Markas Karma Handoko berdiri kaku di hadapan Marko, napasnya tersengal, berat dalam ruangan yang seolah menyempit di sekelilingnya. Ia menundukkan wajah, berusaha meredam detak jantung yang menghantam dadanya tanpa ampun. “Maaf, Tuan Marko. Kami gagal menghabisi Sebastian.” Marko tetap duduk santai, tetapi ada sesuatu di matanya, sesuatu yang dingin, penuh perhitungan, seperti seorang algojo yang menikmati jeda sebelum eksekusi. Ia tidak segera menjawab, membiarkan keheningan menjerat Handoko dalam ketegangan yang semakin menyesakkan. “Bagaimana dengan Diandra?” suaranya akhirnya terpecah, datar tetapi tajam. “Bukankah aku meminta kalian membawanya ke hadapanku?” Udara seolah membeku, merayap ke setiap sudut ruangan, menyelimuti mereka dalam tekanan yang tidak hanya terasa, tetapi men

