Marko!

1890 Words
"Apa? Marko menemui Diandra di rumah sakit?" Sebastian berdiri dengan punggung tegak, ekspresinya mengeras. Tangan kanannya mencengkeram sudut meja kerja, tekanan yang ia berikan membuat jari-jarinya memutih. Napasnya berat, memenuhi keheningan ruangan dengan ketegangan yang nyata. "Benar, Tuan." Peter menjawab cepat, tapi ada sedikit ketegangan di garis rahangnya, seolah ia memahami bahwa berita ini bukan sekadar kabar biasa. Sebastian menarik napas panjang, mencoba mengendalikan emosi yang menggelegak. "Apakah kau sudah menempatkan orang-orangmu di sana?" Peter mengangguk. "Saya sudah menugaskan ajudan terbaik untuk mengawasi Nona Diandra. Jika terjadi sesuatu, mereka akan segera mengabari saya." Sebastian menghela napas. "Marko bukan tipe yang bertindak tanpa rencana. Jika dia mendekati Diandra, itu berarti dia tengah menjalankan sesuatu. Mulai sekarang, jangan lengah. Tingkatkan pengawasan." Peter mengepalkan tangan, nada suaranya berubah lebih tajam. "Marko terlalu licik. Tuan tidak pernah mengkhianatinya, tetapi dia selalu mencari cara untuk menyingkirkan tuan. Saya tidak mengerti apa yang sebenarnya dia inginkan." Sebastian tersenyum kecil, tetapi senyum itu tidak membawa kehangatan. "Karena dia menganggapku ancaman." jawabnya singkat Sebastian kembali duduk, tubuhnya terhempas di kursi dengan santai, tetapi matanya tetap waspada. Tidak ada emosi berlebihan, hanya ketenangan yang mengandung bahaya terselubung. Tiba-tiba, Brak! Pintu ruangan kerja Sebastian terbuka dengan kasar. Alice melangkah masuk dengan ekspresi masam, tetapi Sebastian tetap tidak bergerak dari tempatnya. Ia hanya melirik sekilas—tatapan dingin tanpa minat. "Peter, lanjutkan pekerjaanmu." Suaranya datar, tanpa perlu penegasan. "Permisi, Tuan." Peter keluar dengan cepat, menutup pintu rapat. Sebastian akhirnya berbicara lagi, suaranya rendah tetapi membawa tekanan yang tak terbantahkan. "Mulai detik ini, jangan pernah lagi menemui aku." Ia tetap tidak menoleh, seolah Alice hanyalah gangguan kecil yang tidak layak mendapat perhatiannya. Alice menghela napas dengan kesal, matanya menyorot tajam penuh ketidakpuasan. "Sebastian! Kenapa kamu menikahi Diandra, hmm? Apa kamu tidak merasa tega padaku?" Sebastian tetap diam, hanya mengangkat pandangannya sekilas, cukup untuk menunjukkan bahwa kesabarannya hampir habis. "Alice, aku tidak berutang penjelasan kepadamu." Suaranya rendah, tenang, tetapi membawa tekanan yang tidak bisa diabaikan. "Keputusanku adalah urusanku, bukan urusanmu. Jangan pernah mempertanyakannya, dan jangan pernah meninggikan suara di hadapanku." Tatapannya dingin, tajam, seperti peringatan terselubung yang tidak membutuhkan ancaman lebih lanjut. Nada itu cukup untuk membuat Alice mundur sedikit, tetapi ia dengan cepat menguasai dirinya lagi. "Baiklah, lupakan itu. Aku kesini hanya ingin melihatmu, Sebastian. Apakah kau sudah merindukanku hmm?" Suara Alice lebih lembut, penuh rekayasa, mencari celah di antara tembok dingin yang Sebastian bangun di sekelilingnya. Sebastian menyandarkan tubuhnya ke kursi, jemarinya terangkat ringan ke meja, gerakan santai, tetapi tetap terukur. "Aku tidak pernah merindukanmu. Dan aku tidak akan pernah." Alice mengepalkan tangan, rahangnya sedikit mengencang. "Aku tidak peduli seberapa keras kamu mencoba menolakku. Pada akhirnya, kamu tetap akan menjadi milikku." Nadanya penuh tekad, matanya menyorotkan tantangan. Sebastian akhirnya tersenyum kecil, bukan senyum ramah, melainkan ekspresi dingin yang hanya mempertegas penghinaan dalam kata-katanya. "Jadi, apa rencana terbarumu? Berbohong kepada Nyonya Fenny dan mengaku mengandung anakku?" Alice terdiam sesaat, tetapi dengan cepat bisa mengontrol dirinya. "Kamu bilang seolah-olah itu mustahil." Sebastian menggeleng pelan, matanya semakin tajam, menusuk tepat ke dalam ketidakpastian Alice. "Aku bilang begitu karena aku tahu pasti itu tidak mungkin. Dan kau pun tahu itu." Alice menggigit bibirnya, menahan emosi yang bercampur aduk di dadanya. Sebastian tak pernah benar-benar menginginkannya. Dia hanya boneka, alat yang digunakan untuk membuat Alena hancur. Dulu, ia tahu itu. Dulu, ia menerima perannya tanpa keberatan. Tapi setelah semuanya berubah, setelah Sebastian memutuskan bahwa ia tidak lagi berguna, hatinya menolak untuk diterima begitu saja. Dia mencengkram jemarinya sendiri. Tidak, dia tidak bisa menerimanya. Tidak bisa menerima bahwa Sebastian yang dulu mencumbu dan menggoda, yang seolah peduli, kini menatapnya tanpa sedikit pun emosi. Bagaimana mungkin seseorang yang pernah bersikap seolah menginginkannya, kini bertindak seakan-akan ia tidak pernah ada? Alice menghela napas, berusaha mengendalikan detak jantungnya yang tak beraturan. Dia tahu Sebastian tidak pernah mencintainya. Itu hanya permainan. Hanya cara untuk menghancurkan Alena. Tapi bodohnya, dia jatuh dalam jebakan itu. Dia membiarkan dirinya percaya. Dia membiarkan dirinya berpikir bahwa di antara kebohongan yang Sebastian ciptakan, ada sedikit bagian yang nyata, sedikit bagian dimana pria itu benar-benar menginginkannya. Tapi tidak. Tidak ada yang nyata. Sebastian menikahi Diandra tanpa ragu. Tanpa penyesalan. Tanpa sekalipun berpikir tentang dirinya. Alice bisa menerima banyak hal, tetapi tidak ini. Tidak setelah ia mencintai seseorang yang bahkan tidak menganggapnya lebih dari sekadar alat. Matanya menyala dengan tekad yang keras. Baiklah. Jika Sebastian ingin berpura-pura, ia juga bisa berpura-pura. Jika Sebastian ingin menolak keberadaannya, ia akan memastikan bahwa keberadaannya menjadi sesuatu yang tak bisa diabaikan lagi. "Tidak perlu berpura-pura terkejut, Alice. Bahkan jika kau benar-benar hamil, aku yakin itu bukan anakku. Kau sendiri tahu bahwa aku tidak pernah menyentuhmu." Sebastian menegaskan kembali, membuat Alice terpaku tanpa bisa membantah Nada suaranya tidak mengandung keraguan, hanya ketenangan yang menyerupai pisau yang terhunus tanpa perlu diayunkan. Alice menggertakkan giginya, tangannya terkepal di sisi tubuhnya. Dia tahu! Ketajaman dalam ucapan Sebastian menelanjangi semua kebohongan yang sempat ia pertimbangkan, membuatnya terjebak dalam permainan yang sekarang justru mengendalikan dirinya. Namun, ia bukan tipe yang menyerah. ‘Sebastian berpikir dia bisa mengusirku begitu saja? Tidak semudah itu.’ ‘Aku yakin kau tidak akan bisa menolak ini,’ batin Alice, bibirnya melengkung dalam seringai penuh tantangan. Alice, dalam balutan gaun hitam bertali tipis, melangkah perlahan dengan percaya diri ke arah Sebastian. Baginya, ini adalah kesempatan yang tak boleh dilewatkan, kesempatan untuk menggoyahkan pria dingin di depannya Alice melangkah semakin dekat ke meja Sebastian, setiap gerakannya penuh perhitungan. Ia berhenti tepat di hadapan pria itu, membiarkan keheningan sejenak mengisi ruangan. Tanpa tergesa, ia melepaskan tali gaun hitam bertali tipisnya, membiarkan kain itu meluncur ke lantai tanpa suara. Sebastian tetap diam, tidak menunjukkan reaksi sedikit pun. Alice tidak berhenti di situ. Dengan gerakan perlahan, ia melepaskan pengait bra-nya, membiarkan tubuhnya terbuka sepenuhnya. Ia yakin, Sebastian tidak akan mampu mengabaikan godaan ini. Pria itu bangkit dari duduknya, melangkah mendekat hingga wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari telinga Alice. Suaranya rendah, tetapi membawa tekanan yang tidak bisa diabaikan. "Aku tahu siapa kau sebenarnya, Alice Deluna," bisiknya tajam. "Putri haram Marko, hasil hubungannya dengan seorang pelayan bar. Aku juga tahu bahwa ayahmu yang menempatkanmu di sisi Nyonya Fenny." Alice merasakan tubuhnya menegang, tetapi ia berusaha mempertahankan ekspresi percaya dirinya. Sebastian melanjutkan, nadanya semakin tajam. "Haruskah aku memberitahu ayahmu tentang semua yang telah kau lakukan? Tentang bagaimana kau membuat Alena kehilangan harapan untuk hidup, hmm?" Sorot mata Alice berubah, ketenangan yang sebelumnya ia pertahankan mulai goyah. Sebastian menyeringai kecil, tetapi senyumnya lebih seperti bentuk penghinaan yang terbungkus dalam ketenangan mutlak. "Menurutmu, apakah ayahmu akan memaafkanmu setelah semua kejahatan yang kau lakukan terhadap putri sahnya?" Alice menelan ludah, tiba-tiba merasakan udara di sekelilingnya terasa lebih berat. "Kaget, hmm?" Sebastian menggeleng pelan, menikmati momen ini. "Sayangnya, umur Alena tidak cukup panjang untuk mengetahui kebenaran bahwa kau sebenarnya adalah adiknya." Alice menatap Sebastian dengan ekspresi tidak percaya. "Kau... Kau sudah tahu sejak kapan?" Sebastian terkekeh, suara tawanya terdengar rendah, seolah menikmati kebodohan Alice. "Kalian terlalu memandang rendah padaku." Alice berusaha memproses semuanya, tetapi pikirannya masih terjebak dalam ketidakpastian. "Jadi, selama ini... kau sengaja memanipulasi keadaan agar aku dan Alena terjebak dan bermusuhan?" Sebastian menatapnya tanpa emosi, hanya ketenangan mutlak yang terasa semakin menekan. "Kalian hanyalah pion yang ditempatkan di sisiku, Alice. Ayahmu Marko terlalu memandang tinggi pada kedua putrinya, tapi pada akhirnya, kalian hanya saling menghancurkan. Permainan ini telah berakhir sejak lama." Alice melangkah mundur, otaknya berusaha keras memahami semua ucapan Sebastian barusan. Tanpa menoleh lagi, Sebastian melangkah keluar dari ruangan. Saat melewati sekretarisnya, ia memberikan perintah singkat. "Jika perempuan itu keluar nanti, periksa tubuhnya. Pastikan dia tidak membawa apa pun dari ruanganku." "Baik, Tuan." Sebastian menghilang di balik pintu, meninggalkan Alice yang hanya bergeming, masih berusaha mencari pijakan di antara kenyataan yang baru saja menghantamnya. … Diandra duduk di lobi rumah sakit, berhadapan dengan seorang pria paruh baya yang tampak ramah. Namun, di balik senyum hangatnya, Diandra merasakan sesuatu yang tidak beres. Keramahan itu terasa seperti topeng, menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih gelap. "Ada keperluan apa, Pak, ingin menemui saya? Jujur, waktu saya terbatas karena setelah ini saya harus kembali ke IGD," ucap Diandra, mencoba menjaga profesionalitasnya meski rasa penasaran mulai mengusik pikirannya. Pria itu tersenyum kecil, mengangguk pelan. "Kenalkan, nama saya Marko. Tujuan saya datang sebenarnya hanya untuk hal yang sepele." Diandra mengulas senyum tipis, tetapi matanya tetap waspada. "Sepertinya bukan hal yang sepele, Pak. Kalau begitu, lebih baik Bapak jujur saja." Marko tertawa kecil, lagaknya santai seperti bapak-bapak pada umumnya. Namun, ada sesuatu dalam cara ia berbicara yang membuat Diandra merasa tidak nyaman. "Baiklah," ucap Marko sambil menarik napas dalam. Ia menautkan jemarinya, lalu menatap Diandra dengan intensitas yang tiba-tiba terasa menekan. "Sebenarnya saya hanya ingin curhat. Apakah Dokter Diandra bersedia mendengarkan?" Diandra mengangguk tanpa berpikir panjang. "Silakan, Pak," jawabnya singkat, ingin segera menyelesaikan percakapan ini. Hening sejenak. Marko menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Suasana di lobi yang sebelumnya terasa biasa saja kini berubah menjadi lebih berat, seolah ada sesuatu yang mengintai di balik kata-kata pria itu. "Saya memiliki seorang putri yang sangat saya sayangi," ucap Marko akhirnya, suaranya terdengar lebih rendah, hampir seperti bisikan. "Suatu hari, putri saya divonis mengidap kanker otak stadium empat." Deg! Diandra merasakan jantungnya berdebar lebih cepat. Ia mencoba menjaga ekspresinya tetap tenang, tetapi pikirannya mulai berputar liar. Apa maksudnya? Marko melanjutkan, nadanya semakin tegas. "Tanpa berdiskusi dengan saya, putri saya mengambil keputusan sepihak. Dia mendonorkan jantungnya kepada seorang wanita, wanita yang sekarang menggantikan posisinya sebagai istri bagi suaminya." Marko berhenti sejenak, membiarkan kalimatnya meresap, seolah menikmati bagaimana kata-katanya menghantam lawan bicaranya. "Sebagai orang tua, saya marah sekali," lanjut Marko, suaranya kini penuh dengan amarah yang terpendam. "Menurut Dokter Diandra, apa yang harus saya lakukan? Haruskah saya mengambil kembali jantung putri saya ini? Karena jujur, saya tidak tega melihat putri saya dikuburkan dalam kondisi cacat, kehilangan bagian tubuh yang seharusnya tetap utuh. Glek! Diandra menelan ludah dengan susah payah, ia merasakan napasnya sedikit tercekat, tetapi ia tidak bisa merespons. Ada sesuatu yang mengunci lidahnya, sesuatu yang membuatnya semakin waspada. Cerita ini terlalu mirip dengan apa yang ia alami. Apakah... dia sebenarnya orang tua Alena? Marko menatapnya dengan ekspresi yang tampak bersalah, tetapi Diandra tahu ada sesuatu yang lebih dari itu. "Dokter Diandra, kenapa bengong? Apakah curhatan saya barusan mengganggu pikiran dokter?" Diandra menggeleng cepat, mencoba menguasai dirinya. "Oh! Ng-nggak kok," jawabnya gugup, tetapi nada suaranya jelas menunjukkan ketidaknyamanan. Marko menyeringai kecil, matanya tetap mengawasi setiap gerak-gerik Diandra. "Dokter Diandra, kenapa gugup begini, hmm?" Diandra berdiri tiba-tiba, mencoba mengakhiri percakapan. "Maaf, sepertinya saya harus permisi. Waktu makan siang sudah habis, dan saya harus kembali ke IGD secepatnya." Tanpa menunggu jawaban, ia melangkah pergi dengan cepat. Langkahnya terburu-buru, tergesa-gesa seolah ingin menghapus keberadaan pria paruh baya itu dari pikirannya. Beberapa kali ia menabrak petugas medis tanpa sengaja, tetapi ia tidak peduli. Fokusnya sudah ambyar. Diandra tidak menoleh. Namun, kakinya semakin cepat melangkah, seolah keinginan untuk menjauh dari Marko adalah satu-satunya hal yang memenuhi pikirannya sekarang. Nafasnya berat, udara terasa lebih dingin di kulitnya. Ia menabrak seorang perawat tanpa sadar, hanya untuk mendengar suara Marko kembali mengisi ruangan. "Saya pasti akan datang kembali untuk curhat lagi, Dokter Diandra," panggilnya, tidak terlalu keras, tetapi cukup untuk membuat jantung Diandra berdebar kencang. "Tenang saja, Dokter. Kita pasti akan bertemu lagi. Lebih cepat dari yang Anda pikirkan," imbuh Marko, nadanya begitu halus, namun menyiratkan sesuatu yang lebih mengancam. Diandra tidak menoleh. Ia terus berjalan, langkahnya semakin cepat. Namun, suara Marko, kata-katanya itu seolah mengikuti, menempel di benaknya dengan ketenangan yang menakutkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD