baru. Permisi Pak.” Mark mendengus kecil, sebal. Baru saja ia akan menyandarkan punggung, pintu itu kembali diketuk dan orang yang sama kembali masuk. “Maaf Pak, ternyata dokumennya terselip di meja saya.” Tatapan Mark terhunus dingin pada perempuan itu, matanya memindai perempuan itu sesaat sampai ia membaca tanda pengenalnya. “Lisa. Kau staff baru?” “Bukan Pak. Maafkan saya. Maafkan keteledoran saya.” “Berapa lama kau bekerja di sini?” “Lima tahun Pak.” “Jadi staff saya?” “Satu tahun.” “Dan kamu masih bisa melakukan kesalahan fatal seperti ini?! Kamu ingin membuat saya terlibat bodoh di depan karyawan lain? Begitu?!” “B—bukan Pak. Maaf… say—saya hanya sedang tidak berkonsentrasi.” “Kamu pikir saya peduli?” “Maaf.” “Sebaiknya kau resign jika sudah tidak mau bekerja di sini.” “Tidak. Maaf Pak. Maafkan saya. Saya berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Maafkan saya.” “Keluar.” “Maafkan saya.” “Keluar!” Perempuan itu pun melangkah mundur, pergi meninggalkan ruangan tersebut dengan kepala menunduk dan tangan kedua tangan yang bergetar hebat. Mark mendengus kecil, menghempaskan dokumen di tangannya sesaat sebelum membukanya. Modus. Ia tahu betul ini cuma modus, dia pasti sengaja. Bagaimana Mark tahu? Tentu saja, karena sudah terbiasa menghadapinya—apalagi sejak isu pengangkatannya sebagai CEO akan segera dilaksanakan. Selain karena pekerjaan, Mark juga sangat terkenal karena ketampanan yang dimilikinya, mata tajam, alis tebal, bulu mata lentik dengan hidung yang runcing, tidak lupa juga wajahnya yang sangat tegas memperlihatkan kekuasaan yang ada dalam genggamannya. Sampai tak sedikit karyawan yang sengaja mencari muka seperti karyawan barusan. Ada yang melakukannya dengan prestasi, ada juga seperti yang baru saja terjadi—dengan membuatnya emosi, ada yang secara terang-terangan menggodanya dengan pakaian kerja yang seksi. Bahkan ada yang pernah menjadikannya barang taruhan. “Lihat saja, Pak Mark lama-lama pasti akan tergoda juga. Lelaki normal mana sih yang tidak tergoda dengan pinggul besar dan belahan d**a besar?” “Gak bakalan. Pak Mark itu gila kerja. Pasti bakalan suka sama cewek yang gila kerja juga, yang punya banyak prestasi.” “Maksud lo dia suka cewek kayak lo gitu?” “Iya.” “Eh sudah-sudah. Kalian ini apa-apaan sih?” “Gak usah ikut campur.” Dua wanita itu kemudian saling menatap tajam. “Kita buktiin siapa yang bisa dapetin Pak Mark, yang kalah harus jadi babu yang menang selama satu tahun.” “Setahun? Yang benar saja.” “Kenapa? Kau takut?!” “Tidak! Oke. Siapa takut. Yang kalah jadi babu tanpa di bayar selama satu tahun. Deal?” “Deal.” Sayangnya Mark tak mudah goyah. Mark terkenal berhati dingin, tak tersentuh, godaan wanita tidak menarik di matanya, sampai meskipun Mark lebih muda daripada karyawan lain, tak ada satu pun yang berani melawan setiap kebijakan yang dimilikinya. Lalu bagaimana nasib dua karyawan perempuan itu? Tentu saja, dipecat. *** “Ini adalah desain interior dari apartemen yang berada di beberapa lantai bagian atas gedung dan penthouse setelah dilakukan renovasi sesuai dengan permintaan anda. Sayangnya saat ini kami terkendala pemasaran, sebab banyak dari konsumen kita masih tidak yakin dengan desain smart home yang kita usung. Belum lagi desain awal di lantai itu terkesan kuno, sehingga yang sebelumnya menjadi konsumen tetap kita lebih memilih membeli unit apartemen di gedung sebelah yang sejak peluncurannya menawarkan desain minimalis yang sangat kekinian.” “Lebih buruknya lagi, mereka bahkan tidak tertarik walau hanya untuk melihat terlebih dahulu sebelum membeli. Padahal tim marketing sudah melakukan berbagai hal semaksimal mungkin untuk melakukan promosi, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kami juga sudah membuat beberapa konten yang kami unggah di akun sosial media perusahaan seperti yang disarankan tim marketing lain, tapi hasilnya tetap sama saja. Tidak ada kemajuan yang signifikan.” Mark terdiam beberapa saat, dari dokumen yang ia baca dan penjelasan yang ia dengar seharusnya proses promosi tidak ada kendala. Tapi sepertinya masih ada galat yang membuat masa promosi ini tidak ada kemajuan yang baik. “Apakah kalian ada opsi lain untuk promosi?” Tanya Mark—meskipun pria muda itu obsesif tapi memiliki pemikiran terbuka, dia akan selalu menerima masukan dan saran dari orang lain, dia pun bukan pemimpin yang antri kritik seperti pemimpin pada umumnya. “Sebelumnya maaf kami lancang. Kami sempat membicarakan ini dengan tim sebagai opsi terakhir, yaitu melakukan promosi menggunakan akun sosial media pribadi Bapak. Sebab setelah kami teliti, engagement rate yang akun anda miliki dengan satu juta followers mencapai 18%, yang artinya memiliki angagement yang lebih tinggi daripada akun perusahaan. Sehingga kami berpikir bahwa melakukan promosi dengan menggunakan akun Bapak akan lebih efektif daripada hanya menggunakan akun perusahaan saja. Bahkan jika bisa, Bapak promosikan bersama sahabat-sahabat Bapak seperti hal nya yang dilakukan Pak Kevin. Sebab setelah kami teliti engagement akun Zadfar Official mencapai 21% setelah anda bersama sahabat-sahabat anda menjadi model iklannya.” Mark menatap presentase perbandingan beberapa akun yang ada di layar presentasi. Bagaimana pun ia tak bisa gegabah mengambil keputusan, apalagi ini menyangkut citra perusahaan. Isi kepalanya mulai berputar, mempertimbangkan banyak hal yang mungkin akan terjadi. Membuat semua orang yang ada di ruangan itu terdiam tegang, menunggu respons. Sampai akhirnya Mark buka suara. “Baik. Kalau begitu kalian siapkan tim yang akan bertanggung jawab sebagai videografer. Pastikan harus ada sebelum saya sepakat dengan sahabat-sahabat saya.” Semua orang di dalam ruangan itu tersenyum lega. “Baik. Sore ini kami akan menyetorkan nama untuk anda.” “Apakah ada lagi yang harus kita bahas?” Tanya Mark. “Tidak Pak. Pertemuan hari ini cukup sekian, kami tutup.” Mark keluar terlebih dulu dari ruangan meeting, diikuti oleh asisten pribadinya—Suseno, mantan sekretaris ayahnya. “Pak maaf. Bapak dan Ibu sudah menunggu anda. Beliau mengatakan ada hal penting yang harus disampaikan pada anda. Sebagai pengganti pertemuan sore ini, saya yang akan mewakili anda menemui pihak kontraktor.” Tak bisa membantah, sebab jika orangtuanya datang begini, itu artinya ada hal penting yang benar-benar harus segera disampaikan. Mark mengangguk kecil, kemudian berbelok naik satu lantai menuju ruang kerjanya. Meninggalkan Suseno yang menghentikan langkah, untuk meeting di luar kantor. Begitu masuk, senyuman teduh sang ibu menyambutnya. “Ma, Pa. Ada hal penting apa? Tumben gak nunggu Mark pulang dulu?” Tanya Mark setelah memberi pelukan pada sepasang orangtuanya. Affandi Saputra Uwais dan Qarina Ardan Uwais, pasangan yang usianya sudah lebih dari setengah abad. “Kami baru saja melakukan pertemuan tertutup dengan beberapa dewan direksi pendukung kita.” Ucap Affandi begitu Mark duduk di samping istrinya. “Ada apa memangnya? Sampai harus melakukan pertemuan tertutup?” “Terdengar selentingan ada yang ingin menggagalkan pencalonanmu menjadi CEO. Mereka akan menjadikan pendidikanmu sebagai alat untuk menurunkan kredibilitasmu Mark. Kamu akan dianggap tidak bertanggung jawab karena kamu tidak menyelesaikan pendidikan S-1 mu.” Kening Mark mengerut. “Tapi bukankah sejak awal mereka yang bilang kalau prestasiku di perusahaan lebih penting daripada menyelesaikan pendidikan? Sejak awal, aku memilih fokus pada perusahaan karena itu Pa.” “Papa tahu. Itu juga yang Papa sesalkan.” Mark menghela napas panjang, menahan rasa kesal pada para pengkhianat itu. “Lalu Papa datang untuk memintaku agar aku segera menyelesaikan tugas akhirku?” Affandi mengangguk. “Apalagi ini kesempatan terakhirmu sebelum semester depan kamu di DO.” “Baik.” Mark menatap orangtuanya bergantian. “Kalau begitu aku akan menyelesaikannya secepat mungkin.” “Bagus. Papa percaya padamu Mark.” “Iya Pa.” “Satu lagi Mark.” Kali ini Rina yang buka suara. “Apa Ma?” “Agar pengangkatanmu berjalan lancar, kamu harus segera menikah.” “Menikah?” Rina mengangguk yakin. “Agar tidak ada alasan lagi bagi mereka untuk menggulingkanmu dari pencalonan.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD