“Aku sudah sampai, Rey. Kau di mana?” tanya Xand er di telepon saat dia sudah di tempat yang Rey beri tahukan.
“Masuk saja ke parkiran. Aku ada di dalam mobil warna merah.”
Lalu Xander menjalankan mobilnya masuk ke parkiran sekolah Alice. Xander turun dari mobil, begitu juga dengan Rey dan Sam. Ada dua mobil lagi yang terparkir di sana. Satu mobil polisi dan yang satu laagi mobil Nick.
“Kenapa kau membawaku ke sekolah Alice ?” tanya Xander heran.
“Karena di sinilah semuanya berawal. Aku ing in orang yang bernama Nick dan Liza itu mempraktikkan ulang apa yang telah dia lakukan terhadap Alice,” ujar Rey.
“Tapi—”
“Kau tenang saja. Uncle Brad, komandan kepolisian, sudah membuatkan kita surat izin untuk melakukan reka ulang adegan kejahatan yang mereka lakukan,” ujar Rey.
“Thanks, Brother!”
“Alice adikku juga, maka aku akan lakukan yang terbaik. Baiklah, bisa kita mulai sekarang?”
“Tentu. Di mana bocah b******n itu?”
“Di dalam mobil,” ujar Rey menunjuk mobil yang berada di samping mobilnya.
Xander berjalan dan membuka pintu mobil itu. Terdapat Nick, Liza, dan satu orang teman yang mereka ajak untuk membantu.
“Keluar kau!” perintah Xander dan Nick hanya menurut, wajahnya sudah banyak bekas pukulan dan tentu saja itu ulah Sam dan Rey.
“Tolong bukakan borgolnya dulu, Pak,” pinta Xander pada polisi yang akan mengawal mereka.
“Kemarilah dan lawan aku, bocah b******n!” hardik Xander menantang secara gentle Nick yang terlihat marah, tapi tak mampu berbuat banyak.
Tapi dia mencoba untuk memukul Xander. Namun, tentu saja Xander mampu menghindar dan menghajar balik Nick hingga kewalahan dan menyerah, lalu menandatangani surat perjanjian jika dia bersedia melakukan reka adegan ulang kejahatan yang diperbuatnya kepada Alice.
Begitu juga dengan Liza yang sejak tadi hanya duduk di dalam mobil dengan ketakutan, menangis dan terus meminta maaf. Namun, tak digubris sama sekali oleh ketiga lelaki yang marah dan tak terima dengan perbuatan mereka pada Alice.
“Kalian akan hancur. Daddy-ku tak akan tinggal diam dengan perlakuan kalian!” ujar Liza mengancam.
“Kau yakin? Mari kita telepon daddy kesayanganmu,” ujar Rey dan melakukan panggilan telepon.
“Halo, Sir Carington? Apa kabar?” sapa Rey sambil menekan tombol speaker.
“Ya, aku baik. Apa kau anak Dobson?” “Ya, aku anak sulung Rein Dobson.”
“Wah, ada apa? Apa sekarang kau sudah memegang perusahaan ayahmu?”
“Belum, aku menelepon karena ada yang ingin bicara denganmu.” Rey mendekatkan ponselnya pada Liza.
“Dad! Ini aku, Elie,” ujar Liza.
“Elie? Sedang apa kau bersama anak Sir Dobson?”
“Mereka menangkapku, Dad. Tolong aku,” adu Liza.
“Memangnya apa yang kauperbuat?” “Aku ... aku hanya—”
“Anakmu menyuruh teman sekolahnya melakukan tindak kejahatan terhadap teman sekolahnya yang lain, dan teman sekolahnya itu adalah adikku,” potong Rey.
“Apa?!”
“Kurasa kau tak tuli, Sir. Jadi, katakan pada anak kesayanganmu untuk menurut saja, atau kau tahu akibatnya,” ujar lagi Rey.
“Baiklah, tapi tolong jangan sakiti dia.”
“Aku hanya akan melakukan apa yang dilakukannya pada Alice. Jadi, tergantung apa yang dia lakukan seminggu lalu terhadap Alice. Ini hanya reka ulang, jadi jangan khawatir, Sir. Aku tutup dulu teleponnya.”
“Kau puas, Nona Manja? Bisa kita lanjutkan?” tanya Rey kemudian.
Liza malah semakin menangis dan menatap Sam memohon, tapi Sam membisu. Amarahnya tak bisa dikeluarkan kepada Liza. Dia tak akan memukul wanita.
“Xander! Kau sudah selesai?” teriak Rey.
Memang, saat Rey menghampiri Liza yang terus berteriak tak henti, Xander menghajar Nick.
“Sudah!” jawab Xander dan mereka memulai reka adegan tersebut menjadikan Liza sebagai Alice.
Reka ulang itu sama persis, dimulai dari Liza memasuki mobil Nick yang di dalamnya sudah terdapat satu teman Nick yang siap membius Alice dari belakang. Setelah Alice pingsan, Nick membawa mobil tersebut ke hotel tempat mereka melakukan kejahatannya.
“Kau yakin ini sudah aman, Liz?” ujar Nick saat itu. Mereka sudah tiba di hotel yang sudah disewa Liza.
“Aku sudah membayar banyak orang untuk ini, Nick. Lakukan saja tugasmu dan kau juga mendapat untung, kan?” ujar Liza. Dia sudah menunggu di kamar hotel lebih dulu sebelum Nick datang dan membawa Alice yang pingsan dengan alasan kepada para pegawai hotel bahwa Alice tertidur di perjalanan jauh dan mengatakan bahwa Alice adalah sepupu Liza yang sudah memesan kamar di hotel tersebut.
Setibanya di kamar, Alice yang setengah sadar dibaringkan ke atas ranjang dan langsung disuntikkan obat perangsang. Liza keluar dari kamar hotel dan membayar teman Nick yang menunggu di parkiran sampai Nick menyelesaikan perbuatan bejatnya.
“Apa yang terjadi, Nick? Kita ada di mana? Kepalaku, sakit sekali,” ujar Alice saat dirinya baru sadar setelah satu jam perjalanan dari sekolah ke hotel tersebut.
“Kita ada di hotel, Sayang,” ujar Nick yang sudah berada di samping Alice dengan bertelanjang d**a. Alice menoleh dan terkejut.
“Apa yang kaulakukan? Kenapa kita ... ah ... apha yang khau berikan padakhu?” ujar Alice yang kepanasan dan merasa bahwa sentuhan Nick di tubuhnya adalah hal yang diinginkan tubuhnya.
“Kenapa? Kau suka dengan sentuhan ini? Atau kau ingin aku melakukan ini?” tawar Nick sambil meremas b*******a Alice.
Alice menepis tangan Nick, tapi seolah tubuhnya berkhianat dan merasa panas saat tangan Nick terlepas darinya.
“Nick, kenapa kau lakukan ini? Aku ... aahh, panas. Kumohon ... biarkan aku ....”
“Hanya aku yang bisa membuatmu berhenti merasakan panas. Jadi, bagaimana?” Nick terus meraba setiap inci tubuh Alice yang masih terbalut seragam sekolah. Nick sengaja tak melepaskan pakaian Alice. Dia ingin Alice kepanasan akibat reaksi obat dan melepaskan pakaiannya sendiri saat Alice sudah tak kuat. Jika Alice bertahan, dialah yang akan membuka paksa seluruh pakaian Alice.
“Aku ... hh ... tak akan sudi memohon padamu, Nick. Sam akan menolongku, seperti kemarin!” seru Alice berusaha untuk tidak mendesah.
“Oh ya? Bagaimana jika kau mendengar ini?” Nick mengambil alat perekamnya dan memutar ulang pembicaraannya dengan Sam tadi pagi di lapangan yang membicarakan tentang taruhan.
Alice menangis tak percaya dengan apa yang dibicarakan Sam dan Nick pagi tadi. Pantas saja tadi pagi Sam memintanya untuk tidak mendekati Nick. Sekarang dia menyesal karena tak mendengarkan Sam pagi tadi.
“Nick, lepaskan aku ...,” pinta Alice sambil terus menahan diri agar tidak memberikan dirinya dengan pasrah.
“Hah, aku sudah tak sabar, Alice!” Nick mulai gerah melihat Alice yang terus bertahan.
Lalu Nick memaksa Alice melakukan hubungan badan. Tentu saja Alice sangat tersiksa, dia sudah menangis sejak tadi. Dia memikirkan pembicaraan Sam dan Nick yang didengarnya lewat perekam suara. Nick tertawa puas dan Alice ... dia kehilangan segalanya. Saat itu juga dia membenci hidupnya.
***
Xander yang semakin marah dengan melihat perlakuan Nick pada Alice melalui reka adengan Nick dan Liza. Dia kembali melayangkan tinjunya berkali-kali ke wajah Nick hingga Nick tak sadarkan diri.
Sementara Liza menutupi tubuhnya yang sudah tak terbalut apa pun. “Kalian keterlaluan! Aku kehilangan kesucianku ... kalian akan—”
“Lalu bagaimana dengan Alice? Apa kau tak memikirkannya kemarin sebelum kau melakukannya pada Alice?” Sam menatap jijik pada Liza.
“Aku melakukannya karena aku mencintaimu, Sam. Aku—”
“Kau hanya terobsesi padaku. Kau terlalu dimanja dan selalu mendapatkan apa pun yang kau inginkan hingga kau mampu melakukan ini,” potong Sam dan pergi meninggalkan Liza.
***
Semua telah selesai. Nick dan Liza mendapat keringanan hukuman karena masih di bawah umur. Semua tindakan yang dilakukan Rey dan Xander telah dilindungi oleh Uncle Brad, adik Rein Dobson.
“Sekali lagi terima kasih, Rey. Aku tak tahu bagaimana membalaskan perbuatan mereka pada Alice jika kau tak turun tangan,” ujar Xander. Saat ini mereka sedang berada di lobi hotel tersebut.
“Sudah kukatakan Alice adikku juga. Lagi pula, Uncle Brad yang paling berjasa. Dia yang akan menanggung risiko jika ada yang menuntut. Perusahaan keluarga Nick juga ada di bawah kekuasaan perusahaan ayahmu, dan perusahaan keluarga Liza ada di bawah kekuasaan si Rein Dobson,” ujar Rey.
“Hei! Itu ayahmu, Bocah kurang ajar!” protes Xander.
“Aku tahu, tapi dia tak di sini. Jadi, biarkan aku menyebutnya begitu. Dia tak akan tahu, kecuali ada yang mengadukannya,” ujar Rey melirik Sam yang terus terlihat murung dan berubah menjadi pendiam semenjak seminggu lalu.
“Terima kasih. Kalian telah membantuku membalaskan perbuatan mereka terhadap Alice.” Sam berujar kaku dan merasa tak enak dengan Xander karena telah gagal menjaga Alice dan mengecewakan Xander.
Xander menatap Sam tak tega. Jika Rey menganggap Alice sebagai adiknya, begitu juga sebaliknya.
“Rey, aku langsung pulang. Banyak yang harus kuurus untuk kepergian Alice ke Indonesia,” pamit Xander dan sukses membuat Sam yang sejak tadi tertunduk langsung menegakkan kepala menatap Xander meminta kejelasan.
“Lusa dia akan berangkat. Kuberi kau waktu untuk meminta maaf pada Alice terakhir kalinya sebelum dia benar-benar pergi dari hidupmu,” ujar Xander, berdiri dari duduknya dan menepuk bahu Sam sebelum akhirnya benar-benar pergi dari hotel tersebut.
“Aku akan mencarinya. Aku akan—”
“Jangan berharap! Aku dan Rey tak akan membiarkanmu menemuinya. Bukan kau yang memutuskan, tapi Alice. Kau tak akan bisa menemuinya hingga Alice yang memintaku langsung untuk menemuimu. Itu harga yang harus kaubayar untuk mengucapkan perpisahan padanya,” ujar lagi Xander yang sempat terhenti untuk memotong ucapan Sam.
“Kalian ....” Sam hendak protes, tapi urung ketika melihat Rey yang menatapnya tajam.
“Gunakan waktu yang diberikan Xander dengan baik,” ujar Rey dan ikut beranjak dari duduknya.
***
Alice berjalan ke jendela kamarnya karena terdengar suara ketukan dari luar. Sebelumnya dia mengambil lampu kamar sebagai senjata untuk memukul seseorang yang dipikirnya maling.
Dengan perlahan dia membuka tirai jendela dan terlihat seseorang yang memakai topi dan jaket hoodie sedang membelakangi jendela kamarnya dan melongok ke bawah, menggerakkan tangan seperti sedang menarik sesuatu yang mungkin digunakan untuk menaiki lantai dua kamar Alice ini.
Dengan perlahan, Alice menggunakan kesempatan itu untuk membuka pintu balkonnya dan berniat memukul kepala orang tersebut. Namun, saat tangan dan lampu tidur Alice terangkat ke udara, orang itu berbalik.
“Alice, stop!” seru orang tersebut sambil menahan kedua tangan Alice.
***