Prang!
Sebastian baru saja mengangkat cangkir kopinya ketika suara tembakan memecah keheningan pagi di dalam Villa. Dinding kaca ruang tamu retak dan hancur berkeping-keping, sinar matahari pagi menyorot serpihan beling yang jatuh ke lantai. Bau mesiu bercampur dengan aroma kopi hitam yang masih mengepul.
Sebastian langsung berdiri, meraih pistol tersembunyi di balik kursi tanpa ragu sedikit pun.
"Diandra Rose! Sembunyi!"
Diandra terkejut, tangan yang baru saja mengangkat roti bakar seketika berhenti di udara. Ia hanya sempat mengambil gigitan terakhirnya sebelum tubuhnya secara refleks merunduk di bawah meja. Cangkir kopinya bergoyang, hampir tumpah, mengotori taplak meja.
Dari luar, drone hitam melayang, pantulan sinar pagi membuatnya tampak lebih mengancam. Peluru-peluru tajamnya menyasar ke dalam villa, menghancurkan segalanya yang menghalangi jalannya.
Diandra hanya bisa mendengar suara napasnya sendiri yang berat—dadanya naik turun, berusaha mengatur ritme yang kacau. Tapi sebelum ia bisa berpikir lebih jauh, matanya menangkap sesuatu yang membuat darahnya membeku—chandelier raksasa di langit-langit yang mulai bergetar, kabel nya hampir putus.
Sebastian masih berdiri tepat di bawahnya.
Tanpa berpikir panjang, Diandra melesat dari persembunyiannya, menabrakkan tubuhnya ke Sebastian.
Prang!
Lampu chandelier menghantam lantai, pecahan kaca melayang di udara, memantulkan cahaya pagi. Sebastian dengan cepat menarik Diandra lebih dekat, lengannya melindungi kepala wanita itu dari serpihan beling yang beterbangan.
Namun, sesuatu terjadi.
Setelah tubuhnya jatuh ke lantai, Diandra tidak bisa langsung bangkit.
Tangan bergetar, napasnya pendek dan tersengal, seakan paru-parunya tidak bisa sepenuhnya bekerja. Ia mencoba mengangkat tangannya, tapi gemetar itu begitu jelas, begitu nyata.
Sebastian melihatnya sekilas sebelum kembali fokus pada drone yang masih berputar liar di udara. Dengan satu gerakan terlatih, ia mengatur posisi pistolnya, menyesuaikan sudut tembakan, lalu menarik pelatuk.
Tembakan melesat.
Peluru menghantam drone, suara ledakan menggema, bau terbakar bercampur dengan aroma kopi yang kini terasa dingin di udara.
Sebastian segera menarik Diandra menjauh dari puing-puing teknologi yang kini tak bernyawa.
"Sudah aman," ucapnya santai, seakan ini hanya bagian dari rutinitas pagi.
Tapi bagi Diandra—pagi ini sudah bukan sekadar pagi biasa.
Ia masih duduk di lantai, diam, mencoba menarik napas panjang tetapi tidak berhasil sepenuhnya. Tangannya mengepal, seakan ingin memastikan bahwa ia masih ada di dunia nyata.
"Diandra."
Suara Sebastian terdengar lebih dekat sekarang, tapi Diandra tidak langsung menoleh. Dunia terasa lebih lambat, seakan semuanya terjadi di luar dirinya.
"Diandra!"
Sebastian menyentuh pundaknya, dan itu cukup membuatnya tersadar. Ia menatapnya dengan mata melebar, napasnya tidak terkendali, seakan baru sadar bahwa ia tidak hanya menghadapi serangan drone—tetapi kematian yang begitu dekat.
Sebastian memperhatikan ekspresi Diandra sebelum akhirnya berdiri.
"Bersiaplah. Aku akan mengantarmu ke rumah sakit."
Diandra masih merasa tubuhnya gemetar ketika ia mencoba bangkit. Bahu dan kakinya terasa lemah, seakan semuanya belum cukup stabil.
Saat ia berjalan menuju kamar, ia melihat meja sarapan yang masih berantakan—roti bakarnya yang tinggal setengah, kopi yang tadi hangat kini dingin, bercampur dengan serpihan kaca.
Sebelum melangkah lebih jauh, Diandra berhenti sejenak. Matanya menatap Sebastian dengan campuran rasa takut dan penasaran.
"Bagaimana kamu bisa tenang, Sebastian? Siapa kalian sebenarnya? Dan siapa tadi itu yang berusaha membunuhmu?" tanyanya, suaranya bergetar meski ia berusaha terdengar tegas. Ia tahu ini bukan sekadar teror biasa—ada sesuatu yang jauh lebih gelap di balik semua ini.
Sebastian tidak langsung menjawab. Tatapan dinginnya menusuk, seakan pertanyaan itu tidak layak untuk dijawab.
"Cepat, Diandra," desaknya, suaranya rendah namun penuh tekanan.
Diandra tidak menyerah. Rasa penasaran yang bercampur dengan ketakutan membuatnya tetap berdiri di tempat.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku, Sebastian," ujarnya lagi, kali ini dengan nada yang lebih menuntut.
Sebastian menghela napas, ekspresinya tetap tak berubah—dingin, penuh ancaman, dan sedikit lelah.
"Atau hari ini kamu tidak praktek?" tanyanya, suara tajam, seakan mencoba mengalihkan perhatian Diandra.
Diandra mengepalkan tangan, kemarahan mulai mengalahkan rasa takutnya.
"Sebastian Alvarendra!"
Sebastian akhirnya menatapnya langsung, mata gelapnya penuh dengan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Sebuah rahasia yang terlalu berbahaya untuk diungkapkan.
"Diandra Rose," ucapnya pelan, namun setiap kata terasa seperti peringatan. "Semakin sedikit informasi yang kamu ketahui, maka hidupmu semakin aman. Begitu juga sebaliknya. Jalani saja kehidupan ini seperti tidak ada apa-apa yang sedang terjadi. Mengerti?"
Diandra terdiam, kata-kata itu seperti pisau yang menusuk rasa ingin tahunya.
"Dasar orang aneh! Apa sulitnya sih kamu menjawab semua pertanyaan aku?" balasnya, suaranya penuh frustasi.
Sebastian mendekat, tatapan dingin nya semakin intens.
"Ini perintah, Diandra. Jangan keras kepala," ucapnya dengan nada yang lebih rendah, namun penuh ancaman. "Jangan coba-coba mencari tahu semuanya, atau kamu akan menyesal."
Diandra akhirnya menyerah. Rasa takut dan ketidakpastian mengalahkan keberaniannya. Ia berbalik, melangkah menuju kamar dengan langkah yang terasa berat.
Sebastian hanya memandangnya pergi, ekspresinya tetap datar, namun ada sesuatu yang bersembunyi di balik tatapan itu.
Diandra masuk ke kamar, tangannya masih gemetar saat ia bersiap untuk berangkat kerja. Ia melihat pantulan dirinya di cermin, wajah yang cantik, namun kini penuh dengan bayangan ketakutan dan rasa penasaran yang belum terjawab.
…
Cafetaria Rumah Sakit
Tepat jam makan siang, Mita datang dan mengajak Diandra makan di kafetaria rumah sakit. Wanita itu sudah lama mengidamkan menu lobster yang terkenal dengan rasanya yang luar biasa.
"Di, bagaimana pernikahanmu? Apakah semuanya baik-baik saja? Sebastian nggak ngapa-ngapain kamu, kan?" tanya Mita di sela kunyahan makan siangnya.
Diandra menatap Mita sekilas, tetapi tidak menjawab segera.
‘Baik apanya? Setan m***m itu sudah memperkosa aku, dan tadi pagi aku hampir mati karena serangan drone!’
Tapi semua kalimat itu hanya berputar dalam benaknya. Ia menggigit bibir bawahnya, menahan semua kebenaran yang tidak bisa ia ungkapkan. Mana mungkin ia bisa menceritakan semuanya, meskipun Mita adalah sahabat dekatnya? Ia tidak ingin membuatnya khawatir.
"Hei! Diandra Rose! Kok bengong sih?"
Mita menyela, menggoyangkan tangan di depan wajah Diandra, matanya menyipit dengan rasa curiga yang semakin besar.
Diandra berusaha tersenyum, sebuah senyum yang tidak sepenuhnya tulus.
"Baik-baik saja kok, Mita. Kamu nggak usah khawatir."
Mita mendengus pelan, tubuhnya sedikit mencondong ke depan seperti seseorang yang siap membongkar sesuatu yang besar.
"Ck! Gimana aku nggak khawatir, Di? Suami instan kamu itu mencurigakan banget. Aku pernah coba browsing tentang dia, tapi informasinya hampir nggak ada! Aku bahkan pernah nanya Papa, apakah dia kenal sama Sebastian Alvarendra. Kamu tau apa jawabannya?"
Nada suara Mita berubah sedikit, mengandung unsur rahasia yang membuat Diandra penasaran secara instan.
"Om Juan jawab apa?" tanya Diandra cepat.
Mita meletakkan sumpitnya dan melipat kedua tangan di atas meja.
"Papa bilang dia juga nggak tahu banyak tentang latar belakang Sebastian, tapi yang pasti—nggak ada pebisnis yang berani cari masalah sama dia. Sebastian itu bisa bikin perusahaan yang hampir bangkrut naik kembali dalam sekejap. Dan sebaliknya, kalau seseorang berani menentangnya, dalam satu petikan jari, orang itu bakal jatuh bangkrut, dan nggak ada yang berani menolongnya."
Glek!
Diandra menelan kasar ludahnya.
"Serem nggak sih?" lanjut Mita, suaranya sedikit merendah seakan mereka tengah membicarakan sesuatu yang terlarang.
Diandra berpura-pura tersenyum kecil, tapi kali ini senyumnya hanya untuk dirinya sendiri. Untuk menenangkan hati yang mulai dihantui rasa takut.
"Ah, masa sih? Apa iya Sebastian sehebat itu? Kayaknya orang-orang itu terlalu berlebihan."
Ia bisa menyangkal dengan kata-kata, tapi tubuhnya tidak bisa berbohong. Jantungnya berdetak lebih cepat. Tangannya mulai dingin. Sebuah firasat buruk mulai merayap di benaknya.
Mita mengangkat bahunya dengan ekspresi sedikit khawatir.
"Aku juga nggak tahu pasti. Tapi aku yakin Papa nggak asal bicara. Malah Papa pernah nasihatin aku, katanya kalau ketemu Sebastian, jangan pernah menyinggung perasaannya. Jangan cari masalah."
Diandra menggenggam ujung taplak meja tanpa sadar. Tangannya mulai terasa dingin.
Sebelum percakapan bisa berlanjut lebih jauh, sebuah suara menyela dari samping.
"Dokter Diandra, ada yang mencari."
Diandra menoleh dan melihat Suster Rini berdiri di sebelah mereka.
"Siapa yang mencari aku?" tanyanya dengan kening berkerut.
Suster Rini tampak berpikir keras, matanya sedikit berputar seolah mencoba mengingat sesuatu yang baru saja ia lupakan.
"Seorang laki-laki paruh baya, kalau nggak salah... namanya... Mar... Mar... aduh! Lupa lagi," ucapnya sambil menepuk pelan jidatnya sendiri, frustasi.
Diandra terkekeh pelan. "Nggak apa-apa, Sus. Orangnya ada di mana?" Tanya Diandra kemudian.
"Tadi dia mencari ke IGD. Sekarang sedang menunggu dokter di lobi utama."
Diandra melirik jam ponselnya. Masih ada lima belas menit sebelum waktu makan siang habis.
"Sepertinya sempat, deh," gumamnya sambil mengambil tasnya.
Ia berdiri dan menarik napas panjang sebelum berbalik pada Mita.
"Mita, aku permisi dulu ya. Makan siangnya aku yang traktir!"
Dengan langkah cepat, Diandra meninggalkan kafetaria menuju lobi rumah sakit, tetapi hatinya tidak bisa berhenti memikirkan satu hal,
Sebastian!
Dan sesuatu yang semakin jelas, bahwa suaminya bukanlah pria biasa. Siapa dia sebenarnya?