| Dua insan itu masih bertautan. Saling melepaskan luka dan berharap luka itu terobati dengan satu kecupan. Mer bersemu. Jayusman salah tingkah. Rasanya aneh dan awkward. Mer merasa murahan hanya karena Jayusman mendengarkan kisah keterpurukannya. Seharusnya dia tidak seterlena itu. Ingin dia mengutuk dirinya sendiri. Merasa sama saja dengan para penjaja diri itu. Apa bedanya? Mer memejam. "Gue pulang," Mer bangkit beranjak menuju pintu. Ia tak bisa membayangkan andai Jayusman sampai berpikir macam-macam tentangnya. Gadis bo*oh! "Pulang? Ke rusun? Di luar masih hujan, Mer." Jayusman mengingatkan. "Gue merasa salah langkah. Maaf, seharusnya hal tadi--" "Aku yang minta maaf, Mer. Maaf, tapi benar, jujur aku nggak berpikir macem-macem, aku menganggapmu... --kekasih. Emang bego sih, u

