Bianca sedang mengecek dekorasi di menara 145. Para pekerja semuanya sibuk mendekor ballroom ini.
Dekorasi permintaan calon pengantin kali ini adalah dekorasi elegan dengan warna persik salem. Bianca terlihat sangat teliti setiap dekorasinya. Karena Bianca tidak ingin ada kekurangan sedikit pun.
Drrrt Drrrt
"Hallo, sayang" ucap seorang wanita diseberang sana.
"Halo, Mi" jawab Bianca lesu.
"Anak Mami kenapa? Jawabnya lesu sekali?"
"Tidak apa-apa, Mi. Aku sedang mengecek dekorasi untuk client"
"Hem. Kamu selalu mengurusi pernikahan orang lain. Lalu kapan kamu bisa mengurusi pernikahanmu sendiri, Bii?"
"Mi, nanti Bianca telepon lagi ya. Bianca harus mengecek pelaminan dulu ya. Luv you Mi" ucap Bianca mematikan ponselnya.
Bianca menghela nafas berat. Bukannya Bianca tidak suka Mami meneleponnya, justru Bianca sangat rindu sekali dengan orang tuanya yang saat ini sedang di Australia.
Yang Bianca tidak suka adalah Mami selalu menanyakan kapan dia menikah. Pertanyaan yang sangat sulit untuk Bianca jawab. Bianca lebih memilih menghindar daripada harus menjawab pertanyaan horor itu.
Bianca duduk di bangku dengan lesu. Dia sudah terbiasa setahun ini selalu dapat pertanyaan itu dari Mami. Yang membuatnya lesu adalah acara Reuna SMA hari minggu nanti.
Selama ada Reuni Bianca tidak pernah dapat undangan. Sekali dapat undangan itu setelah acara Reuni selesai. Bianca menggelengkan kepalanya, sepertinya dia lebih memilih untuk tidak menghadirinya, toh dia juga bukan yg diharapkan datang disana.
"Bii, loe harus datang. Loe harus tunjukkan ke teman-teman SMA. Kalau Bianca itu adalah wanita pintar, cantik, mandiri, dan pastinya bukan penjilat yang mau berteman dengan orang-orang cantik saja" kata-kata Icha tadi pagi terbesit olehnya.
"Iya, Bii. Mereka harus mengenal Bianca yang sesungguhnya. Bukan Bianca yang kutu buku atau cupu lagi. Pokoknya loe datang saja, kita akan menghandle acara di 145. Gue dan Icha akan buat loe menjadi yang paling tercantik saat reuni nanti" kali ini ucapan Naena yang teringat oleh Bianca.
Bianca menghela nafasnya. Dia tidak menyangka dua sahabatnya sangat baik padanya. Dan dia harus berterima kasih kepada dua sahabatnya yang sudah membuat dirinya menjadi Bianca saat ini.
Dan hari itu pun tiba. Sejak jam 4 sore Bianca sudah berada di kantornya. Saat ini Bianca berada di lantai dua. Ya, bisa dikatakan lantai dua itu tempat wadrobe sekaligus tempat make up.
Bianca sudah duduk manis di depan cermin, Naena sudah mengenakan apron yang lengkap berisi kuas bisa dikatakan sudah seperti MUA yang siap mendandani artisnya.
"Guys, haruskah seperti ini? Bisakah gue make up seperti biasa saja?" tanya Bianca ragu.
"NO" jawab Naena dan Icha bersamaan.
Naena pun sengaja menutup cermin di depan Bianca, agar Bianca tidak banyak protes terhadap apa yang dia lakukan pada wajah Bianca nanti.
Dan akhirnya Bianca pun mengalah dan mengikuti semua perkataan sahabat-sahabatnya itu.
Naena mulai membersihkan wajah Bianca. Naena memoleskan moisturizer ke seluruh wajah Bianca. Lalu Naena mengmbil primer dan kembali memoleskannya ke wajah Bianca.
"Perfect" ucap Naena mengakhiri kegiatannya lalu membuka kain yang menutupi cermin di hadapan Bianca.
"Bii, cantik bangat" ucap Icha terpesona dengan Bianca.
Sementara Naena sedang memoleskan foundation dan concealer ke wajah Bianca, Icha asyik memilih gaun yang untuk Bianca gunakan.
"Selesai" ucap Naena mengakhiri polesannya.
"Aku juga sudah menemukan gaun yang cocok untuk loe Bii" ucap Icha memperlihatkan gaun hitam kepada Naena dan Bianca.
"Good" ucap Naena mengacungkan ibu jarinya.
Icha memberikan gaun itu kepada Bianca. Lalu Bianca melangkah ke ruang ganti untuk memakai gaun pilihan Icha.
"Oke, sekarang mari kita rapikan rambut cantikmu ini" ucap Naena bersemangat ketika Bianca sudah keluar dari ruang ganti.
Bianca masih pasrah dan dia tidak berani menatap wajahnya di cermin. Yang Bianca tahu saat ini Naena saat ini sedang membuat rambut lurusnya menjadi gelombang.
"I'm Finish" ucap Naena mengakhiri kegiatannya. Dan membuka kain yang menutupi cermin di hadapan Bianca.
"Bii, ini beneran elo?" ucap Icha tak percaya.
Bianca pun tak percaya menatap dirinya di cermin. Ini seperti bukan dirinya. Cantik, itu yang dia lihat pantulan dirinya saat ini.
"Ini gue?" tanya Bianca pelan.
"Iyakan. Loe itu emang cantik aslinya" ucap Naena memegang kedua bahu Bianca.
"Makasih ya. Gue sayang bangat sama kalian. Kalian is the best" ucap Bianca memeluk kedua sahabatnya itu.
"Kita juga sayang sama loe Bii" ucap Naena dan Icha bersamaan.
Naena merapikan perlengkapan make up, dan Bianca memakai heels. Setelah semua rapi, Bianca sudah siap untuk datang ke acara reuni itu.
"Bii, loe serius mau datang sendirian?" tanya Naena.
Saat ini mereka sudah melangkah meninggalkan ruang make up menuju lift.
"Bii, kenapa tidak ajak Nathan saja. Dia pasti mau diajak sama loe" ucap Icha.
Bianca pun langsung menatap horor kepada Icha.
"Ok. Fine-fine" ucap Icha terkekeh.
Ting
Pintu lift pun terbuka. Dan tepat pada saat itu Nathan ada di dalam lift. Icha dan Naena seakan satu pemikiran.
"Bii, duluan saja ya. Ponsel gue ketinggalan di ruangan. Cha temenin gue ya" ucap Naena.
"Oke. Sukses ya Bii. Hati-hati di jalan" ucap Icha.
Icha dan Naena pun langsung berlari meninggalkan Bianca. Bianca hanya bosa menghela nafas. Dia pun melangkah memasuki lift yang hanya ada Nathan disana.
Nathan terdiam menatap Bianca karena dia terpesona penampilan Bianca saat ini. Apalagi wangi bunga Lily menyeruak di dalam lift saat Bianca masuk. Nathan seakan tersihir oleh kecantikan Bianca.
"Kamu cantik sekali, Bii" ucap Nathan pelan dan masih bisa di dengar oleh Bianca.
"Hah"
"Em, mau kemana Bii?" tanya Nathan salah tingkah.
"Reuni" jawab Bianca singkat tanpa menatap Nathan.
"Sendiri" entah ini pertanyaan atau pernyataan yang Nathan ucapkan.
"Nanti disana juga banyak orang" jawab Bianca singkat kembali.
"Maksud-" belum sempat Nathan meneruskan ucapannya pintu lift terbuka.
Bianca yang tahu arah kemana pertanyaan Nathan langsung saja melangkah cepat meninggalkan Nathan.
"Duluan ya, Nat" ucap Bianca sebelum pergi.
Nathan hanya tersenyum melihat Bianca pergi. Mungkin akan sulit bagi Nathan mendekati Bianca, walau Naena dn Icha selalu mendukungnya.
"Aku akan berusaha menghancurkan batu karang dihatimu Bii. Tolong ijinkan aku masuk ke hatimu, Bii" ucap Nathan sedikit sedih dengan sikap Bianca kepadanya.
Setelah 20 menit menaiki taksi online yang Bianca pesan sampailah Bianca di daerah salemba. Bianca masih di dalam mobil, dia terdiam sebentar.
Bianca menatap keluar, sudah banyak alumni SMA Citra Bangsa berdatangan. Kebanyakan dari mereka datang berpasangan. Ada yang bersama teman mereka sewaktu SMA, suami, kekasih, bahkan yang membawa anak kecil juga ada.
Bianca semakin ragu, tidak ada yang datang sendiri ke acara reuni ini seperti dirinya. Seharusnya tadi dia menyetujui ide Icha untuk mengajak Nathan, setidaknya dia tidak terlihat menyedihkan.
Bianca berpikir lagi. Tidak, tindakannya kali ini sudah benar. Dia tidak ingin memberikan harapan kepada Nathan. Bianca akui dia hatinya masih terkunci rapat dan dia tidak ingin dimasuki oleh pria manapun.
Baru saja Bianca ingin meminta driver taksi online itu untuk putar balik, ponselnya berbunyi. Bianca pun mengambil ponsel dan membuka pesan yang masuk.
Naena
Bii, semangat. Kamu harus percaya diri ya.
Icha
Bii, kamu pasti bisa. Kami selalu mendukungmu
Bianca menggigit bibirnya. Hati tidak tega mengecewakan hasil karya dua sahabatnya itu. Kalau Bianca kembali, pasti Naena dan Icha akan sedih.
Bianca pun menarik nafas panjang. Dia pun membuka pintu mobil penumpang dan turun dari taksi online bewarna hitam.
"Kamu bisa, Bii" batin Bianca menyemangati dirinya sendiri.
Bianca memberanikan dirinya memasuki gedung tempat acara itu. Berkali-kali Bianca berkata di dalam hatinya 'Aku pasti bisa' untuk memberikan kepercayaan dirinya. Sepanjang dia melangkah masuk ke dalam gedung, hampir semua tamu memandangnya kagum. Tak ada satu pun yang mengenali siapa Bianca. Mereka semua bertanya-tanya apakah itu salah satu bintang tamu disini?
Tetapi Bianca memandang berbeda, Bianca kira mereka berbisik membicarakan Bianca yang tidak-tidak. Bianca pun dengan tertunduk tetap melanjutkan langkahnya. Bianca melihat sudah banyak orang datang dan duduk di depan panggung. Setiap orang yang melihat Bianca mereka hanya tersenyum dan Bianca pun membalas senyum mereka. Dan bisa dipastikan meraka pasti tidak akan ada yang kenal Bianca.
Bianca pun terus melangkah, karena bangku di depan panggung sudah penuh, Bianca terpaksa duduk di pinggir barisan ke 10 dari depan.
Bianca kembali tidak percaya diri, karena disini mereka semua asyik berbincang-bincang, sedangkan dirinya hanya sendiri tidak ada teman bicara.
"Hallo semua" ucap seorang MC diatas panggung.
Mendengar suara MC, Bianca bernafas lega setidaknya untuk saat ini dia bisa fokus ke panggung melihat sambutan.
Bianca melihat kepala sekolahnya di SMA sedang berbicara di atas panggung. Dan Bianca ikut bertepuk tangan mengakhiri pidato kepala sekolah.
Bianca Pov
Aku sedikit bisa menikmati acara ini. Untung saja ada penampilan dari salah satu group band terkenal, setidaknya mereka semua termasuk aku menikmati lagu yang dibawakan oleh grup band itu.
Aku melihat dari depan para petugas catering membawakan nampan berisi minuman dan diberikan kepada setiap tamu. Saat petugas catering sudah mendekat padaku, aku pun tersenyum dan hendak mengambil minuman bewarna merah.
Byuur
"Maaf" cicit seorang anak kecil ketakutan.
aku hanya senyum terpaksa. Anak kecil di sebelahku mengambil minum yang dibawakan petugas catering dengan cepat, karena dia berdiri di bangku tubuhnya tidak seimbang dan dia terjatuh menumpahkan gelas berisi minuman ke baju bajuku.
"Ya, Tuhan, maaf ya" ucap seorang wanita yang aku yakin itu adalah ibu dari anak itu.
"Tidak apa-apa" jawabku.
Mau bagaimana lagi, tidak mungkin aku tega memarahi anak laki-laki itu. Aku pun terpaksa pergi ke toilet untuk membersihkan bajuku. Untung saja aku selalu sedia sapu tangan, aku pun membersihkan bajuku yang basah.
Kebetulan sekali aku di toilet, rasanya aku ingin membuang air kecil. Aku pun menuntaskan keinginanku itu. Aku masuk ke dalam kamar mandi nomor tiga dari pintu masuk. Saat aku masuk ke dalam kamar mandi aku mendengar tiga orang wanita juga memasuki toilet, dan pasti mereka sekarang sedang berdiri di depan wastafel sambil berbincang.
Baru saja aku ingin membuka pintu kamar mandi, aku terpaksa mengurungkan niatku. Aku terkejut dengan apa yang aku dengar dari pembicaraan itu. Untuk lebih memastikan pendengaranku tidak salah, aku pun menempelkan telingaku ke balik pintu.
"Guy's kalian tahu tidak. Katanya Bianca sekarang jadi WO"
"Bianca yang mana?"
"Itu Bianca yang kutu buku"
"Oh yang aneh itu ya. Yang cupu, tidak gaul, terus tidak pernah ke kantin"
"Ya, iyalah. Gimana mau ke kantin. DIakan kaya kambing. Makanannya sayuran terus. Setiap hari pasti bawa Jus wortel. Haduh, gue sih mau muntah ngelihatnya"
"Eh dengar-dengar dia mau datang loh hari ini. Tapi dari tadi gue belum lihat, soalnya gak ada orang aneh yang datang kesini"
"Hahahaha"
"Iya, gue dengar-dengar lagi, pernikahan Davira mau pakai WO Bianca, dan yang gue dengar ya, Bianca yang minta ke Davira buat pakai WO dia, supaya WO Bianca itu bisa diliput media"
"Iya secara, calon suami Davira pengusaha muda pewaris Pratama Entertainment"
"Ko bisa ya, Davira pakai WO BIanca. Kalian tahukan cupunya dia waktu SMA. Mau jadi apa nanti pernikahan Davira nanti?"
"Hahaha"
Aku mengepalkan satu tanganku. Satu tangankulagi meremas baju di d**a. Aku tidak percaya mereka bisa membicarakanku seperti itu. Ingin rasanya aku menangis, hatiku merasa terluka. Aku tidak bisa membiarkan semua ini, aku harus berbicara pada mereka kalau aku bukanlah seperti yang mereka bicarakan.