4. Menikah?

1521 Words
Menikah? Hhh… tidak ada dalam kamus Mark untuk menikah muda. Itu pula yang membuatnya yakin kalau sendiri adalah pilihan yang sangat baik selama ia meniti karirnya. Namun tiba-tiba… ia harus menikah? Menikah? MENIKAH?! “Bagaimana caranya?” Gumam Mark seraya terkekeh dan menggelengkan kepala sesaat. Punggungnya bersandar lemas, matanya menerawang, menatap lurus ke depan—ke arah gedung-gedung pencakar langit yang mulai mengeluarkan cahayanya. Sementara isi pikirannya terus berkecamuk, memikirkan pernikahan yang harus segera ia laksanakan. Masalahnya, dengan siapa ia harus menikah? Jika dalam posisi memiliki kekasih, mungkin saja menikah bukan hal besar yang harus dipermasalahkan lagi. Tapi ini… WOW. Jangankan kekasih, incaran atau perempuan yang sedang ia sukai saja tidak ada sama sekali. Bagaimana ia bisa menikah dalam waktu dekat? “Tumben banget nih pengusaha muda kita udah dateng duluan.” Mark menoleh ke kanan, ke arah pria yang baru saja datang. Dia William, salah satu sahabatnya. “Akhir tahun gini gak sibuk closingan?” “Sibuk.” Mark menghela napas, lalu menganbil gelas dan melakukan cheers dengan William. “Tapi ada sedikit masalah Bang.” “Apa? Ada yang korupsi?” “Bukan.” Mark meletakkan gelasnya lagi setelah minum satu teguk. “Gue disuruh selesein tugas akhir. Menurut lo kira-kira skripsi gue bisa selesai dalam waktu satu semester gak?” “Bisa aja. Kenapa? Kok tiba-tiba lo mau skripsian? Bukannya perusahaan cuma minta lo fokus sama kerjaan daripada fokus kuliah?” “Makanya. Gue juga heran bang. Padahal awalnya mereka yang minta gue fokus kerja. Tapi sekarang kredibilitas gue justru dipertanyakan karena gue belum menyelesaikan pendidikan gue. Katanya isu tidak bertanggung jawab bakalan dijadiin alasan penggagalan pencalonan gue.” William menepuk bahu Mark. “Yaudah gak usah dipikirin. Biar gue bantu. Toh gue pembimbing dua lo. Kita cuma perlu nunggu siapa pengganti pembimbing satu lo aja.” “Prof. Wahyudi bener-bener udah pensiun ya? Padahal Prof. Wahyudi baik banget.” “Ya makanya dulu gue minta lo selesein aja, malah gak mau.” “Ya gimana? Waktu itu gue malah diminta fokus sama perusahaan kan? Lo juga tahu sendiri.” William mengangguk, ia tahu betul tentang kisah sahabatnya itu, suka dan dukanya pun ia tahu dengan jelas. Bisa dibilang mereka ini sebenarnya bukan hanya sebatas sahabat, tapi saudara beda ibu dan ayah. “Wei… bro! Ada apa nih? Kayak lagi patah hati aja.” Tiga teman Mark yang lain datang bersamaan, yang baru saja menyapa itu Bara, lalu diikuti Kevin dan Bryan. Mereka semua sebenarnya lebih tua dari Mark. Lalu bagaimana bisa mereka berteman? Jawabannya adalah karena dulu ayah mereka juga berteman dekat. “Gue bukan lo ya bang, demennya patah hati, besoknya ganti lagi.” Balas Mark. “Wess santai bro. Keras amat.” Balas Bara lagi. “Kenapa cil? Ada masalah apa? Kusut amat tuh muka, kayak baju belum di setrika sebulan.” Mark tak langsung menjawab. Sebenarnya ia bingung harus cerita dari mana. “Sebelum gue ke sini. Gue denger sesuatu yang gak enak tadi Mark.” Kevin buka suara. “Bener?” Mark mengangguk kecil. “Papa cerita ke Om Bram ya?” Kevin pun mengangguk. “Gue gak nyangka sih kalo lo bakalan jadi orang yang pertama nikah diantara kita berlima.” “What?!” Seru Bara. “NIKAH? Seorang Mark mau nikah muda?” “Loh! Bukan masalah skripsi doang?” Tanya William. “Gue belum selesai cerita bang tadi.” Jawab Mark. “Sebenernya gue gak tau bakalan jadi yang pertama atau enggak. Cuma emang orangtua gue yang minta gue buat cepet-cepet nikah bang.” Mark menoleh pada William. “Ini masih ada sangkut pautnya sama syarat yang diminta bokap nyokap gue. Kalau skripsi buat balikin kredibilitas, nikah tuh buat memperkuat. Nyokap bilang biar mereka gak nyari-nyari kesalahan dan kekurangan gue lagi buat ngegagalin pencalonan.” “Emang lo udah ada calon Mark?” Kali ini Bryan yang bertanya. “Terakhir kali lo pacaran sama si Airi kan anak FK?” “Itu juga udah lama Bang. Pas lagi kuliahkan.” Mark menghela napas. “Sekarang gue bener-bener kosong. Gak ada ide sama sekali.” “Lo tuh ganteng Mark. Tinggal tunjuk aja pasti ada cewek yang mau sama lo.” Ungkap Bara. “Lo kira nikah kayak beli baju? Asal tunjuk, beli terus pake? Gue bukan lo ya bang yang hobi gonta-ganti cewek.” Balas Mark. “Nikah kontrak?” Tanya Bryan. “Lo tinggal cari cewek, ajakin bikin perjanjian. Nikah. Abis itu cerai. Kelarkan?” “Enggak gak. Gue gak bisa. Yang ada bukannya nyelesein masalah, malah nambah-nambah masalah. Bisa jadi isu penipuan kalo begitu.” “Kenapa gak ajak nikah si Airi aja?” Tanya Kevin. “Kayaknya dia masih suka sama lo tuh. Pas lo ulang tahun aja dia bela-belain dateng dari Bandung ke Jakarta cuma buat lo kan?” “Airi?” Mark terdiam, Airi—perempuan keturunan Sunda-Jepang itu adalah satu-satunya mantan Mark. Satu-satunya perempuan yang bisa menaklukan hati Mark. “Coba lo pikirin mateng-mateng deh. Cuma dia kayaknya pilihan terbaik buat lo.” Mark kembali diam, membuat empat temannya yang lain saling melirik. “Udah sekarang gak usah dipikirin dulu, mendingan ngomongin rencana new year’s eve. Gimana?” Sela Bryan. “Bener tuh. Oh! Atau mau sekalian cari cewek di tahun baru Mark? Kali aja kan ada yang nyantol.” “Bara.” Geram Kevin dan juga mendapatkan delikan tajam dari William. “Hehe… canda bro. Canda. Kaku amat kayak kanebo kering.” *** Airi? Airi… Airi. Tidak. Mark menggeleng kecil. Airi memang cantik, dia perempuan cerdas—ya namanya juga Dokter, pastinya cerdas-cerdas bukan? Dia juga dari keluarga terpandang, tidak akan membuatnya malu jika dibawa kehadapan para dewan direksi. Akan tetapi… Airi pernah mengkhianatinya, dan Mark tidak pernah bisa memberikan toleransi pada sebuah pengkhianatan. Jadi… menikah dengan Airi, tak akan pernah ia pertimbangkan sama sekali. Bagi Mark, satu kali pengkhianat, dia adalah pengkhianat selamanya. Mark meraih ponsel, menggulir layar benda pipih itu selama beberapa waktu sampai ia menemukan cuitan yang siang tadi terlibat menarik di matanya. Tawaran ONS dari seorang perempuan berusia 28 tahun yang mengharuskannya membawa hasil tes kesehatan lengkap. Entah dorongan darimana, Mark tiba-tiba membuka profil akun perempuan itu lalu mengirimnya pesan. Me: Hi, sudah dapat belum partner untuk New Year’s Eve? @itsjustallaboutme Hi, belum kok. Emang konyol sih ya sampai minta buat medical check up dulu. Sebelah alis Mark naik. Benar-benar menarik. Pikir Mark. Me: Gak juga sih. Justru bagus, jaga-jaga. @itsallaboutme So? Are you interested in my offer? Wow. Mark tidak menyangka perempuan itu akan to the point seperti ini. Me: Ofc, yeah. Where did we meet? @itsallaboutme Aku akan memberimu kabar nanti, December 31st at 2:00 p.m. Me: Ok. @itsallaboutme Don’t forget to bring the medical check up results. Me: Ok. Btw I’m M24, height 182 cm, weight 70 kg. See you Al. @itsallaboutne Ok. See you…. Me: Call me Mark. @itsallaboutme Oh ok Mark. See you. Setelah itu tanpa banyak berpikir lagi, Mark mendial nomor ponsel Bryan—salah satu sahabatnya yang merupakan Dokter. “Hallo Mark? Ada apa? Tumben banget telpon jam segini.” “Hai bang. Lagi pengen aja. Lagi banyak pasien gak bang?” Tanya Mark. Bryan kebetulan memang Dokter di salah satu rumah sakit ternama. Jadi rasanya tak masalah kalau bertanya hal itu pada Bryan. Apalagi selama ini Bryan yang paling banyak memiliki pasien di rumah sakit itu. Bukan… Bukan karena dia ganteng, tapi karena dia satu-satunya Dokter spesialis jantung yang rumah sakit itu miliki. “Enggak. Kebanyakan yang ada jadwal check up juga di geser ke tahun baru. Jadinya lagi sepi, gue lagi kosong.” “Ohh…. Kalau gitu gue mau tanya Bang, tanggal 30 masih bisa medical check up?” “Loh mendadak banget? Kenapa gak bilang dari semalem kalau emang pengen medical check up?” “Emangnya gak bisa ya?” “Bisa, tapi you know lah kalau bayaran hari libur gimana. Dinaik-naikin, dimanfaatin banget. “Gak masalah.” Demi menuntaskan rasa penasarannya, bagi Mark tak masalah dengan harga yang harus ia bayar. “Emang harus tanggal 30 banget Mark? Entar aja sih tanggal 5 atau 7.” “Gak bisa Bang, harus tanggal 30 atau 31. Masalah bayaran gampang, entar siapapun yang meriksa gue kasih bonus.” “Iya gue ngerti. Tapi maksudnya buat apa lo mendadak pengen medical check up? Aneh-aneh aja.” Gumam Bryan. “Ohh… atau ini permintaan dewan direksi juga? Mereka pengen memastikan lo 100% sehat dan bebas dari pentakit?” Mark bungkam. Jujur saja ia tak berani memberikan jawaban. Kalau ia berkata jujur yang ada ia akan mendapatkan ceramah tujuh hari tujuh malam dari abang-abangnya itu. Padahal… ia sangat penasaran dengan perempuan itu. Perempuan seperti apa yang ingin one night stand tapi harus menyertakan surat keterangan sehat? “Besok dateng aja ke sini jam 2. Udah dulu ya? IGD kayaknya rame. Emang paling pantang di RS bilang sepi. Bye Mark.” “Yo bang! Semangat Pak Dokter.” Katakan Mark gila, Ya… ia memang gila. Akan tetapi entah mengapa, rasanya perempuan itu cukup menarik. Rasa penasaran mengalahkan akal sehatnya. Ditambah dengan gaya percakapannya yang juga cukup berwibawa. Ia semakin penasaran, semakin ingin tahu sosok dibalik akun tersebut. Mark yakin, perempuan itu bukan perempuan sembarangan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD