AA || 05

2562 Words
Sam PoV Aku mengendarai mobilku ke arah pedalaman y ang terlihat memungkinkan untuk si bocah tengil itu melakukan aksi jahatnya. Semoga saja jalan y ang kuambil ini benar dan aku tak terlambat untuk menyelamatkan Alice. Semakin ke dalam, jalanan semakin gelap. Jaanya ada dua minimarket yang kulewati, selebih nya pepohonan. Hingga dua mobil terparkir sembarang di sebuah bangunan tua yang sudah tak terpakai, ter lihat olehku. Aku melihat salah satunya adalah mobil N ick. Tanpa ragu-ragu aku menabrakkan mobilku den gan mobilnya dan aku melihat mereka menarik-narik A lice dengan paksa. Aku turun dari mobil “Lepaskan Alice-ku!” hardikku. “SAM!” teriak Alice hendak melepaskan genggaman tangannya dari orang asing yang dapat kupastikan adalah komplotan si bocah tengil. “Kaukira aku akan menurutimu? Apa kaukira aku takut?” tantang si bocah tengil itu dengan berani. “Lawan aku. Jika kau bisa mengalahkanku, aku akan lepaskan Alice.” “Kaukira aku takut?” sinisku diakhiri tawa meledek. * Lalu mereka mulai saling memukul. Sam melayangkan tinju tepat mengenai wajah Nick, lalu Nick mencoba membalasnya. Namun, Sam berhasil menangkisnya. Sam kembali melayangkan pukulan ke perut Nick. Namun, dia terkena pukulan ke pipi kanannya. Alice hanya mampu berteriak kepada Nick agar menyudahi semua ini. Dia tak sanggup melihat Sam babak belur karena ingin menolongnya. “Hei! Katakan pada temanmu itu untuk berhenti. Kalian tak perlu bertengkar karena Nick tak akan berbuat jahat padamu,” ujar teman Nick yang sejak tadi memegangi Alice. “Apa maksudmu?” “Hentikan mereka lebih dulu dan kau akan tahu.” “SAAAM! Hentikan!” teriak Alice dan Sam berhenti memukul Nick. Namun, Nick malah kembali memberikan pukulan terakhir ke Sam hingga saat Sam ingin membalas, Nick mengangkat tangannya ke udara karena posisinya yang sudah terbaring dan Sam di atasnya. “Baiklah! Aku lelah! Aku akan jelaskan semua!” ujar Nick akhirnya. Sam melayangkan satu pukulan terakhir lalu berdiri dan menghampiri Alice. Dia meraih tangan Alice dari teman Nick. Ketika dia hendak membawa Alice pergi .... “NYALAKAN!” teriak Nick. Seketika banyak lampu berwarna warni menyala di gedung tua itu dan menerangi seluruh gedung. Alice dan Sam berbalik dan melihat lampu yang menyala menghiasi gedung tak lama beberapa kembang api menghiasi langit dan membentuk tulisan I LOVE YOU. “Itu tujuanku mengajakmu ke sini, Alice,” ucap Nick tiba-tiba sudah berada di belakang Alice dan Sam, lalu mereka berbalik. “Ha! Aku tak percaya ini! Kau bodoh atau apa?!” sergah Sam masih kesal. “Aku tak tanya pendapatmu!” balas Nick. “Nick ... ini ... indah,” ujar Alice dan melepaskan tangannya dari genggaman Sam, membuat Sam merasa kehilangan. “Tapi, caramu sangat salah dan ....” PLAK! “Sangat keterlaluan!” Alice menatap tajam Nick setelah melayangkan tamparan keras ke pipi Nick yang sudah banyak memar. “Haha ... rasakan itu, Bocah tengil!” ujar Sam puas. “Kau juga!” “What? Kenapa aku juga? Aku yang menyelamatkanmu dari si bodoh ini!” tanya Sam tak mengerti. “Kau bahkan lebih bodoh darinya!” Alice lalu melangkah meninggalkan mereka. Kau memang lebih bodoh darinya, Sam! Harusnya kau yang menyatakan cinta lebih dulu, tapi malah Nick yang baru beberapa minggu ini mendekatiku. Sementara kau sudah kuberi waktu sejak lama. Namun, kau selalu menyia-nyiakannya, malah menyakitiku. Berkencan dengan para gadis bodoh!, batin Alice. “Ha! Kaudengar? Kau malah lebih bodoh dariku, Bocah sialan!” Nick tertawa mengejek. “Setidaknya aku tak mendapat tamparan!” balas Sam sinis, lalu dia mengejar Alice. Kau bodoh karena menyia-nyiakan waktumu untuk para gadis bodoh, dan membiarkan Alice menunggumu hingga dia membencimu sekarang, kata Nick dalam hati sambil melihat mereka berjalan ke mobil, bahkan dia puas karena melihat Sam yang ditendang oleh Alice. * “Hei, kenapa diam saja?” tanya Sam. Mereka sedang dalam perjalanan menuju ke rumah Alice. Setelah insiden pukul-pukulan dan drama yang dibuat Nick, Alice akhirnya memilih pulang dengan Sam. “Antarkan saja aku pulang. Aku lelah!” ketus Alice, tapi Sam mana mungkin bisa diam. Dia itu sebelas duabelas dengan Rey. “Jadi, kau akan menjawab apa?” “Jawab apa?” tanya Alice bingung. “Kau berpura-pura lupa atau apa? Tadi Nick—” “Aku tak tahu, mungkin aku akan jawab iya,” ujar Alice santai. Ciiittt!!! Seketika mobil berhenti mendadak. “Apa kaubilang?!” “Ya ampun! Kau gila atau apa, Sam!” pekik Alice kesal. “Jawab aku! Kau benar-benar akan menerima Nick?!” tanya Sam tak kalah kesal. “Jalankan mobilmu, Sam!” titah Alice tak menjawab pertanyaan Sam. “Jawab aku dulu! Aku tak akan jalan jika kau tak menjawab!” Sam menaikkan satu oktaf nada bicaranya. “Iya! Aku akan menjawab iya! Aku akan menerimanya!” seru Alice tak kalah kencang. “Kau!” Sam tak jadi membalas Alice dengan kata-kata, tapi langsung menarik tengkuk Alice dan menciumnya. Alice terkejut dan langsung mendorong Sam dan .... PLAK! “Kau!” Alice menatap tajam Sam yang meringis memegangi pipinya. “Buka pintunya! Aku akan pulang sendiri!” ujar lagi Alice, tapi Sam malah menjalankan mobilnya tanpa berbicara sama sekali. “Aku bilang buka pintunya! Apa kau tulta!” bentak Alice, tapi Sam malah semakin mempercepat laju mobilnya. Tatapannya tajam fokus ke jalan, tanpa peduli Alice menjadi takut. Hingga mereka berada di dekat kompleks perumahan Alice, Sam memelankan laju kendaraannya. “Mulai sekarang, jangan pernah menggangguku lagi,” ujar Alice. “Kau tenang saja! Tanpa kau minta, aku tak akan menganggumu. Aku tak peduli lagi. Semua terserah padamu, Alice. Jika kau ingin bersama Nick, aku tak peduli,” ujar Sam tanpa mau menatap Alice yang terlihat sangat kecewa dan semakin terluka. Dia berharap Sam akan memintanya untuk tak menerima Nick, tapi Sam malah berkata seperti itu. Membuatnya semakin yakin jika dirinya tak pernah dianggap seperti gadis lain. “Baiklah, bagus kalau begitu!” Alice berusaha untuk menahan air matanya yang siap meluncur. Lalu dia membuka pintu mobil yang sejak tadi sudah sampai di rumahnya. Sam langsung menjalankan mobilnya dengan cepat. Kau yang memintaku untuk melakukannya, Sam. Kau bahkan tak peduli lagi. Baiklah, aku akan lakukan sesuai keinginanmu, batin Alice memandang mobil Sam sebelum akhirnya dia masuk ke rumah. * Waktu berlalu begitu saja, tanpa ada yang mau memperbaiki semuanya. Hingga liburan telah usai dan tahun ajaran baru telah dimulai. Berita tentang Alice yang menerima pernyataan cinta Nick, sudah tersebar dengan cepat walau kenyataannya Alice belum benar-benar menjawab secara langsung pernyataan tersebut. Entah siapa yang menyebar gosip yang semakin memperparah hubungan Sam dan Alice, sampai Sam mendatangi Nick yang sedang beristirahat di pinggir lapangan karena sedang bermain basket. “Apa yang kaulakukan kali ini? Menyebarkan berita yang membuatku semakin terlihat kalah di mata semua orang?” tanya Sam tanpa basa basi. “Apa maksudmu?” “Kau menyuruh orang untuk menyebarkan berita tentang kau dan Alice sudah berpacaran?” “Oh, ternyata kau masih peduli padanya? Bukankah kau sendiri yang bilang pada Alice, bahwa kau tak peduli lagi dengannya?” Nick memancing emosi Sam. “Kau—” “Kenapa? Aku dan Alice memang belum resmi berpacaran, tapi Alice sudah menceritakan tentang kau yang tak peduli lagi dengannya. Jadi, kurasa ini sudah waktunya kau berhenti mencampuri urusannya dan biarkan dia menerimaku,” ujar Nick semakin membuat Sam kesal. “Itu hanya dalam mimpimu!” “Jadi, kau masih tak terima? Ingin bertaruh atau bertarung lagi?” “Baiklah, mari kita bertaruh. Jika dalam seminggu Alice tidak menjawab pernyataanmu, aku akan merebutnya dengan paksa, tapi jika dia menjawab pernyataanmu, aku akan mundur,” ujar Sam. “Biar kubuat lebih menarik. Jika besok dia menerimaku, aku akan melakukan apa pun padanya dan kau tak boleh mengganggu kami. Tapi jika besok dia menolakku, kau boleh melakukan apa pun padaku, termasuk membuatku keluar dari sekolah ini.” Nick balik menantang. Sam tampak berpikir. Dia tak ingin Alice kenapa-napa jika sampai Nick yang menang. Tapi, jika dia bisa meyakinkan Alice sekali lagi, dia bisa dengan mudah mengeluarkan Nick yang sebenarnya adalah anak dari salah satu pemegang saham di sekolah tersebut— walaupun Sam juga salah satunya. “Baiklah!” ujar Sam walau sedikit ragu. Lalu dia pergi meninggalkan Nick dan beberapa temannya yang juga bermain basket. Aku hanya perlu meyakinkan Alice kali ini. Kalaupun dia tak percaya, aku akan memaksa. Setidaknya aku harus membuat dia tidak menerima Nick. Itu sudah cukup walau dia tak mau tahu tentang hatiku, batin Sam. Langkahnya tergesa mencari Alice, hingga matanya menangkap sosok Alice sedang berbicara dengan Emma berjalan menuju perpustakaan. “Alice! “ teriak Sam membuat si empunya nama menengok. “Sam!” Tepat saat itu Liza muncul dan bergelayut di tangan Sam. Membuat Sam mengerutkan kening bingung. “Lepaskan! Apa yang kaulakukan?!” bentak Sam. Matanya kembali melihat Alice yang terlihat menggelengkan kepala dan berlalu begitu saja. “Kenapa kau jahat sekali denganku? Terakhir kali kau meninggalkanku di party, dan kau tak menghubungiku sama sekali setelah itu. Sekarang kau—” “Terserah padamu! Aku tak peduli. Aku mempunyai urusan yang lebih penting dari pada harus mendengar keluhanmu! Aku bukan tempat pengaduan!” ketus Sam dan melepaskan rengkuhan tangan Liza dengan kasar lalu pergi untuk mengejar Alice. “Em, aku ingin bicara sebentar dengan Alice. Bisa kau—” “Kau tak perlu pergi, Em. Aku tak ingin bicara dengannya. Jika dia ingin bicara, lakukan tanpa kau harus pergi,” potong Alice sebelum Sam menyelesaikan kalimatnya. “Alice, kurasa kalian harus menyelesaikan masalah kalian. Jadi, bicaralah dengannya. Aku akan—” “Aku tak mau bicara hanya berdua dengannya. Aku takut dia melakukan hal itu lagi,” potong lagi Alice. Entah kenapa sekarang Alice mempunyai hobi baru yaitu memotong kalimat orang yang akan bicara dengannya. “Baiklah. Tak apa, Em. Aku akan tetap bicara, tapi bisakah kita berhenti berjalan dan bicara dengan tenang?” twar Sam membuat Alice mendelik. Emma memberi kode pada Sam untuk tak meminta yang macam-macam. “Oke, baiklah! Aku akan bicara langsung. Aku hanya ingin kau tak menerima Nick. Itu saja,” ujar Sam sukses membuat Alice menghentikan langkah yang berniat untuk mengembalikan beberapa buku ke perpustakaan. “Terakhir, kau sendiri yang mengatakan bahwa kau tak peduli dengan semua yang kulakukan termasuk menerima Nick. Sekarang, tanpa hujan dan badai, kau memintaku untuk melakukan hal sebaliknya. Kaupikir aku akan menuruti semua permintaanmu? Apa kau bertaruh padanya bahwa aku tak akan menerimanya? Kau mendapatkan apa jika aku tak menerimanya?” sinis Alice panjang lebar dan tepat. “Aku hanya berusaha untuk melindungimu. Aku tak bermaksud menyuruhmu. Aku hanya ....” Entah kenapa sulit bagi Sam mengatakan jika dia mencintai Alice. “Hanya apa? Hanya ingin menggangguku seperti biasa?” cecar Alice. “Aku—” “Dengarkan aku, Bryan Sam Dobson! Selama ini aku tak pernah mengganggumu dengan para gadis yang berkencan denganmu. Kita memang bersahabat sejak kecil, tapi kurasa kau harus pandai dengan tidak mencampuri urusan pribadiku. Sama sepertiku tak mencampuri dengan gadis mana kau akan tidur malam ini!” ketus Alice tak mau memperpanjang pembicaraannya dengan Sam. Dia memilih meninggalkan Sam yang tercengang dengan perkataannya barusan yang telak membuat Sam tak mampu membalas lagi. Untuk beberapa detik, tenggorokan Sam tercekat. Bahkan dia harus memejamkan mata sepersekian detik untuk menetralkan suhu di kepalanya yang mulai memanas. Dia pun kembali mengejar Alice yang berjalan beberapa langkah dari tempatnya terdiam tadi. Meraih tangan Alice agar berhenti melangkah dan hingga Alice siap mengeluarkan protes. “Lepaskan—” “Aku hanya berusaha memperingatimu, Alice. Aku hanya ingin menjagamu, tapi jika kau memilih pergi dari genggamanku, aku tak bisa berbuat banyak. Aku akan melepaskan tanganmu seperti ini. Sekarang semua terserah padamu. Kau ingin pergi dariku atau kembali menggenggam tanganku,” ujar Sam yang melepaskan tangan Alice, tapi masih menawarkan tangannya berharap untuk kembali digenggam. Namun, harapan tinggal harapan, kekecewaan mendatanginya. Alice mengabaikan tangannya dan memilih pergi. “Baiklah, kurasa pilihanmu sangat jelas. Jaga dirimu,” ujar lagi Sam sebelum dia benar-benar pergi dari Alice yang membelakanginya. Alice membelakanginya untuk menutupi air mata yang tak kuat lagi ditahan dan terjatuh begitu saja. “Selama ini dia hanya menjagaku, Em. Tak lebih.” Alice berujar saat Emma berdiri di sampingnya. Sebelum itu, Emma telah meminta Sam untuk tetap meyakinkan Alice, tapi Sam memilih menyerah. “Kurasa tidak. Dia mecintaimu, Al, sangat. Dan dia berusaha menjagamu agar kau tak—” “Dia terbiasa menjagaku sejak dulu karena Kak Alex dan Kak Rey melakukan hal itu. Dia tak bisa membedakan cinta dan kebiasaan yang dia lakukan sejak kecil. Dia—” “Aku melihatnya, Al. Dia mencintaimu, sungguh. Aku sering melihat mata Andrew saat menatapku penuh cinta dan mengucap maaf jika dia berbuat salah. Itu adalah rahasiaku dan Andrew hingga saat ini kami bisa terus bersama walau kami sering bertengkar. Kalian hanya salah paham, dan salah satu dari kalian harus memulai untuk mencoba memahami semuanya,” nasihat Emma, mencoba memberi Alice pemikiran yang masuk akal karena memang selama ini apa yang Emma dan Andrew lakukan adalah memahami jika mereka saling mencintai. Jadi, sebesar apa pun masalahnya, mereka akan tetap bersama karena cinta mereka lebih besar daripada masalah yang datang. “Aku sudah mencoba memahaminya, tapi dia tak seperti Andrew yang hanya berkencan denganmu. Dia seperti Kak Rey. Hanya saja Kak Rey mempunyai alasan jelas kenapa dia begitu. Sedangkan dia? Dulu tak begitu. Entah kenapa semenjak SMP, dia melakukan hal itu dan semakin sering. Aku hanya diam dan membiarkan dia melakukan semuanya sesuai keinginannya. Sekarang saat aku ingin melangkah dari zona dia menahanku. Bukankah seharusnya dia yang mulai memahami keinginanku? Aku hanya lelah, Em. Lelah menunggunya di satu tempat dan saat aku sudah pergi dari tempat itu, dia mengejarku dan memintaku kembali ke tempatku menunggu.” “Masalah kalian memang rumit. Aku hanya memberi nasihat untuk memikirkan ulang semuanya, tapi semua keputusan ada di tanganmu. Aku sebagai sahabatmu, hanya bisa mendukung,” ucap Emma. “Terima kasih, Em. Kau memang sahabat terbaikku,” balas Alice memeluk Emma. Mereka tak jadi ke perpustakaan dan malah berbelok ke taman dan duduk di sana sambil berpelukan. “Aku setelah Sam atau Sam lebih baik dariku?” Emma berusaha bergurau. “Berhenti membicarakannya, Em. Untuk saat ini kau yang terbaik.” Alice semakin mempererat pelukannya. “Baiklah, terserah kau, tapi lepaskan aku atau Andrew dan orang tuaku akan menuntutmu karena membunuhku akibat sesak napas karena pelukan ini,” gurau lagi Emma dengan suara yang semakin mengecil karena sesak. “Haha. Kau seperti bunny!” ujar Alice lalu melepaskan pelukannya. “What?! Kau menyamakanku dengan bunny-mu?” Emma tak terima. Alice mengangguk-anggukkan kepala dengan senyum mengembang. “Ya, mulai sekarang kau adalah bunny-ku. Tentu saja kau di urutan kedua untuk kali ini, karena yang pertama tak bisa tergantikan.” Alice berujar penuh semangat dan Emma tak tega menghilangkan semangat itu. “Baiklah, kau boleh menganggapku bunny-mu,” balas Emma terdengar pasrah. * “Bagaimana dengan tugasmu? Kau sudah melakukannya dengan baik?” “Tentu saja. Aku ahli dalam bidang itu dan kurasa rencana kita akan berhasil. Setelah ini, lakukan tugasmu dengan benar! Aku tak mau ada kegagalan. Aku ingin semua berjalan seperti rencana pertama kita yang berhasil.” Liza sedang berbicara dengan seseorang di telepon. “Kau tenang saja. Kali ini aku yakin berhasil karena dia tak akan mengira akan terjadi hal ini.” “Bagus, aku menantikan kabar tebaik darimu,” ujar lagi Liza. Elizabeth Carington Seseorang yang tak pernah gagal mendapatkan apa yang diinginkannya. Apa pun caranya akan dia lakukan demi kepuasan diri. “Kali ini kau akan hancur, Alice!” Liza berujar lalu pergi dari atap gedung setelah menatap tajam Alice yang berada di taman. *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD