Tawanan.

1165 Words
Diandra masih tidak bisa menghapus bayangan pertemuannya dengan Marko beberapa waktu lalu. Pikirannya terpecah, emosinya terusik, dan itu berdampak pada pekerjaannya, bahkan nyaris menyebabkan kesalahan fatal saat menangani pasien. Hingga akhirnya, dokter Oliver, kepala IGD, memutuskan memberinya waktu untuk beristirahat. “Kembalilah saat emosimu sudah stabil,” ucapnya, tegas namun penuh pengertian. Pagi itu, setelah sarapan, Diandra memilih menikmati ketenangan halaman villa. Ia duduk di bangku panjang di bawah pohon lemon yang rindang, membiarkan angin sepoi-sepoi membelai wajahnya. Di sampingnya, kolam renang berkilauan di bawah sinar matahari, airnya biru tenang, kontras dengan gelombang yang sedang berkecamuk dalam dirinya. Beberapa karyawan villa sedang sibuk memangkas tanaman dan menyapu halaman, rutinitas yang terasa jauh dari kekacauan di benaknya. seketika, “Ehem!” Suara berat itu membuatnya menoleh. Ternyata Sebastian. Seperti biasa, pria itu tampil rapi dengan setelan jas yang sempurna, sorot matanya dingin, nyaris tak menunjukkan emosi. Tapi justru itulah yang membuatnya sulit ditebak. “Kamu baik-baik saja?” tanyanya, datar namun penuh intensi. Diandra menahan napas sejenak sebelum menjawab, “Aku baik-baik saja.” Kalimat itu terucap lugas, tanpa celah keraguan, tapi semuanya bohong. Sebastian duduk di sampingnya, tubuhnya tegap, postur penuh kendali. Ia menatap lurus ke depan, diam selama beberapa detik, seakan memilih kata-kata dengan cermat sebelum akhirnya berbicara. “Ada hal yang ingin aku bicarakan.” ucapnya kemudian, masih lagi mengekalkan ekspresi yang sama. Diandra menelan ludah. “Aku mendengarkanmu.” “Pertama, hindari Marko. Jangan pernah lagi menemuinya, apalagi berbicara dengannya.” Nada perintahnya dingin, tak ada ruang untuk perdebatan. Diandra mengernyit, rahangnya mengeras. “Kamu tahu tentang itu?” Ia menatap Sebastian tajam, mencoba mencari jawaban yang barangkali bisa dibaca dari ekspresi pria itu. “Apa kamu menyuruh seseorang mengawasi aku?” Sebastian tetap tenang, seperti biasa. “Itu tidak penting.” “Oh, tentu saja. Karena menurutmu tidak ada yang penting, di dunia ini, iya kan?” Diandra mendesis, menekan amarah yang mulai mendesak keluar. Sebastian memilih mengabaikan sarkasme istrinya. Dengan gerakan santai, ia sedikit memutar tubuhnya agar bisa menatap Diandra lebih langsung. “Hal kedua yang ingin aku sampaikan,” ucapnya, sejenak jeda, lalu melanjutkan, “jangan hamil dulu.” Kata-kata itu meluncur begitu saja, tanpa ekspresi, tanpa penjelasan. Seolah keputusan itu hanyalah bagian dari rutinitas bisnis yang tidak perlu didiskusikan lebih lanjut. Diandra terdiam. Nafasnya tercekat. Butuh beberapa detik baginya untuk benar-benar memahami apa yang baru saja dikatakan Sebastian. Dan setelah kesadarannya pulih, ledakan emosinya tak terelakkan. “Apa?” Diandra tertawa kecil, sinis. “Siapa juga yang sudi hamil anakmu, hah?!” ia menggeram kesal dengan tampang merah padam. Sebastian tidak menjawab. Tidak bereaksi. Pria itu hanya berdiri, melangkah menuju mobilnya, dan pergi tanpa menoleh lagi. Diandra mengepalkan tangan. Ia merasa dirinya tak lebih dari sekadar alat bagi Sebastian. Harga diri dan kebebasannya, terasa diinjak begitu saja. Seolah ia hanya bagian dari permainan yang dikendalikan penuh oleh pria itu. Ini tidak adil! “Aku benci kamu, Sebastian!” teriaknya histeris, tapi tak ada gunanya. Bayangan mobil pria itu sudah menjauh, menghilang di jalan villa. Pikirannya masih kacau saat ia meraih ponselnya, jemarinya bergerak tanpa ragu, langsung menelepon Mita. “Halo, Di?” suara sahabatnya terdengar ceria di ujung sana begitu panggilan tersambung. "Mita, posisi kamu sekarang di mana?" Ucap Diandra terdengar tanpa basa-basi. Tangannya mencengkeram ponsel lebih erat dari yang seharusnya, buku-buku jarinya sedikit memutih. Napasnya terdengar berat saat ia berusaha menjaga nada suaranya tetap stabil, tetapi ketegangan tetap terselip di setiap kata, seolah ada sesuatu yang tak sepenuhnya bisa ia sembunyikan. “Di kantor. Kenapa? Kamu mau mampir?” “Aku ke sana sekarang.” Ia langsung memutus sambungan telepon tanpa menunggu jawaban lebih lanjut. Belum sempat melangkah, suara Bik Tati menyela, lembut tapi tetap terasa menekan. “Non, tadi Tuan Sebastian berpesan, kalau Non ingin pergi, harus izin dulu sama beliau.” Diandra menoleh, sorot matanya dingin saat bertemu pandang dengan pembantu paruh baya itu. “Bodo amat. Aku bisa pergi kemanapun aku mau tanpa harus izin sama dia.” Diandra tahu pasti karyawan-karyawan di villa ini nantinya akan melapor pada Sebastian. Itu sudah biasa. “Nona Diandra—” panggil Bik Tati, mencoba menghentikan langkahnya. “Jangan ikuti aku lagi, Bik!” Diandra berbalik, tatapannya tajam. “Aku masih marah sama Bik Tati. Teganya Bik memasukkan obat tidur ke dalam minuman aku—” Ia menghentikan ucapannya. Tidak mau membuka luka itu di depan para karyawan yang tampak sedang memerhati. "Maaf, Non." Suaranya terdengar pelan, nyaris tenggelam dalam udara di antara mereka. "Bibik tidak punya pilihan lain. Perintah Tuan Sebastian tidak bisa bibik langgar." Kepalanya sedikit menunduk, menghindari tatapan tajam Diandra. Diandra tertawa sinis. “Tidak usah minta maaf. Aku tidak bisa menerimanya.” Ia menarik napas, lalu berkata dengan lirih tapi penuh tekanan, "Aku sadar diri cuma tawanan di villa ini. Tapi kalau kalian berharap aku akan tunduk, kalian salah besar." Tanpa mengindahkan siapapun lagi, ia berlari masuk ke dalam villa, mengambil tas dan kunci mobilnya, lalu keluar lagi tanpa mengganti pakaian rumah yang masih melekat di tubuhnya. Mobil merah miliknya meluncur keluar dari pekarangan villa, meninggalkan kekhawatiran yang terasa begitu nyata di antara para karyawan yang hanya bisa menyaksikan kepergiannya. … Setelah lama terjebak di jalan raya yang semakin padat menjelang jam sibuk, Diandra akhirnya memarkir mobilnya di parkiran depan gedung perusahaan milik orang tua Mita. Gedung itu berdiri megah, mencerminkan kekuasaan dan stabilitas, tapi tetap tak mampu menyaingi kemegahan serta d******i gedung perusahaan milik Sebastian. Ia menghela napas, menatap sekilas ke pantulan dirinya di kaca jendela mobil. Wajahnya terlihat tenang, tapi ia tahu itu hanya tipuan refleksi. Emosi yang bercokol di dadanya masih belum reda sepenuhnya. Tanpa membuang waktu, Diandra keluar dari mobil, menutup pintu dengan sedikit lebih keras, lalu melangkah menuju pintu utama gedung. Udara terasa sedikit lebih berat, seolah mencerminkan pikirannya yang penuh beban. Langkahnya cepat, nyaris terburu-buru, melewati lobi tanpa benar-benar memperhatikan sekeliling. Lift terbuka begitu ia menekan tombol. Di dalamnya, ia berdiri diam, tangan terlipat di depan d**a sementara jemarinya mengetuk-ngetuk lengannya sendiri tanpa sadar, menghasilkan ritme kecil yang mencerminkan ketidak sabarannya. Begitu pintu lift kembali terbuka di lantai tiga, ia langsung keluar, menuju ruangan Mita tanpa ragu. Klek! "Hey, Di! Cepat sekali. Kamu naik pesawat ke sini?" canda Mita, tawanya ringan, tapi matanya tetap memperhatikan ekspresi sahabatnya. "Ck! Aku nggak mood bercanda, Mita," sahut Diandra, menjatuhkan diri ke sofa di tengah ruangan. Tubuhnya terasa berat, seolah energi yang tersisa hanya cukup untuk duduk dan menarik napas. Mita mengamati wajah sahabatnya dengan seksama, dahinya berkerut samar. "Sebastian ngapain lagi sama kamu?" tanyanya tanpa basa-basi. "Aku diperlakukan seperti tawanan. Semua serba tidak bisa." Jawab Diandra cepat. Mita menggeleng, seolah sudah menduga jawaban itu tapi tidak sepenuhnya yakin. "Tidak, aku yakin bukan itu masalah utamamu." Ia beranjak dari kursi kebesarannya dan duduk berhadapan dengan Diandra, sorot matanya lebih tajam sekarang. "Sekarang cerita sama aku, beban dunia apa sih yang ditimpakan ke kamu kali ini?" Diandra menarik napas, mencoba menyusun kata-kata, tapi sebelum suara itu sempat keluar— Brak! Pintu ruangan terbuka kasar. Sosok yang muncul membuat keduanya membulatkan mata sempurna.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD