BERTEMU (BAGIAN 2)

1549 Words
Tidak terasa sudah satu minggu berlalu. Karina masih mencari tau tentang Ray ketika Eleazar dan Katie tidak ada di rumah. Agak berisiko untuk mencari tau tentang Ray kalau orangtuanya ada di rumah, walau Karina melakukannya dengan menggunakan laptopnya saja. Karina begitu ngotot mencari Ray bukan hanya untuk dirinya saja, melainkan juga untuk si kecil yang berada dalam kandungannya. Usia kandungan Karina saat ini sudah menginjak minggu ke tiga puluh tiga. Enam minggu lagi, tepatnya seminggu setelah ulang tahun Karina ke dua puluh satu, diperkirakan Karina akan melahirkan baby D. Karina tersenyum sambil mengelus perutnya yang semakin membuncit, berbisik lembut pada baby D dalam kandungannya bahwa Karina menyayangi dan mencintai si kecil dengan segenap hatinya. "Karina!" sapa Lilia, "kamu sudah lama menunggu?" "Belum lama, Kak Lila. Baru sampai lima menit lalu kok." Lilia menarik kursi disebelah Karina lalu membuka buku menu, "Kamu sudah pesan makanan?" "Belum. Niatnya Karina menunggu Kak Lila datang, baru deh pesan makanan." "Okay, Kak Lila baca dulu menunya." Karina mengangguk, "Aku sudah baca buku menu tadi dan sudah tau mau pesan apa." "Kamu mau pesan apa memangnya?" "Aku mau pesan menu nasi sapo tahu ayam." "Minumannya?" “Aku enggak pesan minum, Kak. Aku bawa botol air minum sendiri kok," Karina lalu menunjukkan botol air besar berukuran dua liter pada Lilia. "Botol minum segede itu, nanti tambah sering mampir ke toiletnya." "Kalau itu mah sudah biasa belakangan ini." Lilia meringism "Iya sih, perutmu udah buncit banget. Kata mami, kalau kandungannya udah besar memang sering ke toilet jadinya ya?" "Iya kak, karena kandung kemihnya terus tertekan sama si kecil makanya lebih sering kepingin ke toilet." "Repotnya ibu hamil." Karina tertawa, "Aku bisa apa selain menikmati prosesnya. Mungkin aja di masa depan aku enggak bisa rasain ini lagi." "Kok ngomong kayak gitu sih?" "Aku realistis aja, kak. Siapa sih orangtua yang mau anak laki-lakinya menikah sama perempuan yang punya anak diluar nikah?" "Pasti ada, Karina. Jangan pesimis begitu!” "Iya, Kak Lila. Hanya saja yang Kak Lila bilang itu tuh sama aja kayak nyari jarum ditumpukkan jerami. Lain halnya kalau ada bule yang kepincut sama aku." "Kok bule?" "Kayak kak Lila nggak tau aja, orang bule kan memang lebih fleksibel soal itu. Enggak peduli perempuannya pernah nikah atau punya anak di luar nikah, asal perempuannya baik dan anak laki-lakinya suka, kebanyakan mah rela-rela aja restuinnya. Coba lihat aja di film." Lilia mendesah, "Sudah jangan bicarakan itu lagi deh. Kak Lila ke kasir dulu." Karina bingung melihat Lilia yang tampaknya tidak suka dengan gagasan laki-laki bule tertarik pada Karina. Ada apa dengan kakak sepupunya itu? Lilia pun segera kembali ke meja setelah memesan dan membayar pesanan mereka berdua. Ketika kembali ke meja muka Lilia sudah lebih cerah, mungkin Lilia sudah melupakan percakapan mereka sebelumnya. "Habis ini mau ke mana?" Karina menggeleng, "Jalan aja palingan. Aku nggak tau mau ke mana. Nggak ada yang pingin di beli juga." "Kamu itu kebiasaan." "Sejak hamil yang gini kak, habisnya juga seringan di rumah aja. Kalau keluar sedikit was-was, takut ketemu temen kuliah." "Mall di Jakarta kan banyak, Karin. Nggak usah terlalu cemas. Kemarin juga baik-baik aja kan?" "Iya kalau ketemu yang baik, kak." "Memangnya kamu punya musuh di kampus?" "Enggak sih," Karina nyengir lebar membuat Lilia mendengus sebal. Sambil menunggu pesanan diantar, mereka pun berbincang seru mengenai penyanyi tampan dari indonesia yang baru-baru ini mendapat kesempatan tampil di Korea. Percakapan seru mereka di potong oleh kehadiran seseorang yang mengejutkan yang hendak duduk di sebelah meja mereka. Mata Karina membulat, begitu terkejut melihat kehadiran pemuda tampan di sampingnya. Pemuda yang selama delapan bulan ini Karina harapkan. Pemuda yang selama dua minggu ini dipikirkan oleh Karina. Ray. "Karina!" lirih Ray pelan. Pemuda berparas tampan yang pernah sangat Karina sukai itu tampak tegang berdiri di sampingnya. Setelah beberapa saat saling menatap, Ray kembali mengucapkan nama Karina lalu pria itu mendesah berat. Karina sendiri tidak bisa berkata apa-apa melihat pria yang selama delapan bulan ini sangat ditunggunya. Karina sangat ingin marah pada pria di hadapannya ini, tetapi di sisi lain Karina juga sangat ingin memeluknya. Karina juga merasa sedih, memikirkan mengapa Ray bersikap begitu tidak bertanggungjawab, memikirkan kenapa Ray begitu tega padanya. Padahal Karina sudah membuka hatinya untuk Ray dan mulai menyayangi Ray, mencintai Ray. "Itu Ray?" suara milik Lilia yang berbisik di telinga Karina, membuyarkan lamunan Karina. Karina tidak menjawab, ia hanya mengangguk. Lilia pun mengambil inisiatif meminta Ray duduk di meja mereka. Sebenci-bencinya dan semarah-marahnya Lilia pada pemuda yang menghancurkan masa depan adik sepupunya, Lilia tetap tidak merasa punya hak untuk memaki pemuda ini. Lilia hanya ada di sini untuk menemani Karina. "Kenapa baru sekarang?" Karina berkata lirih, menatap pria di hadapannya dengan pandangan berkaca-kaca. Ray tampak lebih tegang dari sebelumnya, melihat Karina yang tampak siap menumpahkan air matanya. Ray mendesah lalu menundukkan kepalanya. "Aku.." Ray terdiam setelah mengucapkan satu kata itu. "Kenapa?" desak Karina. "Maaf." Karina menghembuskan nafas dengan keras, "Yang aku butuhkan saat ini cuma penjelasan kamu. Kenapa kamu menghilang tanpa jejak? Padahal kamu bilang mau bertanggung jawab!" marah Karina dengan suara bergetar. "Aku sakit." Mata Karina membulat. Tidak percaya dengan apa yang barusan didengarnya. Drama macam apa lagi ini? "Kamu bercanda? Apa kamu berpikir Karina akan percaya dengan hal itu?" Lilia akhirnya ikut masuk ke dalam percakapan mereka karena gemas. Alasan yang dilontarkan oleh Ray seperti yang sering dilihat dalam drama. Muka Lilia tampak memerah menahan amarah. Awalnya Lilia menahan diri, namun mendengar alasan yang diucapkan Ray, Lilia menjadi tidak tahan untuk tidak marah dan ikut campur. Ray mendesah lalu menggeleng, "Aku tidak bercanda." "Lalu?" tanya Karina, dengan tatapan menuntut Ray menjelaskan apa maksudnya berkata seperti itu tadi. Lilia menghela nafas kasar. Merasa dirinya tidak patut mendengarkan pembicaraan ini, Lilia bangkit berdiri, "Aku duduk di sana ya, Karina. Bicara dengannya baik-baik, jangan sampai emosi kamu mempengaruhi si kecil." Karina menatap Lilia sejenak sebelum mengangguk, lalu dengan cepat mengalihkan pandangannya pada Ray, seakan takut pria itu menghilang begitu ia mengalihkan pandangannya. "Jadi?" desak Karina lagi. "OCD." "Apa?" Karina kembali menatap Ray tak percaya. "Obsessive-compulsive Disorder." "Aku tau penyakit apa itu! Tapi, Ray, apa kamu pikir aku akan percaya begitu saja?" "Karina, please!" lirih Ray. "Penyakit itu membuat orang membutuhkan waktu lama untuk pulih. Aku sering melihat itu di drama! Bahkan orang bodoh pun paham kalau penyakit itu tidak mudah di sembuhkan! Jangan pernah berpikir kamu bisa menipu aku, Ray!" Karina bangkit berdiri dengan sedikit tergesa. Lilia yang melihat Karina bangkit berdiri dengan tergesa-gesa langsung datang menghampiri Karina, "Karina, pelan-pelan!" "Kita pulang saja, Kak Lila. Aku tidak mau berada di sini lagi!" ucap Karina yang berusaha untuk tidak memperdulikan pandangan memelas Ray. Lilia mengangguk dan membantu Karina yang tampak sedikit kesusahan dengan perut buncitnya untuk berjalan menuju parkiran di mana tempat mobil Lilia berada. Dalam hati Lilia berpikir tidak akan membiarkan Karina keluar setelah ini, dengan perut yang sudah membuncit seperti ini. Apalagi kalau sampai bertemu Ray lagi, yang bisa membuat Karina tambah stress dan mungkin saja bisa membuat Karina melahirkan lebih cepat. Setelah pulang dari makan siang bersama Lilia, Karina yang masih shock dan kesal akibat percakapannya dengan Ray tadi, akhirnya memutuskan untuk berjalan-jalan ke taman di dekat rumahnya sendirian. Sedangkan Lilia langsung pulang ke rumahnya setelah mengantarkan Karina pulang. Keluarga Karina sedang tidak ada di rumah, jadi daripada Karina bengong sendirian dan memikirkan hal-hak yang buruk dan menyebalkan, lebih baik Karina duduk-duduk di taman. Menikmati udara segar sekaligus pemandangan yang menyenangkan. Pemandangan anak-anak kecil bermain di bak pasir, perosotan, dan permainan lainnya yang ada di taman ini. Memang ada beberapa bisikan usil terdengar mengenai kehamilan Karina yang tanpa didampingi seorang suami dan tanpa menikah terlebih dahulu. Tapi buat apa mendengarkan bisikan usil nan jahat yang akan membuatnya stress, menikmati pemandangan anak-anak bermain jauh lebih menyenangkan dan menenangkan. Kala melihat anak-anak itu bermain, Karina tidak sengaja kembali memikirkan pembicaraannya tadi dengan Ray. Karina mendengus, merasa jengkel karena Ray berpikir bahwa Karina akan mempercayai begitu omong kosong yang diucapkannya. Sibuk memikirkan tentang Ray membuat Karina tidak menyadari ada seseorang yang berjalan mendekatinya. Seseorang itu menepuk pundaknya pelan. Karina menoleh ke belakang dan mendapati Albert berdiri di situ. “Albert?” Albert nyengir. Lalu mengambil tempat duduk di sebelah Karina. Berhati-hati agar tidak membuat guncangan yang berbahaya untuk bayi yang berada dalam kandungan Karina. "Tumben kamu di sini. Ngapain?" tanya Albert. "Bosen aja di Kamar terus dan nggak ada yang bisa diajak mengobrol,” Karina menoleh menatap Albert, "kamu sendiri ngapain di sini?" "Tadi aku ke rumah kamu, tapi Bik Ijah bilang kamu lagi ke taman. Jadi, aku susulin deh ke sini," Albert terdiam beberapa saat sebelum mendesah berat, namun dia tidak mengatakan apa-apa lagi setelahnya. "Kenapa sih?" tanya Karina lagi. Mendesak Albert agar cowok ini mau menyelesaikan perkataannya. Hasilnya nihil. Albert tetap bungkam. "Ya sudah kalau nggak mau bicara, aku yang mau akan bicara." Karina tampak sedih ketika kembali berkata, "aku ketemu Ray tadi " "What?" Albert serta merta menghadap Karina, matanya terbelalak, "kamu serius?" "Ngapain juga aku bercanda!" sahut Karina ketus. "Kamu sempat bicara sama Ray?" "Iya, aku sempat bicara sama Ray. Dan Ray mengatakan sesuatu yang nggak masuk akal!" Karina mencibir, "apa dia berharap aku masih gadis polos yang sama, yang masih dengan mudah ditipunya?" Albert mendesah. Albert tau walau Karina berkata begitu, dalam hatinya Karina pasti berharap untuk bisa percaya lagi karena Albert yakin dia masih mencintai Ray. Kalau begini, aku jadi bingung. Apa aku harus mengatakannya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD