TUJUH

495 Words
Memang waktu bisa mengubah banyak hal, tapi tidak pada perasaan cintaku untukmu *** Sabtu, 07 April, 20:25 WIB Sentuhan pada pipinya membuat Kirana mendongak. Saat itulah ia bertemu dengan sepasang mata kelam, sehitam malam, milik Cakrawala Biru. Ada berbagai emosi yang Kirana tangkap bergumul di wajah pria itu. "Kamu ...," kata-kata Cakra tertahan. Pria itu mengusap air mata di pipi Kirana, lalu mengembuskan napas gusar. "Sesulit itukah bagimu untuk mengalah dari ego?" Kirana tidak menyahut. Hanya air matanya yang makin deras. Namun, dalam hati ia bersyukur Cakra kembali. Cakra menarik tubuh Kirana ke dalam pelukannya. Pria itu memeluk Kirana dengan erat. Tangan kanannya mengusap punggung gadis itu. Sementara Kirana memejamkan mata dan merebahkan kepala pada d**a bidang Cakra. Pada saat itulah ia mencium aroma yang sangat ia kenal. Aroma yang dulu pertama kali ia rasakan bertahun-tahun lalu, saat Cakra menggendongnya. Aroma tubuh Cakra. "Aku datang malam ini hanya untuk bertemu denganmu. Namun, kenapa sekali lagi kamu membiarkanku pergi?" bisik Cakra. Kirana menyentuh kemeja pria itu lalu meremasnya. Namun, bibirnya tak jua mengucapkan satu kata pun untuk menjawab pertanyaan Cakra. "Apa aku tidak pernah penting bagimu sampai kamu tidak pernah berusaha untuk menahanku?" Kirana menggeleng cepat. Pria itu berarti—bahkan sangat berarti. Hanya saja, Kirana tidak tahu bagaimana caranya menahan pria itu. "Aku takut," akhirnya Kirana bersuara. Ya, itulah yang dirasakan Kirana waktu dulu. Kirana dilanda ketakutan. Ia takut dirinya tak cukup berarti bagi Cakra untuk tetap tinggal. "Bodoh!" umpat Cakra. Setelah mengatakan itu tak ada lagi yang bersuara. Kirana masih terisak dalam pelukan Cakra. Sementara Cakra semakin mengeratkan pelukannya. Seakan ingin membalas dendam terhadap waktu yang bertahun-tahun tanpa kehadiran Kirana. Memang, waktu bisa mengubah banyak hal. Namun Cakra yakin, ada hal yang mungkin tidak bisa diubah oleh waktu. Seperti perasaannya terhadap gadis dalam pelukannya itu. *** "Bagaimana? Sudah mendingan?" tanya Cakra kepada Kirana. Saat itu mereka duduk di bangku taman. Kirana mengusap hidungnya yang memerah dan kemudian mengangguk. Sambil merapatkan jas milik Cakra pada tubuhnya ia berkata, "Setelah bertahun-tahun berpisah, kamu malah melihatku dalam keadaan seperti ini." Senyum tipis menghiasi bibir Kirana. Cakra tertawa. Tawa yang sama sekali berbeda dengan Kirana ingat dulu. Sekarang Cakra tertawa lebih lepas dan percaya diri. "Semakin dewasa, kamu malah jadi makin cengeng. Ternyata benar, s*****a pamungkas wanita dewasa itu adalah air matanya. Lihat saja, air matamu berhasil membuatku untuk tetap tinggal." Kirana menatap Cakra. "Maaf," bisiknya. Cakra mendengkus. "Mau sampai kapan kamu akan terus meminta maaf. Sudahlah. Masa lalu, biarlah tetap menjadi masa lalu. Kita tinggalkan jauh-jauh di belakang." "Tapi, masa lalu bisa menentukan masa depanmu," sangkal Kirana. Cakra terdiam. Lalu sudut bibirnya tertarik. Senyum miring yang membuat sosoknya terlihat begitu menawan. Cakra memajukan tubuhnya mendekat kepada Kirana. Kini jarak wajah mereka hanya berjarak kurang lebih sejengkal. Kirana bisa merasakan deru napas Cakra yang menerpa wajahnya. Pelan, Cakra semakin memajukan wajahnya, memangkas jarak yang tersisa. Kirana memejamkan mata. Ia menunggu dengan detak jatung yang meningkat. Dalam hati ia mulai berhitung. Satu ... Dua ... Tiga ... Sesuatu menyentuh bibirnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD