ENAM

1463 Words
Aku tahu itu hanya sebuah punggung. Anehnya, di sanalah untuk pertama kalinya jantung ini berdebar karena sesuatu yang tidak kupahami *** Senin, 22 Agustus 2005. "Kira, ada anak baru. Katanya pindahan dari New York. Dia masuk kelas kita." Kirana baru menginjakkan kaki di perkarangan sekolah ketika Mika, sahabatnya, menghampirinya. Kirana memerhatikan sosok Mika yang membungkuk dengan tangan memegang pinggang dan napas terengah-engah. "Oh," tanggap Kirana. Mika menatap Kirana dengan mata memicing. Merasa sedikit jengkel dengan respons Kirana yang seadanya. Padahal Mika sudah capek-capek lari dari kelas hanya untuk memberikan informasi ter-update ini kepada Kirana. "Kok respons kamu segitu doang? Ini anak barunya dari New York, lho. Masuk ke kelas kita. Dan dia itu cowok." Tanpa diberitahu Mika pun Kirana sudah tahu siapa anak baru itu. Tentu saja tetangga barunya itu. Cowok yang kemarin menuduhnya pencuri. Uh ... gara-gara Mika, Kirana jadi teringat kejadian kemarin. Beberapa menit selepas Kirana pulang ke rumahnya, Mama menyusul. Wajah Mama merah padam. Ketika melihat Kirana Mama langsung meledak. "Apa yang sudah kamu lakukan terhadap anaknya Om Reno, Kira?!" Kirana mau menjawab, tapi merasa ngeri dengan kemurkaan Mama. Sejak dulu, Kirana memang selalu takut kalau Mama marah. "Anak Om Reno berdarah. Kamu apakan?!" tanya Mama lagi tanpa sedikitpun menurunkan nada suaranya. Kirana menggigit bibir, memilih untuk terus diam dengan kepala tertunduk. Kata pepatah lama, diam adalah emas. Kirana merasa pepatah itu memang benar. Sebab hal terbaik yang bisa ia lakukan saat ini adalah tetap diam. Alasan apapun yang akan ia buat, tidak akan mengubah kenyataan kalau dirinya sudah melukai anak Om Reno. "Sekarang kita ke rumah Om Reno. Minta maaf!" Tanpa perlu diteriaki untuk kedua kalinya, Kirana menurut saja ketika Mama menyeretnya keluar rumah dan berjalan dengan langkah cepat menuju rumah Om Reno. Di rumah Om Reno, Kirana mendapati Om Reno, Kakek Sani, Tante Tria dan cowok yang tadi ia lukai berkumpul di ruang keluarga. Tante Tria terlihat sedang membersihkan luka di d**a anaknya dengan kapas dan alkohol. Om Reno dan Kakek Sani hanya melihat saja. Sementara si cowok memejamkan mata sambil mengigit bibirnya, menahan rasa sakit. Kedatangan Mama dan Kirana membuat mereka menoleh. Termasuk cowok itu. Mata Kirana bertemu dengan cowok itu, dan Kirana buru-buru memalingkan wajah. Mama membuka suara dengan meminta maaf. Om Reno dan Kakek Sani mengatakan ini bukan masalah besar, hanya salah paham. Namun, Mama bersikukuh ingin meminta maaf, dan juga menyuruh Kirana untuk melakukan hal yang serupa. Setelah menarik napas dalam-dalam, Kirana pun meminta maaf dengan kepala tertunduk. Mengatakan bahwa Kirana sungguh menyesal dengan apa yang sudah ia lakukan. Seperti tadi, Om Reno dan Kakek Sani mengatakan ini bukan masalah yang harus dibesar-besarkan, hanya murni kesalahpahaman. Namun, tentu saja Kirana tidak bisa bernapas lega begitu saja. Sebab yang ia butuhkan adalah permohonan maaf dari cowok itu. "Saya juga salah. Sudah main tuduh," Akhirnya cowok itu bersuara. Kirana mendongak, dan sekali lagi tatapan mereka bertemu. Kali ini cowok itu yang memutuskan pandangan lebih dulu. "Nah, Cakra juga tidak mempermasalahkan ini. Jadi, kita anggap semua sudah beres." Mama mengucapkan terima kasih. Begitu pun Kirana. Setelah itu Mama dan Kirana mohon pamit untuk pulang. "Kira!" teriakan Mika membuat Kirana terkejut. "Diajak ngomong kok malah melamun?" "Siapa yang melamun? Nggak, ah!" sangkal Kirana. "Itu tadi." "Udah, ah. Kita ke kelas aja, yuk! Bentar lagi bel, nih." Kirana pun segera menarik Mika menuju ruang kelas mereka yang berada di lantai dua. *** Cakrawala Biru. Begitu nama anak baru itu memperkenalkan dirinya di depan kelas. Meski sudah bertemu—dan mengalami insiden yang tak biasa—kemarin, Kirana baru mengetahui nama cowok itu sekarang. "Namanya unik, ya." Begitu bisik Mika. Dalam hati Kirana menyetujui. Tentu saja persetujuan itu muncul karena latar belakang cowok tersebut. Lahir dan besar di New York, tapi memiliki nama yang Indonesia banget itu bisa masuk kategori unik. Kirana pikir namanya Will, Mark, Sam, atau nama khas luar sana. Namun nyatanya Om Reno tetap menyematkan nama Indonesia ke anak semata wayangnya—ditambah lagi nama itu juga beda dari nama kebanyakan orang Indonesia. Cakrawala Biru, Kirana mengeja nama itu dalam hati. Pada saat yang bersamaan, tatapan mereka bertemu. Kirana tersentak, mengira cowok itu mampu mendengar suara hatinya. Namun sesaat kemudian—saat cowok itu memalingkan wajah—Kirana tersenyum sendiri dengan pemikirannya barusan. Mana mungkin cowok itu bisa mendengar suara hatinya, kan? Ada-ada saja! "Kira, kamu kenapa?" Kirana menoleh kepada Mika yang menyentuh tangannya. "Apa?" tanya Kirana dengan suara berbisik. "Kenapa senyum-senyum gitu?" "Siapa yang tersenyum?" Kirana berusaha mengelak. Untunglah pada saat itu Bu Ratih, guru yang sedang mengajar memerintahkan Cakrawala untuk duduk kembali, sehingga itu bisa mengalihkan perhatian Mika. Cakra berjalan melewati menuju mejanya—tepat di belakang meja Kirana dan Mika. Saat cowok itu sudah berada di tempat duduk, Mika menoleh ke belakang. "Hai. Salam kenal, ya. Nama aku Mika." Cakra mengangguk. "Cakra." "Dan ini ...," Mika menoleh ke arah Kirana, bermaksud mengenalkan teman sebangkunya itu. Namun, Cakra lebih dulu bersuara. "Kirana. Saya sudah tahu." Mata Mika membesar. Tentu saja kaget karena Cakra mengenal Kirana. Mika melirik Kirana, dan Kirana tahu artinya itu. Mika minta penjelasan. Namun, untungnya Bu Ratih memulai pelajaran. Kirana bisa selamat dari interogasi Mika. "Kamu hutang penjelasan," bisik Mika kepada Kirana sebelum membuka buku dan mulai mencatat materi yang diajarkan Bu Ratih. *** "Apa kamu tidak ingin meminta maaf kepada saya?" Pertanyaan yang ditujukan kepadanya itu membuat Kirana menoleh. Saat itu ia berada di angkot dalam perjalanan pulang ke rumah. Di hadapannya ada Cakra. Duduk dengan tangan di d**a dan mata menatapnya tanpa kedip. Penumpang angkot saat itu hanya mereka berdua. "Aku kan sudah minta maaf kemarin. Minta maaf apa lagi?" sahut Kirana. "Itu kan bukan secara pribadi." Kirana mendengkus. "Jadi kamu sebenarnya belum sepenuhnya memaafkan?" "Bukan itu maksud saya." "Lalu kenapa aku harus meminta maaf lagi?" Cakra mau menjawab, tapi Kirana berteriak, "Kiri, Bang!" Angkot pun berhenti dan menepi. Kirana turun dan Cakra menyusul. Setelah membayar, Cakra menyusul langkah Kirana memasuki g**g menuju rumah mereka. Siang hari, jalanan di g**g sepi. Rumah-rumah yang berada di sepanjang g**g pintunya tertutup. Sama sekali tidak terlihat anak-anak bermain atau ibu-ibu berkumpul selagi menunggu anak mereka bermain. Di jam seperti ini anak-anak tidur siang. Kirana mempercepat langkahnya. Panas matahari yang terik seakan membakar ubun-ubun kepala. Di belakang, Cakra pun  ikut mempercepat langkah, dan juga meminta Kirana untuk meminta maaf. Lalu tiba-tiba sebuah sepeda motor melintas dengan kecepatan tinggi. Hampir saja menabrak Kirana. Cakra yang tanggap dengan kehadiran motor itu menarik tas yang disandang Kirana hingga cewak itu mundur dan jatuh. Kirana tentu saja terkejut luar biasa. Wajahnya pias. Kalau terlambat, bisa saja saat ini tubuhnya tergeletak dan bersimbah darah. Jadi korban tabrakan. Sementara pengendara motor itu sama sekali tidak merasa bersalah dan tetap melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. "Kamu tidak apa-apa?" Ada nada khawatir yang Kirana tangkap dari suara Cakra. Cowok itu jongkok di samping Kirana, memeriksa kondisi cewek itu. Kirana mengerjap lalu menggeleng. Selain shock, dirinya baik-baik saja. Kemudian Kirana berusaha untuk berdiri. Saat itulah ia sadar bahwa dirinya sama sekali tidak baik-baik saja. Rasa sakit menyengat di mata kakinya. Sepertinya kaki Kirana terkilir akibat posisi jatuhnya yang salah. "Sepertinya terkilir," kata Cakra saat sambil melihat kaki Kirana. Lalu ia menatap ke depan, ke arah rumah mereka. Jaraknya masih lumayan jauh, sekitar 200 meter. "Masih kuat jalan?" tanyanya kemudian. Tentu saja Kirana mengangguk. Meski kakinya sakit luar biasa, ia tidak mau terlihat lemah di depan Cakra. Kirana melanjutkan perjalanannya lagi. Namun baru satu langkah, ia berhenti. Ternyata rasa sakit di kakinya tidak bisa dianggap enteng. Tiba-tiba Cakra jongkok di depan Kirana, sambil menepuk punggungnya. Kirana pun melihat tas punggung cowok itu sudah berpindah posisi. Kini berada di d**a cowok tersebut. Cakra menepuk-nepuk punggungnya sambil berkata, "Ayo naik." "Tidak usah. Aku masih kuat!" tolak Kirana dengan wajah memerah. Cakra mendengkus. "Tidak perlu pura-pura kuat. Saya tahu kakimu tidak kuat untuk jalan lagi. Buruan naik. Panas, nih!" Cakra benar. Kaki Kirana makin sakit rasanya. Berdenyut-denyut. Akhirnya, meninggalkan rasa gengsi, Kirana naik ke punggung Cakra. Ia mengalungkan lengannya di leher cowok itu. Meski tubuh Cakra kurus, ternyata menggendong Kirana tidaklah sulit bagi Cakra. Dengan mudah, Cakra kembali berdiri dan mulai melangkah. Dalam hati Kirana dibuat takjub. "Selain minta maaf, kamu juga harus berterima kasih kepada saya," kata Cakra. "Aku sama sekali tidak ada memintamu untuk melakukan ini. Kalau kamu keberatan, turunkan aja aku!" Namun, bukannya menurunkan Kirana, Cakra malah semakin mengeratkan gendongannya. "Dalam keadaan lemah begini aja, kamu masih banyak tingkah. Ya udah, kalau begitu saya yang minta maaf karena menuduhmu pencuri." Cakra menoleh dan tersenyum. Untuk pertama kalinya Kirana melihat senyum cowok itu. Senyum yang terasa begitu tulus. Dan entah dari mana datangnya, jantung Kirana tiba-tiba berpacu cepat. Saking cepatnya Kirana takut jantungnya meledak. Juga didengar oleh Cakra. "Nah, saya udah minta maaf. Sekarang kamu yang minta maaf," ternyata Cakra belum berhenti juga. Namun, Kirana tidak menyahut. Cewek itu malah merebahkan kepalanya dan memejamkan mata. Mati-matian mengendalikan detak jantungnya yang menggila.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD