Juan melangkah masuk, menutup pintu ruangannya dengan keras. Suara dentumannya menggema di ruangan yang dingin. Napasnya masih berat, sisa kemarahan yang belum sepenuhnya mereda setelah mengusir Diandra. Ia melangkah ke meja, membuka laci dengan gerakan kasar, lalu meraih gelas wiski yang telah kosong. Tangannya gemetar, bukan karena takut, tetapi karena amarah yang terus menggerogoti pikirannya. Suara langkah ringan terdengar di belakangnya, disusul aroma parfum yang samar namun mencolok, aroma vanilla dan musk. Wanita itu berdiri santai di belakang Juan sambil melipat kedua tangannya di bawah d**a, mengenakan gaun beludru hitam yang memeluk tubuhnya dengan sempurna. Belahan panjang di sisi gaun memberi kebebasan pada gerakannya, sementara potongan off-shoulder menonjolkan tulang selang

