6. Rencana Pernikahan Davira

1713 Words
Penulis Pov Pukul 6 pagi, Bianca tiba di kantornya. Dia terlihat menyiapkan dokumen untuk pertemuan bulanan   pagi ini. Bianca membuka laptopnya dan segera mencetak data yang akan dia bawa ke  pertemuan  nanti. Periksa,  "Moning, Bii  . Tumben benar-benar datang pagi-pagi?" kata Icha baru. Icha menatap jam di tangannya jam 6:10 pagi. Ketika dia baru saja tiba, Mba Uni mengatakan kepadanya bahwa Bianca telah datang, jadi Icha langsung pergi ke kamar Bianca. "Ya, kami mengadakan pertemuan Cha bulanan  ,  " jawab Bianca, yang masih bergerak menggunakan laptopnya. "Bii, ayo makan sarapan dulu," Icha mengundang. "Aku sudah makan nasi goreng, aku belum membereskannya," jawab Bianca dengan tangannya menunjuk ke meja yang berisi piring kotor serta gelas berisi setengah s**u. "Oke. Aku akan sarapan dulu," kata Icha dan berjalan keluar. Setelah meninggalkan kamar Bianca, Icha sedikit bingung. Naena juga baru saja keluar dari lift. Dia segera mendekati Naena dan berkata, membisikkan sesuatu. Mendengar bisikan Icha, Naena menatap Icha dengan tak percaya. "Yah, mungkin Bianca sibuk lagi," kata Icha lagi dan Naena mengangguk. Pada 08:00 Bianca, Naena, Icha, Nathan dan kepala lainnya berkumpul di  pertemuan  ruangan  . "Selamat pagi," kata Bianca, membuka  pertemuan bulanan. "Pagi" jawab semua yang ada di dalam ruangan. "Seperti biasa, pagi hari ini kita akan melaporkan laporan keuangan, laporan kegiatan, laporan produksi product kita selama sebulan ini. Dan saya minta diakhir nanti pendapat atau ide-ide briliant kalian untuk kemajuan Binca Managemen" ucap Bianca dengan wibawanya. Untuk yang pertama melaporkan laporan keuangan adalah Icha. Icha menjelaskan pemasukan dan pengeluaran selama satu bulan ini. Lalu Icha juga mempresentasikan keuntungan Bianca Management yang Alhamdulillah semakin meningkat. Tepuk tangan pun mengakhiri presentasi Icha. Selanjutnya Naena mempresentasikan hasil laporannya. Naena memperlihatkan beberapa rancangan gaun pengntin yang selama sebulan ini sudah sudah dia buat dan beberapa hasil rancangan terbarunya yang launching bulan depan. Lagi-lagi tepuk tangan mengakhiri presentasi Naena. Lalu selanjutnya Nathan. Seperti Icha dan Naena, laporan Nathan juga tidak berbeda jauh. Nathan juga mempunyai beberapa menu baru yang akan launching bulan depan. Satu jam meeting, semua pun bahagia dan bertepuk tangan dengan kemajuan Bianca Management. Akhirnya meeting hari ini selesai dan mereka semua kembali ke ruangan masing-masing. Bianca masih merapikan berkas-berkasnya. Nathan pun memberanikan diri mendekati Bianca. Icha dan Naena saling bertatapan dan mereka satu pemikiran akhirnya keluar dari ruangan itu. "Bii" ucap Nathan lembut. "Jumat ini ada acara tidak?" tanya Nathan. "Kamu tidak memperhatikan rapat kita tadi" ucap Bianca datar. Nathan tersenyum kikuk, justru dia selalu memperhatikan Bianca, apalagi saat presentasi tadi. Tapi maksud pertanyaan Nathan bukan acara pernikahan BM, melainkan acara pribadi Bianca. "Bii, jumat malam aku ajak kamu jalan ya" ajak Nathan to the point. Karena Nathan yakin kalau dia berbasa-basi Bianca tidak akan mengerti juga maksud dan tujuannya. "Tidak bisa" jawab Bianca datar. "Baiklah, aku akan menunggu sampai kamu bisa. Ini ada sedikit bekal untukmu. Semoga kamu menyukainya" ucap Nathan dengan nada sedikit kecewa, lalu meletakkan  kotak makan berwarna hijau toska di atas meja depan Bianca. Setelah memastikan Nathan keluar, Bianca bernafas lega. Bianca melirik kotak makan bewarna toska, warna favouritenya. "Nat, please berhenti mendekatiku" batin Bianca pelan melihat kotak makan itu. Tok tok Ceklek "Maaf, Bu. Di lobby ada tamu yang menunggu Ibu" ucap Mba Uni yang baru saja masuk.  "Oke. Terima kasih Mba. Tolong rapihkan ruangan ini ya. Saya akan meminta Rita mengntarkan mereka ke ruangan B" ucap Bianca Bianca pun menghubungi recepcionis dibawah dan meminta tolong untuk mengantarkan tamu ke ruangan B. Ruangan tamu kecil yang terletak di lantai 5 tak jauh dari ruang meeting. Bianca sudah menunggu di ruang B. Tak lama Rita mengetuk pintu dan mengantarkan dua orang tamu masuk ke dalam ruangan itu. Bianca sempat terkejut melihat tamu yang datang dihadapannya saat ini. Bianca terdiam dan masih mengingat ucapan buruk yang keluar dari wanita berbaju kuning itu. Apalagi dengan pria sombong disamping wanita itu. "Well. Untuk apa mereka datang lagi" batin Bianca dengan emosi. "Silahkan duduk" ucap Bianca memasang senyum terpaksanya. "Terima kasih, Bii" ucap Davira. Davira dan Willy duduk di sofa bewarna mocca. "Sebentar ya" ucap Bianca. Bianca terlihat menghubungi seseorang melalui pesawat telepon yang terpasang dipojok dinding. "Ada apa Vir? Kamu belum menghubungiku kalauau datang kesini?" tanya Bianca tanpa rasa beban. Tok Tok Ceklek "Masuklah. Perkenalkan Ini Icha Manager keuangan dan ini Naina stylish sekaligus perancang busana pengantin kami" ucap Bianca memperkenalkan Icha dan Naena. Icha dan Naena pun bersalaman dengan Davira yang tersenyum semanis mungkin dan Willy dengan wajah datarnya. Naena dan Icha ikut duduk di samping Binca. Icha dan Naena bertanya-tanya dalam hatinya ada apa Bianca memintanya kesini. Setelah mereka melihat Davira dan Willy, mereka mengira Davira dan Willy memang sudah membuat janji pada Bianca dan jadi memakai BM untuk WO mereka. Tentu saja Icha dan Naena bersorak kegirangan di dalam hatinya. "Iya, Bii. Sebenarnya kemarin aku nunggu kamu. Eh, kamunya tidak datang" ucap Davira. "Iya maaf ya. Aku tidak bisa datang karena ada pernikahan yang harus aku urus" ucap Bianca berbohong. Icha dan Naena langsung menatap Bianca. Mereka pun terkejut dengan jawaban Bianca. Jadi kemana Bianca semalam?  Itulah yang ada di dalm pikiran mereka. Tanpa mereka semua sadari, Willy menatap Bianca intens. Dan aura Bianca pun sudah mulai terlihat dingin juga tidak bersahabat. "Oh. Aku sama Willy sepertinya mau memakai WO kamu Bii" ucap Davira tanpa dosa. "Oh, ya. Untuk tanggal berapa? Karena selama setahun ke depan jadwal kami padat" ucap Bianca dengan nada sedikit sombong. Icha dan Naena saling melirik. Mereka masih dipenuhi banyak pertanyaan. Apalagi Bianca tidak pernah memberikan jawaban padatnya WO mereka. Sebisa mungkin Bianca selalu menerima semua job yang datang. "6 bulan lagi. Kitakan teman SMA. Pastinya kamu bisa membuatkan jadwal buat acara aku. Untuk tanggal kami masih mencari yang cocok. Yakan Ka?" ucap Davira dan menatap Willy lalu Willy menganggukan kepalanya. "Terus?" tanya Bianca dengan aura semakin tak bersahabat. "Iya kamu tahu tidak Bii? Aku rencannya mau mengundang teman-teman SMA kita. Kamu sih tidak datang semalam. Jadi kita bisa seru-seruan lagi seperti SMA" ucap Davira dengan wajah polosnya. "Kamu pintar sekali berkata manis. Dasar penjilat" batin Bianca. "Iya pasti sangat menyenangkan. Apalagi kita bisa saling mengingat masa-masa SMA dulu saat asyik saling mengejek. Pasti masih ingat donk, Rina gadis cupu yang selalu duduk di pojok" ucap Bianca tertekekeh Jleb Davira seakan di skakmat oleh Bianca. Tetapi bukan Davira namanya kalau tidak bisa berakting manis. Lagi pula Davira tidak mengenal siapa Rina. Davira sedikit mengingat siapa lagi gadis cupu selain Bianca. Sudahlah itu tidak penting baginya.  Berbeda dengan Davira yang masih santai dan tidak merasa omongan Bianca ditujukan padanya,  Icha dan Naena menelan salivanya. "Oh, iya Bii. Kitakan teman baik nih di SMA. Kamu pasti punya yang spesial buat aku donk" ucap Davira dengan senyum manis tanpa dosa. "Oh, pasti. Karena kamu teman baik aku di SMA. Untuk pernikahanmu aku akan berikan setengah harga paket VVIP" ucap Bianca. Naena dan Icha semakin terkejut dan tidak mengerti yang ada dipikiran Bianca. "Serius, Bii" ucap Davira yang sangat gembira memegang tangan Bianca. "Iya, tapi semuanya surprise" ucap Bianca. "Maksudnya?" tanya Davira bingung. "Kamu tenang saja, Vir. Aku akan mendesain yang terbaik dan paling bagus. Kebetulan Naena mempunyi rancangan gaun pengantin terbaik dan belum pernah siapun memakainya. Untuk dekorasi kalian tinggal pilih warna, aku akan membuat dekorasi yang berbeda dari dekorasi yang pernah aku buat" ucap Bianca dingin, tetapi Davira tidak terlu memikirkannya. Dia terlalu bahagia saat ini. "Tidak" tolak Willy. Membuat Davira menatapnya. "Kenapa Ka?" tanya Davira. "Aku akan membayarnya full" ucap Willy yang terlihat tidak suka ucapan Bianca. "Ka, jangan gitu donk. Bianca maksudnya baik. Kita teman baik di SMA. Pasti Bianca juga mau yang terbaik untuk pernikahan kita" ucap Davira meyakinkan Willy. Di dalam hati Bianca hanya tersenyum sinis setiap Davira menyebutnya teman baik. "Ini pernikahan Vir. Bukan main-main. Kita harus mempersiapkannya dengan matang" ucap Willy tegas. "Ka. Bianca pasti bisa membuat pernika-" Davira menghentikan ucapannya karena terpotong oleh Willy. "Yang mau menikah kamu atau dia? Kenapa harus dia yang mengatur semuanya. Ini pernikahan kita jadi harus sesuai dengan kemauan kita" ucap Willy tak kalah dingin. Davira terdiam, begitu juga Naena dan Icha mereka menelan salivanya. Willy terlihat sekali aura amarahnya karena merasa diremehkan oleh Bianca. Bianca tetap merasa tenang tanpa dosa. Dengan sengaja Bianca berdiri lalu terlihat menelepon seseorang. Setelah itu kembali duduk, dan sangat terlihat tatapan Willy semakin tajam padanya. "Jadi, kakak maunya bagaimana? Semalam kakak-" belum lagi Davira menyelesaikan ucapannya dengan nada bersalah kepada Willy, pria itu lagi-lagi memotong pembicaraannya. "Pernikahan itu sakral dan suci. Warna putih lebih cocok karena sangat menunjukkan kesucian" potong Willy. Tok Tok "Masuk" ucap Bianca. Ceklek masuklah Mba Uni membawakan 5 gelas berisi sparkling tea. Lalu Mba Uni meletakkannya di atas meja. "Terima kasih, Mbak" ucap Bianca, llu Mba Uni pun kembali keluar. "Silahkan, ini adalah sparkling tea, salah satu minuman dari catering kami yang banyak diminati. Selain rasanya nikmat, sangat pas untuk mendinginkan hati yang sedang panas" ucap Bianca dengan senyum sedikit menyindir. Tentu saja Willy bertambah emosi, ucapannya tadi merasa diabaikan oleh Bianca. Apalagi Bianca jelas-jelas menyindirnya. Dan sekarang dia melihat Bianca asyik menghisap minuman itu. "Okey, jadi bagaimana?" tanya Bianca tanpa beban. Davira wajahnya berubah sedih dan takut dia hanya terdiam. "Kau tidak mendengarkan ucapanku" ucap Willy dingin. "Dengar. Aku cuma butuh kejelasan mau pakai rancangan dari Binca Management atau tidak. Kalau tidak mau, kami tidak memaksa. Padahal itulah fungsinya teman, bukan begitu Davira? " jawab Bianca santai dan sedikit menyindir Davira. Davira hanya tersenyum kikuk. Sejujurnya dia tidak mencerna ucapan Bianca, yang dia takutkan sekarang adalah Willy yang auranya semakin horor. "Tahu apa kau dengan pernikahan.  Kamu Sendiri saja masih belum menikah" ucap Willy tajam Jleb Dengan umur Bianka yang sudah 25 tahun, sudah pasti menjadi pertanyaan orang-orang kenapa sampai saat ini Bianca belum menikah. Naena dan Icha lagi-lagi menelan salivanya. Aura ruangan ini semakin dingin. Mereka sudah melihat mimik wajah Bianca berubah tajam. Mereka tahu pasti Bianca akan mengamuk disini. Dengan cepat Icha dan Naena memegamg gelas mereka. Karena bisa-bisa Bianca melempar minuman itu ke wajah Willy. Bianca berdiri dan melangkah mendekati Willy. Mereka berdua sudah seperti singa yang siap saling menerjang. Icha dan Naena sudah menunduk, dia lupa di depan Willy masih ada gelas yangasih terisi. Pasti Bianca akan menyiram Willy itulah yang diperkirakan Icha dan Naena. "I will make your beautiful wedding in white" ucap Bianca tajam dihadapan Willy. Setelah itu Bianca pun melangkah pergi tanpa pamit. Dan menutup pintu dengan sedikit keras. Blam
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD