Sam PoV
Aku keluar dari rumah Alice setelah menelepon seseorang untuk menemaniku ke party.
“Aku pastikan kau memilih gaun yang salaah, Alice,” ujarku sambil mengendarai mobil sport putih kesayanganku. “Tunggu aku, Alice. Aku janji akan melindungimu dari bocah sialan itu!” imbuhku sambil menambahkan laju kecepatan mobil.
*
Keadaan party sudah sangat ramai saat aku tiba dengan wanita rubah di sampingku. Dia benar-bennar menikmati pestanya sejak kami tiba, tapi tidak denganku. Aku harus mengawasi Alice-ku.
Di mana dia?
“Hai, Liz. Kau benar-benar datang bersama Sam?!” pekik Debora, sahabat si rubah.
“Tentu saja. Sam yang—”
“Hm, Ladies! Aku ke toilet sebentar,” pamitku langsung melepaskan pegangan tangan Liza dan pergi tanpa menunggu jawaban dari mereka.
Sumpah demi apa pun, aku lebih baik mendengar ceramah granny daripada mendengarkan para rubah berkumpul dan bergosip ria.
*
“Alice, Alice, Alice,” gumamku terdengar seperti rapalan sebuah mantra agar dia muncul ke hadapanku saat ini juga karena sejak tadi aku tak melihatnya.
Itu bukannya si bocah tengil?! Kenapa dia malah di sana? Ke mana Alice?
Karena penasaran aku mendekat untuk mendengar apa yang dibicarakan bocah tengil itu di telepon yang tertempel di telinganya.
“Dia memilihku. Aku rasa dia sudah mulai tertarik denganku.”
“....”
“Ya, sekarang dia bersamaku. Setelah party selesai, aku akan membawanya.”
“....”
“Sam? Bocah tak tahu diri itu tak ada apa-apanya. Aku akan membereskannya setelah aku membawa Alice ke sana.”
“....”
“Tentu saja tak akan ada yang tahu. Berita itu akan tersebar besoknya.”
“Baiklah. Kali ini aku tak ingin gagal!”
Sialan! Apa yang direncanakan bocah tengil itu pada Alice? Dia pasti ingin berbuat hal buruk pada Alice. Aku harus menemukan Alice dan membawanya pulang ke rumah sebelum si bocah tengil itu berbuat hal gila pada Alicek-u.
“Sam, kau sedang apa di sini? Bukankah kaubilang ingin ke toilet?”
Baru saja aku berbalik berniat mencari Alice, tapi wanita rubah ini seperti hantu yang muncul tiba-tiba.
“Nick! Kau di sini rupanya. Aku mencarimu. Kupikir kau meninggalkanku pulang.”
Itu dia Alice! Astaga, apa dia benar-benar tertarik dengan bocah tengil itu?
“Sam, kau—”
“Ya! Ah, aku tiba-tiba tak enak badan. Aku ingin pulang lebih dulu, kaulanjutkan saja. Aku tak bisa mengantarmu pulang. Jadi, nanti kau pulang naik taksi saja,” ujarku melepaskan rangkulan si rubah dan beranjak pergi. Lebih baik aku menunggu di mobil agar aku tak kehilangan jejak Alice saat dibawa pergi oleh si bocah tengil.
*
Dua jam kemudian
Oh, yang benar saja! Ini sudah dua jam aku menunggu. Apa mereka akan merayakan acara sampai pagi? Setengah jam lagi sudah jam dua belas, Cinderella sebentar lagi akan berubah.
Baiklah tak ada hubungannya dengan Cinderella, tapi ini—oh itu mereka!
Aku keluar dari mobil menuju ke mobil si bocah tengil untuk menarik dan membawa Alice pulang. Kak Xander sendiri yang menitipkannya padaku. Jadi, aku harus membawanya pulang sekarang.
“Alice!” panggilku untuk menahannya masuk ke mobil Nick.
“Kau datang? Dengan siapa?”
Dari sekian banyak pertanyaan, hal yang dia tanyakan hanya itu? Dia sungguh menyebalkan.
“Pulang denganku. Kak Xander tadi memintaku untuk membawamu pulang sebelum pagi,” ujarku mendekati dan meraih tangannya.
“Sam, kaubilang tadi tak enak badan. Kenapa kau belum pulang? Kalau begitu, aku pulang denganmu saja. Kau yang mengajakku ke sini, jadi kau juga harus mengantarku,” ujar Liza yang melihatku masih di sini dengan kebiasaannya yang bergelayut manja di lenganku.
“Aku bisa pulang dengan Nick, antar saja dia,” ucap Alice mengempaskan tanganku dan ini gara-gara si rubah.
“Alice!” panggilku lagi, tapi dia malah menaiki mobil Nick.
Aku melepaskan pegangan tangan Liza dengan kasar dan menuju mobilku.
Dua ktap, Alice! Dan kali ini kau mempermalukanku di depan semua orang! batinku kesal dan melajukan mobilku dengan cepat.
*
Alice PoV
Dari sekian banyak harapanku agar kau menahanku di saat Nick membawaku pergi, atau setidaknya kau datang dan menggangguku dan Nick, tapi kau malah datang dengan jalang itu. Baiklah, sudah cukup aku mengalah dengan sikapmu Sam. Kau tak pernah berubah dan kau tak pernah menganggapku seperti gadis lainnya.
“Alice!” panggilnya lagi, tapi aku tak mau menghiraukannya.
Lalu aku mendengar suara mobilnya dinyalakan dan tak lama dia melintas melewati mobil Nick. Kami sempat bertatapan saat dia melintas dan kembali kulihat kekecewaan di manik mata hitamnya.
Maaf, Sam. Ini semua karena aku lebih menyayangi hatiku. Kau terlalu sering melukaiku. Sekarang biarkan aku pergi darimu tanpa harus melihatmu bersama gadis lain lagi, ujarku dalam hati.
“Kita pulang sekarang?” tanya Nick yang baru memasuki mobilnya.
“Ya.”
“Hmm, sebenarnya aku tak enak. Jika memang kakakmu meminta Sam untuk mengantarmu pulang, aku tak apa. Tapi aku juga tak ingin dibilang tak bertanggung jawab karena membiarkanmu pulang dengan Sam. Aku yang membawamu pergi. Jadi, kupikir lebih baik aku yang mengantarmu pulang,” ujar Nick.
Aku merasa tak enak hati karena aku menjadikannya tembok perlindunganku dari Sam.
“Tak apa, kau benar. Lagi pula, pasti dia yang mengajukan diri untuk mengantarku pulang. Kak Alex tak seperti itu,” ujarku.
“Sebenarnya aku mau mampir ke minimarket 24 jam dekat sini. Mommy-ku menitipkan sesuatu. Boleh kita mampir sebentar? Karena di dekat rumahku tak ada minimarket yang buka jam segini.”
“Tentu. Jangan meminta izinku. Aku yang menumpang.”
“Baiklah.”
*
Lalu Nick menjalankan mobilnya ke tempat yang sudah direncanakannya tadi dengan seseorang di telepon.
Nick terus melajukan mobilnya. Bahkan sudah dua minimarket 24 jam yang dilewati oleh Nick, tapi dia tak juga mampir ke sana membuat Alice bingung dan bertanya.
“Nick, kau tak lupa untuk ke minimarket, kan?” tanya Alice.
“Ya,” jawab Nick singkat.
“Tapi kau sudah melewati dua minimarket, Nick.”
“Oh, di sana tak ada benda yang kucari.”
“Memangnya kau mencari apa? Mommy-mu kan yang menitipkan sesuatu?” tanya Alice lagi mulai khawatir karena jalan ke depannya semakin gelap.
“Kau tenang saja. Di depan sana ada minimarket yang lebih lengkap. Setelah itu kita akan putar balik.”
“Baiklah,” jawab Alice berusaha percaya.
Beberapa menit kemudian, Nick berhenti di sebuah gedung bangunan tua yang sudah tak dipakai. Keadaannya gelap dan hanya ada satu lampu kuning di pinggir jalan. Itu pun hanya satu. Karena semakin ke dalam, jalanan benar-benar gelap.
“Nick, ini bukan minimarket,” tukas Alice berusaha untuk tetap tenang.
“Memang,” balas Nick singkat dan mematikan mesin mobilnya.
“Lalu kenapa kita berhenti di sini?” tanya Alice yang tak dihiraukan oleh Nick. Dia malah turun dari mobil. Alice mulai menggenggam erat seatbelt-nya.
“Nick, apa yang kaulakukan?!” Alice berteriak dari dalam mobil melihat Nick yang memutari bagian depan mobil.
“Turunlah,” ucap Nick terdengar seperti perintah.
“Aku tak mau! Katakan dulu apa yang ingin kaulakukan!” seru Alice mulai ketakutan.
“Turun! Dan kau akan tahu,” perintah lagi Nick sambil menarik tangan Alice.
“Aku tak mau!” Alice menarik kembali tangannya.
Nick menundukkan kepalanya memasukkan diri ke dalam mobil di pintu penumpang yang sedang Alice duduki. Dia membuka seatbelt Alice dan menarik keluar Alice dengan paksa.
“Nick, apa yang akan kaulakukan?! Lepaskan aku!” Alice merontah mencoba melepaskan genggaman tangan Nick yang jauh lebih kuat.
“Nick! Aku mohon jangan memaksaku!” Alice mulai memohon. Dia takut dan tak tahu harus meminta bantuan siapa.
“Berhenti membangkang, Alice! Aku tak akan menyakitimu!” Nick terus menarik Alice agar mau mengikuti langkahnya yang semakin masuk ke gedung tersebut.
*
Sam yang kesal dengan kelakuan Alice, pergi tak tentu ke arah mana. Dia tak terima dirinya kembali dipermalukan di depan semua orang, terutama di depan Nick.
“Kau keterlaluan, Alice! Aku sudah mengalah dan menuruti semua kemauanmu! Tapi apa? Kau malah kembali memilih si bocah tengil itu. Kalau saja kau tahu dia sedang merencanakan sesuatu yang buruk terhadapmu, aku yakin kau akan—”
“Oh s**t! Kenapa aku bisa lupa dengan pembicaraan si bocah tengil itu tadi.” Sam memutar balik mobilnya. Dia sendiri baru ingat kenapa dia menunggu dan berniat mengajak Alice pulang dengannya.
“Kemana si bocah tengil itu membawa Alice?”
“Sial! Kenapa aku bisa lupa! Arrgh! Aku memang bodoh!” Sam meruntuki kebodohannya sambil memukul-mukul stir mobil. Berusaha mencari jalan yang kira-kira bisa melakukan perbuatan jahat.
Alice, di mana kau?
Sam berujar dalam hati sambil melakukan panggilan telepon ke Alice, tapi teleponnya tak diangtap. Membuat Sam semakin panik.
*
“Tolooonngg! Nick, lepaskan aku! Kumohon jangan memaksaku!” pinta Alice sambil menangis dan berusaha menahan langkahnya yang ditarik Nick untuk masuk ke gedung tua tersebut.
“Kau harus mau, Alice. Jangan melawan dan membuatku susah!” sergah Nick sambil terus memaksa Alice untuk mengikutinya.
Hingga sebuah lampu mobil menyinari mereka, Alice berhenti menangis dan berusaha melepaskan genggaman tangan Nick yang kehilangan fokusnya dan akhirnya terlepas. Sekuat tenaga Alice berlari menuju sorotan lampu mobil tersebut berharap orang baik yang akan menolongnya.
“Apa dia menyusahkanmu?!” tanya suara seseorang dari dalam mobil tersebut, entah orang itu bertanya kepada siapa.
“Oh, syukurlah! Dia hampir saja—”
“Sedikit, dia memang cepat menyimpulkan sesuatu,” ujar Nick menjawab pertanyaan orang tersebut. Alice membuka mulutnya tak percaya. Orang yang dia harap akan menolongnya ternyata adalah komplotan Nick.
Lelaki itu menarik tangan Alice dan melakukan hal yang sama yang dilakukan Nick sejak tadi.
“Tidak! Lepaskan aku! Nick, apa yang akan kau, lakukan? Kumohon lepaskan aku!” ujar Alice kembali berteriak dan meronta.
“Cepatlah, Bro! Kita tak punya banyak waktu! Alice, kuharap kau bekerja sama. Maka semua akan selesai tepat waktu!”
“Kau gila atau apa?! Siapa yang mau bekerja sama untuk melakukan hal buruk terhadapku?!” bentak Alice.
“Siapa yang akan—”
Belum sempat Nick menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba sebuah mobil dengan kecepatan penuh menabrakkan mobilnya dengan mobil Nick dan berusaha menerobosnya.
“Apa kau membawa orang lain lagi?” tanya Nick kepada orang yang menarik Alice.
“Tidak!”
“Lalu siapa lagi ini?”
Orang itu keluar dari mobil ....
“Lepaskan Alice-ku!”
*